
Pukul empat pagi, saat sebagian orang masih terlelap, Naufal Muhammad Luthfandaffa sudah harus bersiap meninggalkan rumah. Mahasiswa Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI) angkatan 2026 itu tinggal di Harapan Indah, Bekasi Barat. Untuk mengikuti kelas pukul delapan pagi, ia harus memperhitungkan waktu tempuh, kondisi jalan, hingga kemungkinan berhenti untuk mengisi bensin.
Apabila lancar, perjalanan menuju kampus menghabiskan sekitar satu setengah jam. Namun, Naufal tak bisa hanya mengandalkan perkiraan tersebut. Ia perlu menyediakan waktu tambahan agar tidak terlambat tiba di kelas.
"Jadi totalnya dua setengah jam sebelum berangkat udah harus start dari rumah," tuturnya.
Naufal merasa perkuliahan dimulai jauh sebelum dosen memasuki ruang kelas. Ada waktu yang harus disisihkan untuk menempuh jarak puluhan kilometer, biaya yang perlu diperhitungkan, dan tenaga yang mesti dijaga agar tetap bisa mengikuti pembelajaran. Ketika kelas berakhir, perjalanan pulang masih menanti.
Pengalaman serupa dialami mahasiswa lain yang memilih pulang-pergi (PP) dari rumah. Di balik rutinitas berangkat pagi dan pulang sore atau malam, terdapat berbagai pertimbangan yang menyertai pilihan tersebut, mulai dari kondisi keuangan dan kerinduan terhadap keluarga hingga keinginan untuk tetap aktif dalam kegiatan kampus.
Zahra Bibty Hafizhah, mahasiswa Program Studi Arkeologi UI angkatan 2024, tinggal di Tangerang. Untuk mengikuti kelas pukul delapan pagi, Bibty biasa meninggalkan rumah sekitar pukul enam. Setelah berkendara menuju stasiun, ia lanjut menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL), kemudian berjalan menuju kampus. Sekali jalan, ia menghabiskan waktu sekitar satu setengah hingga dua jam.
Di dalam KRL, Bibty punya beberapa cara untuk mengisi waktu. “Kalau misalkan pagi banget, biasanya sebelum nyampe [stasiun] Duri aku tidur dulu kalau dapat tempat duduk. Terus kalau nggak, aku ngerjain tugas, kalau misalkan mepet deadline, atau nggak sekedar scrolling sosmed aja,” ujarnya.
Perjalanan yang panjang itu bukan semata-mata soal jarak. Ada keputusan lain yang mendasarinya, salah satunya biaya. Bibty pernah mempertimbangkan untuk tinggal di indekos, tetapi setelah membandingkan pengeluaran yang diperlukan, pulang-pergi dari rumah lebih sesuai dengan kondisi keuangannya. Ia juga mengaku masih merasa rindu rumah jika harus tinggal berjauhan.
Pertimbangan ekonomi turut memengaruhi keputusan Farel Muhammad Julianto, mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer UI angkatan 2026. Tinggal di Bekasi Utara membuatnya harus menerjang kondisi lalu lintas sekitar satu jam 20 menit. Bahkan, hampir dua jam untuk sampai ke kampus.
"Saya memilih untuk pulang-pergi [ke kampus] itu karena ada masalah ekonomi juga," ucap Farel.
Farel berterus terang pernah mengajukan penurunan Uang Kuliah Tunggal (UKT), tetapi permohonannya ditolak. Ia memilih tetap tinggal bersama keluarga dan menggunakan KRL untuk berangkat kuliah.
Keputusan itu menghemat pengeluaran untuk tempat tinggal. Sayangnya, perjalanan tidak menjadi lebih ringan. Setiap hari, Farel harus menghadapi padatnya penumpang, terutama ketika berangkat dari Bekasi menuju kampus.
"Yang paling [saya] ingat, Mas. Saya kan berangkat dari Bekasi tuh. Jadi saya tuh tiap hari [harus] desak-desakan sama orang," terangnya.
Perjalanan pulang tak lantas memberinya ruang untuk beristirahat. "Dari Stasiun Manggarai ke Bekasi juga susah banget, desek-desekan juga.”
Kepadatan itu menguras tenaga Farel bahkan sebelum perkuliahan dimulai. Sesampainya di kelas, ia masih harus menyimak materi dan menyelesaikan kewajiban akademik, meskipun rasa lelah terkadang mengganggu konsentrasinya.
"Kadang saya juga gagal fokus memperhatikan materi perkuliahan itu," kata Farel.
Bagi Farel, perjalanan yang melelahkan menjadi bagian dari rutinitas yang harus dilewati sebelum berhadapan dengan tugas-tugas kuliah. Waktu yang dihabiskan di jalan bukan sekadar jeda di antara rumah dan kampus, melainkan bagian dari keseharian yang ikut memengaruhi bagaimana ia menjalani perkuliahan.
Selain tenaga yang perlu diatur, mahasiswa komuter harus mempertimbangkan waktu saat mengikuti kegiatan di luar kelas. Keputusan bertahan lebih lama di kampus berarti memperhitungkan durasi pulang, termasuk ketersediaan transportasi umum.
Bibty pernah merasakan dilema pada semester pertamanya. Ia sempat ingin mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Taekwondo, tetapi mengurungkan niatnya setelah mempertimbangkan energi yang harus dikeluarkan dan waktu pulang yang akan semakin malam.
“Terus aku mikir kalau misalkan aku ikut, bakalan kayak ngeluarin energi yang lebih, dan pulangnya juga bakalan lebih malam,” cerita Bibty.
Bagi mahasiswa yang tinggal dekat kampus, kegiatan tambahan mungkin berarti memperpanjang waktu di lingkungan universitas. Bagi Bibty, keputusan yang sama juga berarti menambah waktu perjalanan dan mengurangi kesempatan beristirahat setelah tiba di rumah.
Situasi serupa dihadapi Shafa Claudia Emeralda, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI angkatan 2025 yang tinggal di Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi. Untuk mencapai kampus, ia mengombinasikan sepeda motor, Lintas Rel Terpadu (LRT) atau TransJakarta, dan KRL. Normalnya, waktu tempuh dari rumah memakan sekitar satu setengah jam. Ketika jalanan macet, ia harus menyediakan durasi lebih panjang.
Kendati demikian, Claudia tetap aktif mengikuti kegiatan kampus, termasuk teater. Namun, aktivitas yang berlangsung hingga malam membuatnya perlu menetapkan tenggat pulang agar tidak kesulitan mencari transportasi.
"Kalau ada proker atau apa gitu, gue selalu bilang engga bisa lebih dari jam segini. Karena gue udah harus balik," ujarnya.
Batas waktu itu tidak selalu mudah dipertahankan. Menjelang pertunjukan, latihan teater dapat berlangsung hingga malam. Claudia beberapa kali mencoba meminta izin pulang lebih awal karena khawatir angkutan umum semakin sulit didapat, tetapi ia terkadang diminta bertahan untuk satu sesi latihan lagi.
"Gue tuh udah coba kayak, ‘eh gue boleh gak pulang [duluan]?’. Terus mereka kayak, 'Eh, kalau bisa hold dulu ya sebentar. Sekali lagi deh, run through sekali lagi.' Jadi kayak agak ditahan [untuk pulang]," tuturnya.
Teman-teman Claudia umumnya memahami kondisinya. Meski begitu, ia tetap harus menyesuaikan diri ketika kegiatan belum selesai sesuai perkiraan. Setelah pukul 22.00 WIB, kedatangan transportasi yang semakin panjang menjadi pertimbangan sebelum memutuskan untuk bertahan lebih lama.
Keinginan untuk tinggal lebih dekat dengan kampus sempat muncul. Pada semester pertama, saat masih beradaptasi dengan rute panjang, Claudia bahkan sudah mencari indekos di sekitar UI. Hanya saja, keluarganya tidak mengizinkan tinggal di kos karena ia merupakan anak terakhir.
"Waktu semester 1 gue sering banget mikir kayak gue mau ngekos karena udah capek banget. Dan bahkan sebenernya gue udah nyari-nyari kosan sih. Udah searching gitu. Cuma gue tuh gak dibolehin ngekos karena gue anak terakhir," ucapnya.
Naufal juga pernah mempertimbangkan pilihan serupa. Setelah melakukan survei, ia merasa harga indekos di sekitar kampus cukup tinggi, sementara fasilitas yang ditawarkan tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan. Ia akhirnya lebih sering mengendarai sepeda motor langsung dari rumah ke kampus.
Berbeda dengan Farel yang mengeluhkan padatnya KRL, Naufal mengaku sudah terbiasa menempuh jarak jauh. Menurutnya, pulang tak lagi terasa sebagai sesuatu yang terlalu melelahkan. "Kalau saya, pas balik itu nggak terlalu pusing, nggak terlalu capek lah. Udah kayak makanan sehari-hari aja gitu.”
Biarpun begitu, kebiasaan ini tetap menuntut penyesuaian. Setibanya di rumah, Naufal perlu mengatur waktu untuk makan dan mempelajari kembali materi perkuliahan, terutama jika keesokan harinya ada kuis. Waktu tidurnya kini cenderung lebih awal.
"Rata-rata sekarang saya tidur jam sepuluh," ucapnya.
Perjalanan panjang tak selalu berjalan sesuai rencana. Keterlambatan transportasi, kemacetan, hingga padatnya penumpang dapat membuat perkiraan waktu tiba meleset. Untuk mahasiswa yang mengejar kelas, keterlambatan semacam itu memaksa mereka mengambil keputusan terburu-buru.
Bibty pernah mengalaminya. Ketika terlambat, ia memutuskan turun dari KRL dan melanjutkan perjalanan dengan ojek daring. Perasaan kalut memberi harapan pilihan itu lebih cepat sampai tujuan.
Realitanya, kemacetan justru membuat waktu tempuh semakin lama. Biaya yang harus dikeluarkan jauh dari nominal yang ia perkirakan.
"Itu suatu hal kebodohan yang mungkin nggak harus diinget cuman, karena ditanya, aku ngabisin sekitar Rp200.000. Dan kebetulan di situ aku nggak megang cash sebanyak itu, kan? Jadi, kayak setengahnya harus ditransfer," ungkap Bibty.
Mau tak mau, pengalaman itu menjadi salah satu konsekuensi yang harus dihadapi. Pilihan transportasi alternatif memang bisa diambil, tetapi belum tentu membuat durasinya lebih cepat atau lebih murah.
Bagaimanapun, Bibty tidak melihat rutinitas pulang-pergi sebagai sumber kelelahan. Ia justru merasa hal tersebut membuatnya lebih mampu mengatur diri sendiri. Saat masih SMA, ia mengaku sering terlambat meskipun jarak sekolah dari rumah relatif dekat. Kini, ia lebih memperkirakan waktu keberangkatan dan mempersiapkan diri sebelum pergi ke kampus.
“Tapi karena kebetulan sekarang PP, jadi bisa lebih [bisa] mengkondisikan waktunya, bisa mengkoordinasi diri sendiri,” ujarnya.
Ia juga merasa bangga karena mampu melalui KRL setiap hari dan tidak terlalu merindukan rumah. “Yang aku rasain ya, itu aku nggak jadi homesick, terus habis itu, mungkin ini aneh, sih, tapi menurut aku akhirnya bisa menamatkan [rute] KRL yang orang-orang tuh nggak bisa.”
Akan tetapi, kemampuan beradaptasi bukan berarti perjalanan pulang kehilangan tantangannya. Jam pulang yang dianggap biasa oleh sebagian orang dapat memiliki arti berbeda bagi mereka yang tinggal jauh dari kampus.
“Mungkin ini kali ya, kayak orang menganggap untuk pulang, misalkan lebih dari jam tujuh itu orang biasa bakal nganggap, ‘Yaelah, masih belum malam banget.’ Tapi kalau bagi kita yang pejuang PP tuh bakalan kayak, ‘Kira-kira nanti nyampe rumahnya jam berapa ya, bakal lebih dari jam segini atau nggak?” keluh Bibty.
Pukul tujuh malam mungkin belum dianggap larut bagi sebagian orang. Namun, bagi mahasiswa komuter, waktu itu bisa menjadi penentu apakah mereka masih sempat mengikuti kegiatan kampus atau harus segera beranjak pulang. Semakin lama mereka bertahan, semakin panjang pula perjalanan yang menanti.
Menurut Naufal, menjaga kesehatan dan mengatur waktu menjadi hal yang tak kalah penting di tengah rutinitas itu. Ia menyampaikan pesan bagi mahasiswa lain yang harus menempuh rute jauh untuk berkuliah.
"Sehat-sehatlah mahasiswa yang jauh dari rumah, yang berkilo-kilometer untuk sampai ke kampus tercinta kita," pungkasnya.
Meninggalkan kampus bukan berarti hari telah usai. Masih ada aspal yang harus dilewati, transportasi yang perlu dikejar, dan waktu istirahat yang harus disisakan sebelum kembali berangkat keesokan pagi. Ketika sebagian orang sudah tiba di rumah dan bersiap mengakhiri hari, sebagian lainnya mungkin masih berada di jalan. Satu pertanyaan yang terus terlintas: kapan akhirnya sampai rumah?
Teks: Fabio Milanazzurri Balamba, Reika Fitriani
Editor: Vania Shaqila Noorjannah
Foto: Istimewa
Desain: Syahidah Nururrahmah
Pers Suara Mahasiswa UI 2026
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
Teks
Editor
Desain