Logo Suma

Black Swan: Sisi Gelap dari Perfeksionisme yang Rapuh

Redaksi Suara Mahasiswa · 3 Desember 2020
3 menit · - kali dibaca

By Dian Insan

Judul film: Black Swan
Sutradara: Darren Aronofsky
Produser: Mike Medavoy, Arnold Messer, Brian Oliver, Scott Franklin
Genre film: Psychological thriller
Tanggal rilis: 1 September 2010 (Venesia)
Durasi: 108 menit
Pemain: Natalie Portman, Vincent Cassel, Mila Kunis, Barbara Hershey, Winona Ryder, dll.

I just want to be perfect.

Penuh ambisi dan obsesi, begitulah penggambaran penari balet bernama Nina Sayers (Natalie Portman) dalam film berjudul Black Swan. Sepanjang menonton film ini, penonton diajak masuk ke dalam perangkap cerita yang sangat manipulatif dan penuh multitafsir. Nina Sayers berusaha mengajak penonton memahami obsesinya untuk tampil sempurna dalam pertunjukan balet tahunan “Swan Lake”. Perannya sebagai ratu angsa dengan dua karakter yang berlawanan membuat sang balerina berusaha menuntut kesempurnaan yang justru bersifat destruktif. Film karya Darren Aronofsky ini ditayangkan pertama kali pada tahun 2010 dalam Festival Film Internasional Venesia ke-67. Melalui film ini, penonton diajak memahami alur cerita yang dramatis lewat konflik psikologis yang dialami sang balerina.

Bagian awal film ini mampu membawa penonton terseret ke dalam kisah yang menegangkan. Menit-menit awal film menampilkan gerakan yang sangat anggun nan memukau, tetapi dengan raut muka yang tampak amat rapuh dari sang balerina. Sesuai dengan apa yang diharapkannya, Nina berhasil mendapatkan peran utama dan menggantikan Beth Macintyre (Winona Ryder), balerina primadona sebelumnya. Selanjutnya, kedatangan balerina asal San Fransisco, Lily (Mila Kunis), turut menambah intrik cerita dari film ini. Pertentangan dalam diri Nina mulai terjadi saat ia dituntut untuk mampu membawakan dua karakter yang sangat kontras dari cerita “Swan Lake”. Emosi yang anggun dan sempurna ditampilkan melalui White Swan, sementara Black Swan terkesan gelap, jahat, dan menggoda.

Dengan perfeksionis, Nina mampu menguasai gerakan White Swan, tetapi tidak dengan Black Swan. Tekanan Thomas Leroy—sang sutradara—mampu menambah emosi penonton dalam menyaksikan film ini. Ketegangan semakin bertambah saat Lily dinilai lebih mampu menjiwai gerakan balet tersebut. Hal ini memaksa Nina berlatih lebih keras lagi yang menyebabkannya mulai mengalami rentetan gangguan psikologis. Ketakutan akan gagalnya membawakan peran ratu angsa dengan sempurna tergambar melalui emosi, luka, dan cedera yang dialaminya sepanjang latihan. Penonton dibuat semakin cemas, khawatir, dan prihatin dengan kondisi tersebut. Nina pun berhasil menggiring penonton merasakan siksaan internal dalam dirinya.

Apabila melihat kembali jajaran film yang disutradarai Darren Aronofsky, terdapat persamaan karakter antara Black Swan dan film yang pernah digarap sebelumnya, Requiem for a Dream (2000). Persamaan ini dapat dilihat dari visualisasi cerita yang membawakan tema konflik kejiwaan dalam diri sang tokoh utama. Requiem for a Dream menceritakan pecandu narkoba yang menghadapi teror halusinasi dalam dirinya. Di sisi lain, Black Swan menyuguhkan beban psikis yang dialami seorang balerina dalam memenuhi ekspektasinya. Benang merah dari setiap karya Aronofsky berupa persamaan motivasi karakter yang umumnya membawakan pertentangan dalam diri seseorang. Cukup banyak film yang membawakan visualisasi cerita seperti ini, namun Aronofsky berhasil menampilkan kesan penuh derita lewat alur cerita yang tentunya tidak membosankan bagi penonton.

Alur cerita yang menarik, sinematografi berkualitas, dan kepiawaian aktor dalam memainkan peran membuat Black Swan berhasil meraih lima nominasi Oscar. Film ini menghantarkan Natalie Portman memenangkan nominasi dalam Oscar sebagai aktris terbaik. Natalie Portman mampu membuat penonton terkesima dengan penjiwaannya yang amat frustrasi dalam film tersebut. Selain aktris terbaik, Black Swan juga mendapatkan nominasi film terbaik dalam Oscar. Meskipun tidak menang, film ini berhasil memukau penonton dengan sinematografi yang berkualitas. Dialog yang ditampilkan juga cukup jelas menggambarkan konflik dalam film tersebut. Jadi, sangat wajar apabila film ini mampu menarik perhatian penonton.

Terlepas dari segala kelebihannya, tidak menutup kemungkinan adanya beberapa kekurangan dalam film ini. Seperti yang sudah dijelaskan di awal, film ini cukup manipulatif dan penuh multitafsir. Penonton disuguhkan alur cerita yang menegangkan, tetapi banyak sekali penjelasan yang tidak pasti dalam film ini. Hal ini memberikan rasa penasaran dan kesan misterius bagi penonton yang tidak terlalu memahami dunia psikologi. Black Swan tidak menjelaskan secara gamblang gangguan psikis yang dialami Nina Sayers. Hal ini membuat penonton bertanya-tanya, apakah sang balerina mengalami depresi, bipolar, atau skizofrenia. Batas antara kenyataan dan halusinasi sangat kabur dalam cerita ini sehingga membuat penonton agak kesulitan membedakannya. Meskipun demikian, karya ini tetap layak ditonton karena mampu menampilkan sisi gelap dari dunia balet yang jarang diketahui publik.

Teks: Dian Insan
Foto: Istimewa
Editor: Ruth Margaretha M.

Pers suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas dan Berkualitas!

Tim Penggarap