
Setelah sebelumnya sempat mengultimatum Presiden Jokowi untuk memenuhi enam poin tuntutan, kali ini, BEM SI berencana menyelenggarakan aksi dengan membawa tuntutan yang sama dengan sebelumnya—sebagai bentuk gugatan terhadap Presiden Jokowi yang bergeming, tidak menyatakan sikap, atas tuntutan yang dibawa oleh mahasiswa.
Enam poin tuntutan tersebut adalah: 1) mendesak dan menuntut Jokowi untuk bersikap tegas menolak dan memberikan pernyataan sikap terhadap penundaan Pemilu 2024 atau masa jabatan tiga periode; 2) menuntut dan mendesak Jokowi menunda dan mengkaji ulang Undang-Undang Ibu Kota Negara (UU IKN), termasuk pasal-pasal bermasalah dan dampak yang ditimbulkan dari aspek lingkungan, hukum, sosial, ekologi, politik, ekonomi dan kebencanaan; 3) mendesak dan menuntut Jokowi menstabilkan harga dan menjaga ketersediaan bahan pokok di pasaran dan menyelesaikan permasalahan ketahanan pangan lainnya; 4) mendesak dan menuntut Jokowi mengusut tuntas para mafia minyak goreng dan mengevaluasi kinerja menteri terkait; 5) mendesak dan menuntut Jokowi menyelesaikan konflik agraria di Indonesia; 6) menuntut dan mendesak Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Maruf Amin berkomitmen penuh menuntaskan janji-janji kampanye pada sisa masa jabatan.
Sayangnya, kabar mengenai akan diadakannya aksi besar pada 11 April mendatang berujung pada upaya peretasan yang dialami oleh sejumlah mahasiswa. Pada Sabtu (09/04), Koordinator Pusat Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Kaharuddin, mengaku sudah lebih dari dua puluh jam tidak bisa mengakses akun Whatsapp dan Instagram-nya. Kemudian, pada Sabtu dini hari, melalui akun Instagram yang diretas tersebut, diunggah postingan yang dilengkapi logo BEM SI, bertuliskan, “Aksi 11 April saya nyatakan dibatalkan mengingat saat ini bulan Ramadhan dan kasus Covid-19 yang masih belum mereda.” Melalui Instagramnya, BEM SI menyatakan bahwa postingan yang diunggah pada akun Korpus BEM SI tersebut merupakan hoax.
Koordinator Media BEM SI, Luthfi Yurizal, juga mengaku bahwa pihak BEM SI mendapatkan teror dari nomor tak dikenal. Rangkaian upaya teror dan peretasan ini mempersulit koordinasi antarkampus.
Meskipun begitu, mahasiswa tetap bertekad untuk tidak mundur dari rencana besar penyelenggaraan aksi 11 April mendatang. Pula, sesuai kesepakatan dari hasil konsolidasi, mahasiswa secara tegas menyatakan sikap mereka yang antikooperatif terhadap upaya kompromi dari pemerintah.
Teks: Syifa Nadia
Foto: Rifky Vidy
Editor: Dian Amalia Ariani
Pers Suara Mahasiswa UI 2022
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
Kontributor