
花は誰のもの (Hana wa Dare no Mono) : Sebuah Cita-Cita untuk Perdamaian
Judul = 花は誰のもの (Hana wa Dare no Mono)
Artis = STU48
Penulis : Yasushi Akimoto
Tanggal Rilis = 13 April 2022
Label = You, Be Cool!/King Records
Deskripsi Singkat
Untuk pertama kalinya, center dari STU48 berjumlah tiga orang. Pada single ke-8 dari STU48 yang berjudul 花は誰のもの (Hana wa Dare no Mono); Chiho Ishida, Yumiko Takino, dan Mai Nakamura menjadi center dari single ini. Lagu karya sister idol AKB48 ini ditulis oleh Yasushi Akimoto yang mendapatkan inspirasi dari Invasi Rusia terhadap Ukraina dan ancaman perang nuklir. Cukup sukses, sebanyak 157.500 cetakan dari single ini ludes terjual pada minggu pertama perilisannya. Hana wa Dare no Mono menempati tempat kedua di Oricon Singles pada minggu pertama lagu dirilis dan Billboard Japan Hot 100 charts. Pada 4 Mei 2023, STU48 membawakan lagu Hana wa Dare no Mono dalam empat bahasa (Bahasa Inggris, Jerman, Italia, dan Prancis) di acara yang bertajuk Hiroshima Mirai Baton.
Sports Nippon yang mengaitkan pengakuan publik yang salah mendengar lirik "Moshi kono sekai kara kokkyō ga kietara" (Jika perbatasan menghilang dari dunia ini) menjadi "Moshi kono sekai kara Tōkyō ga kietara" (Jika Tokyo menghilang dari dunia ini) . Hal tersebut sempat banyak diperbincangkan dan menimbulkan reaksi yang bermacam-macam (スポニチ Sponichi Annex, 2022). Hal tersebut tanpa direncanakan menjadi sebuah strategi agar lagu ini lebih banyak didengar orang. Tentunya hal tersebut sempat banyak diperbincangkan dan menimbulkan reaksi yang bermacam-macam (スポニチ Sponichi Annex, 2022).
Rusia dan Ukraina
Tak perlu diragukan lagi lagu yang ditulis dan diproduksi oleh Yasushi Akimoto memiliki arti yang menyentuh dan penuh makna. Melalui inspirasinya dari invasi Rusia terhadap Ukraina dan ancaman perang nuklir, single ini memberikan kita pemahaman akan imperialisme. Lagu ini diawali dengan konsep bahwa di dunia ini pasti ada yang membatasi kita dengan aturan, batasan, dan sebagainya. Hal tersebut mengakibatkan orang-orang bebas melakukan apa saja dan berpikir perang tidak akan terjadi. Pada single ini, Yasushi Akimoto mencoba untuk menyampaikan bahwa kita mungkin dapat berada dalam bahaya apabila tidak terdapat batasan atau pembatas di dunia. Pembatas memang dibutuhkan; seperti kewajiban untuk menggunakan masker saat pandemi Covid-19 melanda dunia. Masker tersebut adalah yang dimaksud dengan pembatas, karena jika kita tidak menerapkan peraturan memakai masker di kala pandemi Covid-19 maka sirkulasi pandemi Covid-19 akan terus terjadi.
Logika ini tampak pada salah satu scene pada video musik Hana wa Dare no Mono ketika member STU48 memakai masker selama kegiatan belajar ketika dunia sedang dilanda Covid-19. Kembali lagi kepada topik pertikaian antara dua negara, perang Rusia-Ukraina singkatnya merupakan upaya Rusia dalam meraih kendali atas Ukraina, yang dibuktikan melalui penguasaan beberapa kota di Ukraina oleh Rusia. Hal tersebut dicerminkan pada lirik lagu Hana wa Dare no Mono, yang seakan-akan mengisyaratkan bahwa penguasaan Rusia atas beberapa daerah di Ukraina membuat pembatas kekuasaan antara kedua negara ini hilang.
“Moshi kono sekai kara kokkyou ga kietara…”
“Arrasou koto nanka naku naru no ni…”
“Seandainya batasan hilang dari dunia ini, maka tidak perlu ada peperangan lagi…”
Kembali lagi dengan topik yang melibatkan negara, perang antara Rusia dan Ukraina singkatnya ialah Rusia berusaha untuk menjadikan Ukraina di bawah kendali Rusia, yang dibuktikan dengan beberapa kota di Ukraina yang sudah dikuasai Rusia. Pesan tersebut terbantahkan dan hanya imajinasi semata beberapa orang. Perang tampak seakan-akan terjadi akibat adanya pembatasan antara kekuasaan. Ketika salah satu pemilik kekuasaan tersebut menyalahgunakannya dan menghilangkan pembatas di antara keduanya, dirugikanlah banyak orang, seperti yang terjadi pada perang Rusia-Ukraina. Lagu ini masih terkesan relevan hingga sekarang, mengingat kedua negara tersebut hingga saat ini belum menemui titik terang.
Imperialisme dan “Batasan”
Lebih lanjut, lagu ini juga mengisyaratkan pembahasan mengenai imperialisme dan “batasan”. Lirik lagu ini seakan-akan membahas mengenai konsekuensi dari tidak terdapatnya batasan atau hal yang mengatur hubungan antarnegara. Pertanyaan seperti “apabila tidak terdapat batasan antarnegara, dapatkah kita pastikan bahwa suatu negara tidak akan memperebutkan sesuatu yang dimiliki negara lain, mengingat setiap negara memiliki kekayaan yang berbeda?” Atau pertanyaan seperti “pastikah semua orang akan senang apabila tidak terdapat batasan antarnegara?” menjadi pandangan yang diisyaratkan oleh Yasushi Akimoto, yang dapat kita telaah maknanya pada lirik di bawah ini:
“Arechi ni potsun to saiteru sono hana dare no mono ka? nante,”
“Dareka to dareka ga jibun no mono da to otagai ni ii hatta”
"Siapakah pemilik bunga yang tumbuh mekar di tanah yang tak bertuan?”
“Seseorang dan seseorang bersikeras satu sama lain bahwa itu milik mereka”
Yasushi Akimoto seakan-akan mengatakan bahwa tidak akan ada damai di dunia apabila tidak terdapat batasan antarnegara. Hal ini mengisyaratkan adanya tendensi imperialisme pada lirik Akimoto. Imperialisme sendiri merupakan penaklukan suatu negara demi kepentingan negara penakluk yang dilancarkan melalui kolonialisme dan penyebaran pengaruh mereka di negara taklukkannya. Mungkin saja Yasushi Akimoto menulis lagu ini karena ingin memberikan pesan bahwa “Rusia menjajah Ukraina” untuk memperebutkan sesuatu, mengingat ia mendapatkan inspirasi penulisan lagu ini dari perang Rusia-Ukraina. Beberapa lirik lain yang ia tulis memuat ajakan untuk melarang penjajahan, sesuai dengan kemungkinan adanya makna imperialisme pada lagu ini, yang tampak pada lirik di bawah ini:
“Kono sen no koko kara haitte kuru na yo to,
“Katte ni hata wo tate koritsu suru dake”
“Jangan masuk ke dalam garis ini, itulah katanya”
“Mendirikan bendera sesuka hati dan mengisolasi diri,”
Poin utama dari lirik ini adalah bahwa dunia tidak damai bila tidak ada batasan. Namun dengan batasan, jangan sampai suatu negara dijajah atau dikuasai hingga jatuh ke tangan penakluk. Selain itu, terdapat kemungkinan bahwa lirik tersebut ditulis dengan ajakan agar kita semua, terbebas dari perbedaan kita, saling merangkul satu sama lain untuk ciptakan perdamaian di dunia, yang tampak pada lirik di bawah ini:
“Hinata mo hikage mo hakanaku dare no monoka kimerarenai darou,”
“Egao mo namida mo hitorijime nanka dekinai yo“
“Begitu tipis antara cerah atau mendung, kita tak bisa menentukan siapa pemiliknya,”
“Kita takkan bisa memiliki senyuman atau air mata secara sendirian”
Lirik di atas memiliki makna yang menjelaskan pertikaian antarnegara, bahwa terdapat kemungkinan negara-negara menjarah toko secara paksa, memeras uang, atau bahkan menghancurkan batasan yang telah dibangun oleh suatu negara. Artinya, suatu negara berhak untuk melindungi diri dengan mendirikan tembok perbatasan. Seperti yang dijelaskan sebelumnya mengenai imperialisme, dengan dihancurkannya pembatas negara, negara penakluk dapat mendapatkan hak yang bukan miliknya secara leluasa. Walaupun suatu negara mendirikan perbatasan, kita semua harus saling menghormati dan menghargai satu sama lain, terlepas dari perbedaan latar belakang kita. Dari kemungkinan interpretasi yang dimiliki lagu ini, Yasushi Akimoto sebagai penulis ingin menuliskan lagu ini ditulis berdasarkan kejadian nyata dan bahwa imperialisme masih terjadi di dunia.
Seorang Pemimpin, Persatuan, dan Perlawanan
Lagu ini juga mengisyaratkan kepemimpinan, persatuan, dan perlawanan. Untuk melawan penjajah, bersatu saja tidak cukup, kita membutuhkan seorang pemimpin. Hal tersebut merupakan lawan dari imperialisme. Hal tersebut disampaikan melalui metafora pada lirik di bawah ini:
“Sou tatta hitotsu no chikyuu no ue”
“Ya, kita semua berada di atas bumi yang sama”
Kesimpulan
Bait pertama lirik lagu Hana wa Dare no Mono yang ingin menyampaikan bahwa jika tidak ada batasan maka tidak ada perang. Sayangnya, perang Rusia-Ukraina sampai saat ini belum menemukan tanda-tanda damai. Dalam kasus perang ini, walaupun kedua negara memiliki pembatas atas kekuasaan masing-masing yang mereka dijaga, tetap saja pembatas tersebut runtuh karena ada beberapa pihak yang ingin menghancurkannya. Bayangkan saja betapa lebih parahnya apabila pembatas tersebut tidak ada sama sekali. Kemudian, adanya lirik dalam lagu ini yang memiliki makna yang bertendensi imperialisme. Perang Rusia-Ukraina bisa kita katakan sebagai situasi imperialisme sehingga pada lirik bait pertama lagu ini hanya imajinasi orang-orang saja. Pada akhirnya, imajinasi tersebut harus kandas karena realitanya adalah situasi imperialisme yang digambarkan pada lirik yang kemungkinan berkaitan dengan imperialisme. Akimoto juga pandai dalam menulis lagu ini sebab lirik yang ditulisnya menghubungkan satu lirik dengan lirik yang lainnya. Oleh karena itu, Akimoto juga pandai dalam menulis lagu ini sebab lirik yang ditulisnya menghubungkan satu lirik dengan lirik yang lainnya.
Layaknya karya sastra lain, lirik lagu pun dapat memiliki berbagai macam interpretasi. Bagaimanapun, tampak jelas bahwa tujuan utama dari ditulisnya lagu ini adalah sebagai bentuk harapan perdamaian, baik perdamaian dunia perdamaiannya lainnya. Beruntungnya, tujuan lagu ini diterima dengan baik oleh pendengarnya. Lirik penuh makna dan mendalam ini yang dinyanyikan dengan indah oleh STU48 ini berhasil menyentuh penggemar maupun nonpenggemar dari STU48. Angka penjualan dan pemutaran dari single ini pun terus meningkat. Lagu ini membawakan banyak pesan moral yang baik untuk kita pahami dan cerna, terutama tentang perdamaian dan ketentraman hidup.
Sederhananya, lagu ini beda dari lagu lain yang pernah dinyanyikan oleh STU48 sebelumnya. Ulasan lagu ini dibuat sebab kesan dari lagu Hana wa Dare no Mono tidak pernah ada sebelumnya pada lagu lain STU48. Seakan-akan Yasushi Akimoto telah berhasil mengungkapkan pandangannya terhadap dunia melalui lagu ini. Akimoto sendiri dikenal sebagai produser dan penulis lirik untuk grup 48 dan 46. Banyak yang menyatakan bahwa Akimoto menulis lirik lagu yang berbeda untuk setiap grup agar terdapat karakteristik pada masing-masing grup. Bagaimanapun, belum dapat dipastikan apa motif tertentu dari Akimoto melalui penulisan lagu ini, terutama untuk masa depan STU48 nantinya. Satu hal yang pasti adalah lirik yang Akimoto tulis pada lagu ini sama indahnya dengan lirik lain yang ia tulis.
References
スポニチ Sponichi Annex. (2022, June 20). もしこの世界からが消えたら…STU48「花は誰のもの?」発売2カ月でじわり浸透 空耳が後押し― スポニチ Sponichi Annex 芸能. Retrieved June 22, 2023, from https://www.sponichi.co.jp/entertainment/news/2022/06/20/kiji/20220620s00041000275000c.html
Penulis: Caesi Rosprianti
Editor: Sekar Innasprilla
Ilustrasi: Istimewa
Pers Suara Mahasiswa UI 2021
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
Kontributor