
Kampus Universitas Indonesia (UI) dikenal sebagai sebuah kampus yang menerapkan kebijakan go green. Hal ini dapat terlihat dari lingkungan kampus yang sebagian besar terdiri dari ruang terbuka hijau. Ruang terbuka hijau yang dimiliki UI dipenuhi dengan rerimbun pohon yang tumbuh sehingga membuat suasana kampus menjadi rindang.
Selain itu, berbagai sarana dan prasarana penunjang bagi mahasiswa juga telah tersedia, seperti fasilitas trotoar bagi pejalan kaki, jalur sepeda bagi pesepeda serta pengadaan Bis Kuning sebagai alat transportasi umum dalam kampus. Bahkan pada tahun 2019, dilansir dari UI GreenMetric World University Rankings, Universitas Indonesia menduduki peringkat pertama nasional dalam bidang pengembangan alat ukur kampus hijau.
Namun, fasilitas yang tersedia dalam penerapan go green di kampus, seperti trotoar, masih belum diketahui dengan jelas terkait pemanfaatannnya. Hal ini yang menjadi sebuah pertanyaan mendasar, apakah fasilitas ini sudah dimanfaatkan secara maksimal oleh mahasiswa untuk berjalan kaki? Atau ada kemungkinan lain yang membuat berjalan kaki tidak menjadi sebuah pilihan utama bagi mahasiswa dalam beraktivitas di kampus?
Kondisi ruang hijau serta fasilitas yang ramah bagi pejalan kaki tentu dapat menjadi salah satu determinan dalam membentuk kebiasaan mahasiswa, terutama dalam menjaga kesehatan dengan berolahraga.
Hutan UI dan Bis Kuning, Upaya Ramah bagi Pejalan Kaki
Sebuah fakta baru pun terungkap setelah wawancara kami bersama Dhanasari Vidiawati Sanyoto, Kepala Klinik Satelit Makara UI yang juga sempat mengemban pendidikan di kampus UI.
“Saya masuk UI tahun 1984 di Depok. (Saat itu) belum ada gedungnya sama sekali. UI baru ada tanah kosong berhektar-hektar. Kita mahasiswa baru harus camping di UI. Besoknya, kita disuruh menanam pohon secara tidak diatur tata letak tanamnya. Awalnya, kita bingung kenapa menanam pohon itu boleh dimana saja gitu, ya. Tidak tahunya, itu yang sekarang jadi hutan ya, hutan UI,” tutur Dhana (23/2).
Beliau juga menjelaskan bahwa para pendiri yang mendesain kampus UI sengaja merancang kampus ini sebagai tempat yang ideal untuk aktivitas fisik. Itulah mengapa konsepnya tidak banyak menyediakan parkiran mobil untuk mahasiswa. Alasannya karena tata letaknya memang sengaja dibuat agar mereka tidak selalu menggunakan kendaraan pribadi.
“Agar mahasiswa pakai transportasi umum, makanya disediakan Bikun. Jadi, diharapkan sedapat mungkin jalan kaki. Kenapa demikian? Tujuannya untuk meningkatkan aktivitas fisik,” jelasnya.
Untuk mobilisasi di dalam kampus, UI menyediakan Bis Kuning (Bikun) yang dapat digunakan secara gratis. Tidak hanya itu, akses transportasi dari luar kampus juga dimudahkan dengan keberadaan Halte Menwa UI untuk Transjakarta dan Stasiun Universitas Indonesia serta Stasiun Pondok Cina untuk KRL commuter line. Biaya transportasi pulang-pergi ke kampus menjadi lebih terjangkau dengan fasilitas ini. Adapun untuk mobilisasi dalam jarak dekat di kampus, mahasiswa diharapkan berjalan kaki, memanfaatkan trotoar dan jalur hijau yang tersedia.
Pemanfaatan Lingkungan Hijau Kampus UI dan Sarana Olahraga yang Tersedia di UI
Dhana menyampaikan bahwa kampus UI pernah meraih prestasi karena mendukung sarana bagi aktivitas kesehatan fisik. Hal tersebut menjadi salah satu bukti kelayakan sarana yang ada di UI untuk dapat digunakan dalam aktivitas berolahraga.
“UI sudah dapat five star plus dari ASEAN University Network dalam bidang Healthy University karena kita menyediakan fasilitas yang luar biasa. Kita punya Sarana Olahraga (SOR), gimnasium, stadion, dan Felfest yang memiliki fasilitas kolam renang dan ada juga tanah yang dapat dimanfaatkan untuk berkuda,” ujar dr. Dhana.
Di lihat dari fasilitas yang telah disediakan maka sebetulnya banyak sekali sarana yang dapat dimanfaatkan untuk berolahraga bahkan dengan dengan ruang terbuka di UI yang setidaknya dapat dimanfaatkan untuk olahraga, seperti senam, menari, yoga, dan masih banyak lagi.
Bagaimana Cara Berjalan Kaki yang Paling Optimal bagi Kesehatan Fisik?
Jenis aktivitas fisik paling sederhana yang dapat dilakukan mahasiswa adalah berjalan kaki. Mahasiswa yang datang ke kampus dari kos atau Stasiun UI dapat menyisihkan waktu lebih awal untuk berjalan kaki menuju kelas atau fakultas tujuan yang akan menumbuhkan kebiasaan berjalan kaki untuk menjaga kesehatan tubuh.
Dhana menuturkan bahwa berjalan kaki sebaiknya dilakukan minimal 20 menit sehari dengan intensitas yang dapat meningkatkan denyut nadi 1,5 kali lebih cepat dari biasanya. Hal tersebut menunjukkan aktivitas fisik yang efektif. Dalam berjalan kaki, penting juga untuk memastikan kaki dalam kondisi yang sehat sehingga dapat menerapkan aktivitas ini setiap hari. Untuk mengukur jumlah langkah dan kalori yang terbakar, mahasiswa dapat melihat pedometer yang tersedia di ponsel.
Selain kebiasaan berjalan kaki, mahasiswa UI dapat mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) keolahragaan untuk aktivitas fisik yang lebih intens dan teratur, seperti Liga Tari UI, Aikido UI, Taekwondo UI, Basket UI, Bola Voli UI, dan Badminton UI.
Dengan sarana dan prasarana yang mumpuni, serta lingkungan yang mendukung, mahasiswa UI memiliki kesempatan untuk membangun kebiasaan berolahraga. Namun, apakah sarana tersebut sudah dimanfaatkan secara optimal dan apakah mahasiswa UI telah membangun kebiasaan berolahraga yang baik?
Membangun Kebiasaan Olahraga: Demi Kesehatan Fisik dan Psikis Bagi Mahasiswa
Berjalan kaki memiliki manfaat medis dan psikologis yang signifikan, terutama bagi mahasiswa yang sibuk dengan perkuliahan dan organisasi. Penelitian medis menunjukkan bahwa perilaku tidak sehat adalah penyebab utama penyakit kronis yang dapat dicegah, seperti serangan jantung dan kematian dini (Lee & Buchner, 2008). Meski mahasiswa berada pada usia muda, kebugaran fisik mereka sangat bergantung pada kebiasaan sehari-hari.
Berjalan kaki dengan intensitas sedang, seperti yang disarankan oleh Dhana, bermanfaat untuk kesehatan dan dapat membantu menurunkan berat badan atau mengelola penyakit tergantung pada intensitasnya. Mahasiswa yang berjalan kaki secara teratur cenderung memiliki tingkat penyakit yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang lebih sering menggunakan transportasi.
Selain manfaat fisik, berjalan kaki di lingkungan UI juga memiliki manfaat psikologis untuk melepas stres dari aktivitas sehari-hari. Dhana menjelaskan bahwa dengan polusi yang tidak seberat di Jakarta, udara yang dapat dihirup selama berjalan kaki pagi hari terasa lebih segar di lingkungan kampus di Depok.
Di samping itu, mahasiswa yang sering duduk di kelas atau di depan layar gadget membutuhkan waktu untuk melihat ke kejauhan setiap 20 menit untuk menjaga kesehatan mata.
“Ketika kita di depan laptop itu kan, sebetulnya setiap 20 menit kita mesti melihat jarak tembus 20 meter selama 20 detik, tetapi kita suka lupa,” tutur Dhana.
Ia pun menerangkan bahwa berjalan kaki memberikan kesempatan untuk melihat pemandangan yang lebih jauh, melenturkan otot mata, dan mengurangi stres. Selain membantu mengurangi rasa penat dan stres, aktivitas fisik juga dapat mencegah kondisi burnout, sehingga semangat dan produktivitas mahasiswa dapat meningkat.
Apakah Kebiasaan Berjalan Kaki Sudah Terbangun di Kampus Hijau UI?
Menurut Dika, seorang pendiri komunitas Teman Olahraga UI, berjalan kaki di Universitas Indonesia (UI) sangat menyenangkan, terutama pada malam hari. Dalam kegiatan berjalan kaki, Teman Olahraga UI memiliki dua jalur, yakni jalur pendek yang biasanya ditempuh dengan 6.000 langkah dan jalur panjang sekitar 10.000 langkah.
Namun, yang menjadi kendala adalah tidak semua fasilitas trotoar dalam kondisi baik. Beberapa trotoar memiliki permukaan yang bergelombang, sehingga pejalan kaki atau pelari sering kali memilih untuk berjalan atau berlari di jalan raya daripada di trotoar.
“Pertama, trotoarnya diratain jadi biar semuanya bagus, gak cuma beberapa bagian aja yang bagus. Kayak di FEB, FT, FH bagus tapi dari masjid ke FIB tuh kurang, baru bagus lagi di RIK terus dari FMIPA jelek lagi dan bahkan dari Halte FH ke Halte Balairung yang seberang masjid tuh gak ada trotoar,” saran Dika mengenai kondisi fasilitas pejalan kaki di UI.
“Kedua, perbanyak rambu untuk pejalan kaki. Karena menurut gua, kebanyakan rambu tuh justru untuk kendaraan aja sedangkan untuk pejalan kaki gak banyak. Kalau dari fasilitas menurut gua cukup baik, tapi yah itu, diratain bagusnya,” sambungnya.
Pendapat lain pun disampaikan oleh Wulan sebagai mahasiswa UI yang menunjukkan kesenangannya berjalan kaki dan berolahraga di UI. Salah satu alasannya adalah bahwa Kampus UI dirasa sejuk dan nyaman untuk digunakan sebagai rute untuk berlari. Selain nyaman, Wulan juga menyampaikan bahwa trotoar Kampus UI sudah memadai, bahkan lengkap dengan fasilitas pejalan kaki ataupun para penyandang disabilitas. Tak hanya fasilitas, Wulan menganggap rambu-rambu lalu lintas yang cukup jelas di Kampus UI menciptakan lingkungan yang aman untuk berjalan kaki.
Meskipun fasilitas dan lingkungan sudah cukup memadai, tidak semua mahasiswa UI gemar berolahraga di Kampus UI.
Salah satu di antaranya adalah Nadiyah. Dalam wawancaranya dengan Suara Mahasiswa UI, ia menyampaikan bahwa dirinya tidak pernah berolahraga di Kampus. “Malas. Jadi, ini faktor internal diri sendiri, kebanyakan karena sibuk,” tuturnya memberikan alasan.
Ia pun mengakui bahwa fasilitas Kampus UI sudah cukup memadai untuk olahraga dan menerapkan hidup sehat. Akan tetapi, baginya kesibukan kuliah menjadi salah satu penghalang untuk menjalankan hidup sehat, khususnya berolahraga. Mulai dari kegiatan akademik yang sudah cukup menyita waktu, lalu kegiatan organisasi, hingga aktivitas lainnya.
Ketika ada waktu luang, sebagian mahasiswa memilih untuk menghabiskan waktunya untuk berkumpul bersama teman ataupun keluarganya di tengah kesibukan perkuliahan.
“(Waktu luang) dipakai buat kumpul, jadi biasanya udah capek, gitu. Apalagi kalau weekend, niatnya kalau pagi mau olahraga tapi nyatanya banyak banget tugas, gitu.” tutur Nadiyah.
Pilihan untuk berjalan kaki akan dikembalikan kepada para mahasiswa, namun satu hal yang menjadi pendorong untuk berjalan kaki adalah hasil pemeriksaan kesehatan mahasiswa baru di Klinik Satelit Makara UI.
Menurut Dhana, 35% dari mahasiswa tersebut mengalami overweight atau obesitas, dengan angka yang meningkat menjadi 37% baru-baru ini. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa penanganan overweight dan obesitas tidak cukup hanya dengan mengurangi asupan makan dan kalori, tetapi juga dengan berolahraga ringan di lingkungan kampus UI.
Teks: Sarah Baasir, Heva Kumala
Editor: Vilda Zahra
Referensi
Cavanagh, J.-A. E., & Clemons, J. (2012, 02 28). Do Urban Forests Enhance Air Quality. Sample Our Social Science Journals, 13(2), 120-130. Retrieved 02 28, 2024, from https://doi.org/10.1080/14486563.2006.9725122