Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Universitas Indonesia (UI) kembali mengerahkan massa aksi untuk ketiga kalinya pada jumat, (12/11). Aksi tetap menyuarakan tuntutan yang sama, yaitu penolakan hasil revisi statuta UI. Aksi ini dimulai pada pukul 13.00 dengan titik kumpul lapangan FISIP UI.
Setelah berkumpul, massa aksi mulai bergerak dari lapangan FISIP UI ke Rektorat UI secara bersama-sama. Sepanjang perjalanan, aksi diiringi dengan menyanyikan lagu-lagu identitas UI, meneriakkan yel-yel, dan membentangkan spanduk. Di tengah-tengah perjalanan menuju Rektorat UI, peserta aksi disambut dengan guyuran hujan yang sangat deras.
Derasnya guyuran hujan tidak menyurutkan semangat mahasiswa dalam melanjutkan perjalanan aksi menuju Rektorat UI. Massa tetap antusias bergerak menuju rektorat dengan menggunakan jas hujan dan payung untuk mencegah badan terkena hujan yang semakin deras.
Sesampainya di rektorat, massa aksi diberikan kesempatan untuk menyampaikan aspirasi di pelataran rektorat. Penyampaian aspirasi dibuka dengan pembacaan puisi oleh Kepala Departemen Kastrat BEM FISIP UI, Fina Leonita. Sebelum acara, BEM UI telah mengirimkan surat undangan terbuka kepada empat organ UI. Namun, dari empat organ UI yang diundang, hanya pihak Dewan Guru Besar (DGB) yang memenuhi undangan dari pihak mahasiswa. Ketua BEM UI 2021, Leon Alvinda Putra, menuturkan bahwa Ari Kuncoro selaku Rektor UI mengabaikan pesan yang ia kirimkan mengenai kondisi massa aksi yang kehujanan. Ari hanya membaca tanpa membalas pesan yang dikirimkan Leon melalui WhatsApp saat drama teatrikal berlangsung. “Jika Prof. Ari ada di dalam gedung rektorat, sekiranya turun untuk mendengarkan aspirasi dan tuntutan dari kami, karena ini sudah aksi ketiga, dan teman-teman sudah hujan-hujanan, yang menunjukan bahwa teman-teman mencintai almamater," ujar Leon.
Perwakilan dari DGB, Prof. Tuti dan Prof. Tini turut menyampaikan aspirasinya dengan berdialog bersama mahasiswa. Prof. Tuti menyatakan bahwa sebenarnya DGB UI hanya terlibat setengah jalan saat penyusunan statuta. “Anda itu punya ayahnya tiga, rektor, ketua MWA, ketua senat. Tapi yang dateng cuma ibunya satu, dari DGB," ujarnya.
Pernyataan Prof. Tuti tersebut dilandasi fakta bahwa aksi kali ini bertepatan dengan hari ayah nasional. Rektor sebagai ayah bagi para mahasiswa di UI seyogyanya memberikan ruang dan kesempatan bagi anak-anaknya untuk menemui dirinya. Namun, Rektor tidak pernah muncul kehadirannya selama tiga kali aksi berjalan.
Aksi ini bukanlah aksi terakhir karena tuntutan aksi tidak hanya berhenti di UI. Seruan aksi akan terus berlangsung selama tuntutan belum dihiraukan. Aksi ketiga ini merupakan aksi terakhir yang dilaksanakan di UI. Selanjutnya, BEM UI akan melanjutkan aksi ke kementerian pendidikan dan budaya.
Berulang Kali Aksi, Tidak Pernah Ditemui
Berdasarkan keterangan yang Tim Suara Mahasiswa UI dapatkan dari Bayu Satria selaku Ketua BEM FISIP UI 2021, aksi ketiga ini sudah direncanakan keberadaannya karena aksi-aksi sebelumnya belum mendapatkan respons. Setelah tiga kali aksi di UI, aksi akan dilanjutkan ke para pejabat pemangku kepentingan lain dalam pengeluaran statuta baru ini.
"Aksi ini apabila kembali belum mendapatkan tanggapan akan kami lanjutkan eskalasinya menuju Kemendikbud yang menaungi UI. Jika Kemendikbud enggan memberikan respons, aksi akan berlanjut ke Istana Negara sebagai kantor presiden yang di sini berperan dalam mengesahkan statuta baru," terang Bayu.
Lebih lanjut, Bayu menyatakan bahwa aksi massa untuk menolak statuta baru UI merupakan aksi bersama seluruh unsur sivitas akademika UI, mulai dari mahasiswa, Dewan Guru Besar, Tenaga Kependidikan, sampai dengan Dosen. Aksi ini merupakan bentuk kepedulian dari seluruh unsur sivitas akademika UI terhadap masa depan UI yang ditentukan melalui statuta sebagai hukum dasar tertinggi. Meskipun di lapangan hanya terlihat massa mahasiswa saja, Bayu menjelaskan bahwa di balik massa mahasiswa yang turun aksi terdapat dukungan dari para unsur sivitas akademika UI yang lain.
Dari aksi yang diselenggarakan ini, Mahasiswa berharap statuta baru UI dicabut sekarang juga atau setidak-tidaknya ada pihak dari rektorat yang datang dan mendengarkan aspirasi mahasiswa. "Aksi hari ini tentunya berharap pada pencabutan statuta baru UI secepatnya. Kalau bisa, sekarang juga dicabut. Namun, setidak-tidaknya kami berharap pihak rektorat ada yang datang dan mau mendengarkan aspirasi kami," tutur Bayu.
Sudah Dihubungi, Hanya Dibaca Saja
Pendapat senada dengan juga disampaikan oleh Leon Alvinda selaku Ketua BEM UI 2021. Leon menyatakan bahwa aksi ketiga ini dilakukan merespons kondisi tidak digubrisnya kedua aksi kemarin untuk menyampaikan aspirasi tentang statuta baru UI yang cacat secara materiil maupun formil. "Aksi ini merupakan bentuk respons dari aksi kemarin yang belum membuahkan hasil sekaligus bentuk kemarahan karena Rektor maupun Ketua MWA tidak mau memberikan tanggapan sama sekali tentang kontroversi statuta baru ini sampai hari ini," papar Leon.
Leon sendiri sudah menghubungi Rektor via pesan singkat di aplikasi WhatsApp dan juga melampirkan foto massa aksi yang sedang menyampaikan aspirasi di selasar Gedung Rektorat dalam pesan tersebut. Namun, sampai aksi berakhir belum ada tanggapan dari pihak Rektor atas pesan tersebut. Bahkan, pesan tersebut hanya dibaca saja yang dibuktikan dengan tanda dua centang biru pada pesan yang dikirimkan Leon.
Dukungan Dewan Guru Besar
Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, aksi ini tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa saja. Terdapat unsur Dewan Guru Besar yang hadir dalam aksi kali ini menemui mahasiswa. Kehadiran Dewan Guru Besar dalam memenuhi surat undangan terbuka mahasiswa pada aksi ini diwakili oleh Prof. Tuti dan Prof. Tini.
Keduanya mengapresiasi pelaksanaan aksi pada hari ini. Menurut keduanya, aksi ini merupakan bagian dari kebebasan berekspresi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasinya. Hal ini merupakan salah satu ciri dari negara yang demokratis dan universitas yang demokratis untuk memberikan ruang bagi mahasiswa berbicara.
Sebagai bentuk kebebasan berekspresi mahasiswa, keduanya menyayangkan ketidakhadiran organ-organ universitas lain yang diundang. Padahal, aksi ini merupakan momentum yang tepat untuk membicarakan bersama permasalahan statuta ini.
"Menurut saya, seyogianya mereka mendengar apa yang oleh mahasiswa. Kalau ada mereka yang tidak setuju dengan aspirasi mahasiswa, kan bisa dibicarakan baik-baik. Jadi, saya sangat prihatin juga gitu mereka mengharapkan pimpinan datang, ternyata cuma dua ibu2 ini yang datang perwakilan dari DGB," ucap Prof. Tuti.
Keduanya berharap ketiga organ lainnya mau mendengarkan aspirasi mahasiswa dan tetap menyuarakan tuntutannya. Prof. Tuti berharap tiga organ itu juga mendengar mahasiswa. Hal ini dikarenakan stakeholder terbesar UI adalah mahasiswa yang menjadi sumber keuangan terbesar UI melalui uang kuliah yang dibayar setiap semesternya. Sehingga, seharusnya aspirasinya didengar dan jangan hanya mendengar kelompok2 kecil saja dengan kepentingan pribadi kelompok.
Pendapat Prof. Tuti diamini oleh Prof. Tini dan menambahkan bahwa aksi mahasiswa tetap harus dilanjutkan sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidak enakan. "Kalau pun ini belum berhasil, teruskan. Karena ini memang bentuk perjuangan panjang bahwa memang sulit untuk menang, tapi bukan berarti tidak bisa," pungkas Prof. Tini.
Teks: Satrio Alif, Humairah Dila, Magdalena Natasya
Foto: Anggara Alvin
Kontributor: Ninda Maghfira
Editor: Syifa Nadia
Kontributor