
Judul : Eve
Penyanyi : Kendis
Penulis Lirik : Nadhila Nasya Iskandar
Sutradara Musik : Nadhila Nasya Iskandar
Produser : Devansyah Putra Sugiarto
Synthesizer : Devansyah Putra Sugiarto
Sampler : Hibrizqi Syahdra
Album : DISCO
Tahun Rilis : 2025
Durasi : 03:52
“When Eve was the reason we're kicked out of Heaven. 'Cause they just won't blame a guy.”
Penggunaan metafora Eve atau Hawa merujuk pada tekanan sosial yang dirasakan oleh seorang individu, khususnya perempuan. Karena dalam kehidupan sosial kita, tak jarang perempuan ditempatkan di posisi yang layak disalahkan, hanya karena masyarakat tidak bisa menyalahkan kaum laki-laki yang amat mereka elu-elukan.
Lagu yang ditulis oleh Nadhila Nasya Iskandar, atau yang kerap disapa para penggemarnya dengan nama ‘Kendis’, membawa kita menjelajahi pengalaman para perempuan dan tantangan yang mereka hadapi. Bahkan dalam penulisan lagunya, Kendis membuat sebuah kuesioner singkat mengenai pengalaman mereka sebagai visualizer lagu. Melalui google form, banyak perempuan membagikan pengalaman-pengalaman ketika mereka ‘ditekan’ oleh masyarakat, mulai dari bullying, diskriminasi, sampai kekerasan yang pernah dialami. Cerita-cerita tersebut dikemas oleh Kendis menjadi lirik-lirik penuh pertanyaan dan sarkasme ringan terkait sistem sosial yang mengekang perempuan.
“How many girls have lost their lives to trusted hands? How often are the victims blamed for what they wear? How many children are exploited into preys? I'm only there as fitment for men to fit their plans.”
Eve bukan hanya bercerita tentang sosok perempuan, melainkan ‘menyinggung’ sistem yang pelan-pelan dinormalisasi untuk membungkam kaum hawa. Tentang betapa seringnya perempuan diposisikan sebagai pihak yang “harus mengerti”, “harus sabar”, atau “harus mengalah”, bahkan ketika mereka adalah korban. Yang paling menyakitkan dari realitas ini adalah bagaimana kesalahan sering kali dialihkan. Ketika terjadi kekerasan, yang ditanya bukan kenapa pelaku melakukannya, tapi kenapa korbannya ada di situ, kenapa pakaiannya begitu, kenapa tidak lebih hati-hati. Seolah-olah keselamatan perempuan adalah tanggungjawab mereka sendiri, sementara pelaku selalu punya ruang untuk dimaafkan atau dimaklumi.
Lahir sebagai perempuan secara tidak langsung membuat kita ‘terjebak’ dalam ekspektasi masyarakat: Harus cukup baik tapi tidak boleh terlalu vokal, harus kuat tapi tidak boleh memimpin, layak ‘dicintai’ tapi ditempatkan di belakang dan selalu disebut paling akhir. Lagu ini juga menyentuh satu hal yang sering tidak disadari: Betapa perempuan kerap hanya dianggap sebagai “pelengkap”. Hadir ketika dibutuhkan, tapi jarang benar-benar didengar. Ketika mencoba bersuara, mereka dicap berlebihan; ketika diam, mereka dianggap lemah.
Aransemen yang minimalis membuat fokus pendengar tertuju sepenuhnya pada kekuatan lirik. Nada vokal Kendis yang tenang tetapi sarat emosi mempertegas bahwa Eve bukan sekadar luapan amarah, melainkan refleksi panjang atas luka yang terakumulasi. Lewat Eve, Kendis mengingatkan kita bahwa rasa lelah ini nyata, bahwa kemarahan ini valid. Perempuan boleh menuntut keadilan dan hak mereka sendiri. Meski dunia hari ini belum banyak memihak perempuan, tetapi setidaknya, sesama perempuan harus paham bahwa kita tidak bisa terus-menerus digerus oleh sistem yang membuat eksistensi kita perlahan memburam.
Penulis : Khansa Humaira Dyfka
Editor : Yolanda Dermawan
Foto : https://share.google/FqXW2I89hPENSJTGo
Pers Suara Mahasiswa
Independen, Lugas, dan Berkualitas!