Diana: Di Balik Gemerlap Kehidupan Seorang Putri

Redaksi Suara Mahasiswa · 16 Februari 2021
2 menit

Judul: Diana: Her True Story–In Her Own Words (25th Anniversary Edition)
Pengarang: Andrew Morton
Jumlah halaman: 424
Penerbit: Simon & Schuster
Tahun terbit: 2017
Cetakan: I

“I always felt very different from everyone else, very detached. I know I was going somewhere different but had no idea where”.

Lady Diana Spencer, seorang gadis pemalu yang bekerja sebagai guru taman kanak-kanak, tidak pernah menyangka bahwa dia akan menjadi seorang putri kerajaan. Kisah hidupnya dari seorang rakyat biasa yang menikah dengan pewaris takhta kerajaan Inggris, Pangeran Charles, terlihat seperti cerita dongeng di kehidupan nyata pada masa itu. Pernikahannya dengan Pangeran Charles yang dijuluki sebagai “fairytale wedding” menjadi pusat perhatian seluruh dunia, dan gadis-gadis mendambakan kehidupan yang dimilikinya. Namun, apakah kenyataannya seindah apa yang dipikirkan orang-orang? Melalui buku yang ditulis Andrew Morton, Diana: Her True Story –In Her Own Words, Sang Putri membuka suara mengenai kehidupan sesungguhnya yang ternyata jauh berbeda dari narasi “hidup bahagia selamanya”.

Dalam buku ini, diceritakan perjuangan dan kesulitan-kesulitan yang dialami Diana selama kehidupannya sebagai seorang putri. Mulai dari pers yang selalu mengamati gerak-geriknya ke mana pun ia pergi, kurangnya support dari keluarga kerajaan, sampai perselingkuhan Pangeran Charles dengan mantan kekasihnya, Camilla Parker Bowles. Hubungan sang Pangeran dengan Camilla yang ternyata sudah diketahui Diana sebelum hari pernikahannya selalu menghantui kehidupan rumah tangganya. Hal ini juga menjadi salah satu pemicu dari penyakit bulimia yang dideritanya, pun beberapa percobaan bunuh diri serta self-harm yang sempat dilakukan oleh Sang Putri.

Akibat konten yang dianggap merusak reputasi keluarga kerajaan, buku ini sempat dilarang untuk beredar, walaupun pada akhirnya menjadi #1 New York Times bestselling biography. Dalam edisi hari jadi ke-25, buku ini menghadirkan fitur yang lebih lengkap. Selain biografi, terdapat juga transkrip wawancara yang dilakukan Morton dengan Diana sebagai sumber buku ini, serta kelanjutan kisah hidup Sang Putri sampai kematiannya yang sebelumnya tidak tercantum pada edisi pertama. Melalui buku ini, pembaca dapat mengetahui detail perjalanan hidup Lady Diana Spencer, mulai dari masa kecilnya hingga kematiannya, dari perspektif Diana sendiri. Cara penulisan Morton yang empatik, ditambah dengan kata-kata yang berasal langsung dari Diana dalam transkrip wawancaranya, memberikan gambaran yang jelas bagi pembaca mengenai kesulitan yang dialami Diana. Morton dapat membuat pembaca menempatkan diri mereka dalam posisi Diana untuk memahami jalan pikirannya mengenai pilihan-pilihan yang ia buat dalam kehidupannya.

Namun, dalam penulisan buku ini, Morton terlalu banyak memasukkan detail-detail yang tidak terlalu penting sehingga dapat mengalihkan perhatian pembaca dari jalannya cerita. Selain itu, urutan kronologis dari buku ini bisa dibilang sedikit berantakan. Ada beberapa lompatan waktu dari satu kejadian ke kejadian lainnya yang dapat membuat pembaca menjadi bingung. Ditambah ada beberapa detail atau kejadian yang diulang beberapa kali. Bagi pembaca yang tidak terlalu memahami kronologis kehidupan Lady Diana, mungkin akan sedikit kesulitan untuk mengetahui urutan dari beberapa kejadian yang diceritakan.

Secara keseluruhan, buku ini merupakan biografi yang cukup lengkap dan menarik. Kontribusi Lady Diana dalam pembuatan buku ini menjadikannya sebagai satu-satunya buku yang paling mendekati autobiografi dari Sang Putri. Buku ini cocok dibaca oleh orang-orang yang tertarik dengan kehidupan keluarga kerajaan Inggris. Namun, karena buku ini sepenuhnya hanya membahas sebuah permasalahan atau skandal dari satu sisi saja, pembaca diharapkan untuk tidak menghakimi hanya berdasarkan perspektif dari buku ini.

Teks: Ananda Nayla
Foto: Istimewa
Editor: Ruth Margaretha M.

Pers Suara Mahasiswa UI 2021
Independen, Lugas, dan Berkualitas!