Logo Suma

Di Balik Setir Bikun: Antara Resah Maba dan Lelah Sopir

Redaksi Suara Mahasiswa · 21 Agustus 2025
3 menit

Bis Kuning (Bikun) kerap menjadi transportasi andalan untuk setiap mobilitas di lingkungan Kampus Universitas Indonesia (UI). Namun, beberapa mahasiswa baru mengeluhkan pengoperasian salah satu Bikun yang dirasa tidak menghadirkan keamanan maupun kenyamanan bagi penggunanya.

Hal ini dikemukakan oleh Abadi, mahasiswa dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) angkatan 2025. Pada Selasa (20/8), kisaran pukul sembilan pagi, Abadi dan teman-temannya hendak mengambil jaket kuning di Balairung. Mereka duduk tepat di belakang sopir. Namun, ketika asyik bercerita menggunakan bahasa daerahnya, Abadi malah mendapati amarah dari sang sopir.

“Suaranya nggak besar gitu, Kak, nggak gimana. Cerita-cerita aja, tapi emang pakai bahasa-bahasa Toraja gitu. Habis itu, tiba-tiba nih, bisnya belum lama jalan, tiba-tiba supirnya marah gitu. Nggak tahu juga, nggak jelas juga marahnya kenapa,” ungkap Abadi ketika diwawancarai oleh Suara Mahasiswa UI pada Rabu (21/8).

Berdasarkan kesaksiannya, Abadi diteriaki hingga dua kali. Sesampainya di Balairung pun Abadi masih merasakan tatapan amarah dari sang sopir ketika hendak turun dari Bikun.

Yacob, mahasiswa baru Fakultas Teknik turut angkat suara terkait pengalaman tak menyenangkan dari seseorang yang duduk di balik kemudi Bikun. “Pas bisnya udah jalan, di pertengahan jalan ini tiba-tiba [busnya] langsung berhenti. [Sopir] langsung lepas seat belt-nya, langsung marahin teman gua, tapi ngomongnya nggak jelas.”

Ia mengaku dihampiri sopir untuk dimarahi. Temannya, Leman, pun ditunjuk-tunjuk. “Kami pikir bukan kami kan yang dibilangin, rupanya kami. Habis tatapannya tuh kayak kosong, tapi tiba-tiba nunjuknya ke Leman. Ngomong-ngomong kosong gitu.”

Berdasarkan hasil wawancara Suara Mahasiswa UI pada Rabu (21/8), sopir Bikun yang bersangkutan turut mengeluhkan adanya perilaku mahasiswa yang dinilai kurang sopan. Akan tetapi, ia mengakui bahwa melarangnya juga suatu hal yang sulit.

“Kalau saya mah [untuk menghadapi mereka yang kurang sopan], paling saya tegur. Tapi, kan, kebanyakan kalian pada cuek, masa bodoh. Udah [saja] saya mah, yang penting udah saya nasehatin. Paling kalau waktu itu, [saat ada mahasiswa] yang pada berisik itu, saya ngomong kencang biar sekalian berisik, [supaya] entar juga pada diam. [Karena mereka] pada ngoceh, sekalian aja dibikin rame,” ungkapnya sambil tertawa.

Di sisi lain, beberapa mahasiswa baru juga mengkhawatirkan keselamatan penumpang Bikun sebab pengoperasiannya dinilai ugal-ugalan. “Emang cara bawa bisnya itu yang ugal-ugalan, Kak. Dia kadang [sedang melaju cepat seperti] balap, [tetapi malah] langsung tiba-tiba rem gitu,” tutur Abadi.

Jordan, mahasiswa baru FMIPA turut menambahkan, “Dari Balairung kan itu [kapasitas Bikun-nya] udah full, terus di pertengahan jalan ke sana sampai FMIPA itu [sang sopir] bawanya ugal-ugalan, Kak, [sementara] itu orang [di dalam Bikun ada] banyak. Dia tuh kayak gas-rem gas-rem gitu, Kak. Tadi kencang, baru rem lagi. Kencang, rem lagi. Bahaya, kan, banyak orang [di Bikun].”

Abadi dan teman-temannya menyaksikan adanya mahasiswa yang sampai terjatuh di dalam Bikun akibat dikendarai secara ugal-ugalan. Salah satu temannya kemudian menegur sang sopir untuk tidak terburu-buru menjalankan Bikun. Meski tidak direspons, para mahasiswa baru ini akhirnya merasakan kecepatan Bikun kembali normal saat kembali menaikinya pada malam hari.

Keesokan harinya (21/8) sekitar pukul 12 siang, saat salah reporter Suara Mahasiswa UI menaiki Bikun yang dikeluhkan tersebut. Dari pengamatannya, speedometer menunjukkan kecepatan Bikun berada di kisaran 40 km/jam. Hal ini tentunya melampaui batas maksimal kecepatan yang diatur oleh Kawasan Tertib Lalu lintas (KTL) UI di angka 30 km/jam. Namun, menurut sang sopir, batasan maksimal yang sebenarnya adalah 40 km/jam.

“Di KTL ini kan pemberitahuan aja. Maksimal 40 [km/jam]. Memang dulunya dikasih tahu kesepakatannya segitu [40 km/jam], dari DAMRI-nya,” ungkapnya.

Meski demikian, sopir Bikun tersebut mengakui bahwa batas maksimal tadi kadang dilampaui demi memaksimalkan waktu istirahat yang tak banyak. “Ya, istirahatnya itu, makanya kadang-kadang kita harus melalui [kecepatan] 40 [km/jam] lebih tuh cuma biar agak panjang istirahatnya, biar bisa buat makan, karena habis buat beli nasi doang waktu [istirahat]nya. Baru mau makan, waktu [istirahat]nya udah habis. Berangkat lagi. Akhirnya, seputaran lagi baru [bisa] makan.”

Berdasarkan informasi dari sopir tersebut, masing-masing Bikun memiliki 18 hingga 19 jadwal di setiap hari kerja. Pada putaran pertama hingga pukul sembilan pagi, jeda yang dimilikinya untuk beristirahat sebelum putaran berikutnya hanya berkisar 4 menit. Sementara itu, ia memperkirakan bahwa diperlukan waktu sekitar setengah jam untuk menuntaskan satu kali putaran.

Dengan jeda yang terbilang singkat, para sopir bisa memaksimalkannya bila lalu lintas sedang dalam keadaan lancar. Namun, bila terjebak kemacetan, sopir kadang tak mengenal istirahat sebab perlu mengikuti jadwal yang sudah ditentukan.

Di sisi lain, penambahan jadwal turut menambah beban kerja mereka hingga baru bisa kembali ke asrama pukul 22.30 WIB. “Kalau merasa tertekan nggak, cuma kejepit aja dompetnya. [Kerja sampai] malam banget, [duitnya] segitu-segitu bae. [Memang] nggak bisa [ditambah], udah diatur pendapatannya segitu [meski ada penambahan jam kerja].”

Bis Kuning punya cerita. Di balik setir Bikun, ada suara lelah sopir dan resahnya mahasiswa baru. Di balik kemudi Bikun, ada penumpang yang hanya berharap diantar dengan selamat, ada pula sopir yang ugal-ugalan mengejar waktu rehat walau sesaat.

Teks: Naswa Dwidayanti Khairunnisa

Editor: Dela Srilestari

Foto: Naswa Dwidayanti Khairunnisa

Desain: Aqilah Noer Khalishah

Pers Suara Mahasiswa UI 2025

Independen, Lugas, dan Berkualitas!