Logo Suma

IMAC 2025 Wadahi Pelajar untuk Ekspresikan Diri lewat Film

Redaksi Suara Mahasiswa · 21 November 2024
4 menit · - kali dibaca
IMAC 2025 Wadahi Pelajar untuk Ekspresikan Diri lewat Film

Rangkaian safari (roadshow) ILUNI UI Movie Award Competition (IMAC) 2025 masih berlanjut. Setelah safari perdana pada Kamis (14/11) lalu, Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) menyelenggarakan safari kedua pada Selasa (19/11) di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 57 Jakarta. Bersama dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Daerah Khusus Jakarta, ILUNI UI kembali menggelar penayangan film (film screening) dan gelar wicara (talkshow) pada safari kedua ini.

Safari yang terselenggara khusus untuk kalangan pelajar ini menghadirkan sejumlah pihak terkait. Ada Eti Suyanti selaku Kepala Seksi Peserta Didik dan Pembangunan Karakter SMK Disdik Jakarta, Didit Ratam selaku Ketua Umum ILUNI UI 2022–2025, dan Sri Bandoro selaku Pengarah Festival (Festival Director) IMAC 2025.

Sama seperti di safari perdana, Bandoro kembali menjadi pembicara pembuka di safari kedua ini. Dalam sambutannya, Bandoro menyampaikan ucapan terima kasih kepada para pihak yang terlibat dalam pelaksanaan safari, khususnya Eti yang mewakili Disdik Jakarta selaku kolaborator safari kedua.

Setelah ucapan terima kasih, Bandoro memberikan penjelasan singkat mengenai IMAC, “Saat ini, kegiatan ini (IMAC 2025) merupakan kegiatan yang kedua [kalinya]. (IMAC) tahun pertama telah kami laksanakan di bulan Maret 2024 lalu, bertempat di Universitas Indonesia. Untuk saat ini, kami akan menyelenggarakan tahun kedua IMAC pada Februari 2025.”

Lebih lanjut, Bandoro menjelaskan kegiatan-kegiatan yang menjadi rangkaian penyelenggaraan IMAC 2025. Ada tiga kegiatan, yaitu safari (roadshow), film camp, dan kompetisi film (film competition). Melalui ketiga kegiatan tersebut, Bandoro berharap agar pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum dapat tergugah dan terinspirasi untuk membuat film.

Didit juga menyampaikan harapan yang serupa dalam sambutannya, “IMAC 2025 [dilanjutkan] ke tahun kedua karena kita ingin meningkatkan lagi kemampuan teman-teman semua untuk bagaimana mengekspresikan dirinya [melalui] membuat film.”

Setelah sambutan pembuka, acara berjalan sebagaimana pada safari perdana, yaitu penayangan film terlebih dahulu, lalu gelar wicara. Sesi “nonton bersama” kali ini memutar lima film yang terdiri atas tiga film yang sudah pernah tayang di safari perdana dan dua film yang baru pertama kali tayang pada safari kedua ini. Kelima film itu adalah Laut Masih Memakan Daratan, Mother of The Sea, Ojek Lusi, The City is Calling, dan Fizzy si Fotografer.

Berikutnya, acara berlanjut ke sesi gelar wicara dengan Lexy Ananta sebagai moderator. Manajer Kantor (Office Manager) IMAC 2025 ini memoderatori diskusi bersama dua narasumber, yaitu Ryan Sebastian selaku Pengarah Program (Program Director) IMAC 2025 dan Semesta Kalbu Saladin selaku Sutradara Film Fizzy si Fotografer.

Lexy membuka diskusi dengan menanyakan asal-usul ketertarikan masing-masing narasumber untuk berkecimpung dalam perfilman. Rian bercerita bahwa dirinya sudah terpapar dengan film sejak kecil melalui kesukaannya dalam menonton film. Oleh karena itu, dia tersadar bahwa film bukanlah sekadar storytelling dan memberanikan dirinya untuk menjajaki bidang perfilman.

“Awal mula saya tahu dan suka film itu, ya, dan akhirnya bisa masuk, ya, karena saya terbiasa nonton film. Terus, saya sangat mensukai storytelling atau [ber-]cerita,” ungkap Ryan.

Serupa dengan Ryan, Semesta juga memiliki masa kecil yang sudah dekat dengan perfilman. Melalui koleksi diska serbaguna digital (DVD) ayahnya, Semesta menonton berbagai film. Tidak hanya itu, ayahnya juga sering mengajaknya ke bioskop. Pengalaman itu pun membawa Semesta menjadi kolektor DVD film-film lawas, YouTuber, hingga sineas.

“Menurut aku, itu, tuh, sebuah experience yang tidak terlupakan–bagaimana seorang anak kecil [yang] gak tahu apa-apa, tiba-tiba diajak nonton film-film random aja gitu sesuai selera bapak saya. … Jadi, kita, tuh, terbawa terus dari kecil sampai gede pun, ya, nonton film terus,” cerita Semesta.

Selama diskusi, peserta mendapat kesempatan bertanya. Salah satu pertanyaan berasal dari seorang siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 103 Jakarta. Dia bertanya cara mengembangkan ide agar dapat membuat film yang bagus.

“Kalau aku, aku memaparkan diri ke hal-hal yang banyak. Jadi, kita [punya] banyak referensi tentang apa aja yang bisa terjadi di cerita kita. [Akan] tetapi, saranku, sih, paling gampang, tuh, soal ide, lihat apa yang ada di depan kita. Gak usah muluk-muluk harus sampai buat ide yang jauh ke mana-mana,” jawab Semesta.

Ryan menambahkan, “Yang pertama, banyak membaca dan banyak menonton untuk mengambil referensi. Yang kedua, menggunakan mind mapping (peta konsep) untuk mengembangkan ide dari suatu hal dengan hal-hal lainnya yang linear.”

Selain sesi tanya-jawab, ada pula sesi presentasi khusus mengenai IMAC Film Camp. Sebagai informasi tambahan, penyelenggaraan IMAC 2025 memiliki sejumlah perbedaan dengan IMAC 2024. Salah satunya adalah adanya film camp.

IMAC Film Camp merupakan program intensif selama tujuh hari berupa pelatihan pengembangan keterampilan produksi film bagi generasi muda. Dengan menargetkan siswa SMA dan SMK sebagai peserta, program ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan praktis dan teoritis bagi pelajar SMA/SMK yang ingin berkarier di industri film kelak.

“Intinya, teman-teman nanti akan belajar bareng praktisi-praktisi yang memang sudah terlebih dahulu [berkecimpung dalam perfilman]. Mereka akan sharing pengetahuannya untuk teman-teman yang memang nanti terpilih. Setelah itu, kami akan memfasilitasi teman-teman untuk bisa bikin film,” jelas Ryan saat presentasi.

Ryan juga menjelaskan perihal syarat dan ketentuan bagi calon peserta yang hendak mendaftarkan diri untuk mengikuti film camp ini. Adapun informasi lengkap mengenai IMAC Film Camp dapat diakses melalui imac-filmfest.com/filmcamp.

Setelah gelar wicara berakhir, acara berlanjut dengan pemberian sertifikat kepada Ryan dan Semesta. Sebagai penutup, panitia dan peserta berfoto bersama.

Teks: Jesica Dominiq M.

Foto: Azzahra Arthanindira Sulistyo

Pers Suara Mahasiswa UI 2024

Independen, Lugas, dan Berkualitas!

Tim Penggarap