Epidemolog UI Bicara Soal Efektivitas Vaksin hingga PJJ

Redaksi Suara Mahasiswa · 9 Desember 2020
3 menit

By Fila Kamilah, M. Sebastian Rai

Sudah lebih dari sembilan bulan COVID-19 melanda Indonesia terhitung sejak Maret 2020 lalu, namun kasus infeksi COVID-19 tidak juga mengalami penurunan. Bahkan, puncak grafik pandemi COVID-19 yang diperkirakan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 akan terjadi pada bulan Mei pun tidak menunjukkan kebenaran. Hari demi hari, kasus infeksi terus mencatat rekor terbaru, seakan tidak bisa dipastikan kapan kita akan benar-benar terbebas dari wabah ini. Hal ini memperlihatkan lambatnya penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia.

Sempat ada angin segar datang dari rencana vaksinasi dari pemerintah. Bahkan, vaksin pesanan asal Tiongkok, Sinovac, yang berjumlah 1,2 juta dosis telah sampai di Indonesia pada Minggu (6/12/2020). Lalu apakah kemudian dengan sampainya vaksin ke Indonesia ini menjadi pertanda baik bagi kabar pandemi di tanah air? Bagaimana dengan kabar penanganan COVID-19 di Depok dan Universitas Indonesia sendiri? Sudah bisakah kita kembali mengadakan kegiatan dan juga perkuliahan tatap muka di tahun depan?

Vaksin sebagai Senjata Perang Melawan Wabah, Reliabel kah?

Prediksi-prediksi tentang kesudahan maupun puncak pandemi COVID-19 yang diperhitungkan para ahli tampaknya belum ada yang meyakinkan. Hal ini diungkapkan oleh dr. Syahrizal Syarif, MPH, Ph.D, salah satu ahli epidemiologi UI. Ia berpendapat bahwa prediksi yang dilakukan ahli statistik belum ada yang benar karena ternyata terdapat perubahan besar yang dialami negara-negara dunia dalam pengendalian wabah COVID-19 ini.

“Saya mengamati pada bulan Mei, sebetulnya kurang lebih 80% dari negara-negara  yang tertular (Covid-19 -red) dalam keadaan menurun wabahnya, bahkan terkendali, terutama di Eropa. Ada 20% saja negara-negara yang mengalami fluktuatif (angka penderita Covid-19 -red), berarti belum bisa kita anggap selesai satu siklus (wabah),” ungkap Syahrizal.

Negara-negara fluktuatif tersebut, sambung Syahrizal, merupakan negara-negara di luar Eropa, seperti negara-negara di Afrika, Amerika Latin, Amerika Utara, dan beberapa negara Asia. Indonesia turut menjadi satu-satunya negara ASEAN yang masih mengalami situasi fluktuatif. Syahrizal mengamati pada beberapa bulan terakhir, negara-negara fluktuatif meroket jumlahnya, “Saat ini kalau kita lihat, angkanya meningkat tajam dari 20% menjadi mungkin sekitar 50 atau 60% dari negara-negara yang tertular,” lanjut Syahrizal.

Dengan demikian, prediksi kesudahan pandemi terutama di Indonesia cukup sulit ditebak. Pilihan untuk cepat mengakhiri wabah ini sekarang tergantung kepada vaksin yang sedang diformulasikan oleh berbagai pihak. Namun, Syahrizal melihat terdapat beberapa problem dalam penggunaan vaksin, “Problem vaksin yang utama adalah ketersedian vaksin tidak merata antar low-middle-high income country. Jadi, negara-negara yang high income country mampu untuk membeli vaksin karena pabrik vaksin kan umumnya swasta semua,” terangnya.

Dalam proses pengendalian wabah pun, tiap negara akan berbeda durasi penanganannya. Syahrizal memperkirakan untuk negara yang maju tentu lebih singkat dalam mengendalikan wabah ketimbang negara-negara berkembang, karena pengaruh vaksinasi yang lebih dahulu diterapkan, “Apalagi sebenarnya vaksin ini tidak memberi kekebalan permanen, … pendapat para pakar, kemungkinan kalau kita mendapat dua kali vaksinasi kekebalannya bertahan 1 atau 2 tahun. Artinya, kita harus mendapatkan vaksin setiap dua tahun. Ini yang membuat kebutuhan vaksin di dunia akan meningkat,” terangnya.

Pembelajaran Tatap Muka, Mungkinkah Dilakukan?

Mengenai rencana untuk pembelajaran tatap muka, menurut Syahrizal, dalam kondisi fluktuatif seperti ini, kembalinya diberlakukan pembelajaran tatap muka tidak memenuhi syarat epidemiologis. Jika memang dibutuhkan untuk kembali memberlakukan tatap muka, ada tiga tahap yang harus secara benar-benar diperhatikan, yakni tahap persiapan, pelaksanaan, dan juga tahap monitoring dan evaluasi.

“Tentu kita tidak ingin ada kasus satu pun, lalu bagaimana kita menjamin hal tersebut? Harus bisa dipastikan bahwa fasilitas memadai untuk mengikuti protokol kesehatan. Kedua, baik mahasiswa maupun pengajar harus dipastikan tidak ada satupun yang sakit,” ujarnya.

Tambahnya, perlu juga untuk mengadakan koordinasi dengan rumah sakit, satgas setempat sekaligus juga perlu membentuk satgas di setiap fakultas yang bertanggung jawab atas pelaksanaan tiga tahap tersebut, “Dalam tiga tahap itu, harus ada indikator-indikatornya, dikembangkan, dipersiapkan supaya betul-betul kita tidak muncul sebagai cluster baru di universitas,” jelasnya.

"Kalau Desember ini belum ada tanda-tanda UI melakukan persiapan, saya kira pasti semester yang akan datang, tapi itu harus betul-betul disiapkan, kalau perlu minimal 6 bulan lah, ada tim satgas."

Tanggapan Salah Satu Mahasiswa UI

Tanggapan mengenai situasi Covid-19 juga datang dari mahasiswa Universitas Indonesia. Salah satunya adalah Bayu M. Noor, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Angkatan 2019. Mengenai kabar kembalinya diberlakukan PJJ, mengingat memang situasi yang ada tidak memungkinkan untuk menerapkan kembali pembelajaran tatap muka, ada beberapa hal yang disayangkan oleh Bayu sebagai mahasiswa terlebih terhadap pandemi yang belum juga usai, “Gue juga ngeliat ini kan semakin tinggi semesternya, semakin dicorongin  temen-temen gue di jurusan akhirnya bakal ketemu di satu kelas yang sama, nah gue udah pengen banget sih diskusi bareng mereka di lingkungan kelas gitu,” keluhnya.

Adapun di samping menyetujui akan diberlakukan kembali PJJ, menurut Bayu perlu kemudian ke depannya diadakan penyesuaian dan adaptasi terhadap situasi yang baru, atau new normal, agar dapat menjalankan aktivitas yang selama pandemi ini terhalang untuk dilakukan. “Ini yang selalu digembor-gemborkan bukan selama ini? Keadaan sebuah new normal di mana kita semua diharapkan bisa untuk sementara waktu menjalankan hidup secara berdampingan sama virusnya, dan ya karena ini virus juga keliatannya bakal tetap ada sampe entah kapan, dua sampai tiga tahun ke depan mungkin, ya langkah penyesuaian udah mulai harus diterapkan,” ujarnya.

Teks: Fila Kamilah, M. Sbastian Rai
Kontributor: Inggil Reka S.
Foto: Azka Alfuady
Editor: M. I. Fadhil

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas