
Bertepatan dengan peringatan Dies Natalis ke-74 Universitas Indonesia (UI) pada Jumat (2/2), sejumlah Guru Besar UI menggelar aksi pernyataan sikap di depan Gedung Rektorat UI. Dengan bertajuk “Genderang Universitas Indonesia Bertalu Kembali”, aksi tersebut merupakan bentuk keprihatinan Civitas Academica UI terhadap kehancuran tatanan hukum dan demokrasi di Indonesia, terutama dinamika politik yang berkepentingan, berkaitan dengan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.
Sebelum jam menunjukkan pukul sebelas, Amy Yayuk Sri Rahayu selaku Guru Besar Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) UI mewakili rekan-rekan sejawatnya menyampaikan sambutan pembukaan. Dalam sambutan itu, beliau menjelaskan maksud dari kehadiran para Guru Besar UI dalam aksi tersebut.
“Pertama-tama, tentunya kami ingin menyampaikan pernyataan atau sikap dari para Guru Besar pada hari yang bahagia, yaitu pada hari Dies Natalis UI yang ke-74,” ucap Amy dalam sambutannya, sebelum memimpin rekan-rekan sejawatnya untuk menyanyikan lagu Himne Almamater UI bersama-sama.
Usai melantunkan himne kebanggaan, Harkristuti Harkrisnowo atau Tuti selaku Ketua Dewan Guru Besar UI segera mengambil alih inti aksi. Sebagai pimpinan tertinggi dari segenap Guru Besar UI yang hadir, beliau membacakan pernyataan deklarasi dan sikap dari Dewan Guru Besar (DGB) UI. Adapun isi deklarasi tersebut berbunyi sebagai berikut:
Seruan Kebangsaan Kampus Perjuangan
"Genderang Universitas Indonesia Bertalu Kembali"
Kampus kami adalah kampus perjuangan yang telah melahirkan para petarung yang berdiri paling depan dalam menghadapi berbagai peristiwa berat bangsa ini. Para pendahulu kami, bahkan telah menumpahkan darahnya, sebut saja Arief Rahman di tahun 1965 dan Yap Yun Hap di tahun 1998. Tak terbilang pula, mereka yang dipenjara tanpa pengadilan pada tahun 1974 dan tahun 1978 karena menolak penguasa yang otoritarian.
Sungguhpun nampak diam, seakan kami tenggelam dalam kerja-kerja akademik di ruang kelas, di ruang seminar, laboratorium, dalam tumpukan buku, atau menulis gagasan di ujung pena, kami tetap mewaspadai hidupnya demokrasi dan mewaspadai pula kedaulatan agar tetap di tangan rakyat. Lima tahun terakhir, utamanya menjelang pemilu 2024 ini, kami kembali terpanggil untuk menabuh genderang, membangkitkan asa, dan memulihkan demokrasi negeri yang terkoyak. Negeri kami nampak kehilangan kemudi akibat kecurangan dalam perebutan kuasa, nihil etika, menggerus keluhuran budaya serta kesejatian bangsa.
Berbagai hak yang berkaitan dengan kelayakan hidup, keserakahan atas nama pembangunan tanpa naskah akademik yang berbasis data, kewarasan akal budi, dan kendali nafsu keserakahan telah menyebabkan punahya sumber daya alam, hutan, air, kekayaan di bawah tanah dan laut, memusnahkan keanekaragaman hayati, dan hampir semua kekayaan bangsa kita. Mereka lupa bahwa di dalam hutan, di pinggir sungai, danau, dan pantai, ada orang, ada manusia, ada flora dan fauna, dan keberlangsungan kebudayaan masyarakat adat, bangsa kita, bangsa Indonesia. Kami resah dan sekaligus geram atas sikap tindak para pejabat, elit politik dan hukum yang mengingkari sumpah jabatan mereka untuk menumpuk harta pribadi, menumpuk kekuasaan, membiarkan negara tanpa kelola, dan digerus korupsi yang memuncak menjelang Pemilu. Kami cemas; kegentingan saat ini akan menghancurkan masa depan bangsa kita dan ke-Indonesia-an kita.
Mr. Soepomo, salah satu perumus konstitusi Undang-Undang Dasar ‘45, Rektor Ul tahun 1951-1954, berpesan agar Civitas Academica Universitas Indonesia dengan otonomi atau kebebasan akademik yang melekat harus bisa merebut kembali zaman keemasan Sriwijaya yang menjadi pusat ilmu pengetahuan dan kesejahteraan. Maka, berdasarkan ruh kebebasan akademik yang kami punya, kami berdiri di sini, mengajak warga dan alumni Universitas Indonesia dan juga seluruh warga Indonesia untuk segera merapatkan barisan.
Pertama, mengutuk segala bentuk tindakan yang menindas kebebasan berekspresi. Kedua, menuntut hak pilih rakyat dalam pemilu dijalankan tanpa intimidasi, tanpa ketakutan, berlangsung secara jujur dan adil. Tiga, menuntut agar semua ASN, pejabat pemerintah, TNI dan Polri, bebas dari paksaan untuk memenangkan salah satu paslon (red: pasangan calon). Yang keempat, menyerukan agar semua perguruan tinggi di seluruh tanah air mengawasi dan mengawal secara ketat pelaksanaan pemungutan suara serta penghitungannya di wilayah masing-masing. Mari kita jaga bersama demokrasi dan negara kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai dan banggakan.
Depok 2 Februari 2024
Riuh tepuk tangan dan sorak sorai “UI Jaya, Jaya, Jaya!” mengiringi akhir dari deklarasi tersebut. Aksi pun berlanjut dengan berbagai sambutan dari beberapa Civitas Academica UI lainnya yang turut hadir, mulai dari Muhammad Anis selaku Rektor UI 2014–2019, Judilherry Justam selaku perwakilan alumni UI yang pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Mahasiswa UI tahun 1974, hingga Sulistyowati Irianto selaku perwakilan Guru Besar UI.
“Tadi, kita sudah dengarkan apa yang menjadi keprihatinan. Kita berdoa (agar) semua unsur yang memang punya peran dalam melaksanakan Pemilu yang jurdil (red: jujur adil) bisa tergerak hatinya untuk menjalankan tugas mulia untuk kepentingan anak cucu kita di masa depan. Ini penting sekali karena demokrasi itu dibangun dengan tidak mudah. Mudah-mudahan apa yang tadi disampaikan bisa didengar oleh semua yang punya peran di dalam menyukseskan Pemilu pada 2024 ini,” harap Anis dalam sambutannya.
“Apa yang terjadi sungguh menggelikan. Saya merasakan masa Orde Baru, saya juga dipenjara (di) masa Orde Baru, ya, tetapi rasanya, pada saat itu, kita masih lebih bisa bicara walaupun kita harus dipenjara kadang-kadang. (Akan) tetapi, pada saat ini, kita bisa melihat pendapat rakyat juga ditekan; rakyat yang berpendapat untuk mendukung calon presiden yang lain–diintimidasi. Saya kira, pada saat inilah, kita semua, alumni UI, Civitas Academica UI, bersuara untuk menentang ketidakbenaran ini,” ungkap Judil dalam sambutannya.
“... jangan rusak hari ini hanya untuk kepentingan politik sesaat, untuk mementingkan kepentingan nepotisme keluarga! Kami tidak akan tinggal diam. Kami Civitas Academica UI akan terus mengawasi apa yang terjadi di luar sana,” Sulis mengutip pesan Mr. Soepomo dan mengakhiri sambutannya dengan gertakan keberanian.
Aksi seruan ini merupakan langkah lanjutan dari para DGB UI atas ikrar bersama dengan Majelis DGB Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) yang telah terucap sejak dua bulan lalu. Dalam ikrar tersebut, para Guru Besar berjanji akan terus mengawal perjalanan Pemilu 2024 di wilayah masing-masing sehingga Pemilu dapat benar-benar terlaksana berlandaskan asas langsung, umum, bebas, dan rahasia serta jujur dan adil (luber jurdil).
“Jadi, kami akan melanjutkan apa yang sudah diikrarkan pada saat itu bersama-sama di seluruh Indonesia. Itu yang bisa kita lakukan (selanjutnya),” terang Tuti ketika ditanya mengenai kelanjutan dari aksi hari ini.
Tidak melupakan keberadaan para mahasiswa sebagai bagian masa depan bangsa, Tuti juga menaruh harapan besar kepada mereka, khususnya para mahasiswa yang kurang atau belum mengetahui sejarah masa lalu dan memilih untuk pertama kali saat Pemilu 2024 nanti.
“(Mereka) perlu mengetahui bahwa Indonesia sudah cukup lama berbenah diri untuk menjadi negara demokratis. (Mereka) harus berusaha untuk memastikan bahwa itulah yang akan terjadi lagi di Indonesia. Mereka semua harus melawan apabila ada upaya-upaya intimidasi agar Pemilu kita ini berjalan dengan adil dan baik,” pesan Tuti.

Sebagai bagian dari Civitas Academica UI, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI 2024 turut berperan serta dalam aksi tersebut untuk menyuarakan aspirasinya. Pertama kali berdiri di dalam aksi dengan posisi sebagai Ketua BEM UI 2024, Verrel Uziel menyampaikan pendapat positifnya terhadap aksi simbolik tersebut. Menurutnya, aksi seruan yang terselenggara oleh DGB adalah suatu bentuk ketegasan yang konkret dari Civitas Academica UI untuk memperlihatkan permasalahan yang sedang terjadi di Indonesia kepada masyarakat luas. Secara lebih lanjut, Verrel juga menjelaskan sikap BEM UI 2024 terhadap permasalahan politik yang menjadi landasan terselenggaranya aksi seruan tersebut.
“Dikatakan percaya atau tidak, mulai pada tahap tidak percaya, tetapi kita sebagai kalangan intelektual penting untuk melihat dari segala sisi, maka dari itu, seiring berjalannya waktu ke depan, kami akan melihat segala sisi tersebut".
"Sejauh ini, kita tetap berusaha untuk menjaga rasa percaya terhadap pemerintah. Tinggal bagaimana pemerintah untuk menjaga rasa percaya yang telah kita berikan. Apabila rasa percaya tersebut dikhianati, tidak dihiraukan, tidak didengarkan, maka tidak menutup kemungkinan akan ada gerakan-gerakan yang dapat menuntut kenyataan ataupun menuntut sikap yang lebih konkret dari pemerintah. Turun ke jalan tentu tetap menjadi opsi, tapi bukan yang utama,” lanjut Verrel.
Di sisi lain, Tuti menegaskan bahwa aksi seruan DGB UI tersebut bukanlah gerakan politik, melainkan gerakan moral yang bergerak dari keprihatinan para akademisi kepada para politisi menjelang pelaksanaan Pemilu 2024. Oleh karena itu, aksi DGB UI tidak bertujuan untuk memenangkan maupun melawan pihak politik manapun.
Terlepas dari keberanian para DGB UI untuk menyuarakan sikapnya terhadap berbagai batu sandungan politik yang memungkinkan kejatuhan demokrasi Indonesia, ketidakhadiran sosok Ari Kuncoro selaku Rektor UI dalam aksi tersebut mengundang cukup banyak tanda tanya. Peranannya sebagai bagian dari Civitas Academica UI, baik sebagai Rektor maupun Guru Besar dianggap perlu memosisikan diri di barisan terdepan dalam aksi tersebut. Sayangnya, beliau tidak hadir untuk turut menyatakan sikapnya dalam menyelamatkan demokrasi Indonesia sebagaimana DGB UI yang mewakili segenap Civitas Academica UI.
Teks: Jesica Dominiq M.
Editor: Choirunnisa Nur F.
Foto: KBA Talk
Pers Suara Mahasiswa UI 2024
Independen, Lugas, dan Berkualitas!