
By Nabila Nurunnisa F.
Nama Album : Head in the Clouds II
Artis : Rich Brian, NIKI, Stephanie Poetri, Joji, dll.
Genre : Pop, Hip-hop, R&B
Label : 88rising
Tanggal Rilis : 11 Oktober 2019
Setahun setelah merilis album pertamanya pada 2018, 88rising akhirnya kembali meluncurkan album kompilasi. Masih dengan judul yang sama yaitu Head in the Clouds, hanya diikuti dengan dua romawi, Indonesia menjadi penyumbang ketiga musisi Asia dalam 88rising ini yaitu Rich Brian, NIKI, serta Stephanie Poetri. Sukses dikenal publik dengan single-nya yang berjudul "Dat $tick", Rich Brian merupakan yang pertama mengawali kariernya di bawah naungan 88rising yang kemudian disusul kedua rekannya.
88rising adalah sebuah music entertainment yang mencakup label rekaman, management artist, dan perusahaan marketing. Perusahaan ini didirikan pada 2015 oleh Sean Miyashiro serta memiliki kantor pusat di New York, Amerika Serikat. Terfokus pada musisi Asia yang juga keturunan Amerika serta musisi Asia yang merilis musik di Amerika, membuat 88rising menjadi semakin dikenal. Pelibatan kedua benua tersebut menyebabkan pasar dari produksi musiknya meluas.
Dalam album yang terdiri dari 16 lagu ini, 88rising menggandeng segenap musisi Asia seperti Jackson Wang, Chung Ha, serta Phum Viphurit. Selain itu, sejumlah musisi Amerika juga turut berkontribusi dalam album ini seperti Major Lazer, Don Krez, Barney Bones, serta August 08. Terlibatnya sejumlah musisi tersebut tidak hanya memperluas pasar pendengar 88rising, tetapi juga memberikan warna baru dalam album Head in the Clouds II ini.
Menjadi lagu yang mengawali album, pemilik nama lengkap Brian Imanuel Soewarno ini menggandeng Chung Ha, musisi asal Korea Selatan, untuk berkolaborasi. Lagu ini didominasi oleh instrumen musik elektronik dengan gaya old school sehingga membuatnya sangat berbeda dari lagu-lagu Brian sebelumnya. Bila dalam single serta album sebelumnya ia cenderung memasukkan unsur hip-hop yang kental, genre pop menjadi pilihannya dalam lagu yang satu ini. Eksplorasi baru pelantun "Gospel" ini nyatanya mendapatkan sambutan yang baik dari para penggemar. Terbukti dari jumlah penonton musik videonya di YouTube yang telah ditonton sebanyak 12,5 kali.
Dirilis pada 13 Agustus, tepat empat hari sebelum digelarnya festival musik Head in the Clouds di Los Angeles, “Indigo” menjadi lagu pertama yang dirilis dalam album ini. Dimulai dengan suara denting jam, lagu ini bercerita tentang petualangan NIKI, sang musisi, saat road trip bersama pasangannya sambil memikirkan mengenai sejauh mana sebuah hubungan dapat berjalan. Lagu bergenre R&B ini menjadi salah satu yang sering diputar di radio populer Indonesia. Musiknya yang bop serta liriknya yang catchy membuat lagu ini mudah melekat di kepala. Selain Indigo, NIKI juga menyumbangkan tiga lagu lainnya yaitu “Strange Land” yang berkolaborasi dengan Phum Vipurit, “Shouldn’t Couldn’t Wouldn’t” berkolaborasi dengan Rich Brian, serta “La La Lost You”.
Sementara itu, “I Love You 3000 II” karya Stephanie Poetri, anak dari Diva ternama di Indonesia, Titi DJ, menjadi kontribusi pertamanya dalam 88rising setelah bergabung ke dalam label rekaman tersebut. Lagu yang ditulis sendiri oleh Stephanie ini menjadi viral sejak dirilis di akun pribadi YouTube-nya pada 6 Juni 2019 silam. Sesuai dengan judulnya, lagu ini terinspirasi dari salah satu dialog terkenal dalam film Avengers: Endgame yaitu saat Morgan, anak dari Tony Stark, mengatakan “I love you 3000” kepada Ayahnya. Lagu itu kemudian diberi sedikit sentuhan dengan diubahnya lirik husband menjadi best friend dan keikutsertaan Jackson Wang, musisi asal Hongkong yang sukses berkarier di Korea Selatan dengan boyband bernama Got7, dalam lagu ini. Penggunaan term husband ini pada awalnya menuai cibiran dari para pendengar karena dinilai terlalu dini untuk kisah percintaan remaja. Merespon hal tersebut, dalam wawancaranya dengan Genius, Stephanie mengungkapkan bahwa ia menggunakan term tersebut hanya karena rimanya yang sesuai dengan baris sebelumnya yang berbunyi “Baby take my hand”, kemudian diikuti dengan “I want you to be my husband”. Ia melanjutkan bahwa ia bahkan tidak memiliki pacar, memikirkan seseorang menjadi suaminya rasanya terlalu jauh. Oleh karena itu, saat dimasukkan ke dalam album Head in the Clouds II ini, term tersebut pun diganti dengan best friend. Diiringi dengan instrumen gitar yang sederhana namun memikat, lagu ini kemudian mendapatkan respon yang baik dari para pendengar dengan 14 juta kali didengarkan di Spotify.
Pada Maret silam, 88rising mulanya akan menggelar festival musik pertamanya di Indonesia. Ketiga musisi tersebut pun menyampaikan kegembiraan mereka untuk dapat menampilkan penampilan perdananya di kampung halaman. Namun nahas, akibat Covid-19 yang sedang merebak, penampilan tersebut pun dibatalkan. Tidak hanya itu, penampilan sejumlah musisi 88rising pada festival musik bergengsi, Coachella, pada pertengahan April pun juga harus dibatalkan dengan alasan yang sama. Semoga di waktu mendatang para musisi ini dapat menunjukkan penampilannya yang tertunda.
Teks : Nabila Nurunnisa F.
Foto : Istimewa
Editor : Ruth Margaretha M.
Kontributor