Logo Suma

Il Principe: Memahami Jalan Pikiran Para Diktator

Redaksi Suara Mahasiswa · 26 Juni 2022
4 menit · - kali dibaca
Il Principe: Memahami Jalan Pikiran Para Diktator

Judul                          : Il Principe (Sang Pangeran)
Pengarang                  : Niccolo Machiavelli
Penerbit                      : Narasi
Tahun Terbit             : Cetakan 2019, pertama terbit 1532
Genre                         : Politik
Jumlah Halaman       : 174

Ketika kita mendengar kata “diktator”, kita selalu membayangkan seorang pemimpin yang bertindak sewenang-wenang. Kita selalu mengasosiasikannya dengan Kim Jong Un, Adolf Hitler, Soeharto untuk menggambarkan bagaimana kediktatoran bekerja. Lantas, apakah kediktatoran itu hanya sebatas personalitas? mengapa seorang diktator bisa berkuasa? bagaimana seorang diktator berpikir?. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, buku Il Principe karya Niccolo Machiavelli adalah buku yang tepat untuk menjawab itu semua. Ia mencoba untuk menguraikan bagaimana seharusnya seorang pemimpin berpikir dan bertindak untuk mempertahankan kekuasaannya dengan cara apa pun. Terdengar immoral memang, akan tetapi, memang begitulah realitas politik.

Secara historis, buku Il Principe merupakan sebuah hadiah yang diberikan Machiavelli kepada Keluarga Medici, dinasti politik Kerajaan Florence. Buku ini berisikan nasihat-nasihat Machiavelli kepada mereka untuk mempertahankan kekuasaannya, bahkan dengan menabrak prinsip etika dan moral. Bagi Machiavelli, keutuhan negara adalah entitas tertinggi yang melampaui prinsip-prinsip tersebut. Terdiri dari 26 chapter, buku ini terbagi menjadi 3 bahasan besar, yaitu bentuk pemerintahan dan kerajaan, cara memerintah, serta bagaimana seharusnya pemimpin bersikap pada lingkungan di sekitarnya.

Pada bagian awal, Machiavelli menyatakan bahwa jenis negara yang dikelola oleh satu keluarga lebih mudah untuk dipertahankan dibandingkan negara-negara yang baru dibentuk. Hal ini disebabkan oleh keluarga-keluarga ini telah menanamkan dominasinya kepada masyarakat sehingga masyarakat secara efektif tunduk kepada penguasa yang sudah lama memerintah. Berbeda halnya dengan sebuah negara baru hasil invasi, penguasa baru tidak akan memerintah dalam waktu yang lama karena penguasa yang telah digulingkan “tidak cukup” dimusuhi oleh masyarakat. Apalagi jika penguasa yang baru itu orang asing yang berbeda etnis dan bahasa. Di sinilah nasionalisme berperan, bahwa daerah kekuasaan dengan bahasa yang sama akan mudah dipertahankan. Ia menyontohkan Raja Louis XII dari Prancis menduduki Milan dan diusir kembali oleh Ludovico. Ia menambahkan, apabila seorang penguasa telah berhasil menginvasi dominion lain, maka ia harus melakukan langkah-langkah untuk mempertahankan kekuasaannya, yaitu musnahkan penguasa lama lalu tidak mengubah aturan UU pajak di dominion tersebut. Selain itu, penguasa baru juga harus menjalin persahabatan dengan masyarakat yang diduduki.

Machiavelli juga menekankan bahwa seorang penguasa hendaknya tidak menggunakan pasukan bantuan (dari negara lain) dan pasukan bayaran dalam menjalankan kekuasaannya. Ia menyatakan bahwa pasukan bantuan dan pasukan bayaran akan sangat membahayakan seorang penguasa. Pasukan bantuan berbahaya karena ia memiliki keberanian untuk menyerang negara lain, ketika sudah direbut, maka Anda (penguasa) tidak akan berkuasa penuh terhadap mereka. Adapun pasukan bayaran, kesetiaan mereka hanya diukur dari seberapa banyak uang yang dikeluarkan, ketika mereka sudah menyerang dan merebut negara lain, maka ia berpotensi untuk menjatuhkan Anda (penguasa) karena tidak memiliki ikatan lagi. Sebagai gantinya, Machiavelli menganjurkan seorang penguasa agar menggunakan pasukan-pasukan mereka sendiri. Kesuksesan dalam menginvasi dan menduduki negara lain terletak pada penggunaan pasukan yang dimiliki oleh seorang penguasa. Ia menambahkan, penggunaan pasukan asing akan menyebabkan kekalahan Anda, membebani, dan merintangi jalan Anda (Machiavelli, 2019: 89).

Selanjutnya, Machiavelli selalu menganjurkan kepada seorang penguasa agar selalu mempelajari tentang ilmu perang. Menurut Machiavelli, masa damai dan masa perang bukanlah dua hal yang berbeda. Maka dari itu, seorang penguasa harus mempelajari tentang perang melalui dua cara, yaitu tindakan dan pembelajaran. Melalui tindakan berarti ia harus memperkuat pasukan perangnya, ia harus melatih bagaimana mereka cara bertempur. Melalui tindakan berarti ia harus memahami wilayah geografisnya, mengetahui pegunungan, lembah, rawa, sungai yang ada di wilayahnya. Ia juga harus belajar sejarah bagaimana mempertahankan wilayah, memeroleh kemenangan, dan mengetahui penyebab kekalahan dari peristiwa-peristiwa terdahulu. Dengan kata lain, seorang penguasa harus siap apabila sewaktu-waktu ia ada dalam kondisi yang membuat kekuasaannya terancam. Ia harus menggunakan masa damai sebagai masa persiapan untuk perang. Dengan demikian, ia bisa kapan saja siap untuk berperang dan memenangkannya.

Bagian terakhir membahas tentang personalitas yang harus dimiliki oleh seorang penguasa –dalam rangka mempertahankan kekuasaannya–. Menurut Machiavelli, seorang penguasa haruslah kikir, ia haruslah berhati-hati terhadap pengeluaran keuangan. Ia menyatakan bahwa keborosan seorang penguasa adalah gejala dari kejatuhan kerajaannya. Selain itu, seorang penguasa juga harus mengonsolidasikan para bawahannya. Untuk melakukannya, Machiavelli mengajukan jawaban terhadap manakah yang lebih baik, ditakuti atau dicintai? Ia menjawab bahwa seorang penguasa haruslah ditakuti dan dianggap kejam. Ditakuti dan dianggap kejam adalah sebuah cara yang efektif dalam mempertahankan kekuasaan seorang penguasa. Machiavelli mendasarkan pemikirannya ini kepada sifat dasar manusia yang disebutnya penuh tamak dan kemunafikan.

“Manusia tidak segan-segan membela dia yang mereka takuti daripada mereka cintai karena rasa cinta diikat dengan rantai kewajiban, karena manusia pada dasarnya egois, maka pada saat mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, rantai tersebut akan putus; namun rasa takut dipertahankan oleh hukuman-hukuman yang menakutkan yang tidak pernah gagal” (Machiavelli, 2019: 106).

Machiavelli juga menganjurkan bahwa penguasa harus memiliki sifat licik. Ia menggunakan perumpamaan bahwa seorang penguasa harus tahu kapan menjadi harimau dan rubah. Karena harimau tidak dapat menghindari perangkap dan rubah tidak dapat menghindari serigala. Dengan kata lain, harimau menggambarkan kekuatan yang menakutkan, namun ia begitu bodohnya terjebak dalam perangkap. Di sisi lain, rubah adalah hewan yang mampu melakukan tipu daya. Seorang penguasa haruslah terlihat menakutkan untuk mendapatkan kesetiaan dari pengikut-pengikutnya, di sisi lain, ia juga harus pandai menipu dalam usaha melindungi dirinya dari perongrong kekuasaannya. Selain itu, ia juga harus membangun reputasi dan menghindari sanjungan-sanjungan kebohongan yang ditujukan kepada dirinya sendiri. Oleh karena itu, ia harus dikelilingi oleh penasihat-penasihat jujur.

Penutup

Buku ini juga dikenal menjadi “buku wajib” yang dibaca oleh diktator-diktator terkenal seperti Adolf Hitler, Joseph Stalin, Mussolini, Napoleon, dan lain-lain. Meskipun berisi tentang hal-hal yang tidak pantas secara etika dan moral, akan tetapi pasti ada pelajaran yang dapat kita petik dari buku ini. Sangat jelas bahwa Il Principe bukanlah contoh yang baik untuk ditiru, namun bisa menjadi alarm bagi kita untuk tidak jatuh kembali ke dalam jurang kediktatoran.

Teks : Amal Fasha
Editor : Aura Annisa
Foto : Istimewa

Pers Suara Mahasiswa UI 2022
Independen, Lugas, dan Berkualitas!

Tim Penggarap