Logo Suma

Evermore: Pendongeng Unggul di Tengah Pandemi

Redaksi Suara Mahasiswa · 21 Desember 2020
4 menit · - kali dibaca
Evermore: Pendongeng Unggul di Tengah Pandemi

By Izdihar Safira Noorhanifah

Nama Album: Evermore (ditulis: evermore)

Artis: Taylor Swift

Genre: Alternative rock, Indie pop, Country,

Dua hari sebelum ulang tahunnya yang ke-31, Taylor Swift berhasil menggemparkan para penggemarnya. Sebuah foto bernuansa monokrom, sosok Taylor Swift membelakangi kamera, dan tulisan “Evermore” dimaknai sebagai perilisan album baru pelantun “Back to December” tersebut. Sebelumnya, Taylor sudah merilis album kedelapannya dengan judul folklore pada Juli 2020 lalu. Album ini disebut-sebut sebagai “saudara kandung” dari evermore karena nuansanya yang hampir sama. Taylor mengakui bahwa ini merupakan kali pertamanya dua album dengan kemiripan, yaitu country-rock-pop dengan sentuhan instrumental bernuansa ballad, diciptakan dalam kurun waktu yang berdekatan.

Pada tanggal perilisannya, evermore langsung menduduki peringkat kedua sebagai debut album terbesar di Spotify oleh penyanyi perempuan pada tahun ini setelah folklore. Lagu “willow” pun berhasil menduduki peringkat paling atas dalam tangga lagu Spotify Amerika Serikat dengan total kurang lebih 3 juta pendengar. Selain itu, terdapat edisi deluxe album fisik evermore yang menyertakan dua lagu tambahan, yaitu “right where you left me” dan “it’s time to go.”

Dalam album evermore, penyanyi kelahiran Pennsylvania ini berkolaborasi dengan beberapa musisi. Bon Iver kembali hadir setelah sebelumnya mereka bekerja sama dalam lagu “exile”. Selain itu, Taylor juga berkolaborasi dengan HAIM dalam “no body no crime” dan dengan The National dalam “coney island”.

Tidak jauh berbeda dengan folklore, dalam album kesembilannya ini, Taylor kembali menjadi “pendongeng” melalui setiap keping lagu yang diciptakannya. Awal kisah dapat ditemukan dalam lagu pertama sekaligus lagu utama dari album ini, yaitu “Willow”. Klip video lagu ini berhasil membuat penggemar memaknai metafora yang merepresentasikan perjalanan karier Taylor dalam industri musik. Dimulai dari Taylor lugu yang mengikuti jejak benang bersinar, hal itu bermakna usaha Taylor dalam mengikuti arus kehidupan yang membawanya. Selanjutnya, keterbukaan hidup Taylor sebagai seorang selebritas dilukiskan melalui diri Taylor yang terkurung di dalam sebuah gelas kaca.

Lagu kedua, “champagne problems”, menceritakan pertemuan dua sejoli di suatu malam dengan rencana berbeda: satu pihak berencana untuk mengakhiri hubungan mereka, sedangkan yang lain memilih untuk menikah. Bagian bridge dari lagu ini disepakati sebagai salah satu bridge terbaik yang pernah diciptakan Taylor Swift, baik oleh penggemar maupun kritikus musik. Bridge tersebut berbunyi, “Your Midas touch on the Chevy floor; November flush and your flannel cure; ‘This dorm was once a madhouse’; I made a joke, ‘Well, it’s made for me’”.

Selanjutnya, “gold rush”, sebuah lagu dengan sentuhan pop disertai latar suara yang terdengar berlapis dan memberikan kesan yang elegan. Lagu ini bercerita tentang kecemburuan dan ketidakpercayaan diri terhadap sesuatu atau seseorang yang memikat perhatian setiap orang. Lagu keempat, “‘tis the damn season” mengisahkan seseorang yang kembali ke kota tempat tinggalnya dan kemudian menjalin suatu hubungan yang tidak tentu arahnya dengan kekasih lamanya. Lagu ini diiringi oleh suara petikan gitar elektrik yang santai.

Lagu kelima dalam album ini ditempati oleh “tolerate it”. Menggambarkan keinginan seseorang untuk mengakhiri hubungannya dengan pasangan yang terlalu penyendiri, sebagian lirik dalam lagu ini diketahui terinspirasi dari karakter utama dalam novel Daphne du Maurier. Selanjutnya, Taylor Swift menulis tentang pahitnya perselingkuhan dalam hubungan pernikahan yang dapat berakhir dengan pembunuhan melalui “no body no crime”. Meskipun begitu, “happiness” menekankan bahwa kebahagiaan tidak hanya hadir ketika sepasang kekasih bersama, tetapi juga setelah mereka berpisah.

Hal unik dapat ditemukan melalui lagu bertajuk “dorothea”, yang menceritakan seorang perempuan yang mengejar mimpinya ke Hollywood. Lantunan ini merupakan narasi dari perspektif laki-laki yang diceritakan dalam “‘tis the damn season”.

Kisah berlanjut ke lagu “coney island” yang menceritakan memori sepasang kekasih di Coney Island, New York. Dalam lagu ini, vokal Taylor yang jernih dan merdu berhasil mengimbangi suara bariton Matt Berninger, vokalis The National, yang kasar.

Ciri khas Taylor dalam musik bergenre country kembali hadir dalam lagu “ivy” yang didominasi petikan banjo. Lagu tersebut menceritakan konsekuensi realistis dari sebuah perselingkuhan. Kemudian, kisah dua orang penipu yang saling jatuh cinta dalam “cowboy like me” juga memperlihatkan suasana musik khas daerah selatan AS tersebut. Berbeda dari dua lagu sebelumnya, “long story short” diawali dengan ketukan drum yang tajam. Taylor pun menceritakan momen paling buruk dalam hidupnya, yakni jatuh bangunnya dalam masalah percintaan, melalui lagu tersebut.

Tidak hanya itu, terdapat lagu dengan pesan mendalam yang didedikasikan Taylor untuk mendiang neneknya, Marjorie. Melalui lagu dengan judul yang sama dengan nama neneknya, Taylor mengungkapkan rasa sayangnya dengan mengutip beberapa pesan dari sang nenek yang masih diingatnya hingga saat ini.

Dua lagu terakhir, yaitu “closure” dan “evermore”, sama-sama memiliki alunan melodi yang lembut. “Closure” menceritakan penolakan terhadap permintaan maaf dan basa-basi yang palsu, dilanjutkan dengan penutup berupa lagu yang bertajuk sama dengan nama album, “evermore”, sekaligus merupakan hasil kolaborasi Taylor dengan Justin Vernon, penyanyi Bon Iver. Lagu tersebut merupakan kesimpulan dari seluruh cerita dalam setiap lagu di album ini.

Album evermore berhasil meneruskan angin segar yang telah diawali folklore di kala pandemi, melalui pengemasan lirik, alunan instrumental, serta makna tersirat di balik setiap lagu yang Taylor ciptakan. Pendengar dapat melihat betapa Taylor telah mengalami pendewasaan dalam penciptaan dan penulisan lagu-lagunya. Taylor terus membuktikan bahwa ia adalah musisi yang kreatif dan jenius dengan karya-karya orisinilnya, khususnya di dalam album yang didedikasikan untuk penggemarnya tersebut.

Meskipun diumpamakan sebagai mahakarya oleh sebagian besar kritikus musik, tampak memungkinkan apabila evermore tidak dapat dinikmati hanya dalam satu kali dengar. Pasalnya, genre yang disuguhkan bukan merupakan musik pop pada umumnya, melainkan lebih condong ke arah country-pop yang belum tentu dapat dengan mudah dinikmati oleh semua orang.

Teks: Izdihar Safira Noorhanifah
Foto: Istimewa
Editor: Ruth Margaretha M.

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas

Tim Penggarap