Logo Suma

Industri Layanan Streaming di Tengah Pandemi dan Prospeknya di Masa Depan

Redaksi Suara Mahasiswa · 21 Januari 2021
4 menit

By Trisha Dantiani H., Eric Taher

“Jujur gue agak gila urusan nonton,” ujar Raisya Badria, mahasiswa Ilmu Komunikasi UI, mengenai kebiasaannya dalam menonton layanan streaming. “Apakah gue nonton tiap hari? Iya. Apakah gue bisa nonton 3-4 judul berbarengan? Iya.”

Di kala pandemi, layanan streaming atau OTT (Over The Top) menjadi primadona di kalangan masyarakat yang tertahan di rumah. Dilansir dari CNN Indonesia, para platform layanan streaming mendapat kenaikan keuntungan secara drastis, sejak pemerintah mengimbau pembatasan sosial pada 15 Maret 2020. Iflix menjadi layanan streaming dengan lonjakan keuntungan terbesar dengan 518 persen, disusul Viu dengan 421 persen, Catchplay dengan 358 persen, dan Netflix dengan 298 persen.

“Sebenarnya gue tuh tiap malem pasti nonton berdua sama Nyokap, karena Nyokap gue sama gilanya nonton sama gue, dan kadang-kadang karena keluarga gw jarang ngumpul, ya, kalau kita berlima ngumpul bareng, itu yang dinyalain pasti film,” lanjut Raisya.

Fenomena ini juga diakui oleh Roy Simangunsong, dosen nontetap Ilmu Komunikasi UI, sekaligus mantan Vice Head of Media and Brand Partnership di Walt Disney Company Indonesia. Ia melihat adanya perubahan kebiasaan konsumen di kala memilih konten yang ingin ditonton.

“Dengan adanya pandemi ini, di mana orang berada di rumah, bioskop tutup. Orang mencari alternatif-alternatif baru untuk menonton, untuk konten-konten yang bisa menghibur dia. Konten yang menghibur dia apa? Konten-konten entertainment, konten-konten yang sifatnya faktual, konten-konten yang sports yang dicari. Tapi yang kita lihat, dari beberapa streaming yang ada juga sudah mulai mengombinasikan semua itu, baik itu yang lokal maupun internasional,” ungkap Roy.

Para Pemail Lokal yang Bersaing

Pemain lokal pun banyak yang sudah berkecimpungan di industri streaming. Salah satunya adalah Bioskop Online, sebuah streaming platform lokal yang didirikan oleh sutradara Angga Dwimas Sasongko, yang mulai beroperasi di tengah pandemi. Platform ini menggunakan strategi yang unik, dengan mematok harga lima hingga sepuluh ribu rupiah per film, yang dapat disewa dalam rentang waktu 48 jam.

"Kami enggak mau berkompetisi sama Netflix dan Disney+, kami bukan tandingan mereka. Mereka perusahaan raksasa, multinasional, dan world wide operation. Kalau pun kita punya katalog film luar, apa bisa dapat yang bagus kayak mereka? Berapa banyak uang yang harus dikeluarkan," kata Angga ketika diwawancarai oleh CNN Indonesia.

Industri Media Setelah Pandemi

Adapun Roy mengakui bahwa akan ada perlambatan bagi media streaming setelah pandemi. Namun menurutnya, konsumen akan disuguhi oleh lebih banyak pilihan media yang dapat digunakan untuk menonton film dan serial favorit mereka.

“Memang pasti akan ada perlambatan. Tetapi yang terjadi apa? Kita memiliki alternatif. Orang akan semakin memiliki banyak opsi, yang terjadi adalah bagaimana masing-masing platform ini berkompetisi untuk menarik hatinya audiens untuk stay di platform mereka. So, yang terjadi adalah kemenangan buat konsumen,” ujar Roy. Ia menambahkan, bahwa kemampuan storytelling dari setiap platform akan menjadi sebuah komponen penting untuk menarik audiens.

“Nah itu pasti akan mereka punya banyak opsi akan hal-hal tersebut karena pilihan. Jadi, storytelling itu akan menjadi suatu komponen penting membuat konten yang compelling dengan segalanya dan lainnya. To make sure that people would choose your product,” ujar Roy. Ia melanjutkan, “Kita nonton di rumah full walaupun menggunakan headphone dengan berada di Bioskop ada perbedaan, yang kita rasakan, beli popcorn, ngobrol sama orang…habis menonton bioskop kita pergi ke coffee shop.”

Lantas bagaimana dengan nasib bioskop?

“People would go back to theatre with all reasons. Satu alasan yang mungkin teman-teman bisa rasakan, seperti yang saya sebagai konsumen, ada suatu ambisi tertentu. Kalau kita kembali ke sensory kita ya. Sensory kita kan dipengaruhi banyak hal ya? Memori kita dibantu oleh five sensory kita, sebuah memory yang akan kita ingin sentuh kembali," kata Roy.

Ia menyimpulkan, bahwa industri bioskop masih memiliki harapan di kala pandemi masih berlangsung maupun berakhirnya pandemi, agar masyarakat Indonesia tetap memiliki keinginan pergi menonton film di bioskop.

“Saya kasih contoh adalah drive in. Mungkin teman-teman di sini belum merasakan nonton melalui drive in, tetapi dengan adanya virus ini menjadi suatu yang hype, orang ada untuk pergi menonton bioskop is exist, it is still gonna exist,” pungkasnya.

Media Streaming sebagai Penanggulangan Pembajakan

Survei yang dilakukan oleh YouGov untuk Coalition Against Piracy (CAP) mengungkapkan bahwa 63% konsumen dari di Indonesia masih mengakses situs film bajakan di tahun 2019. Sekalipun hukum penyebarluasan film sudah diatur dalam Undang-undang Hak Cipta, nyatanya pembajakan masih merajalela di kalangan masyarakat.

Adapun Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Johnny G. Plate, mengatakan bahwa Kemkominfo telah memblokir sebanyak lebih dari seribu situs streaming video ilegal alias bajakan. Puncaknya pada akhir 2019, Kominfo memblokir film bajakan populer IndoXXI, yang akhirnya berhenti beroperasi pada 1 Januari 2020. Namun, langkah-langkah ini belum cukup untuk mengalihkan masyarakat untuk membeli akses film secara legal.

“It’s your ethic. Kalau ditanya nih, kenapa (konsumen merasa—red) membajak itu tidak berdosa? Karena they believe that mereka sudah mendapatkan keuntungan dari yang lain (platform bajakan—red),” kata Roy.

Ia juga menambahkan bahwa media sudah menerapkan sejumlah strategi dalam menanggulangi pembajakan, bahkan menurutnya, keberadaan media streaming menjadi opsi alternatif yang dapat dipilih untuk mengakses film secara legal selain bioskop.

“Apakah dengan direct to consumer (media streaming—red) ini bisa mengurangi? Ya, ini opsi—bagaimana mereka bisa meninggalkan apa yang biasa mereka lakukan. Bayangkan mereka sekarang punya opsi tidak perlu ke bioskop, tidak perlu lagi memiliki banyak bajakan,” ujar Roy.

“Mereka hanya perlu handphone, mereka berlangganan, sekarang mereka menonton banyak konten. Selama kita bisa provide that opportunity, dan dibantu dengan regulasi dan pengawasan dan pelaksanaan regulasi tersebut, yang kita harapkan adalah manusia would logically, ethically, akan mengurangi kebiasaan buruk mereka,” tambahnya.

Persaingan media streaming—baik pemain asing maupun lokal—akan semakin ketat di tahun yang akan datang. Namun, kondisi ini justru menjadi antisipasi para penggemar film dan televisi yang masih menunggu rilis film-film terbaru dan terbaik dari masing-masing platform. Walaupun demikian, mereka masih harus mewaspadai adanya situs-situs bajakan yang merajalela.

“Saya mengkhawatirkan bahwa bukan konten internasional saja yang dibajak tetapi konten lokal juga dibajak, which is kinda saddening to look at. Karena kita sendiri untuk konten lokal belum ada distribusi yang luas. Itu saja udah dibajak. So it takes everybody efforts to do it. Stakeholder-nya ada government, ada pemilik brand, ada juga si masyarakatnya,” tutup Roy.

Teks: Trisha Dantiani H, Eric Taher

Foto: All Connect

Editor: Nada Salsabila

Pers Suara Mahasiswa UI 2021

Independen, Lugas, dan Berkualitas