By Sultan F. Basyah
Aksi dalam rangka memperingati International Women’s Day 2020 atau IWD 2020 digelar padahari Minggu (8/3), melalui long march yang dilaksanakan dari pukul 11.00 WIB hingga 16.00 WIB. Titik awal aksi dimulai dari Gedung Bawaslu sampai ke depan Istana Negara. Aksi inidiikuti oleh berbagai elemen dari banyak gerakan yang tergabung dalam aliansi GERAK Perempuan. Aksi IWD pada tahun ini cukup menarik karena buruh-buruh perempuan dariKongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) terlihat mendominasi. Bahkan, terdapat buruhyang menjadi koordinator lapangan dari perayaan terbesar kaum perempuan sedunia ini.
“Tuntutan tertinggi kita adalah perempuan menolak Omnibus Law, hapus sistem kerja kontrakdan outsourcing, kemudian berlakukan upah layak secara nasional,” ujar Siti Eni, selakuKoordinator Departemen Perjuangan Buruh Perempuan PP KASBI yang baru saja bertugassebagai koordinator lapangan IWD 2020.
Eni menuturkan bahwa aksi kali ini wajib diikuti oleh semua elemen. Tahun ini aksi bertajuk“Melawan Kekerasan Sistematis Terhadap Perempuan” membawa penolakan terhadap Omnibus Law RUU Cipta Kerja yang dinilai akan meningkatkan kekerasan terhadap perempuan utamanyakaum buruh apabila disahkan sebagai tuntutan tertinggi. Eni menjelaskan bahwa Omnibus Law RUU Cipta Kerja memiliki dampak yang sangat luar biasa dan bukan hanya dirasakan oleh kaumburuh melainkan juga dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia.
“Dampak itu adalah dampak negatif. Dampak kemiskinan, dampak pelecehan, dan lain-lain,” tambahnya.
Selain didominasi oleh kaum buruh perempuan sebagai penggerak komando di depan, aksi inijuga diikuti oleh berbagai kalangan lain yang tidak kalah banyak jumlahnya seperti dari kalanganmahasiswa, LGBT, dan perempuan secara umum. Untuk kalangan mahasiswa sendiri terlihatmahasiswa baik perempuan maupun laki-laki dari Universitas Indonesia (UI) yang mengikutiaksi ini. Tiga organisasi besar di UI yang tergabung dalam aliansi GERAK Perempuan adalahBadan Eksekutif Mahasiswa UI (BEM UI), Serikat Mahasiswa Progresif UI (SEMAR UI), danjuga Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum UI (BEM FH UI).
“Tadi pertama di Bawaslu ya orasi-orasi gitu kan. Terus kita long march ke ILO (International Labor Organization—pen). Ya di ILO kita juga sempet orasi gitu. Terus long march lagi sampaike Monas. Nah di Monas itu kaya ada teatrikal, orasi, terus performing art, dan juga pembacaansikap politik,” ujar Umanitya Fitri Hanryana, koordinator lapangan SEMAR UI dalam aksi IWD 2020.
Selanjutnya, para mahasiswa UI yang mengikuti aksi IWD kali ini tidak hanya dari kalanganBEM atau aktivis kampus saja. Aksi kali ini juga menggugah mahasiswa lain yang tidak aktif di BEM atau pergerakan mahasiswa sejenis untuk ikut. Salah satunya adalah Salwa Nur Fadhilla, mahasiswa Sastra Cina UI 2019 yang merasa bahwa kesetaraan buat perempuan itu harusdiperjuangkan dengan aksi massa.
“Sangat menarik, sih. Soalnya isu-isu tentang perempuan dan kesetaraan itu udah lama menjadiketertarikan buat gue. Jadi ini menjadi sarana buat gue untuk mengaspirasikan semangat gue,” ujar Salwa, ketika menceritakan perasaannya selama mengikuti aksi IWD 2020.
Selain Salwa, ada juga Muhammad Fawwaz Nuruddin, mahasiswa Ilmu Komunikasi UI 2019 yang mengikuti aksi IWD 2020 karena merasa bertanggung jawab untuk turun ke jalan untukmembantu sesama manusia. Fawwaz melihat bahwa kondisi di Indonesia saat ini sangat gentingkarena manusia dibedakan menurut gender dan menurut struktur sosial yang rentan.
“Jujur pas awal-awal saya agak susah buat meniatkan diri sendiri. Tapi setelah saya sadar bahwaternyata secara personal saya punya andil buat RUU Ketahanan Keluarga dan juga terkait materiyang didukung di IWD. Ya makanya saya ikut IWD.” pungkasnya ketika menjelaskan alasannyaikut aksi IWD 2020.
Teks: Sultan F. Basyah
Foto: Sultan F. Basyah
Editor: Rifki Wahyudi
Pers Suara Mahasiswa UI
Independen, Lugas, dan Berkualitas
Kontributor