Jurnalisme Daring: Antara Kualitas dan Kepentingan Bisnis

Redaksi Suara Mahasiswa · 16 Juni 2021
7 menit

Sejak dulu, informasi selalu menjadi alat utama untuk menggiring dan menggerakan pikiran dan perilaku masyarakat. Penyampaian informasi sedemikiannya krusial bagi kehidupan, sehingga kesalahan dalam memberikan informasi dapat menyebabkan pertengkaran individu hingga perang besar yang memakan ribuan korban. Dalam hal pertukaran informasi, jurnalisme berperan penting sebagai salah satu bentuk komunikasi dan penyampaian informasi yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan informasi publik. Berbeda dengan bentuk komunikasi lainnya, informasi yang disampaikan dalam produk jurnalistik haruslah lengkap, akurat dan bebas kepentingan. Dari American Press Institute, yang membedakan jurnalisme dan bentuk komunikasi lainnya adalah orientasi, mutu, dan prosesnya. Tujuan jurnalisme adalah sebenar-benarnya untuk kepentingan publik, dalam hal ini untuk memberikan informasi terverifikasi yang dapat digunakan individu masyarakat untuk membuat keputusan yang tepat semasa hidupnya. Hal inilah yang membuat produk jurnalistik memiliki nilai yang lebih berharga daripada hiburan, opini, iklan, dan propaganda yang membludak di sosial media saat ini.

Dewasa ini, kita hidup di era dimana pola komunikasi antar manusia sudah sangat berubah dan berkembang pesat karena mesin dan teknologi. Internet memfasilitasi ruang sosial kemasyarakatan agar dapat bertukar informasi dengan sedemikian mudahnya. Hal memiliki dampak yang signifikan pada dinamika perkembangan jurnalisme di Indonesia. Dalam praktiknya, revolusi teknologi memberikan peluang bagi media untuk bertransformasi dan berinovasi lebih luas dan cepat dalam bentuk jurnalisme digital. Namun, teknologi dan industrialisasi juga memberikan tantangan berat pada praktik jurnalisme. Ketika masyarakat sudah dapat mengakses dan mentransmisikan informasi dengan mudah dan cepat, banyak yang akhirnya mempertanyakan relevansi keberadaan jurnalisme di masa kini. Sejumlah pihak beranggapan bahwa jurnalisme sudah tidak terlalu diperlukan mengingat masyarakat sudah dapat mengambil peran jurnalis dalam menyampaikan informasi. Namun, tidak perlu tergesa-gesa mengamini pernyataan tersebut. Untuk mendapatkan penjelasan yang lebih baik, kita perlu kembali menarik garis awal dari tujuan jurnalisme itu sendiri, yakni untuk kepentingan publik. Dengan demikian, jurnalisme tidak diarusutamakan sebagai bentuk penyampaian informasi belaka, lebih dari itu terdapat aspek kredibilitas atau kebenaran informasi dari produk jurnalistik yang wajib dipertanggungjawabkan kepada publik.

Sebagaimana yang dapat kita lihat saat ini, jagat dunia maya kita mengalami kebanjiran informasi (awash in information), tapi bentuk komunikasi dan informasi yang mendominasi dalam sosial media adalah hoaks, ujaran kebencian, dan unggahan-unggahan yang kurang berguna lainnya. Hal ini menandakan bahwa jurnalisme masih memiliki relevansi dan urgensi untuk melawan informasi-informasi yang menyesatkan di dunia digital sekaligus untuk membangun kesadaran dan nalar masyarakat agar lebih kritis. Namun, apa jadinya jika produk jurnalisme yang beredar tidak jauh berbeda kualitasnya dari bentuk-bentuk informasi biasa lainnya? Dalam perkembangannya, arus perputaran informasi berkecepatan tinggi dan kapitalisme industri telah menggeser esensi utama dari jurnalisme itu sendiri, yakni asas kepentingan publik. Jurnalisme yang semula dibangun untuk memenuhi hak warga negara atas informasi, kini dengan mudah menjadi alat untuk bisnis dan politik penguasa dan pengusaha. Hal inilah yang menjadi tantangan berat jurnalisme dalam beradaptasi dengan teknologi dan sistem kapitalisme industri.

Menakar Kondisi Jurnalisme Daring di Indonesia Saat Ini

Portal berita daring Indonesia sebenarnya sudah ada sejak sebelum masa reformasi dimulai, tapi saat itu media pers hanya sebatas memindahkan berita-berita yang ada di versi cetak ke dalam versi daring. Jurnalisme daring baru benar-benar berkembang pesat setelah Orde Baru berakhir dan dipioniri Detik.com. Detik.com muncul pada pertengahan 1998 sebagai perusahaan media yang tidak memiliki versi cetak dan fokus pada pengembangan jurnalisme daring dengan mengedepankan praktik pemberitaan yang cepat, real-time dan diperbaharui setiap menitnya (Anggoro, 2012). Seiring dengan perkembangan industrialisasi media, banyak bermunculan media-media yang mengusung konsep jurnalisme yang serupa dengan Detik.com. Kini hampir seluruh media di Indonesia memiliki versi daringnya.

Kendati demikian, peningkatan kuantitas dari jurnalisme daring ini tidak berbanding lurus dengan peningkatan kualitas produk jurnalistiknya. Demi memperoleh jumlah viewers dan pengiklan yang banyak, media berlomba-lomba menjadi yang tercepat dalam menyajikan berita. Sistem adu cepat dalam jurnalisme daring ini pada perkembangannya merongrong standar akurasi, prinsip dan etika jurnalistik itu sendiri. Lagi-lagi hal ini tidak terlepas dari kepentingan bisnis dalam tubuh perusahaan media itu sendiri. Tidak hanya menurunkan kualitas jurnalisme, kapitalisasi di industri media pada dasarnya membahayakan hak warga negara atas informasi karena media yang sudah beriorentasi pada maksimalisasi profit akan cenderung abai pada kualitas informasi yang disampaikan dan lebih berfokus pada minat pasar. Menurut Richard Sennett, budaya kapitalisme yang menuntut kerja serba cepat demi tuntutan persaingan in­dustridan revolusi teknologi telah menyebabkan sistem dan praktik jurnalisme mengabaikan prinsip dan kaidah jurnalis­tik seperti nilai berita, verifikasi, cover both sides (keberimbangan), dan kepentingan masyarakat. Praktik jurnalisme daring justru mengikuti logika bisnis industri dengan memberikan informasi yang ringkas dan cepat saji. Akibatnya, berita yang disajikan justru berita-berita yang bersifat sensasional, spektaku­ler, dan abai terhadap kepentingan mas­yarakat (Haryatmoko, 2007).

Hal serupa juga ditemukan dalam hasil penelitian Puspi­ta (2015) tentang “Logika Pendek Jurnalisme Online” yang menyebutkan bahwa terdapat beberapa budaya logika pendek kapitalisme yang berkorelasi dengan praktik jurnal­isme daring di Indonesia. Pertama, jurnalisme dengan logika jangka pendek memunculkan beri­ta ringkas dan berkelanjutan (stripping). Artinya satu peristiwa disajikan dalam beberapa berita dengan narasumber yang minim pada setiap beritanya. Hal ini akan mengakibatkan berita yang disampaikan tidak berimbang atau cenderung memihak. Berita ini dapat merugikan pihak lain yang perspektifnya tidak diakomodir dalam berita sekaligus menyesatkan pembaca dalam mengambil kesimpulan dari suatu isu. Contohnya, isu G30SPKI seringkali hanya dilihat dari perspektif pemerintah orde baru dan mendiskreditkan pelanggaran HAM yang dialami korban-korban sipil dari tragedi tersebut. Hal ini karena unsur kecepatan dimaknai sebagai keinginan pembaca, sehingga unsur verifikasi dan keberimbangan yang mengharuskan jurnalis menunggu sampai semua informasi terkumpul dianggap mengurangi kecepatan dan prospek media untuk mendapatkan jumlah pembaca yang tinggi.

Kedua, berita yang ditampilkan juga ber­sifat sensasional. Meskipun dapat menyesatkan pembaca, judul yang sensasional diang­gap akan lebih efektif mendorong pembaca untuk meng-klik sebuah berita .Topik terhangat (hot topic) akan menentukan agenda pemberitaan terhadap peristiwa ter­tentu. Dalam hal ini, apa yang tengah ramai dibicarakan di media sosial, akan mendapat perhatian lebih untuk terus diberita­kan. Meskipun seringkali topik tersebut tidak memuat unsur kepentingan publik di dalamnya, selama masyarakat menyukainya, topik tersebut akan sering dimunculkan di portal berita. Hal ini menyebabkan berita kurang bermutu seperti gosip artis dan berita yang menyajikan materi berbau pornografi seringkali diangkat ke headline berita berkali-kali dengan judul berita yang penuh sensasi tapi minim esensi. Budaya media yang mengikuti pasar dan logika bisnis ini membuat literasi masyarakat menjadi rendah karena terbiasa membaca berita ringkas yang kemudian akan berefek domino pada pola pikir masyarakat yang sempit dan dangkal.

Persoalan lainnya yang memperparah kondisi jurnalisme daring di Indonesia adalah keterlibatan kepentingan politik di dalamnya. Kendati Indonesia memiliki ribuan media, namun media-media tersebut dimiliki oleh hanya 13 kelompok media besar. Hal ini terang menjadi persoalan sebab dominasi kepemilikan media akan membuat materi-materi yang disajikan oleh media arus utama disesuaikan dengan kepentingan kelompok media bersangkutan. Selain itu, kepemilikan media oleh pengurus partai politik menyebabkan media menjadi partisan. Akibatnya, media arus utama yang sering dibaca masyarakat memberikan kesan keberpihakan terhadap kepentingan kelompok atau partai politik tertentu. Misalnya Aburizal Bakrie, Ketua Umum Partai Golkar yang juga pemilik Viva Group dan Surya Paloh, pendiri partai politik NasDem yang juga pemilik Media Group. Pelanggaran etika jurnalistik terjadi ketika konten berita yang dibuat bukan untuk kepentingan publik, melainkan untuk kepentingan politik dan bisnis dari pemilik perusahaan media (Nugroho & Laksmi, 2012). Dengan demikian, tujuan jurnalisme bukan lagi untuk memenuhi hak warga negara atas informasi namun lebih sebagai alat kampanye dan tempat mencari keuntungan bisnis semata.

Alternatif Konsep Jurnalisme Daring Berkualitas

Media dan publik telah memiliki hubungan yang terjalin selama berabad-abad lalu. Melalui media, masyarakat menjadi sadar akan kejadian dan isu yang terjadi di sekitar mereka. Pengetahuan dan kesadaran yang dibangun melalui media jurnalisme ini menggerakan dinamika sosial masyarakat secara agregat. Mulai hal keputusan kecil untuk membeli baju hingga keputusan dalam memilih pemimpin politik, semuanya dipertimbangkan dari sumber utama informasi kita, yakni berita media. Adapun kesadaran yang dibangun melalui produk jurnalisme ini sering disebut dengan literasi informasi.

Menurut Association of College and Research Libraries, literasi informasi adalah seperangkat kemampuan terintegrasi yang mencakup penemuan informasi reflektif, pemahaman tentang bagaimana informasi diproduksi dan dihargai, dan penggunaan informasi dalam menciptakan pengetahuan baru dan berpartisipasi secara etis dalam komunitas pembelajaran. Literasi informasi memberdayakan masyarakat untuk belajar mengenali bias, memahami konteks, dan mengevaluasi informasi sehingga mereka dapat mengkomunikasikannya secara efektif dan dapat menggunakannya untuk menentukan keputusan secara tepat.

Oleh karena itu, untuk menciptakan masyarakat dengan literasi informasi yang berkualitas, jurnalisme daring harus tetap mempertahankan akurasi, kebenaran, imparsialitas, keadilan, kemanusiaan, dan akuntabilitas secara profesional. Hal ini agar masyarakat memiliki kemampuan untuk membedakan berita sungguhan dan hoaks, dan dalam jangka panjang dapat meningkatkan mutu dari preferensi bacaan masyarakat. Terdapat berbagai alternatif konsep jurnalisme daring yang menarik bagi masyarakat tanpa harus mengurangi kualitas dari produk jurnalistik itu sendiri, antara lain adalah jurnalisme data dan jurnalisme sastrawi. Jurnalisme data adalah teknik pemberitaan berbasis data, biasanya disajikan mendalam yang disertai dengan ringkasan data berbentuk infografis. Sedangkan jurnalisme sastrawi adalah liputan jurnalisme yang menggunakan gaya penulisan sastra. Biasanya jurnalisme ini disukai karena teknik penyampaiannya yang lebih luwes seperti bercerita dan mampu menggambarkan emosi serta latar peristiwa yang lebih detail dari orang-orang yang terlibat dalam berita tersebut. Di Indonesia jurnalisme sastrawi semacam ini sudah mulai diterapkan oleh beberapa media seperti tirto.id, tempo dan CNN. Kedepannya kedua bentuk jurnalisme ini dapat menjadi alternatif jurnalisme daring di Indonesia yang dapat mengalahkan konsep jurnalisme ‘ngemis iklan’.

Terlebih Indonesia sendiri akan menghadapi bonus demografi pada tahun 2030 yang menempatkan jumlah usia produktif yang lebih besar ketimbang usia tidak produktif. Jika generasi muda saat ini hanya mengkonsumsi berita-berita yang ser­ba instan, tanpa verifikasi data, menyimpang dan tidak bermutu, mereka akan sulit membedakan berita kredibel dan hoaks. Padahal tentunya kita mengharapkan calon pemimpin yang memiliki nalar kritis dan pengetahuan yang benar agar dapat mengambil kebijakan yang tepat bagi masa depan bangsa. Akhir kata, konsep dan praktik jurnalisme tidak boleh jauh dari kepentingan publik, sebab jurnalisme memiliki peran penting dalam membangun peradaban masyarakat yang lebih baik, yakni melalui pengaruhnya dalam membangun pola pikir dan kualitas literasi informasi generasi muda Indonesia di masa mendatang. Untuk menghargai karya jurnalisme yang bermutu, saya pribadi juga sangat menyarankan teman-teman untuk mendukung jurnalisme berkualitas (ex:Tempo, Tirt, dll) dengan mendukung independensi finansial mereka, misalnya dengan berlangganan Koran berbayarnya, atau mengikuti pelatihan jurnalistiknya, atau dengan membeli buku-buku jurnalisme yang dijualnya. Sesederhana, karena dalam jangka panjang, semua orang membutuhkan informasi yang valid dan berkualitas.

Teks: Dian Amalia Ariani
Foto: Istimewa
Editor: Giovanni Alvita, Nada Salsabila

Pers Suara Mahasiswa UI 2021
Independen, Lugas, dan Berkualitas!

DAFTAR PUSTAKA

Anggoro, S. (2012). Detikcom, Legenda Media Online. Yogyakarta: Mo­comedia.

Haryatmoko. (2007). Etika Komunikasi. Jakarta: Raja Grafindo Press

Puspita, R. (2015). Logika Jangka Pendek Jurnalisme Online. Thesis pada Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia

Nugroho, Y., Putri, D.A. & Laksmi, S. (2012). Memetakan Lansekap In­dustri Media Kontemporer di Indonesia. Jakarta: Ford Founda­tion.

Kovach, B. & Rosenstiel, T. (2001). Sembilan Elemen Jurnalisme. Penter­jemah Yusi A. Pareanom. Jakarta: Pantau.

Sennett, Richard. (2006). The Culture of The New Capitalism. New Haven: Yale University Press.

Alaidrus, Fadiyah. (2019). Dewan Pers: Yang Merusak Kebebasan Pers adalah Bisnis Media. Tirto.id. Diambil dari https://tirto.id/dewan-pers-yang-merusak-kemerdekaan-pers-adalah-bisnis-media-dnAy

American Press Institute. What Makes Journalism Different than Other Forms of Communication?. Retrieved from https://www.americanpressinstitute.org/journalism-essentials/what-is-journalism/makes-journalism-different-forms-communication/

Duillah, Irham. (2019). AJI Dorong Kampus Kembangkan Jurnalisme Data. Diambil dari https://aji.or.id/read/press-release/949/aji-dorong-kampus-kembangkan-jurnalisme-data.html

Tempo.co. (2015). 4 Masalah Media Versi AJI. Diambil dari https://nasional.tempo.co/read/658626/4-masalah-media-di-indonesia-versi-aji

Yulianto, Wawan Eko. (2019). Mengunjungi Jurnalisme Sastrawi ditengah Pendeknya Rentang Perhatian. Diambil dari https://www.terakota.id/jurnalisme-sastrawi/