Logo Suma

Coping Mechanism: Menilik Kesehatan Mental Mahasiswa di Masa Pandemi

Redaksi Suara Mahasiswa · 10 November 2021
4 menit · - kali dibaca

Pandemi yang tak kunjung berhenti, berdampak cukup besar terhadap kesehatan mental masyarakat, salah satunya mahasiswa. Kita diharuskan tetap berada didalam rumah, melakukan interaksi secara daring, dan melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Perubahan normalitas secara mendadak dan ketidakpastian aturan menjadi faktor utama kecemasan yang sering dialami pada masa pandemi. Perubahan ini mengakibatkan mahasiswa harus beradaptasi terhadap sistem baru, yang berdampak pada munculnya masalah kesehatan mental seperti stres dan kecemasan pada mahasiswa. Terlebih, adanya rasa khawatir mengenai kesehatan orang terdekat, dan ketidakpastian mengenai hal apa yang akan terjadi kedepannya dapat meningkatkan ketakutan, kecemasan, dan depresi. Apabila kecemasan ini terjadi terus-menerus, dapat memperburuk kesehatan mental dan menimbulkan gangguan serius, seperti gangguan kecemasan, gangguan obsesif-kompulsif, stress, dan gangguan terikat trauma (Fiorillo dan Gorwood, 2020; Ridlo, 2020; Talevi, dkk., 2020).

Lathifah, Dosen Psikologi Universitas Indonesia, menyatakan bahwa mahasiswa mulai mengalami kelelahan. Untuk awal pandemi, frustasinya disebabkan oleh proses adaptasi, dari yang biasanya kuliah bertatap-muka menjadi via daring, dan harus melakukan adaptasi dengan gadget, dan sebagainya. Namun, untuk saat ini, kelelahan juga dikarenakan isu-isu mengenai PTM (Pembelajaran Tatap Muka) yang katanya akan segera dilakukan, tetapi tak kunjung dijalankan.

“Sementara di luar itu, ada banyak hal yang terjadi juga. Let’s say beban kuliah, beban kuliah kita mungkin berubah. Kalo dulu, banyak diskusi kelompok yang bisa dilakukan setelah selesai dan sambil diskusi bisa sambil katarsis dalam arti ngobrol sama temen-temen, ngerumpi bareng. Diskusi tetap jalan, tapi kita bisa diskusi hal-hal lain di luar akademik. Kalo sekarang mungkin dengan segala keterbatasan, akhirnya diskusinya banyak yang memang lebih fokus pada tanggung jawab, pokoknya tugasnya selesai dengan keterbatasan-keterbatasan yang kita punya,” tambah Lathifah.


Apa Kata Mahasiswa?

Selaras dengan pernyataan di atas, menurut Afifa, FMIPA 2020, ia merasa tugasnya bertambah berat dengan adanya praktikum yang mengharuskan selesai saat jam kuliah habis, belum lagi ditambah dengan adanya tugas lain dari kepanitiaan atau organisasi.

“Mungkin pas awal awal masih ke handle, tapi selama setahun dua tahun gitu terus ya jelas fisik capek, psikis lebih tertekan lagi. Itu sih biasanya gue tiap mendekati UTS atau UAS, kayak “kenapa gak kelar-kelar sih ini tugas”. Kadang juga suka panikan sendiri gitu kalau ketinggalan apa-apa. FOMO itu ganggu banget sih, bahkan mau tidur aja rasanya berdosa banget gitu,” ungkap Afifa.

Menurut hasil studi yang berjudul "Social media fatigue pada mahasiswa di masa pandemi COVID-19: Peran neurotisisme, kelebihan informasi, invasion of life, dan kecemasan" dalam Jurnal Psikologi Sosial (Juni, 2020) terbitan UI, menunjukkan besarnya pengaruh kelebihan informasi pada social media fatigue dan lebih rentannya kelompok mahasiswa pria untuk mengalami kondisi ini saat belajar di rumah selama pandemi COVID-19.

“Mahasiswa yang belajar di rumah karena pandemi rentan mengalami social media fatigue karena media sosial yang biasa digunakan sebagai coping stress dalam kasus ini menjadi sumber stres baru,” tulis para peneliti di laporan itu.

Social media fatigue sendiri merupakan perasaan subjektif para pengguna media sosial yang merasa lelah, jengkel, kecewa, kehilangan minat atau motivasi berinteraksi di berbagai media sosial karena banyaknya konten yang dilihat.

“Beberapa mahasiswa cerita sama saya, ga lagi cerita ke temennya karena merasa, mahasiswa tingkat akhir ini biasanya, temannya lagi sibuk dengan skripsi. Saya tanya, “tau darimana?”, “dari postingan Instagramnya,”. Kalo kita mau berpikir lebih objektif, yang diposting di Instagram pasti sesuatu yang berupa pencapaian, gak dia lagi nangis-nangis terus dia posting,”. Jadi, sebetulnya, apa yang kita lihat adalah sebagian fakta yang positif saja.

“Kita kan main-main dengan asumsi. Kan multi-interpretasi semua, dan untuk orang-orang yang sedang sensitif, itu bisa jadi bahan untuk overthinking, jadi cemas, dan lain sebagainya. Dinamika seperti itu dihadapi mahasiswa,” ungkap Lathifah.


Pihak-Pihak yang Terlibat dalam Kesehatan Mental

Dalam menghadapi permasalahan kesehatan mental, semua pihak harus turut andil. Upaya antisipasi dimulai dari diri sendiri, yaitu menentukan akar masalah kecemasan. Dengan mengenali sumbernya, mahasiswa dapat menentukan solusi yang akan ia ambil. "Kita sebenarnya dituntut mempunyai daya refleksi, kemampuan untuk berkaca dalam diri sendiri," ujar Lathifa. Ia menambahkan ketika kita telah berusaha untuk menyelesaikan permasalahan tetapi tetap merasa overwhelmed, alangkah baiknya pergi ke profesional atau ke pelayanan kesehatan mental.

Mahasiswa sendiri menyalurkan penangan dengan membentuk gerakan sosial dan komunitas bertajuk kesehatan mental. Gerakan ini berupa webinar, pelayanan, dan informasi edukasi. Akan tetapi, mahasiswa sendiri tidak cukup untuk menangani isu ini. Perlu adanya andil dari pihak universitas.

Menurut Lathifa, Universitas Indonesia telah peduli dengan kesehatan mental. Ia menyatakan bahwa reaksi rekan-rekan sejawatnya yang banyak mendukung gerakan kesehatan mental. Beberapa fakultas di UI juga telah menyediakan layanan kesehatan mental. Bahkan, UI telah menyediakan makara klinik sebagai pusat pelayanan.

Terkait dengan pelayan kesehatan mental, Maple, salah satu mahasiswa Universitas Indonesia, memperkenalkan layanan bernama Vertel Maar, yaitu layanan kesehatan mental menggunakan fitur open chat. "Siapapun dapat bercerita dengan anonim tanpa takut diketahui siapa pemilik cerita tersebut dan siapa saja yang sebenarnya menyimak ceritanya," ujarnya.

Sayangnya, meskipun beberapa mahasiswa mengetahui keberadaan pelayan kesehatan mental, mahasiswa jarang menggunakan fitur tersebut. Masih banyak mahasiswa yang ragu menggunakan pelayanan kesehatan mental. "Memang masih ada kekurangannya, masih ada mahasiswa yang kurang terjangkau untuk bisa kita rangkul dan intervensi untuk kesehatan mentalnya," ungkap Lathifa. Dalam jurang pemisah ini, teman sebaya memiliki peran besar untuk memberikan dukungan sosial pada teman sebayanya.

Teks: Magdalena Natasya, Humairah Nur
Kontributor: Ghozi Djayu, Malina Vrahma
Ilustrasi: Dea Talitha
Editor: Giovanni Alvita

Pers Suara Mahasiswa UI 2021
Independen, Lugas, dan Berkualitas!

Daftar Pustaka:

Aziz, Z, dkk. (2021). Gambaran Kesehatan Mental Mahasiswa di Masa Pandemi Covid-19. Universitas Malahayati: Jurnal Dunia Kesmas. Vol. 10, No. 1. https://doi.org/10.33024/jdk.v10i1.3256 (diakses pada 5/11/2021)

Fauziyyah, R, dkk. (2021). Dampak Pembelajaran Jarak Jauh terhadap Tingkat Stres dan Kecemasan Mahasiswa selama Pandemi COVID. Universitas Indonesia: Jurnal BIKOFOKES. Vol. 1, No. 2. http://dx.doi.org/10.51181/bikfokes.v1i2.4656 (diakses pada 5/11/2021)
Rahardjo, W, dkk. (2020). Social Media Fatigue Pada Mahasiswa Di Masa Pandemi COVID-19: Peran Neurotisisme, Kelebihan Informasi, Invasion Of Life, dan Kecemasan. Universitas Indonesia: Jurnal Psikologi Sosial. Vol. 19, No. 2. https://doi.org/10.7454/jps.2021.16 (diakses pada 5/11/2021)

Tim Penggarap