Logo Suma

Diskusi Publik Cagub Jakarta: Absennya Satu Paslon hingga Gagasan yang Dinilai ‘Cari Aman’

Redaksi Suara Mahasiswa · 9 November 2024
4 menit

Pada Kamis (7/11), Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik mengadakan Diskusi Publik dengan judul “Dialog Jakarta: Ragam Perspektif Membangun Kota” di Auditorium Juwono Sudarsono Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI. Diskusi ini bertujuan sebagai sarana mahasiswa dan dosen untuk berdiskusi langsung dengan para calon gubernur Daerah Khusus Jakarta (DKJ) 2024, nomor urut 01--03.

Namun paslon 01, Ridwan Kamil dan Suswono membatalkan kehadiran sehingga diskusi ini hanya dihadiri oleh calon wakil gubernur DKJ nomor urut 02, Kun Wardana dan calon gubernur DKJ nomor urut 03, Pramono Anung Wibowo.

Pramono Anung: Melanjutkan Semua yang Belum Selesai di Jakarta

Diskusi diawali dengan pemaparan visi misi oleh Pramono Anung (03). Pramono mengungkapkan, mulanya ia tidak pernah berniat untuk mencalonkan diri menjadi gubernur, tetapi situasi lah yang mendorongnya untuk maju. Setelah ia berkeliling dan bertemu banyak warga Jakarta, ia mulai jatuh cinta dengan keberagaman yang ada dan membuatnya bertekad memenangkan pilkada 2024.

Berdaya, Berkeadilan, dan Melanjutkan menjadi slogan utama paslon 03. Dengan fokus utama melanjutkan program gubernur Jakarta sebelumnya yang belum tuntas, salah satunya proyek Jakarta International Stadium (JIS) yang dibuat oleh Anies pada masa kepemimpinannya. Menurut Pramono, masih banyak hal yang harus dilakukan untuk menjadikan JIS sebagai trademark. Salah satunya adalah masalah transportasi umum karena belum memiliki jalur KRL, Transjakarta, LRT, dan MRT yang menuju JIS. Lebih lagi, Pramono menambahkan bahwa Ruang Terbuka Hijau (RTH ) dan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kalijodo yang dibuat saat pemerintahan Ahok pun saat ini sudah tidak terawat, sehingga fungsinya sebagai tempat rekreasi tidak bisa terlaksana.

Program Prioritas Pramono: Transportasi, Hunian, dan Keterlibatan Anak Muda

Dalam pemaparannya, Pramono juga menekankan pentingnya memperbanyak armada JakLingko untuk memperbaiki konektivitas transportasi umum antarwilayah di Jakarta. Selain itu, ia memperkenalkan konsep “hunian parkir superblok” sebuah inisiatif yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan parkir di area superblok. Selain infrastruktur fisik, Pramono berkomitmen melibatkan anak muda dalam setiap proyek pembangunan di Jakarta. Menurutnya, peran anak muda sangat penting dalam membentuk masa depan kota yang lebih inklusif dan inovatif. Ia juga akan melakukan pengkajian ulang terhadap sasaran penerima Kartu Jakarta Pintar (KJP) agar program tersebut lebih tepat sasaran dan menjangkau “mereka” yang benar-benar membutuhkan.

Kun Wardana: Jakarta Aman dari Kemiskinan

Jakarta Aman Indah Beradab, demikian bunyi slogan bakal calon gubernur Daerah Khusus Jakarta nomor urut 2, Dharma Pongrekun-Kun Wardana. Pasangan bakal calon gubernur dan wakil gubernur DKJ ini mengusung tema keamanan, keindahan, dan juga adab dalam program-program mereka. Nantinya, semua program terdahulu dan terkini yang memiliki kartu fisik akan disatukan dalam program kartu ‘Jakartaku Aman’. Mulai dari jaminan kesehatan hingga pendidikan akan diakomodasi dengan satu kartu yang sama. Kun Wardana juga mengatakan, “Nanti, tidak perlu ada kartu fisik. Akan dibuat versi digital. Jadi, tidak usah membawa kartu kemana-mana.”

Wardana mengungkapkan bahwa sebanyak 70% warga Jakarta adalah rakyat miskin. Angka tersebut mengalami kenaikan pasca penurunan jumlah kelas menengah akibat PHK yang marak terjadi saat ini. Ia juga sempat membahas ketersediaan lapangan kerja dan menyayangkan besarnya serapan pekerja sektor informal dibandingkan formal, seperti pengemudi GOJEK.

“Menjadi pengemudi GOJEK bukan pekerjaan tetap. Jaminan sosial tidak ada, upah layak pun tidak terjamin,” tutur Wardana.

Dalam rangka menghadapi kemiskinan di Jakarta, pasangan nomor urut 2 Pilgub Jakarta ini menekankan program internet gratis. Wardana menjelaskan bahwa kesetaraan dapat diraih melalui internet. Ia berkaca dari negara bagian India yang menggratiskan internet dan memastikan setiap bayi yang baru lahir mendapatkan gadget untuk menunjang akses informasi.

“Informasi ialah hak segala bangsa, dan hak mendapat informasi terdapat dalam UUD,” tegas Wardana.

Dengan adanya program internet gratis maka akan tersedia jaringan di ruang terbuka publik. Digital Creative Hub (Pusat Kreatif Digital) akan dibangun untuk mendorong inovasi dan diskusi masyarakat. Wardana menambahkan bahwa warga dapat merekam siniar dan saling mengikuti kanal masing-masing.

Selain membangun Digital Creative Hub, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga akan bekerja sama dengan pemerintahan provinsi daerah lain untuk memastikan kesediaan lapangan kerja yang sesuai bagi pelamar. Pelamar yang kekurangan keahlian akan didukung melalui vokasi ‘pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi atau keahlian’. Dengan begitu, internet gratis dapat menjamin kesetaraan dalam hal keahlian.

Kun Wardana: Saya Bahagia setiap Hari

Pada sesi tanya jawab, panelis pertama, yaitu Dini (Dosen Psikologi UI) mengajukan pertanyaannya kepada Kun Wardana.

“Seberapa sehat dan bahagia Anda saat ini?” tanyanya.

Indikator kebahagiaan yang Dini pertanyakan mempermasalahkan kondisi mental masyarakat yang sedang tidak baik-baik saja. Maraknya penggunaan internet yang ceroboh berakhir pada judi online, adiksi pornografi, dan media sosial. Dini berpendapat bahwa program internet gratis yang diusung bakal calon nomor urut 2 mesti dipertimbangkan kembali. Ia juga mempertanyakan kenaikan ekonomi saat internet digratiskan. Ia tidak yakin bahwa perkembangan ekonomi akan naik dengan mudah ketika masalah seputar penggunaan internet belum diselesaikan dengan baik.

Panelis lainnya, Ihsan juga mempertanyakan peran internet gratis dalam menjamin keamanan jakarta. Ia juga mempertanyakan perihal kenaikan ekonomi yang diujarkan Wardana jika internet digratiskan.

Internet gratis yang diusung bakal calon nomor urut 2 ini pun akan menggunakan sistem JIE, atau Jakarta Internet Exchange. Wardana menyebutkan sistem JIE ini adalah suatu pagar adab yang akan menjaga perilaku positif warga Jakarta. Sistem JIE akan menggunakan AI-driven DNS filtering, atau penyaringan konten dengan integrasi AI. Sistem JIE ini akan memastikan interaksi positif antarwarga, ditambah dengan pendampingan adab bagi para pengguna internet untuk memastikan kenyamanan semua pihak.

Harapan Mahasiswa sebagai Pemilih

Puluhan mahasiswa hadir dalam diskusi tersebut. Sebagian besar hadir untuk mendengar gagasan calon gubernur secara langsung karena informasi yang tersedia di media massa dinilai kurang memadai. Setelah pemaparan, sesi tanya jawab diadakan. Baik dari panelis maupun mahasiswa menggunakan kesempatan ini untuk menguji gagasan para calon secara langsung.

Jane, mahasiswa Ilmu Politik 2022 mengungkapkan paparan visi misi para calon gubernur dan wakil gubernur sudah cukup komprehensif, rinci, dan menyeluruh. Namun, ia belum merasa terpuaskan. Jawaban yang diberikan terlalu ‘cari aman’, diplomatis, kurang mendetail, abstrak, utopis, dan bukan berupa langkah konkret. Selain itu, ia berpendapat bahwa para calon juga menghindari bahasan parameter dan tolok ukur. Meski begitu, ia berharap bahwa diskusi ini dapat menjadi pertimbangan setiap anak muda untuk memilih pilihannya saat pelaksanaan pilkada mendatang.

Farrel, mahasiswa Ilmu Politik 2023 turut menegaskan bahwa pentingnya suara anak muda dalam menentukan pemimpin masa depan.

“Memilih itu adalah sesuatu yang tidak enak. Namun dengan memilih, kita menitipkan harapan berjuta-juta orang untuk menjadi pemimpin berikutnya. Oleh sebab itu, memilih adalah sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan bagi setiap warga negara sebab dilindungi oleh konstitusi,” ungkap Farrel.

Teks: Kinanti Anggraeni dan Grace Terenesya L.

Kontributor: George Rheky M.

Editor: Choirunnisa Nur F.