Jam Tiga Pagi, Sehimpun Puisi

Redaksi Suara Mahasiswa · 23 Mei 2021
1 menit

Melankolia

Awan mengkelabu
menangis bertetesan.
Buat tanah basah,
berlumpuran hitam.

Anjing hitam menyeringai.
Menghampiri dan menemani
dalam hujan yang beku rasanya.

Tak ada tempat teduh,
tak ada cahaya,
mendung dan dingin terasa.
Terlihat abu-abu semata.

Sedan hitam tetiba menjemput
diriku dan anjing hitam.
Mengantarkan kami untuk
pulang kepada-Nya.

Jam Tiga Pagi

Tik. Tik. Tik.
Suaranya sama dan menyaru jua,
tentang awan kencingi lantai kamar kos murah,
mulut keran menetes pula,
papan ketik laptop dikejar tugas,
dan jarum jam bergerak menuju tiga.

Malam begitu mencekam. Kini,
tragedi apa yang buat Jon Damanik
begitu menggigil seperti sedia kala?

Apakah persoalan rintihan
Si Kunti yang menjadi lullaby
tiap fajar belum tiba?

Atau bayangan omelan
Bu Dosen janda galak,
terhadap puluhan tugas
yang bertumpuk pula?

Bukan, tragedi baru saja lahir.
Memperkosa batin Jon,
tentang rasa kasihnya yang abadi
kepada ia jelita rupanya,
Si cantik Lia Pasaribu.
Mustahil Jon memilikinya.

Diambilnya kotak kretek di meja.
Obat darurat pening kepala.
Tatkala, kotak tersebut bergetar, berontak.
Begitupula jam dinding, laptop,
dan benda mati lainnya.

Bangkit, tertawa, mencemooh.
Dengan seksama mengucap:
“Jon malang rupanya,
ambil tambang dan mari
kita akhiri semuanya”.

Cemoohan berulang kali terucap,
diiringi tawa ejekan pula.
Si Kunti yang menakutkan,
Takut melihat Jon menghadapi kegilaan.
Si Kunti cengeng, kabur melebur jua.

Jon malang dengan kuat, menghiraukan
cemoohan benda mati yang menyayat.
Dengan bijak, ia membuka celananya.
Menyiapkan tisu beserta sisa sabun cair

Sebuah obat luka tragedi jam tiga,
mengobati hingga adzan tiba.
Jon terluka tiap jam tiga pagi.

Saat Sang Lisan Menggelora Menggaungkan Wujud Ucapan dengan Interpretasi Antara Terai Rintihan, Penolakan, dan Kenikmatan yang Bersatu, Berkumpul, Menggebu-gebu

Ah.


Penulis: Mikail Arya J.M.
Ilustrasi: Emir Faritzy
Editor: Nada Salsabila