
Ketika langit kehidupan membentang luas setelah mencapai gelar sarjana, takdir membawa Devi Raissa Rahmawati ke arah yang tak terduga. Belasan tahun yang lalu, Devi, seorang mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, memulai perjalanan non-akademiknya sebagai seorang reporter di Suara Mahasiswa (Suma) UI. Sebuah pilihan yang tidak disangka-sangka, mengantarnya pada karir yang diidamkan.
Impiannya menjadi pemimpin redaksi majalah Cosmopolitan terwujud secara tak langsung melalui peranannya di Suma. Bergabung dengan Suma, Devi menemukan tempat di mana ide-ide dihargai dan kepercayaan dirinya tumbuh. Pengalaman sebagai reporter Suma membekali Devi dengan keterampilan berpikir kritis, yang kemudian membantu dalam mengkritisi buku-buku anak di Indonesia.
“Jadi waktu itu mulainya reporter karena memang cita-citanya pengen jadi pemimpin redaksi majalah Cosmopolitan. Karena dari SMA tuh udah suka baca majalah itu dan kayak, aduh, pengen banget nih masuk majalah itu dan pengen jadi pemimpin redaksi nya di sana,” ujar Devi
“Kayak, aduh, bisa nggak ya? Aduh, kayaknya kalau saya ngomong tuh nggak ada yang mau dengerin. Kayaknya ide-ide tuh… nggak ada temen sharing (untuk berbagi ide-ide) segala macem. Nah, begitu di Suma tuh kayak terfasilitasi. Ngobrol bareng, tukar pikiran, terus idenya tuh didengerin, dan dipercaya juga,” tambah Devi.
Di mata Devi, Suma adalah "baby step" yang membantunya membangun kepercayaan diri yang sempat hilang. Menurutnya berkat Suma, ia bahkan mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai idola, Andrea Hirata, penulis Laskar Pelangi, di sebuah talkshow. Suma tidak hanya memberinya ruang untuk berkreasi, tetapi juga merangsang rasa nyaman karena terbuka terhadap ide-ide kreatifnya.
“Di Suma tuh jadi kayak baby step nya saya untuk mulai belajar mengurus orang-orang. Terus teman-teman juga nyaman ketika saya melakukan tugas saya. Mereka kayak ngerasa puas juga akhirnya dikasih sedikit-sedikit tanggung jawab yang lebih besar hingga diangkat menjadi pengurus Suma.”
Setelah menjadi psikolog klinis anak, Devi bersama suaminya mendirikan PT. Rabbit Hole Indonesia. Pengalaman Suma membantu mereka dalam membuat buku anak, dengan pertimbangan tujuan penerbitan dan latar belakangnya. Rabbit Hole tidak hanya mencapai kesuksesan komersial, tetapi juga menginspirasi melalui program "20 untuk 1" yang menyumbangkan buku kepada anak-anak di berbagai daerah.
Melalui kehadiran Rabbit Hole, Devi berharap buku anak di Indonesia semakin bervariasi untuk mendukung orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Pengalamannya mengirim buku ke Papua menjadi titik puncak ketika anak-anak di sana terinspirasi untuk belajar membaca.
Devi membawa kebiasaan berpikir kritis yang ia pelajari di Suma hingga dewasa, dan sebelum mendirikan Rabbit Hole, ia mengaplikasikan keterampilan ini dalam mengkritisi buku-buku anak di Indonesia. Suma, dengan Rapat Redaksinya setiap bulan, menjadi laboratorium efektif untuk melatih cara berpikir kritisnya.
“Kalau di Suma kan ada editor dan layoutnya segala macem, kan banyak banget staffnya. Cuman kalau di Rabbit Hole tuh yang jadi center nya sampai bukunya jadi tuh bener-bener berdua aja (dengan suami). Nah, apa yang dilakukan di Suma tuh jadi bekal banget untuk saya bertukar pikiran sama suami saya. Kayak buku ini mau kita rilis atau enggak? Kenapa dirilis? Apa tujuannya dirilis? Bagaimana latar belakangnya?”
Sebelum melibatkan diri dalam dunia jurnalistik, Devi mengejar jati diri melalui studi Psikologi. Keluarganya yang kurang harmonis memunculkan pertanyaan tentang konsep keluarga yang benar, yang kemudian membawanya menjalani pendidikan S2 Klinis Anak di Universitas Indonesia. Meski pertanyaannya belum sepenuhnya terjawab, pengalaman ini membekali Devi dengan pemahaman lebih dalam tentang psikologi anak.
Setelah bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan pribadi ini, Devi memutuskan untuk mencorat-coret kekurangannya sendiri dan bertekad untuk memberikan kontribusi. Dukungan Suma membantunya mengembangkan buku anak sebagai alat dan sumber pendidikan melalui Instagram. Melalui inisiatif ini, ia berharap dapat membantu orangtua dalam mendidik anak-anak mereka dengan lebih baik.
Salah satu cerita yang sangat menyentuh hati Devi adalah ketika buku-buku Rabbit Hole dikirim ke anak-anak di Papua. Fakta bahwa sebagian besar dari mereka belum bisa membaca sampai kelas 6 SD menjadi sorotan. Banyak di antara mereka yang malu untuk belajar membaca, terutama karena mereka sudah memasuki masa remaja. Namun, dengan kedatangan buku-buku Rabbit Hole, semangat belajar membaca tumbuh di antara anak-anak di Papua, menjadi langkah awal yang menginspirasi mereka untuk menguasai keterampilan membaca.
Sebagai penutup, perjalanan Devi mencerminkan bahwa Suara Mahasiswa UI bukan hanya sekadar organisasi mahasiswa, tetapi merupakan katalisator bagi pertumbuhan pribadi dan kesuksesan karir yang tak terduga. Dari Suma, Devi membawa bekal berharga yang memengaruhi perjalanan hidupnya, dari reporter Suma hingga pendiri Rabbit Hole dan penulis buku anak yang berdedikasi. Devi juga mengungkapkan harapannya bahwa ide-ide orisinil dari Suara Mahasiswa (Suma) dapat lebih didengar melalui akun-akun media sosial. Dengan begitu, konten-konten Suma dapat memberikan inspirasi dan menyebarkan dampak positif yang lebih luas dalam masyarakat.
Di sisi lain, Indit, atau Inditya Putri, memiliki kisah serupa setelah menjadi mahasiswi Ilmu Administrasi Niaga di Universitas Indonesia. Awalnya tertarik pada jurnalistik, Indit bergabung dengan Suma dan memilih divisi marketing. Pengalaman di Suma membekalinya dengan keterampilan interpersonal dan komunikasi yang menjadi nilai tambah dalam karirnya sebagai pramugari di Hongkong.
“Dulu tuh seingat aku kita ngundang Arbain Rambey, fotografer senior dari Kompas gitu. Sama dia dulu ditunjukkin foto-foto yang ibaratnya nggak layak cetak lah karena terlalu brutal. Seru, sih, karena dia cerita pengalaman kayak ke pedalaman suku mana. Terus sebagai fotografer tuh apa yang harus dilakuin sebelum nge-capture berita,” cerita Indit ketika diajak mengingat kenangan-kenangannya sewaktu mengikuti Pelatihan Jurnalistik (Platjur).
Selain Platjur, Keterlibatannya di Suma juga ada sejumlah kegiatan seperti Suma on Tour (Sumanto) yang membentuk jiwa survival mode dan kemampuan bertahan, relevan dengan profesi pramugari yang memerlukan ketahanan dalam berbagai kondisi dan iklim.
Indit menilai Suma sebagai wadah yang memfasilitasi berbagai keterampilan yang diperlukan dalam berbagai profesi. Kesempatannya bergerak di divisi marketing membantu Indit dalam pekerjaannya sebagai pramugari, di mana ia harus berinteraksi dengan banyak orang.
“Mungkin karena dulu aku di marketing ya, emang harus banyak ketemu orang. Kayak dulu kita harus nyari dana ke perusahaan mana terus bikin proposal. Nah, karena sekarang kerjaannya jadi pramugari yang ketemu banyak orang juga, jadi ya udah agak biasa sih untuk ketemu orang banyak.”
Sewaktu Indit menjadi mahasiswi, saat itu belum populer penggunaan media sosial. Media sosial seperti Instagram, Tiktok, X, dan berbagai platform online lainnya belum ada sehingga membuat Indit dan teman-temannya harus mempromosikan Gerbatama dan majalah Suma ke orang-orang secara langsung, yakni membagikannya di depan Stasiun UI. Begitu juga ketika ada acara bulanan di Balairung, Indit sebagai anggota Marketing harus membuat booth dan menjual produk-produk Suma seperti majalah ataupun kalender.
“Dulu tuh kalau misalkan Gerbatama kan gratis, nah kita bagiin tuh di depan Stasiun UI. Ada juga yang minta dibagiin ke fakultasnya. Nah, kalau majalah itu setahun sekali sih. Itu bener-bener kayak kita ngider-ngider aja gitu, ‘Mau beli majalah ga? Mau beli majalah ga?’ Terus misal ada event apa gitu di Balairung, yaudah kita jualan di Balairung. Dulu kita sempet jualan kalender juga, yaudah kita bikin booth dan keliling.”
Selain berjualan produk Suma, ada tantangan lainnya yang harus Indit hadapi. Saat itu ia mencari dana untuk membuat majalah. Namun, majalah tersebut tidak menghasilkan keuntungan. “Setau aku ya jaman aku dulu nggak profit. Jadi majalah itu dibuat untuk eksistensi Suma aja. Jadi, kita mau nyari dana juga bingung. Kayak gimana ya? Maksudnya ini kita bikin proposal segala macem tapi secara profit nggak menjanjikan. Tapi seingatku waktu itu kita akhirnya dapet sponsor dari Tempo dan beberapa alumni.”
Hubungan baik antara anggota Suma dan alumni Suma inilah yang membantu Indit dan teman-temannya mampu menyelesaikan projek majalah ini. “Mereka baik-baik sih, masih mau bantuin. Kalau nggak, ya nggak ada deh majalah setahun sekali. Karena waktu itu kita ragu kan bikin majalah. Mau bikin majalah belum ada dana. Mau ngumpulin artikel-artikel berita juga gimana kalau misalkan ujung-ujungnya nggak bisa dicetak?”
Selain belajar menggali ide untuk menghadapi berbagai tantangan di Suma, Indit merasa bahwa Suma memiliki potensi besar untuk mengubah pandangan seseorang terhadap kegiatan bersosialisasi. Menurut Indit, seseorang harus bisa menjadi pribadi yang adaptif entah apapun divisinya.
“Meskipun kayak anak design gitu ya. Dia mungkin nggak kayak anak reporter atau marketing yang lebih banyak ketemu orang, cuma kan mereka secara makro harus ngeliat tren yang bagus apa dan desain yang bagus apa. Dia juga harus menerima masukan dari berbagai macam sumber. Jadi balik lagi, berurusan sama orang juga.”
Dengan demikian, melibatkan diri dalam kegiatan mahasiswa tidak hanya meresapi ilmu akademis, namun juga memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk perlahan berubah menjadi orang yang lebih baik.
Sebagai akhir kata, Indit memberi kesan-pesan kepada mahasiswa kedepannya. “Bergaulah yang banyak karena kita nggak tau kedepannya kita bakal ketemu sama siapa dan kita bakal ada perlu sama siapa.”
Perjalanan Devi dan Indit adalah contoh nyata bagaimana Suara Mahasiswa UI tidak hanya sekadar organisasi mahasiswa, tetapi juga menjadi katalisator pertumbuhan dan perubahan dalam kehidupan mereka. Dengan cerita yang menginspirasi, keduanya membuktikan bahwa melibatkan diri dalam kegiatan mahasiswa dapat membuka pintu menuju perjalanan yang luar biasa, bahkan melampaui batas-batas yang pernah mereka bayangkan.
Teks: Sarah Khansa
Editor: Dian Amalia Ariani
Ilustrator: Ferre Reza Putri
Pers Suara Mahasiswa UI 2023
Independen, Lugas, Berkualitas!
Kontributor