Logo Suma

Antara Akademis dan Non-Akademis: Dilema Mahasiswa Masa Kini

Redaksi Suara Mahasiswa · 8 Oktober 2022
5 menit · - kali dibaca
Antara Akademis dan Non-Akademis: Dilema Mahasiswa Masa Kini

“Maka hanya ada satu kata, lawan!” saut Wiji Thukul kepada udara bebas. Berpuluh-puluh tahun berselang, pernyataan tersebut tetap abadi dan menginspirasi khalayak yang gandrung akan keadilan, salah satu dari khalayak yang dimaksud adalah mahasiswa. Kelekatan mahasiswa dengan semangat aktivisme tersebut kemudian menciptakan pesona tersendiri pada golongan ini, yaitu mahasiswa sebagai pengawal kepentingan publik. Implikasinya, pesona ini menjadi tanggungan setiap kelompok mahasiswa, termasuk mahasiswa baru di dalamnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa menjadi mahasiswa baru berarti memulai perjalanan sebagai pengawal kepentingan publik.

Namun, pada kenyataannya, kehidupan mahasiswa tak selalu seheroik itu. Terkadang, permasalahan yang dihadapi sesederhana beradaptasi dalam pergulatan hebat dengan tugas-tugas yang menumpuk atau menahan diri untuk tidak bosan menjelaskan identitas pribadi kepada orang baru. Selain itu, membiasakan diri dengan perkataan “Ayo bergabung dengan kami! kita tumbuh bersama,” atau “Kuliah bukan hanya tentang nilai, ayo latih softskill bersama kami!” oleh para kakak tingkat (kating) dari organisasi atau kepanitiaan tertentu juga dapat menjadi tantangan tersendiri bagi para mahasiswa, khususnya mahasiswa baru. Merespon hal tersebut, beberapa pertanyaan bermunculan, seperti apakah organisasi dan kepanitiaan di kampus benar memberikan softskill yang dijanjikan? Bagaimana memastikan bahwa kegiatan organisasi dan kepanitiaan tersebut tidak mengganggu kehidupan akademis? Apa saja pertimbangan yang harus dikonsiderasi sebelum memutuskan untuk bergabung?

Menelisik Eksistensi Kegiatan Mahasiswa

Dengan segudang modal ilmu yang dimiliki, pengimplementasian dari ilmu tersebut menjadi satu hal yang ingin dikejar oleh mahasiswa. Berkaitan dengan hal ini, terkadang tidak tersedia banyak tempat yang dapat mengakomodasi keinginan mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmunya. Satu dari sekian banyak tempat yang tidak dapat mengakomodasi keinginan tersebut adalah dunia kerja, tuntutan dan tekanannya yang tinggi membuat kebanyakan mahasiswa tidak cukup mampu untuk mencapai kualifikasi yang diperlukan. Selain itu, tingginya daya kreativitas mahasiswa turut menjadi satu hal yang tidak dapat diakomodasi secara penuh oleh dunia kerja yang sering kali tidak ramah terhadap sebuah eksperimen. Oleh karena itu, kegiatan mahasiswa hadir sebagai solusi atas keterbatasan yang tersedia.

Dalam prosesnya pun, tidak jarang mahasiswa yang menjadikan kegiatan mahasiswa sebagai wadah persiapan dunia kerja. Misalnya di Indonesia pada periode 1950-an, dengan kondisi baru berdirinya Indonesia, kebanyakan mahasiswa mengasosiasikan dirinya sebagai calon birokrat dalam pemerintahan Indonesia. Oleh karena itu, kegiatan kemahasiswaan beraliran politik menjadi cukup digandrungi oleh kalangan mahasiswa (Ahsan, 2018). Dengan membaca pemaparan sampai dengan saat ini, barangkali pembaca mulai memberi cap positif pada kegiatan mahasiswa. Namun faktanya, tidak semua kegiatan mahasiswa dilatarbelakangi oleh motivasi positif para mahasiswa, beberapa didorong oleh pihak eksternal dengan motif tertentu. Indonesia pada era demokrasi parlementer dapat menjadi sebuah contoh. Pada masa tersebut, tidak jarang organisasi mahasiswa berafiliasi langsung dengan sebuah partai politik. Sebut saja Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) yang berafiliasi dengan PKI dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang berafiliasi dengan gerakan Islam (Ahsan, 2018).

Selain tiga poin pemicu kegiatan mahasiswa yang telah dipaparkan, yaitu wadah eksperimen ide, simulasi dunia kerja, dan pengaruh eksternal, setidaknya terdapat satu faktor lain yang dayanya cukup signifikan. Faktor tersebut adalah motivasi untuk memperluas jaringan dalam kehidupan sosial. Faktor ini cukup populer mengingat sistem perkuliahan di kebanyakan kampus yang tidak mengenal konsep kelas tetap seperti masa sekolah. Oleh karena itu, kegiatan mahasiswa menjadi substitusi atas kelompok yang dijadikan sebagai sebuah identitas. Lebih lanjut, faktor ini semakin populer pada generasi mahasiswa yang menjalankan perkuliahan secara online. Kepopuleran ini tidak terlepas dari fakta bahwa perkuliahan secara online tidak memberi banyak ruang bagi mahasiswa untuk saling mengenal. Dalam hal ini, kegiatan mahasiswa barangkali menjadi satu-satunya jalan yang tersisa.

Klaim “Berkembang Bersama” : Tak Selalu Relevan!

Syarat berlangsungnya sebuah kegiatan mahasiswa adalah partisipasi dari para mahasiswa itu sendiri. Dalam hal ini, permasalahannya adalah tidak semua kegiatan mahasiswa selalu memiliki jumlah peminat yang tinggi. Oleh karena itu, untuk memastikan keberlanjutan partisipasi dari para mahasiswa, pengurus dari kegiatan tersebut seringkali memberi embel-embel “berkembang bersama” dan “melatih softskill” pada kegiatannya. Namun, apakah perkembangan dan softskill yang dijanjikan tersebut benar tercapai pada realitanya?

Setidaknya, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jennifer A. Fredricks pada tahun 2011, hampir 80 persen anak muda di Amerika Serikat memilih untuk melakukan kegiatan di luar kurikulum pendidikan. Dari 80 persen anak tersebut, terdapat beberapa perkembangan yang terjadi, seperti perkembangan relasi pertemanan, keahlian yang lebih baik dalam pendekatan sosial, dan perkembangan pada keahlian mendasar yang mendukung kemampuan akademiknya. Lebih jauh lagi, pada aspek sosial, kegiatan tersebut dipercaya mampu mengembangkan kemampuan kepemimpinan seorang pelajar. Melalui kemampuan kepemimpinan tersebut, seorang pelajar memiliki potensi yang lebih besar untuk menjadi manajer dan menerima gaji di atas rata-rata pada masa yang akan datang. Selain itu, kemampuan manajemen waktu dan tenaga turut serta menjadi beberapa manfaat yang menyertai (Christison, 2013).

Jika mengacu kepada pengalaman pribadi penulis, nilai positif yang telah dipaparkan boleh dibilang cukup relevan dengan realita. Dengan pengalaman kepanitiaan dan organisasi di FEB UI, saya merasakan banyak perkembangan diri yang terjadi, terutama pada aspek sosial. Selain itu, beberapa kepanitiaan besar di FEB UI juga menawarkan pengalaman-pengalaman yang berharga di ranah profesional, seperti pengalaman audiensi dengan pemerintah, rapat dan negosiasi untuk mencapai kesepakatan dengan perusahaan besar, sampai dengan pengalaman mengorganisasikan acara dalam skala yang besar. Walaupun kebanyakan pekerjaannya tidak dapat dibilang ringan, penulis merasa workload tersebut setara dengan konsekuensi positif yang didapatkan.

Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa tidak semua kepanitiaan dan organisasi kampus berjalan sesuai dengan yang terjadi di lingkungan penulis, yaitu FEB UI. Di beberapa tempat lainnya, kegiatan serupa justru dipenuhi intrik antarpanitia yang menguras energi dan tidak bermanfaat. Imbasnya, kegiatan mahasiswa yang menjanjikan perkembangan dan soft skill justru hanya berujung pada penghabisan waktu, tenaga, dan pikiran. Oleh karena itu, untuk mencapai perkembangan diri melalui kegiatan mahasiswa, proses pemilihan kegiatan yang selektif adalah hal yang wajib diterapkan oleh para mahasiswa.

Eksistensi Hal Akademis: Sumber Nyata Sebuah Dilema

Kutipan “Try everything, repeat what you love,” oleh Julienne G. Hallmark barangkali dapat saja diterapkan pada dinamika kegiatan mahasiswa ini. Toh, tidak ada salahnya mencoba, cukup jadikan pelajaran jika memang tidak sesuai ekspektasi. Namun sayangnya, terdapat constraint berupa waktu dan tenaga yang menghambat penerapan dari kutipan tersebut. Lebih lanjut, constraint ini hadir akibat eksistensi hal akademis yang merupakan tanggung jawab seorang mahasiswa. Dengan kegiatan mahasiswa yang berlebih, hal akademis seringkali dinomorduakan. Imbasnya, terjadi penurunan performa pada aspek akademis mahasiswa.

Fenomena ini sejalan dengan fakta bahwa manusia tidak dirancang untuk multitasking, yaitu melakukan dua atau lebih tugas dalam satu waktu. Diketahui bahwa terdapat cerebral cortex yang mengontrol segala aktivitas otak. Kontrol ini terbagi kepada dua tahap, yaitu tahap pergantian dan aktivasi. Pada tahap pergantian, otak akan mengorganisasi fokus untuk berganti dari satu tugas ke tugas lainnya. Selanjutnya, tahap aktivasi akan menonaktifkan fokus pada tugas sebelumnya. Dengan mekanisme penonaktifan fokus pada tugas sebelumnya setelah dilakukan pergantian, multitasking menjadi hal yang sesungguhnya sulit dilakukan oleh manusia (Adams, 2019). Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa melakukan kegiatan nonakademis dan akademis secara bersamaan serta berlebih dapat membuat performa pada kedua kegiatan tersebut menjadi tidak maksimal.

Mahasiswa Baru, Selamat Datang pada Dunia Penuh Kebimbangan!

Pada akhirnya, tidak dapat dimungkiri bahwa kegiatan mahasiswa memang memiliki berbagai manfaat pada perkembangan diri mahasiswa, baik sebagai seorang pribadi maupun profesional. Terlebih lagi, beberapa kegiatan juga menawarkan pengalaman yang hampir sesuai dengan realita dunia kerja. Positifnya, pengalaman tersebut dapat menambahkan nilai diri ketika akan melangkah menuju dunia kerja. Namun, satu hal yang harus digarisbawahi oleh mahasiswa adalah tanggung jawab utama mereka, yaitu hal akademis. Dengan mengonsiderasi kapasitas manusia yang tidak dapat multitasking secara alamiah, mahasiswa harus mampu menyeleksi dengan selektif kegiatan yang akan diikuti. Pasalnya, tidak semua kegiatan mampu memberikan timbal balik yang sesuai. Jangan sampai kegiatan di luar akademis justru mengorbankan tugas akademis yang menjadi tujuan utama seorang mahasiswa.

Teks: Izza Maulana Rizqi (Ilmu Ekonomi, FEB UI ‘21)
Editor: Dian Amalia Ariani
Ilustrasi: Amalia Ananda

Pers Suara Mahasiswa UI 2022!
Independen, Lugas, dan Berkualitas


Disclosure Statement:
Tidak ada potensi konflik kepentingan yang dilaporkan oleh penulis.

*) Opini kontributor ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Pers Suara Mahasiswa UI.

REFERENSI

Adams, C. (2019, February 17). Can People Really Multitask? ThoughtCo. https://www.thoughtco.com/can-people-really-multitask-1206398#:~:text=The%20short%20answer%20to%20whether

Ahsan, I. A. (2018, February 7). Riwayat Gerakan Mahasiswa: Dari Dema hingga BEM. Tirto.id. https://tirto.id/riwayat-gerakan-mahasiswa-dari-dema-hingga-bem-cEpd

Christison, C. (2013). The Benefits of Participating in Extracurricular Activities. BU Journal of Graduate Studies in Education, 5(2). https://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ1230758.pdf

Tim Penggarap