Logo Suma

Doktor Pertama dari Tanah Papua

Redaksi Suara Mahasiswa · 30 September 2026
4 menit · - kali dibaca
Doktor Pertama dari Tanah Papua

Jantung Tom berdegup cepat saat berdiri di hadapan para penguji. Sidang terbuka promosi doktor  di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) pun dimulai. Di ruangan itu, perjalanan panjang yang telah dilaluinya kembali terlintas. Kegigihan membawanya melewati berbagai ujian hingga akhirnya tiba di ruang sidang itu.

Ketika namanya diumumkan, haru tidak lagi dapat ditahan. Gelar doktor yang selama ini diperjuangkan akhirnya resmi disandang. Namanya menjadi Dr. Tom Alfa Samuel Reumi. Ia merupakan doktor ilmu hukum pertama dari Papua. Di tengah rasa bangga, ia menundukkan kepala dan memanjatkan syukur kepada Tuhan.

Mundur ke beberapa waktu sebelum akhirnya berhasil meraih gelar doktor, Tom harus melewati 13 kali kegagalan dalam memperoleh beasiswa. Di titik itu, kedekatan dengan Tuhan menjadi salah satu sumber kekuatannya. Ia meyakini bahwa pendidikan bukan hanya tentang siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang mampu menyelesaikan proses hingga akhir.

“Jangan pernah jauh dari Tuhan, karena hanya kamu dan Tuhan yang bisa menyelesaikan semua proses di dalam hidupmu. Kalau misalnya saya bertemu dengan Tom 5 sampai 10 tahun yang lalu, saya akan bilang bahwa ternyata kamu itu bisa meraih apapun yang kamu impikan. Pernah takut, tapi kejar sekarang. Jangan biarkan itu menjadi penyesalan di hari tua,” tutur Tom.

Memasuki program doktoral FH UI pada 2020 menjadi pengalaman berbeda bagi Tom. Suasana ruang kelas yang khidmat, suara kertas yang bergesekan, serta argumentasi yang disampaikan para mahasiswa membuatnya merasa berada di tengah lingkungan para ahli hukum.

Rasa canggung dan tidak percaya diri sempat muncul pada minggu-minggu awal perkuliahan. Ia merasa dibayangi mimpi buruk tiap harinya. Namun, keberadaan Tom di ruang kelas itu bukan tanpa alasan.

Bagi masyarakat di kampung halamannya, UI dipandang seperti Puncak Jayawijaya, gunung tinggi yang membutuhkan tekad kuat untuk didaki. Karena itu, keberadaan Tom di UI menjadi bagian dari doa keluarga, serta harapan masyarakat Indonesia bagian timur.

Keinginan ini juga berangkat dari sang ayah yang merupakan alumnus FISIP UI. Sejak kecil, Tom mendapat pemahaman bahwa pendidikan merupakan hal penting dalam kehidupan. Sang ayah memiliki harapan agar salah satu anaknya dapat berkuliah di UI.

“Dia itu [Ayah Tom] ingin sekali salah satu anaknya bisa ada yang [jadi] jebolan UI. Dan alhamdulillah, akhirnya saya diberikan kesempatan dari Tuhan untuk bisa mewujudkan hal itu. Inilah impian bapak yang saya bantu untuk wujudkan,” ujarnya.

Sang ayah selalu menanamkan pentingnya sekolah. Katanya, warisan paling berharga yang dapat diberikan kepada orang lain adalah ilmu pengetahuan. Pandangan itulah yang perlahan membawa Tom memilih jalan sebagai akademisi, sekaligus mendorongnya untuk mendampingi advokasi hukum bagi masyarakat Papua.

Namun, ketika meninggalkan tanah kelahirannya, kekhawatiran Tom justru tidak hanya tertuju pada kehidupan di perantauan. Ia mulai memikirkan akses pendidikan bagi Indonesia Timur. Ia mempertanyakan apakah anak-anak Papua lainnya akan memperoleh kesempatan yang sama untuk menempuh pendidikan tinggi.

Menurutnya, pendidikan berkualitas di Papua masih belum dapat diakses secara merata. Selayaknya barang mewah yang hanya dimiliki segelintir orang. Kekhawatiran itu kemudian membuat Tom ingin menjadi dosen yang mampu melahirkan generasi Papua yang lebih berdaya melalui pendidikan.

“Bagi saya, hal yang masih menjadi satu momok ketika saya bisa kuliah dan akhirnya mungkin saya tinggal di Jakarta itu adalah apakah ada anak-anak Papua berikutnya lagi yang bisa punya kesempatan untuk bersekolah sampai di level ini atau tidak. Itu yang masih menjadi satu kekhawatiran saya,” ucap Tom.

Perjalanan menuju gelar doktor tidak selalu berjalan mulus. Tom harus berhadapan dengan tuntutan pendidikan doktoral yang kompleks. Kelelahan akibat stres tak dapat dihindari. Tubuh dan pikirannya seolah meminta berhenti.

"Semester 5 itu adalah semester yang sangat burnout. Saya itu bahkan sudah tidak mengerti apa yang dosen bilang. Lahir pengalaman-pengalaman dicoret sama dosen [dari] halaman 1 sampai 300, tetapi ada satu yang menjadi semangat. Sekolah itu bukan untuk mereka yang pintar, tapi untuk mereka yang mau bertahan sampai akhir," terangnya.

Seiring waktu, ia memasuki masa penyusunan disertasi. Gagasan disertasi Tom berawal dari perjalanan yang jaraknya hanya 45 menit dari rumahnya. Saat bepergian ke kawasan perbatasan Papua dan Papua Nugini, ia menemukan persoalan masyarakat adat yang menetap di garis perbatasan.

Disertasi Tom membahas tanggung jawab negara dalam melindungi hak masyarakat hukum adat atas tanah di wilayah perbatasan Papua dan Papua Nugini. Sejak 1975, garis batas negara ternyata membelah satu ikatan masyarakat, sehingga menjadi kelompdan memisahkan  mereka menjadi kelompok yang berbeda. Selain itu, penetapan garis batas berdasarkan perhitungan astronomi bintang bertolak belakang dengan tradisi masyarakat adat.

"Semenjak tahun 1975, ternyata [negara] membagi satu masyarakat adat yang tadinya mereka satu adat, satu nenek moyang, satu bahasa, satu simbol, satu hutan adat itu. Sekarang [mereka] menjadi dua bagian yang asing. Garis batas yang dibuat itu sebenarnya bersumber bukan dari batas adat, tetapi bersumber dari astronomi bintang. Sementara masyarakat adat itu [membuat batas wilayah] hanya menggunakan pohon, sungai, batu, gunung,” jelas Tom.

Dari perjalanan ini, Tom menemukan hal menarik lain yakni kefasihan masyarakat setempat bertutur dalam bahasa Indonesia. Di tengah keberagaman sekitar 255 suku dan ratusan bahasa daerah, bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pemersatu. Di sana, Tom melihat bagaimana bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi wujud nasionalisme di tanah Papua.

Gagasan mengenai perlindungan tanah dan hak masyarakat adat Papua di perbatasan itu kemudian Tom bawa ke ruang sidang. Isu yang diangkat masih sangat minim diulas dalam literatur nasional. Topik penelitiannya amat unik dan memikat perhatian para dewan penguji.

"Ketika saya mengutarakan masalah penelitiannya itu, salah satu dosen saya  sampai bilang di Papua itu sebenarnya adalah surga penelitian. Kenapa? Karena sampai sekarang literatur-literatur tentang wilayah timur itu masih sangat kurang. Untuk bisa masuk di kelas S3 hukum itu yang mendaftar ada 200 sampai 300 orang untuk memperebutkan hanya 19 kursi di dalam, tapi ternyata dosen saya bilang, 'Ya itu karena keunikanmu'," ungkapnya.

Bagi Tom, disertasi itu tidak berhenti sebagai karya akademik. Penelitian doktoralnya menjadi upayanya dalam menyuarakan keberlangsungan hidup dan keadilan hak atas tanah masyarakat adat Papua.

Setelah melalui berbagai ujian, perjuangan Tom akhirnya sampai pada sidang terbuka promosi doktor. Ketika dinyatakan lulus sebagai doktor ilmu hukum pertama dari tanah Papua di FH UI, perjalanan itu mencapai titik akhirnya.

Namun, bagi Tom, gelar itu bukan sekadar pencapaian pribadi. Gelar doktor menjadi bagian dari proses yang mengajarkannya untuk bertahan sekaligus menguatkan keinginannya untuk membuka akses pendidikan bagi generasi Papua berikutnya.

Teks: Syurohbiil Hafi Nawa

Editor: Vania Shaqila Noorjannah

Foto: Istimewa

Desain: Syahidah Nururrahmah

Pers Suara Mahasiswa UI 2026

Independen, Lugas, dan Berkualitas!

Tim Penggarap

Teks

Syurohbiil Hafi Nawa

Editor

Vania Shaqila Noorjannah

Desain

Syahidah Nururrahmah