
Pada Sabtu, (2/10), Departemen Sosial Kreatif Korps Mahasiswa Anti-Korupsi Universitas Indonesia (KOSMIK UI) menggelar Grand Closing Core Festival UI 2021 yang mengusung tema “Millenial’s Fight Against Corruption with Art”. Core Festival sendiri merupakan acara yang terdiri dari berbagai kompetisi, seperti video propaganda, infografis, esai pendek, dan lain sebagainya, yang ditujukan sebagai wadah bagi para pesertanya untuk menuangkan pendapat dan pandangannya terkait anti-korupsi dalam bentuk kesenian visual maupun tertulis. Pada penghujung rangkaian acaranya, Core Festival mengadakan Talkshow Core Festival 2021 bertajuk, “Millenial vs Gen Z: Memanfaatkan Seni sebagai Media Aspirasi,” yang dibagi ke dalam tiga sesi.
Karya Tulis dan Digital Art sebagai Wadah Propaganda Antikorupsi
Sesi pertama dari talkshow oleh Senior Editor at “Russia Beyond”, Fauzan Al Rasyid. Dari pemaparannya, Fauzan menjelaskan bahwa semua pergerakan di seluruh dunia berangkat dari tulisan. Bahkan, seseorang dapat menjadi terinspirasi melakukan sesuatu untuk bergerak karena membaca suatu tulisan tertentu. “Tulisan itu adalah media yang paling mudah untuk dipahami, maknanya jelas,” tegas Fauzan. Untuk dapat menghasilkan tulisan yang mudah dipahami, Fauzan memberikan tips untuk terlebih dahulu memperhatikan target audiens penulis. “Kalau untuk masyarakat umum, bisa sesuaikan dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti,” tutur Fauzan.
Selain dari tulisan, Freelance Digital Content Creator, Muthia Rachelya Madjid yang kerap disapa Ray, menjelaskan pada sesi kedua talkshow bahwa digital art juga dapat menjadi wadah untuk berkarya sekaligus menyuarakan suara terkait isu tertentu. “Sebagai desainer atau ilustrator, kita kan memiliki keahlian untuk membuat visual yang menarik dan tahu bagaimana cara menyampaikan pesan melalui visual secara baik. Penting bagi kita untuk menyalurkan hal tersebut untuk kepentingan melawan tindakan korupsi,” papar Ray. Selain itu, Ray juga menekankan bagi siapa pun yang sudah menekuni desain atau ilustrasi untuk saling mendukung dan mengapresiasi sesama desainer atau ilustrator yang tengah menyuarakan isu tertentu.
Kupas Tuntas Cara Menciptakan Kampanye Antikorupsi
Pada sesi terakhir sekaligus sesi utama, Core Festival 2021 menghadirkan Produser Film “The Endgame”, Indra Jati, dan Spesialis Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Soraya Sri Anggarawati. Indra membuka pembicaraan dengan menegaskan bahwa korupsi sudah mendarah daging. “Kita teriak aja masih terjadi, apalagi kita diam,” tegasnya. Indra yang juga merupakan bagian dari Watchdoc Documentary ini memberikan beberapa tips dalam membangun suatu kampanye. Hal pertama yang perlu diketahui adalah arah/tujuan dari kampanye. Selain itu, penting pula untuk menyadari kapasitas dari masing-masing kreator. “Mesti lihat dulu kondisinya apa yang dipunya, kadang mikir campaign-nya besar banget tapi orangnya nggak ada, jadi mulai dari yang ada dulu aja,” jelas Indra, “kalau belum bisa bikin yang skala besar, bikin dari yang kecil aja karena nanti bakal ada nempel, bakal ada yang gabung juga,” lengkapnya. Faktor terakhir yang perlu dimiliki adalah kekonsistenan dari kreator kampanye.
Sementara itu, Soraya yang merupakan bagian dari internal KPK menceritakan bahwa kampanye yang digencarkan oleh KPK adalah dengan membangun awareness dan kemudian membuat awareness itu sebagai suatu keresahan bahwa korupsi memang ada dan berdampak pada masyarakat. Ia juga mengungkapkan bahwa sekarang ini susah untuk mengajak masyarakat mendukung gerakan antikorupsi. “Jadi kami berharap bukan hanya KPK yang menyuarakan hal ini karena kalau KPK aja nggak ada yang denger,” tutur Soraya.
Lebih lanjut, Soraya juga mengutarakan berbagai tips dalam menciptakan suatu kampanye. Pertama adalah untuk mengetahui apa yang dibutuhkan audiens untuk dapat mengikuti kampanye yang telah diciptakan (know your audience) dan menyesuaikan apa kebutuhan kreator. Kedua, harus memahami unit selling point ketika menjual suatu konten. “(Film—red) Endgame itu selling point-nya adalah, mungkin tidak ada media lain yang bisa mewawancarai 16 orang (pegawai KPK—red) dan ini beritanya juga sifatnya rahasia ya jadi hanya mereka-mereka saja yang tau sehingga orang-orang jadi penasaran,” jelas Soraya. Terakhir, faktor yang krusial dalam suatu kampanye adalah timing yang tepat. “Suatu campaign itu harus bertepatan dengan isu yang sedang berjalan,” tutupnya.
Setelah sesi talkshow dari seluruh pembicara berakhir, acara Grand Closing Core Festival UI 2021 ditutup dengan pengumuman para pemenang dari masing-masing kategori yang diperlombakan pada Core Festival UI 2021. Sesi pengumuman ini sendiri dipandu langsung oleh para Master of Ceremony. Selamat kepada para pemenang!
Teks: Ninda Maghfira
Foto: Core Festival 2021
Editor: Nada Salsabila
Pers Suara Mahasiswa UI 2021
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
Kontributor