
Perang Dunia II telah berakhir pada tahun 1945 ditandai dengan menangnya blok barat. Berakhirnya Perang Dunia II bukan melahirkan sebuah perdamaian abadi di dunia, tetapi malah melahirkan jenis perang baru, yaitu cold war atau perang dingin. perang dingin ini ditengarai oleh munculnya dua negara adidaya yang merupakan sekutu pada Perang Dunia II, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Perang Dingin bukan hanya perang biasa, tetapi juga merupakan perang ideologi, yaitu Komunis-Sosialis yang dibawa oleh Uni Soviet dan Liberal-Kapitalis yang dibawa oleh Amerika Serikat.
Perang Dingin ini tidak seperti perang yang umumnya dilakukan secara terang-terangan antar kedua negara, tetapi diadakan atas dorongan dari dua negara tersebut yang juga dikenal dengan istilah proxy war. Dampak dari adanya Perang Dingin ini kemudian melahirkan dua pakta pertahanan besar, yaitu Pakta Warsawa yang “dikendarai” oleh Uni Soviet dan juga NATO (North Atlantic Treaty Organization) yang berada di bawah naungan Amerika Serikat dan sekutunya. Beberapa contoh kasus dari Perang Dingin ini ialah peristiwa Tembok Berlin (1948-1949), Perang Korea (1950-1953), Krisis Suez (1956), Krisis Rudal Kuba (1962), Perang Vietnam (1959-1975), dan beberapa perang lainnya.

Perang Dingin berlangsung selama 44 tahun dan berakhir pada tahun 1991, ketika Uni Soviet dan Pakta Warsawa membubarkan diri. Namun, keberadaan NATO masih terus ada hingga saat ini. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan baru: Siapakah musuh NATO saat ini? Sudah hampir 30-an tahun berlalu, Rusia (negara pecahan Uni Soviet) secara tiba-tiba menginvasi Ukraina dengan dalih mempertahankan diri dari NATO yang mulai masuk ke Eropa timur. Padahal, NATO melalui juru bicaranya, James Backer berjanji pada Gorbachev untuk tidak memperluas keanggotaannya hingga ke Eropa Timur. Namun nyatanya, Estonia, Latvia, dan beberapa negara pecahan Uni Soviet bergabung ke NATO. Selain itu, pada tahun 2008, NATO secara resmi mengundang Ukraina ke acara konferensi tahunannya. Lalu pada tahun 2014, acara pemilihan umum presiden Ukraina dimenangkan oleh calon yang ‘pro-barat’ yaitu Petro Poroshenko. Akibatnya, Ukraina secara terang-terangan semakin condong ke kubu NATO. Kemudian hal ini menyebabkan adanya demo pro-Rusia di daerah Krimea. Hal ini mengundang Rusia untuk mengadakan referendum dan mengklaim bahwa lebih dari 90% penduduk Krimea menginginkan bergabung dengan federasi Rusia (sumber : wikipedia). Hal inilah yang menjadi penyebab Rusia menginvasi Ukraina sejak 2014, di mana Rusia “mengamankan” wilayah yang berdekatan dengan dirinya, yaitu Krimea dan dilanjutkan dengan Luhansk dan Donesk. Lantas, apakah “pengamanan” yang dilakukan oleh Rusia merupakan tindakan yang rasional?

Upaya Ukraina Bergabung dengan NATO
Ukraina mendeklarasikan kemerdekaanya pada tanggal 24 Agustus 1991 dan pada tanggal 1 Desember 1991 Ukraina melakukan referendum dengan hasil 90 persen warganya memilih pisah dari Uni Soviet. Pada tanggal 26 Desember 1991 Uni Soviet resmi membubarkan diri, dengan ini Ukraina secara de jure menjadi negara yang berdaulat. Meskipun Ukraina secara de jure dan de facto telah menjadi negara yang berdaulat, tetapi intervensi Rusia kepada Ukraina masih terus dilakukan dengan alasan Ukraina masih menjadi bagian dari Uni Soviet. Rusia masih belum bisa melupakan masa-masa kejayaan Uni Soviet yang ditandai dengan intervensi Rusia terhadap negara-negara pecahan Uni Soviet.

Ukraina menempati posisi yang sangat strategis karena berada di antara federasi Rusia, Uni Eropa, dan Laut Hitam sehingga Ukraina menjadi tempat yang berpeluang besar untuk diperebutkan teritorinya. Posisi yang berada di antara Uni Eropa dan Rusia membuat kondisi politik Ukraina belum memiliki ideologi yang ajeg sehingga setiap pergantian pemimpin negara memiliki latar belakang ideologi yang berbeda-beda yang mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang akan dibuat. Pada saat Ukraina dipimpin oleh presiden yang pro-rusia, terjadi demonstrasi besar-besaran di berbagai wilayah Ukraina, salah satunya di Maidan Nezalezhnosti yaitu lapangan yang berada di pusat kota Kiev. Peristiwa demonstrasi di Maidan Nezalezhnosti dikenal dengan Euromaidan (Lapangan Eropa) karena tujuan dari demonstrasi tersebut agar Ukraina berintegrasi dengan Uni Eropa. Klimaks dari demonstrasi di Ukraina berujung pada pendudukan gedung parlemen dan rumah Presiden Viktor Yanukovych oleh para demonstran pada Februari 2014. Setelah pendudukan gedung parlemen rakyat memilih Presiden baru yang pro-Barat. Di sisi lain, tepatnya wilayah perbatasan dengan Rusia yaitu Krimea, Rusia terus membantu kelompok separatis pro-rusia untuk referendum dari Ukraina. Intervensi yang dilakukan Rusia sangat cerdik seperti mengirimkan kekuatan militer dalam operasi nonmiliter sehingga pihak lawan tidak dapat melancarkan operasi militer. Pada akhirnya Krimea menyatakan referendum dari Ukraina dan dianeksasi oleh Rusia hingga membawa eropa pada krisis kembali sejak perang dingin berakhir. Lepasnya Krimea berpengaruh pada geopolitik, politik internal, hingga ekonomi Ukraina.

Serangkaian intervensi hingga invasi yang dilakukan oleh Rusia merupakan bentuk pelanggaran terhadap kedaulatan Ukraina. Ukraina merupakan negara baru yang kekuatan militernya tidak sekuat Rusia sehingga memerlukan bantuan militer yang kuat agar dapat mempertahankan kedaulatannya, salah satunya bergabung dengan NATO. NATO hingga saat ini masih belum menerima Ukraina sebagai anggotanya karena proses penerimaan yang memakan waktu hingga seluruh anggota NATO menyetujuinya. Peran NATO hanya sebatas hubungan mitra dengan Ukraina sehingga konflik yang terjadi di Ukraina sulit dihadapi jika menggunakan kekuatan militer terhadap Rusia. Selain itu, negara sekitar federasi Rusia juga “angkat tangan” jika harus membantu dengan kekuatan militer sehingga Ukraina sangat memerlukan keanggotaan NATO untuk menambah kekuatan militer di negara tersebut.
Alasan Rusia Menginvasi Ukraina
Pada tanggal 24 Februari 2022, Rusia resmi menginvasi Ukraina. Hubungan kedua negara ini semakin memanas semenjak Ukraina terlihat mesra dengan NATO. Setelah terlepas dari USSR (Union of Soviet Socialists Republic), Ukraina memilih untuk menjalin kerjasama dengan NATO. Pada tahun 2008, Ukraina resmi mendaftar keanggotaan NATO, tetapi pada tahun 2010 Presiden Yanukovych membatalkan proses pendaftaran tersebut karena kedekatannya dengan Rusia. Setelah rezim Yanukovych tumbang, Ukraina kembali berkomitmen untuk bergabung dengan NATO.
NATO adalah organisasi pertahanan internasional yang beranggotakan 30 negara. NATO memiliki kebijakan yang terkenal, yaitu Article 5. Kebijakan ini berfokus pada pertahanan bersama yang secara besar menegaskan apabila salah satu anggota NATO mendapatkan serangan bersenjata, maka seluruh anggota yang lain akan menyatakan perang kepada negara tersebut. Pertahanan bersama yang dimaksud termasuk mengirimkan tentara gabungan dan persenjataan kepada anggota NATO yang diserang. Hal ini tentu menjadi momok bagi Rusia karena apabila Ukraina bergabung dengan NATO, maka Rusia tidak dapat lagi ikut campur dalam urusan dalam negeri Ukraina. Selain itu, NATO akan menempatkan serta memperkuat fungsi tentara di perbatasan Rusia-Ukraina. Alasan politik ini lah yang menjadi alasan paling mendasar di balik invasi Rusia terhadap Ukraina.

Secara geografis, Rusia adalah negara terluas di dunia dan memiliki banyak wilayah perbatasan dengan negara lain, salah satunya Ukraina. Dari segi geografis, jalur invasi paling mungkin dari Eropa ke Rusia melalui Ukraina dan Polandia. Jika Ukraina bergabung dengan NATO maka perbatasan antara Uni Eropa dan Rusia menjadi semakin dekat dan tidak memerlukan waktu yang lama bagi sekutu untuk memasuki wilayah inti Rusia.
Selain itu, dari segi ekonomi, Rusia merupakan eksportir gas alam terbesar kedua di dunia. 40% gas alam di Benua Eropa dipasok oleh Rusia. Jalur ekspor gas alam Rusia melewati wilayah Ukraina yang dahulu merupakan satu kesatuan negara USSR sehingga Rusia harus membayar biaya transit ke Pemerintah Ukraina. Tak hanya itu, Pemerintah Ukraina juga membendung kanal utara Krimea yang menyebabkan terputusnya jalur air bersih untuk Krimea semenjak Krimea menyatakan kemerdekaannya. Penemuan potensi gas alam di wilayah laut hitam dekat Krimea dan Ukraina akan menguntungkan Rusia. Oleh karena itu, bukan tidak mungkin alasan ekonomi juga menjadi pertimbangan Rusia dalam menginvasi Ukraina.

Kesamaan Invasi Ukraina dengan Invasi Teluk Babi
Invasi Teluk Babi merupakan invasi yang diinisiasi oleh Presiden AS saat itu, yaitu Eisenhower. Hal ini bermula Ketika Fidel Castro yang ‘berideologi komunis’ berhasil menggulingkan kekuasaan Fulgencio Batista. Hal ini membuat AS geram karena beberapa hal, di antaranya adalah banyaknya perusahaan AS yang dinasionlisasi oleh Castro hingga ancaman yang akan terjadi jika Castro semakin dekat dengan Uni Soviet. Ancaman itu sangat jelas karena hubungan Castro dengan Uni Soviet meliputi penanaman rudal nuklir di Kuba yang memiliki jarak yang sangat dekat dengan Florida (salah satu negara bagian AS).

Menyadari ancaman tersebut, Eisenhower memerintahkan CIA (Central Intelligence of America) untuk menghilangkan ancaman tersebut dengan cara melakukan penggulingan kekuasaan Castro. CIA lantas membuat rencana pemberontakan melalui pasukan yang merupakan orang-orang ‘buangan’ Kuba yang dinamai Brigade 2506. Namun, invasi yang dilakukan oleh CIA ini gagal berjalan dengan lancar karena beberapa faktor yang mengakibatkan pemberontakan ini gagal. Faktor tersebut di antaranya adalah: 1) Rencana CIA bocor ke telinga Castro karena sebelum penyerangan terjadi, intelijen Uni Soviet telah mengetahui akan adanya penyerangan terhadap Kuba. 2) Kesalahan prediksi dari CIA dalam menyurvei medan. Terumbu karang yang tajam serta ganasnya ombak di Teluk Babi menjadi rintangan yang tak terduga bagi CIA sehingga menyebabkan keterlambatan berlabuhnya kapal laut yang membawa Brigade 2506 dan menghancurkan rencana yang sudah dibuat. 3) Pesawat udara CIA gagal menyerbu pangkalan udara Kuba karena semua pesawat yang dimiliki Castro telah dipindahkan dari pangkalan udara. 4) Dibatalkannya bala bantuan dari militer AS oleh John F. Kennedy. Hal ini terjadi karena semua serangan yang telah dilancarkan oleh CIA sudah diketahui dalangnya, dan JFK tidak mau membuat nama AS tercoreng lebih besar. Pada akhirnya, kegagalan invasi ini tetap menyebabkan tercorengnya nama AS di kancah dunia dan membuat tensi Perang Dingin semakin tinggi, hal ini ditandai dengan semakin eratnya hubungan antara Kuba dan Uni Soviet, dan berlanjut hingga peristiwa Krisis Misil Kuba.
Dari pemaparan di atas, kita bisa melihat kesamaan skema antara Invasi Ukraina dengan Invasi Teluk Babi. Kesamaan tersebut adalah kondisi geografis Ukraina dengan Rusia memiliki jarak yang sangat dekat seperti jarak AS dengan Kuba dan ancaman dari aliansi pakta pertahanan. Jika Ukraina masuk ke NATO, maka NATO berhak untuk melakukan kegiatan militer di Ukraina, terlebih jika NATO menanamkan rudal nuklir di Ukraina, hal ini sangat berbahaya bagi Rusia, begitu pun AS yang takut jika Pakta Warsawa masuk ke Kuba.

Kesimpulan
Dari pemaparan tersebut, Rusia seolah-olah mencoba untuk memberikan batas pagar untuk menjamin keamanan Rusia. Sementara itu dalam bayang-bayang Uni Soviet, Kremlin telah menunjukan bahwa pelebaran sayap dari NATO ke dalam wilayah Eropa Timur adalah sebuah kesalahan mutlak dan seolah-olah hal itu mencederai harga diri dari Rusia. Alasan ini lah yang akhirnya dimanfaatkan Rusia untuk memperoleh justifikasi invasi kepada Ukraina.
Kendati demikian, Ukraina juga mempunyai hak penuh untuk melawan balik, mengingat kondisi Rusia dan Ukraina belakangan di mana Rusia tampaknya tidak mau mengakui kedaulatan Ukraina sepenuhnya. Secara historis pun Ukraina berkali-kali mengalami masa-masa keterpurukan baik di bawah rezim Uni Soviet ataupun Tsar Rusia. Dengan demikian kemerdekaan Ukraina pada tahun 1991 merupakan harga yang sangat mahal karena ada begitu banyak keringat dan darah untuk memperolehnya. Oleh karena itu, sudah selumrahnya apabila mereka memiliki hak untuk mempertahankan negaranya. Selain itu, NATO tampaknya juga harus berpikir matang-matang atas tindakannya untuk mengintervensi Rusia dan Ukraina mengingat sengketa Krimea yang masih belum selesai yang mana Rusia sewaktu-waktu dapat melakukan hal yang serupa terhadap NATO.
Invasi Teluk Babi nampaknya bisa menjadi sebuah gambaran terkait apa yang tengah terjadi antara Rusia dan Ukraina di masa kini, atau secara sederhananya invasi Rusia kepada Ukraina mengisyaratkan pada satu hal yakni peringatan kepada Ukraina sekaligus ancaman kepada NATO untuk berhenti melakukan ekspansi dan menyingkirkan potensi ancaman nuklir dalam negara-negara bekas Uni Soviet. Tujuan utama dari penaklukan Kremlin adalah untuk menjamin bahwa negara-negara pecahan Uni Soviet seperti Ukraina, Belarusia, dan Georgia tidak akan pernah menjadi bagian dari blok militer atau ekonomi selain yang dikendalikan Moskow. Rusia berusaha keras menjadi penengah utama kebijakan luar negeri dan keamanan ketiga negara tersebut. Dengan demikian pertempuran ini tak ubahnya perpanjangan dari Perang Dingin setelah runtuhnya Uni Soviet.
Daftar Pustaka
Fakhriansyah, M., & Teguh, I. (2021, April 20). Invasi Teluk Babi, Skandal Memalukan as Yang Gagal Mengudeta Castro. Tirto.id.
Kartini, Indriana. (2014, Desember). Aneksasi Rusia Di Krimea Dan Konsekuensi Bagi Ukraina. Jurnal Penelitian Politik. 11(2): 27-41.
Moscow Times. (2021). Russian Military to Make Putin’s Ukraine Opus Compulsory – RBC. https://www.themoscowtimes.com/2021/07/16/russian-military-to-make-putins-ukraine-opuscompulsory-rbc-a74538.
Raditya, Iswara N. (2022, Februari 25). Tirto. "Sejarah Ukraina Merdeka dari Soviet Hingga Perang vs Rusia Terkini". Diakses pada 20 Maret 2022 melalui: https://tirto.id/gpo7.
Widiasa, R. (2018). Bingkai Identitas dalam Konflik Geopolitik: Intervensi Militer Rusia di Ukraina. Intermestic: Journal Of International Studies, 3(1), 60-76. doi:10.24198/intermestic.v3n1.5
Yahya, H., & Bakrie, C. R. (2022, Maret 1). Invasi rusia-Ukraina akankah menyulut PD-III?. YouTube.
Teks: Andita, Sekar, Wanda, Prima
Ilustrasi:
Pers Suara Mahasiswa UI 2022
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
Kontributor