
Sepuluh detik lagi, rambu berwarna merah yang menjadi jeda di simpang jalan ini akan berganti. Ritme lampu lalu lintas sudah terpatri rapi dalam hatinya. Binar punya cukup waktu untuk menepi sebelum ia dan kawannya yang jadi santapan.
Binar mengelap peluh yang meluncur di pelipisnya. Ia menatap deretan tisu yang tersusun rapi dalam keranjang. Binar mulai melakukan hal favoritnya, menghitung jumlah tisu yang tersisa. Tinggal empat buah lagi. Otaknya mulai meraba-raba, berapa lama lagi ia harus “tampil” malam ini.
Kalau berbicara tampil, yang benar-benar melakukannya adalah Gendis, kawannya di seberang jalan. Gendis paling lihai memainkan ukulele kecil yang entah ia dapat dari mana. Gendis punya suara nyaring, tak heran deru mesin kendaraan dengan mudahnya ia samarkan lewat suaranya yang kepalang merdu.
Berbeda dengan kawannya satu lagi, Rona. Rona selalu jadi bahan cemoohan lantaran suaranya kelewat pelan. Sudah seperti itu, jalannya pun amat santai. Tak cocok dengan tempo jalanan yang tak ada jedanya. Binar tahu, Rona tak pernah klop untuk jadi sepertinya. Seharusnya, ia tak berada di sini. Tapi, Binar juga tahu, bukan mereka yang meminta berada di sini.
Memikirkan teman-temannya membuat netra Binar menelusuri jalanan. Ah, ternyata semuanya berada di seberang jalan. Setiap kali lampu merah selesai, mereka berjanji untuk pergi ke sisi trotoar yang sama. Kanan atau kiri. Kali ini hanya Binar yang pergi ke kiri. Binar mengamati lambaian tangan Gendis. Hening tertawa di sebelahnya. Hening yang nyatanya tak sehening namanya.
Pengguna jalan kembali memenuhi pandangan Binar. Membuatnya sadar satu menit telah berlalu. Binar kembali memasuki arena pentasnya. Dengan lihainya, Binar menjajakan deretan tisu yang tersisa.
“Tisu, Kak? Lima ribu dapet dua….”
Binar menghitung hingga detik kelima, nihil pergerakan dari pengendara itu. Binar kembali menyusuri jalanan yang lebar. Ia menemukan Hening dengan peralatan tempurnya, lap dan cairan pembersih kaca. Tak sadar, Binar menghampiri kawannya.
“Coba kamu tawarin ke mobil ini, aku yang bersihin kacanya,” usul Hening kepada Binar.
Binar memasang wajah malas, ia paling tidak suka menawari pengendara mobil. Tapi, kemauan untuk tisunya ludes terjual lebih besar saat ini. Kaca film mobil itu amat gelap, tak ada celah bagi Binar untuk melihat empunya. Mau tak mau, Binar mengetuk kaca mulus bak porselen itu.
“Permisi, tisu, Kak? Dua, lima ribu aja,” tawar Binar sedikit berteriak, takut suaranya tak terdengar.
Di sisi lain, Hening memberi kode kepada pengemudi mobil yang sama, yang sebenarnya tak bisa ia lihat. Hening lantas menyemprotkan cairan pembersih kaca itu dan mulai mengelap perlahan. Baru saja hendak berpindah sisi, Hening terperanjat kaget lantaran wiper kaca mobil yang tadinya mati kutu, bergerak secara tiba-tiba. Hening hampir tersulut emosinya, wajahnya mengeras dan ia merasakan panas menjalar di darahnya. Binar yang melihat kejadian itu, dengan cepat menghampiri kawannya.
Hening lantas menggedor kaca di sisi pengemudi. Binar hendak menahan, tetapi langkah Hening tak kalah cepat.
“Woi, Bos! Apa-apaan?” sentak Hening.
Pemilik mobil menurunkan kacanya perlahan.
“Jangan sentuh mobil ini, nggak lihat kacanya jadi baret?” jawab pengemudi itu tak kalah nyolot.
Ini komplain ketiga dengan alasan serupa hari ini. Sebenarnya Hening tahu, tetapi apa yang bisa diperbuat? Memangnya ia yang memilih pekerjaan ini? Walau emosinya meluap-luap, Hening mencoba menahannya sebisa mungkin.
“Maaf, Bos,” Hening melirik ke arah Binar di sampingnya, “kalau gitu, boleh beli tisu aja? Dua, lima ribu, buat lap keringat biar mukanya makin kinclong. Ayo dong, Bos!”
Hening mencoba menurunkan egonya sebisa mungkin. Ia harus tetap sadar apa tujuannya berada di sini. Hening tahu manusia sepertinya ada untuk terus di bawah, ada untuk terus rendah, ada untuk terus menunduk.
Pengemudi mobil itu hanya tersenyum tipis, “Ini kan ber-AC. Ngapain keringetan?”
Lantas ia menunduk sedikit, nyaris hilang dari pandangan Hening dan Binar. Setelah menegakkan badannya kembali, pengemudi itu melempar dua lembar uang berwarna abu-abu.
“Nggak butuh tisu, itu ambil aja,” cetus pengemudi itu sebelum kembali menaikkan kacanya.
Binar sadar raut ekspresi temannya berubah. Ia mengajak Hening untuk menepi sebelum Hening meledakkan emosinya.
“Cuih. Dua ribu doang. Dikira kita pengemis? Kita ini jualan, sialan!” dumel Hening nyaring.
Binar hanya bisa diam. Kendaraan di depannya mulai bergerak kembali. Ia bisa melihat Gendis dan Rona di seberang jalan. Mereka tampak senang bukan main. Mengapa mereka seceria itu? Seperti baru mendapat mainan.
Pandangan Binar lantas bertemu dengan kawannya di seberang jalan. Gendis memberi kode kepada Binar dan Hening untuk datang kepadanya. Binar hanya bisa membentuk jempol dengan tangannya. Ketika lampu kembali berwarna merah, Binar menarik tangan Hening menyeberangi jalanan.
“Teman-teman! Lihat apa yang kita dapat,” Gendis tak bisa menurunkan intonasinya, tanda dirinya kepalang senang.
Binar mengamati apa yang Gendis pegang, tampak tas lengkap dengan resleting yang tertutup rapat. Ia sepertinya pernah melihat benda serupa. Ingatannya melayang pada hari itu, saat ia mengekor di belakang punggung Ibu, menemaninya menjemput rezeki di rumah salah satu kenalannya.
“Itu apa? Punya siapa?” Hening memilih angkat suara.
“Tadi kita ketemu di tengah jalan, jatuh, sepertinya punya orang,” Rona menjawab dengan pelan.
“Sumpah, sudah lama aku ingin coba pakai ini,” seru Gendis ketika membuka resleting tas berwarna beludru merah hati itu. Ia mengambil benda dengan bentuk tabung kecil dengan desain yang menarik.
“Itu lipstik?” tanya Hening heran. Rona hanya mengangguk sebagai jawaban.
Binar mendekat, ia bisa mencium tas kecil itu berbau wangi yang mahal, jenis wangi yang biasanya hanya mereka hirup saat sebuah jendela mobil mewah terbuka sedikit untuk membeli dagangannya.
"Buang. Nanti yang punya balik lagi, kita dituduh nyolong," Hening menggertak, meski matanya tidak bisa beralih dari warna merah menyala yang tampak begitu berani di tangan Gendis.
"Bentar aja, Hening. Cuma mau tahu... rasanya punya bibir merah itu gimana." Gendis masih bersikeras, Rona lagi-lagi hanya mengangguk.
“Jangan di sini,” Binar menunjuk tempat di balik pilar beton yang tinggi.
Mereka berjongkok melingkar di balik pilar beton yang penuh coretan vandalisme. Di sana, kegelapan menyembunyikan mereka. Cahaya lampu jalan yang redup memantul di permukaan cermin kecil, terlihat wajah-wajah kusam yang selama ini mereka lupakan.
Gendis mencoba mengoleskannya pelan, sebuah garis merah miring yang gemetar di bibirnya yang pecah-pecah. Tiba-tiba, ia tidak lagi terlihat seperti pengamen yang biasa dibentak sopir angkot. Ia terlihat seperti seorang gadis. Dan itulah yang membuat Hening gemetar, karena baginya, menjadi gadis berarti menjadi lemah. Menjadi gadis berarti siap untuk dihancurkan oleh jalanan.
“Denger ya. Di lampu merah ini, kalau kamu cewek, kamu itu ‘makanan’. Kalau kamu cowok, kamu itu ‘lawan’. Aku lebih milih jadi lawan daripada digodain preman cuma gara-gara suaraku mendayu-dayu. Paham?” Hening masih terus menolak, ia tahu ini tidak beres, tapi ia juga tak bisa bohong. Hening ingin mencoba, ia juga perempuan, ia juga remaja. Tapi, ia juga yang paling tahu kerasnya jalanan.
Binar menutup matanya, mencoba menemukan sisa-sisa kewarasan yang ia miliki. Nihil, ia juga sama inginnya.
“Kenapa kita harus terus menjadi orang seperti ini? Yang cuma bisa rendah dan kumal? Nggak bolehkah sekali saja kita jadi apa yang seharusnya kita lakukan? Kita yang nggak seharusnya ada di sini!” Binar mencoba mengeluarkan emosinya.
Hening, untuk pertama kalinya terdiam seperti namanya. Ia cuma bisa menunduk ke bawah selagi berkata maaf.
Di balik beton, lampu merah berganti hijau, kendaraan menderu pergi, namun di balik beton itu, mereka terjebak, tenggelam di antara keinginan untuk bersinar dan keharusan untuk tetap menjadi bayangan yang tak tersentuh.
Binar menarik napas panjang, menghirup aroma menyengat yang beradu dengan bau aspal, dan untuk sesaat, ia membiarkan dirinya lupa cara menjadi tangguh. Biarkan lampu merah ini menjadi jeda. Bukan hanya bagi pengemudi, melainkan juga bagi dirinya.
Penulis: Kay
Editor: Huwaida Rafifa Yumna
Foto: Istimewa
Pers Suara Mahasiswa
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
Kontributor