Logo Suma

Buktikan Peran Mahasiswa Hukum, ALSA CLCC LC UI Suarakan Isu Gagal Ginjal Anak ke Ranah Advokasi

Redaksi Suara Mahasiswa · 30 November 2025
4 menit

Asian Law Students Association Local Chapter Universitas Indonesia (ALSA LC UI) menggelar salah satu rangkaian main event ALSA Care and Legal Coaching Clinic (CLCC) LC UI 2025 dengan mengusung tema “Dialysis and Determination: Advocating with Heart”. Acara ini berlangsung pada Sabtu (22/11), pukul 08.00–13.00 WIB di Gedung D Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI). Bekerja sama dengan Yayasan Gagal Ginjal Anak Indonesia (YAGINKIDS) dan Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), kegiatan ini menyasar kepada 30 anak penderita Gagal Ginjal Kronis (GGK) yang didampingi dengan orang tua mereka.

Latar belakang acara ini tak lepas dari isu serius GGK di Indonesia. Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan prevalensi GGK mencapai 0,18% atau lebih dari 600.000 jiwa, dengan peningkatan kasus pada anak usia 0-14 tahun sebesar 59% dalam setahun. Melalui ALSA CLCC LC UI 2025, ALSA LC UI ingin meningkatkan kesadaran masyarakat tentang hak kesehatan yang dijamin UUD 1945 Pasal 28H ayat (1) dan Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023, sekaligus memberikan kontribusi nyata sebagai mahasiswa hukum.

Rangkaian Main Event dibuka dengan pemutaran lagu Indonesia Raya dan ALSA Anthem, lalu diikuti dengan kegiatan simbolik lewat penyusunan puzzle yang dilengkapi secara bertahap setelah sambutan dari Project Officer of ALSA CLCC LC UI 2025, Director of ALSA LC UI Board of 2025, perwakilan ALSA National Chapter Indonesia, perwakilan YAGINKIDS, hingga perwakilan orang tua peserta.

Dalam sesi pertama, yaitu SUPPORT (Solidarity and Understanding for Patients’ Ongoing Recovery Through Community) membahas tentang pentingnya dukungan psikososial bagi anak penderita GGK dan orang tua sebagai caregiver utama. Sesi ini dipandu oleh pembicara psikolog dalam dua ruangan yang berbeda. Ibu Mabruka Azzahra (Bu Rika) dan Ibu Madasaina Putri menyoroti masalah burnout yang sering menimpa orang tua; seperti kelelahan fisik dan emosional sekaligus memperkenalkan strategi TANGGUH: Tenang, Adaptasi, Netralkan emosi negatif, Gigih, Gunakan solusi, Usahakan relasi sosial, dan Harus bersyukur yang sekiranya bisa diterapkan oleh para orang tua.

Selain itu, sesi ini juga menjadi tempat berbagi cerita, di mana seorang ibu bercerita anaknya sudah mengalami sesak nafas sejak usia 12 tahun, dan telah melakukan cuci darah kurang lebih selama enam tahun. Terdapat juga seorang anak yang bercerita mengaku bahwa awalnya ia masih belum paham apa itu penyakit gagal ginjal, belum mengerti tentang cuci darah, dan tidak sadar bahwa itu penyakit berat.

Selanjutnya, sesi SMILE (Sharing Moments In Love & Expression) hadir menjadi sesi yang disukai oleh anak-anak seperti hal nya Zidan & Lucky. Dua anak yang menjadi peserta ini mengaku senang karena mereka dibebaskan untuk berimajinasi menggambar mimpi dan harapan menggunakan spidol, crayon, serta stiker yang disediakan panitia. Hasil karyanya pun dimasukkan ke botol tumbler bening sebagai kenang-kenangan yang dapat dibawa pulang. Lewat sesi ini, terjalin pula kedekatan dan momen keceriaan antara orang tua dan anak.

Di sesi terakhir, RIGHTS (Renal Patients’ Legal Rights and Healthcare Access) menghadirkan Bapak Toni Richard Samosir selaku Ketua Umum KPCDI sebagai narasumber. Dalam sesi ini, ia membahas hak pasien GGK, termasuk ketidakadilan akses obat dan pemeriksaan yang bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023. Pak Toni juga menyoroti permasalahan terkait kurangnya SDM perawat dan peran KPCDI dalam mendampingi serta menyuarakan kesetaraan bagi para pasien. “Tidak ada keadilan kesehatan bagi anak jika akses layanan ginjal masih bergantung pada keberuntungan geografi,” ujarnya sebagai closing statement. Setelah sesi RIGHTS selesai, terdapat pula Forum Group Discussion (FGD) yang menjadi kesempatan bagi para orang tua dan anak untuk berbagi sudut pandang dan memperdalam tentang materi yang sudah disampaikan.

Rangkaian pun ditutup dengan penyerahan simbolis puzzle lengkap di bingkai kaca yang diserahkan ke pihak YAGINKIDS. Setiap anak pun mendapat goodie bag berisi susu Nephrisol-D 231 gr, vitamin Prove D3-5000, lotion, bantal kecil, dan keychain dengan barcode ke e-book serta video edukasi. Diputarkan juga sebuah video yang berisikan ucapan, pesan, dan harapan panitia yang menjadi tanda bahwa sudah berakhirnya rangkaian main event ALSA CLCC UI 2025.

Ibu Ratna, orang tua peserta, turut berbagi kesannya, “Yang saya rasakan ikuti acara ini dari awal, kami disambut dengan sangat hangat. Semua familiar, kakak-kakaknya ramah. Lalu, acaranya seru, happy.”

Baginya, sesi SUPPORT menjadi bagian paling penting karena memberikan pemahaman baru terkait cara merawat kondisi anak, “Buat saya pribadi, fokusnya justru di edukasi tadi. Selama ini saya otodidak versi sendiri, tapi setelah dengerin Bu Rika, ‘Oh, ternyata saya harusnya gini.’ Jadi ada dari pakarnya, “

Bapak Toni Richard Samosir, juga turut mengapresiasi rangkaian acara ALSA CLCC LC UI 2025, “Saya rasa ini sangat luar biasa ya. Mungkin event pertama kali di Indonesia, dilakukan untuk memberikan ruang edukasi terkait dengan ruang advokasi, untuk memberikan pendidikan bagaimana pasien itu bisa menerima haknya dalam pelayanan kesehatan.”

Ia juga berharap bahwa apa yang dilakukan ALSA LC UI bisa sekiranya diikuti oleh para mahasiswa lainnya, “Seharusnya ini menjadi landasan setiap mahasiswa untuk melakukan kegiatan sosial yang seperti ini.” ungkapnya.

Tristan Mirza, selaku Project Officer ALSA CLCC LC UI 2025, mengaku bahwa rangkaian acara yang dijalankannya ini sangat mengutamakan dampak yang nantinya akan dirasakan, “Kami sangat mengutamakan dampak yang dapat kami berikan kepada kepada target peserta yang ada.” Ia pun menambahkan bahwa setelah main event ini selesai, masih terdapat post event berupa penyusunan policy brief khusus tentang pelayanan gagal ginjal anak.

“Jadi kami akan menulis paper yang membahas regulasi yang sudah ada terkait dengan pelayanan kesehatan khususnya pasien gagal ginjal,” ungkapnya. “Nanti policy brief ini rencananya akan kami audiensikan ke Kementerian Kesehatan atau Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan.”

Dengan begitu, melalui rangkaian kegiatan ALSA CLCC UI 2025 diharapkan dapat menjadi langkah awal yang progresif dalam mengaudiensikan isu penyakit gagal ginjal di Indonesia sekaligus menjadi harapan di tahun berikutnya agar isu yang diangkat bisa lebih berkembang baik dalam skala acara maupun dampak yang dirasakan.