
Sebagai mahasiswa, sudah menjadi tanggung jawab kita untuk menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan. Sudah seyogyanya bidang akademik menjadi prioritas utama dalam perkuliah.
Tetapi di kalangan mahasiswa, yang dipandang sudah dewasa dan bertanggung jawab, pun ada beberapa yang menelantarkan tanggung jawab mereka, dan melimpahkannya kepada orang lain. Fenomena itu kerap terjadi terutama dalam tugas berkelompok.
Tak jarang, bila dalam satu kelompok beranggotakan empat orang, maka hanya tiga atau dua atau bahkan mungkin hanya satu orang saja yang mengerjakan tugas yang telah diberikan. Mahasiswa-mahasiswa yang melepas tanggung jawab mereka ini biasanya disebut sebagai free rider. Free rider sendiri memiliki arti sebagai “penumpang gelap”. Jika ditelaah lebih lanjut, maksud dari free rider yang disematkan kepada mahasiswa yang lepas tanggung jawab adalah mahasiswa yang hanya menumpang nama dalam tugas berkelompok. Ironisnya, walaupun hal ini tentu tidak benar, tetapi telah menjadi hal yang biasa di kalangan mahasiswa, bahkan ada beberapa yang lebih memilih mengabaikan sehingga pelaku tidak memiliki rasa bersalah dan berlanjut menjadi seorang free rider. Lalu, bagaimana pendapat mahasiswa-mahasiswa mengenai adanya free rider ini?
“Free Rider itu Parasit”
Seperti yang dikatakan sebelumnya, free rider adalah mereka yang melepas tanggung jawab mereka dan membebaninya kepada rekan-rekan mereka yang lain tanpa adanya rasa bersalah, atau biasa disebut “numpang nama”. Kami mewawancarai 3 orang mahasiswa yang telah menjadi korban dari free rider ini, bagi mereka adanya ‘free rider’ ini tentu sangat menyusahkan tidak hanya mereka, tetapi anggota kelompok lainnya juga.
“Free rider dalam tugas kelompok tuh nggak banget, deh. Bener-bener nyusahin anggota kelompok yang lain. Parasit lah intinya,” ujar Cinta (bukan nama sebenarnya), seorang mahasiswi Fakultas Hukum, ketika diwawancarai pihak Suma. Narasumber lain mengatakan hal yang serupa, mereka mengatakan bahwa free rider itu hanya menjadi benalu dalam kelompok mereka. “Free rider itu yang kayak suka numpang nama gitu, kayak kalo ada tugas kelompok terutama, nggak ngapa-ngapain gitu, dia berharap aja temen-temen kelompoknya yang ngelarin, atau nggak nggak yang sampe ngelarin, tapi kayak nggak ada inisiatif gitu, nunggu temennya ngelarin,” ujar Wawan (bukan nama sebenarnya), seorang mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Menurut mereka, free rider ini hanya menambah beban yang ada, selain beban tugas yang telah diberikan. Tugas yang seharusnya bisa didiskusikan dan dikerjakan bersama-sama, serta selesai tepat waktu, malah hanya dikerjakan oleh beberapa anggota dengan beban yang terhitung cukup berat.. “Seharusnya tugas bisa cepat selesai, eh malah jadinya kelar mepet. Terus seharusnya para anggota nggak punya beban lebih, eh jadi ada beban berlebih karena harus nge-carry bagian si free rider ini,” ujar Siska (bukan nama sebenarnya), seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya.
Dampak Keberadaan Free Rider bagi Mahasiswa Lain
Tak dapat dipungkiri, keberadaan free rider sangat berdampak bagi tugas kelompok. Menurut Dewi, fenomena ini sangat berdampak ke kinerjanya secara akademis. Tugas kelompok yang selalu muncul mendekati UTS dan UAS, ditambah dengan adanya free rider dalam kelompok, membuat waktu belajarnya berkurang sehingga ia tidak bisa mengerjakan ujian secara maksimal. Ini adalah dampak yang sangat serius menurutnya, karena waktu yang seharusnya bisa ia gunakan sebaik-baiknya untuk mempersiapkan ujian, malah harus ia gunakan untuk mengerjakan tugas dari free rider ini.
Tetapi, ada pula narasumber kami yang menekankan bahwa mereka tidak begitu merasakan dampak free rider ini terhadap akademis mereka, melainkan lebih ke arah personal dan emosional. Menurut Cinta, dengan adanya free rider ini tentu beban akan lebih menumpuk, hal ini membuatnya merasa lelah secara emosional. “Kayak capek sendiri gitu, kayak bingung kok nggak ada yang mau bantuin, jadi kayak ngerjain tugas sambil stres sendiri gitu lho,” ujarnya.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Wawan. Ia juga merasakan dampak secara personal dan emosional ketika menghadapi free rider ini. Ia merasa harus mengeluarkan banyak waktu untuk mengerjakan sesuatu yang bukan bagiannya membuat beban pikirannya lebih berat. Terlebih lagi, karena tugas yang berbentuk kelompok, ia juga merasa takut kalau tugasnya tidak diterima atau nilainya jelek karena akan memengaruhi anggota yang lain pula, berbeda dengan tugas individu yang kembali ke masing-masing individu dalam pengerjaannya.
Selain berdampak ke akademis dan diri sendiri, Cinta juga mengatakan bahwa adanya ‘free rider’ ini juga bisa berdampak pada hubungan antar anggota kelompok. Menurut pengalaman Cinta, ‘free rider’ ini akan berpengaruh ke dinamika kelompok, membuatnya menjadi tidak seimbang. Lalu, bisa terjadi miskomunikasi antar anggota sehingga dapat menyebabkan pertengkaran atau hubungan yang renggang antar anggota di dalam kelompok. Hal ini tentu akan membuat pengerjaan tugas menjadi lebih sulit karena komunikasi yang sudah terlanjur buruk.
Bagaimana Korban Free Rider Mengatasinya?
Dari pengalaman-pengalaman para narasumber kami, mereka tidak hanya tinggal diam ketika mendapati seorang free rider dalam kelompok mereka. Mereka sudah melakukan beberapa upaya dalam menghadapi free rider ini. Langkah paling utama yang mereka terapkan adalah mencoba untuk reach out ke ‘free rider’ secara personal. Di awal, mereka akan mencoba untuk menanyakan secara baik-baik kabar free rider, apakah ia mengalami masalah atau kendala, dan menanyakan mengenai tugas. Namun, jika tetap tidak mendapatkan balasan, mereka lebih memilih untuk menyelesaikan tugasnya saja, mengambil bagian dari free rider untuk mereka kerjakan atau mencoba mengancam free rider ini bahwa namanya tidak akan dimasukkan ke dalam daftar anggota kelompok.
Cara terakhir itu merupakan sebuah praktik yang biasa dilakukan ketika ada anggota yang melepas tanggung jawabnya dalam tugas kelompok. Cara ini juga biasanya didukung oleh dosen, dimana beberapa dosen biasanya menginstruksikan untuk tidak mencantumkan nama anggota yang tidak mengerjakan tugas, seperti yang dialami oleh Siska dan Cinta. Cara ini bisa dibilang menyerang free rider secara langsung, agar ia menyadari kesalahannya dan tidak mengulanginya lagi. Bahkan dari pengalaman Wawan, ia pernah langsung call out free rider ini saat presentasi di hadapan dosen. Namun, alih-alih sadar, ada beberapa free rider yang malah marah dan emosi terhadap teman sekelompoknya karena perlakuan itu. “Dia langsung ngomong ke aku di chat kayak marah-marah langsung kayak, aturan kalian ngechat secara pribadi dan ngingetin. Tapi kan kita juga udah di grup sering-sering gitu ngingetin,” ujar Siska. “Dan bukan kewajiban kita juga kalau misalkan harus setiap saat ngehubungin dia dan nanya-nanyain, padahal dari awal udah dikasih tau gitu loh tugasnya.”
Lalu, Apa Solusi yang Efektif?
Kami kemudian menanyakan kepada para narasumber yang telah menjadi korban fenomena free rider, menurut mereka apakah solusi yang efektif untuk menumpas keberadaan free rider ini?
Cinta mengatakan bahwa solusi yang paling efektif adalah pembagian kelompok yang ditentukan mahasiswanya sendiri. Karena menurutnya, para mahasiswa pasti memiliki circle sendiri dan sudah tahu mana teman-temannya yang aktif atau mana yang free rider, sehingga meminimalisir terjadinya fenomena seperti ini lagi.
Siska sendiri berpendapat bahwa solusinya itu kembali lagi dari setiap individu. Setiap individu harus sadar bahwa ketika sudah berada di suatu kelompok, maka akan ada tanggung jawab yang harus diselesaikan masing-masing. Jadi, solusinya adalah menanamkan mindset kepada setiap individu bahwa mereka jangan hanya menyusahkan teman sekelompoknya saja, tetapi juga harus ikut andil dalam kegiatan kelompok. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa anggota-anggota kelompok harus lebih sering berkomunikasi antar satu sama lain. Dengan komunikasi yang baik, maka team work dan dinamika kelompok itu akan terbangun, dan membuat suasana kerja kelompok menjadi lebih nyaman.
Berbeda dengan Wawan, ia mengatakan bahwa solusi harus datang dari dosen. Ia menyarankan setelah tugas kelompok, dosen sebaiknya menyerahkan semacam borang penilaian anggota kelompok agar bisa ditindak lanjuti oleh dosen. Bahkan menyarankan dosen untuk langsung memberi nilai jelek kepada free rider, agar mereka sadar akan tindakannya.
Mencegah Diri sebagai Free Rider: Dimulai dari Mindset
Fenomena free rider yang sudah sering terjadi saat tugas kelompok, sangat menyusahkan anggota kelompok lain yang harus menanggung beban mereka yang menelantarkan tanggung jawab mereka. Bahkan, tingkah dari satu orang free rider ini bisa berdampak jauh kepada anggota kelompok lain yang bebannya menjadi bertambah drastis dan memakan banyak waktu mereka.
“Masalahnya dia itu kan mahasiswa ya, nah kewajiban utama selain belajar, kalau ada tugas ya mengerjakan tugas gitu lho. Terlebih kalau tugas kelompok, kan nilainya masuk buat dia juga,” keluh Cinta. “Kasian anggota yang lain, kayak tugas udah dibagi porsi-porsinya dan berharap bisa cepat selesai, eh ternyata ada free rider.”
Oleh karena itu, alangkah baiknya kita menanamkan mindset dalam diri kita masing-masing, untuk menjadi lebih aware akan tanggung jawab kita sebagai mahasiswa dan sebagai anggota dari sebuah kelompok. Dengan itu, kita bisa menjalin komunikasi yang baik dengan teman-teman sekelompok kita dan tidak membebani teman-teman kita yang sudah memiliki beban akademis yang berat seperti kita.
Teks: Allya Shafira
Kontributor: Afifa Ayu, Rachelyn Maharani, Magdalena Natasya
Ilustrasi: Istimewa
Editor: Giovanni Alvita
Pers Suara Mahasiswa UI 2021
Independen, Lugas, dan Berkualitas!