
Pada Kamis (25/08) lalu, puncak dari Program Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru Universitas Indonesia (PKKMB UI) 2022 sekaligus pencapaian rekor muri membatik dan paduan suara massal oleh mahasiswa/i baru telah dilaksanakan. Dihadiri oleh pejabat-pejabat penting di UI, acara ini pun dimanfaatkan untuk menggelar aksi simbolik oleh massa aksi yang terdiri dari mahasiswa/i UI berbentuk "pencerdasan" dan propaganda terkait "Aksi Selamatkan UI".
Aksi long march juga dilakukan oleh massa aksi karena Rektor UI, Ari Kuncoro, tidak kunjung menemui massa aksi, padahal dirinya tengah berada di panggung acara puncak PPKMB UI 2022. Namun, aksi tersebut dihambat oleh barikade PLK saat massa berada di kawasan bagian depan balairung.
Massa aksi tidak langsung menghentikan aksinya, melainkan tetap menyerukan tuntutan pada Rektor UI untuk menemui mereka. Selain itu, mereka juga mengajak mahasiswa baru untuk menghadiri "Aksi Selamatkan UI" pada hari Selasa (30/08/22).
Tidak terelakan bahwa terjadi beberapa persinggungan suara yang berasal dari mahasiswa dengan panitia PPKMB UI 2022. Intervensi yang dilakukan oleh massa aksi tidak melemahkan usaha panitia untuk mengarahkan mahasiswa/i baru ke dalam balairung. Selain itu, salah satu oknum PLK yang beremosi pun berusaha untuk melampiaskan kekesalannya melalui pemukulan, tetapi dihentikan oleh rekan kerjanya.
Menuntut Bertemu dengan Rektor UI, Dibalas dengan Tindak Pengusiran
Berdasarkan keterangan Melki Sedek Huang, Koodinator Bidang Sosial dan Politik BEM UI 2022, massa aksi sudah mulai berkumpul sejak pukul 06.30 WIB untuk melakukan "pencerdasan" isu-isu internal yang ada di UI. Hingga pukul 08.00 WIB, PLK UI mulai melakukan pengusiran terhadap massa aksi yang menimbulkan kegeraman, tetapi masih bersifat kondusif.
Massa aksi pun akhirnya menuntut untuk bertemu dengan Rektor UI dan menetapkan batas hingga pukul 09.30 WIB. Meski telah dikonfirmasi bahwa Rektor UI sudah diinformasikan mengenai tuntutan, tetapi hingga pukul 10.00 WIB tuntutan tersebut tak kunjung terpenuhi. Akhirnya, massa aksi melancarkan long march dari pintu masuk Balairung hingga dihalangi oleh beberapa PLK UI.
Tidak hanya penghadangan secara fisik, pendekatan secara verbal juga dilakukan oleh pihak UI yang diwakili oleh satu orang. Diketahui dari informasi salah satu massa aksi, orang tersebut merupakan salah satu staf pengajar dari Fakultas Hukum. Pendekatan yang dilakukan sempat memanas karena dari kedua belah pihak saling bersikeras mengukuhkan pendapat. Tindakan kooperatif telah diambil oleh BEM UI dengan mencoba memindahkan massa aksi ke tempat yang diinginkan oleh pihak UI. Akan tetapi, massa aksi bersikukuh menolak pemindahan dan pemberhentian aksi, sehingga negosiasi dari Pihak UI pun tidak mencapai kesepakatan yang berarti.
Sempat terjadi kericuhan antara dua pihak, beberapa kali sejumlah massa aksi mencoba untuk menerobos barikade PLK UI yang merugikan kedua belah pihak. Beberapa massa aksi pun mengaku merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya karena pendorongan paksa dan kasar oleh PLK UI. Bahkan, sempat hampir dilakukan pemukulan oleh salah satu oknum PLK UI terhadap dua peserta aksi, yakni Opu Pangeran, kepala Divisi Kajian Strategis BEM FISIP 2022, dan salah satu fungsionaris BEM UI. Oknum PLK UI itu pun seketika ditarik mundur oleh PLK UI di sekitarnya.
“Ya, betul. Hampir terjadi pemukulan. Salah satu PLK emosi, mengeluarkan beberapa kalimat dan kemudian mengepalkan erat tangannya dalam posisi ingin menonjok”, jawab Opu saat ditanya mengenai kejadian tersebut dari perspektifnya.
“Gaada upaya damai gaada upaya apa (dari PLK UI) dan kita menganggap itu sebagai tantangan untuk membubarkan kita, jadi akan kita jawab di tanggal 30 nanti (Aksi Selamatkan UI)”, ujar Melki mengenai usaha yang dilakukan oleh PLK UI setelah insiden terjadi.
Tindakan menghalang-halangi massa aksi untuk menyebarkan propaganda, penghambatan aksi long march, serta bentuk kekerasan oleh PLK dianggap Melki sebagai bentuk pelanggaran kesepakatan awal dari pihak kemahasiswaan.
Meskipun sempat terjadi ketegangan, massa aksi.pun membubarkan diri dengan tertib setelah salah satu pembicara di panggung acara menutup acara PPKMB UI 2022.
Bukan Hanya BEM, Ini Gerakan Seluruh Mahasiswa UI
Disebutkan oleh Melki bahwa gerakan ini bersifat inklusif untuk seluruh mahasiswa UI, meskipun belum diketahui pasti untuk penyebutan nama massanya. Akan tetapi, Melki menegaskan karena gerakan ini mengacu persoalan yang harus diselesaikan oleh UI yang bertajuk #PRUIMasihBanyak.
“Jadi, kalian tidak perlu takut kalau bukan anak BEM. Bukan anak BEM UI ataupun anak BEM fakultas, semuanya bebas untuk bergerak dengan caranya masing-masing. Karena kita punya semangat yang sama, karena PR UI yang masih banyak itu harus dikelarkan dalam waktu yang tidak banyak, tapi singkat.”, ucapnya.
Teks: Intan Shabira dan Sekar Arum
Editor: Kamila Meilina
Foto: Syifa Nadia
Kontributor