
Masa Kampanye Pemira IKM UI 2021 terus bergulir. Kali ini, masa kampanye diisi dengan eksplorasi calon tunggal Ketua dan Wakil Ketua BEM UI 2022 atas nama Bayu Satria Utomo (Ilmu Politik 2018) dan Arinny Shafira Khairunnisa (Kedokteran Gigi 2018). Eksplorasi digelar untuk Rumpun Sains dan Teknologi (Saintek) dimoderatori oleh Kepala Departemen Sosial dan Lingkungan BEM FMIPA 2021, M. Imam Syahid. Dalam kesempatan ini, IKM dari rumpun Saintek lebih banyak menguliti tentang konsep rancangan besar BEM UI 2022 yang dibawa oleh Bayu dan Arinny. Selain itu, mahasiswa dari rumpun Saintek juga menguliti pemahaman Bayu dan Arinny tentang relevansi BEM pada kondisi hari ini di tengah pandemi yang serba digital.
Kegiatan eksplorasi hari ini diawali dengan pemaparan rancangan besar BEM UI 2022 yang disampaikan oleh Bayu dan Arinny. Selain berfokus pada isu strategis yang ada dari tingkat lokal sampai internasional, Bayu dan Arinny juga menekankan pada penambahan program kerja baru berupa UI SDGs Summit. Program kerja tersebut ditujukan untuk menghimpun narasi yang dimiliki oleh para mahasiswa dengan skala global terhadap permasalahan yang dihadapi dalam pemenuhan SDGs di seluruh dunia. “Dengan tujuan yang komprehensif tersebut, program kerja tersebut nantinya memiliki luaran rekomendasi rencana aksi dan kebijakan kepada pihak pemangku kepentingan terkait dengan ide-ide mahasiswa untuk menjadi solusi dalam menyelesaikan hambatan yang dihadapi dalam pengimplementasian SDGs,” jelas Bayu.
Selepas sesi pemaparan usai, kegiatan eksplorasi dilanjutkan dengan tanya jawab antara warga IKM UI rumpun saintek dengan Bayu dan Arin. Sesi tanya jawab tersebut dibuka dengan pertanyaan oleh Yudho Ahmad dari FMIPA UI. Yudho mempertanyakan mengapa struktur dari BEM UI yang dipaparkan oleh Bayu dan Arin berbeda dibandingkan apa yang mereka sampaikan dalam eksplorasi rumpun sosial dan humaniora (soshum). “Lalu, mengapa terdapat perubahan struktur di dalam rancangan besar BEM UI 2022 yang dipaparkan?” tanya Yudho.
Pertanyaan tersebut ditanggapi oleh Arin yang menyatakan bahwa perubahan itu dikarenakan pertimbangan ulang yang matang dari dirinya dan Bayu. Perubahan garis supervisi terhadap bidang minat dan bakat (mikat) berada di bawah supervisi dari Wakil Ketua menjadi di bawah Ketua. Hal ini didasarkan menurut pertimbangan yang panjang. "Pertimbangan tersebut antara lain perimbangan jumlah departemen yang dibawahi ketua dan wakil ketua, kesibukan yang akan dijalankan selama satu tahun ke depan, dan koordinasi dengan koordinator bidang tersebut," jelas Arin.
Citra BEM UI Selama Ini di Mata Bayu-Arinny
Filda Aulia Syifa, FMIPA 2019, mempertanyakan citra eksistensi BEM UI selama ini menurut Bayu dan Arinny. Pandangan calon ketua dan wakil ketua BEM UI 2022 tersebut sedikit berbeda. Bayu memandang BEM UI selama ini sudah positif, namun terlalu sospol sentris. Bidang-bidang yang lain seperti tidak terlihat eksistensinya. “Sudah positif, namun masih cenderung mengenai sosial politik. Jadi kalau misalnya kita lihat di Instagram dan kanal-kanal sosial media BEM UI, yang ramai itu terkait isu sospol,” jawab Bayu menanggapi pertanyaan Filda.
Selain itu, Bayu juga memandang BEM UI sebelumnya cenderung kaku. Hal tersebut terlihat berdasarkan bahasa yang digunakan dalam postingan-postingan BEM UI. Komentar masyarakat terhadap postingan-postingan BEM juga jarang ditanggapi dan cenderung diabaikan. “Secara media sosial menurut saya bisa dibilang kaku, terkait dengan bahasa yang digunakan, seperti di Twitter,” tambah Bayu.
Sementara Arinny sebagai calon Wakil Ketua BEM UI 2022 yang tahun sebelumnya menjabat sebagai Kepala Departemen Sosial Masyarakat berpandangan lain. Ia menyatakan bahwa internal BEM UI selama ini sudah meningkat di berbagai bidang, tidak hanya berfokus kepada sospol. “Citra BEM UI sudah improve di banyak bidang, nggak hanya di sospol atau sosling,” timpal Arinny masih menjawab pertanyaan Filda sebelumnya.
Berangkat dari citra yang mereka pandang terhadap BEM UI sebelumnya, Bayu-Arinny akan membawa citra berbeda ke depannya. Seperti yang tercantum dalam Grand Design, mereka akan membawa BEM UI ke dalam tiga nilai, yakni inklusif, inovatif, dan relevan. “Ingin membawa citra yang lebih inklusif, menyeluruh pada bidang-bidang lain untuk bisa rilis pers dalam setiap kegiatan-kegiatannya,” ungkap Bayu. Arinny menambahkan bahwa hal tersebut berfungsi agar BEM UI memiliki rekam jejak yang dapat dilihat kembali.
Tindakan lain yang akan mereka lakukan adalah membuat media sosial BEM UI friendly terhadap masyarakat luas, tidak hanya sekedar memberi informasi. “Kita bisa merespons komen yang ada di Twitter atau Instagram menggunakan akun BEM UI,” tambah Arinny. Menurutnya, hal tersebut menjadikan setiap orang yang berkomentar merasa direspons balik dan dapat membuat engagement media sosial BEM UI meningkat.
Tanggapan Bayu-Arinny terhadap Isu Hustle Culture
Alivanza Firdaus (FT 2020) menanyakan tanggapan Bayu-Arinny tentang hustle culture dan burnout sebagai isu yang sedang ramai di FT dan cukup relevan di tingkat UI. Bayu melihat budaya apresiatif sangat bisa mengurangi hustle culture. Bayu mengatakan, “Setelah mereka selesai dengan apa yang dikerjakan untuk IKM UI dan masyarakat, kita perlu adanya apresiasi. Di BEM UI tahun ini ada mekanisme cuti yang bisa dimanfaatkan teman-teman fungsionaris BEM UI untuk meminimalisir hustle culture dan burnout."
Bayu menganggap perlu pendekatan yang lebih personal, sehingga fungsionaris BEM UI dirasakan kehadirannya. Menambahkan jawaban Bayu, Arinny menginformasikan bahwa di tahun ini BEM UI akan membuat kurikulum yang terintegrasi mengenai kebutuhan internal dari masing-masing fungsionaris yang mengatur perihal kebutuhan mental dan bagaimana fungsionaris bisa bekerja secara produktif.
Merespons jawaban tersebut, Alivanza berpendapat bahwa budaya apresiasi masih belum cukup untuk mengatasi hustle culture. Alivanza memandang penyebab hustle culture lebih kepada permasalahan manajemen waktu atau keikutsertaan di dalam organisasi yang terlalu banyak, ia menyarankan agar Bayu-Arinny mencari langkah-langkah lain untuk mengatasi hustle culture. Lebih lanjut, Alivanza juga mempertanyakan apakah mekanisme cuti menyelesaikan atau malah menimbulkan masalah lainnya.
Arinny, sebagai seseorang yang pernah terlibat di internal BEM UI, melihat bahwa fungsionaris yang mengalami burnout dan memutuskan untuk cuti justru lebih dihargai, hal tersebut dipandang sebagai indikasi limitasi diri yang baik. Arinny mengatakan, keberanian tersebut patut diapresiasi dan teman-teman sekitarnya seharusnya memberikan dukungan lebih.
Bayu-Arinny sepakat bahwa hustle culture tidak baik. Arinny menekankan pentingnya untuk mengetahui batasan diri. “Kita tidak bisa mengatakan ‘iya’ kepada semua kesempatan, kita harus melihat pro dan kontra dari masing-masing kesempatan yang ditawarkan. Apabila (hustle culture) terjadi dalam suatu organisasi atau tempat kerja, hal tersebut justru akan akan berpengaruh kepada internal masing-masing dan menghasilkan dampak yang tidak baik,” kata Arinny.
Bayu menambahkan bahwa hustle culture adalah sesuatu perlu yang dihindari, terutama dalam organisasi kemahasiswaan. Bayu memandang bahwa tujuan utama mahasiswa berada di sebuah universitas adalah untuk belajar, jadi hustle culture dalam sebuah organisasi kemahasiswa menjadi suatu hal yang sangat buruk. Ia mengatakan, “Saat kita berani mengambil peran sebagai pengurus organisasi, pun kita juga berani untuk bisa memanajemen waktu dengan baik. Oleh karenanya kita sangat tidak mendukung adanya hustle culture."
Dengan terselenggaranya eksplorasi pasangan calon tunggal Ketua dan Wakil Ketua BEM UI 2022 di rumpun MIPA pada (28/11) kemarin, maka selesailah tugas Bayu-Arinny dalam menyampaikan Visi Misi mereka melalui eksplorasi kepada berbagai rumpun di UI. Eksplorasi terakhir selama delapan hari berturut-turut tersebut ditutup dengan ucapan terima kasih Bayu-Arinny kepada seluruh panitia, peserta eksplorasi, timses, dan seluruh IKM UI yang terlibat.
Teks: Iis Khoerun Nisa, Alif Febri, Aldi Safi
Foto: Iis Khoerun Nisa
Editor: Giovanni Alvita
Pers Suara Mahasiswa UI 2021
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
Kontributor