
Pencurian barang di Bis Kuning (bikun) kembali terjadi pada Selasa (11/10/22) lalu. Korbannya merupakan seorang mahasiswi dengan barang yang dicuri berupa ponsel. Peristiwa ini terjadi pada sore hari menjelang magrib di dalam salah satu bikun jalur biru. Kala itu, bikun sedang dalam keadaan padat penumpang. Hujan baru reda, mengakibatkan banyak mahasiswa yang sedari tadi menunggu hujan berhenti, serentak berbondong-bondong naik bikun setelah hujan reda.
“Menjelang magrib, bikun jalur kanan ramai penumpang, mulai dari stasiun UI, halte Ekonomi, khususnya di Halte Teknik, itu sentralnya paling ramai. Korban naik dari halte Vokasi,” terang Bambang Sugianto, supir bikun yang saat itu bertugas mengemudikan bis.
Korban naik bikun dari halte Vokasi hendak turun di halte Balairung. Sesampainya di halte Balairung, korban menemukan bahwa ponselnya sudah tidak ada lagi di dalam tas. Menurut dugaan supir bikun, pelaku membuka resleting tas korban, kemudian mengambil ponsel milik korban dari dalam tas. Hal ini didasarkan pada pengakuan korban setelah ditanya oleh supir.
“Aduh kok ngga ada? Ponselnya kan di dalam tas, tasnya kan saya resleting. Kok resletingnya tiba-tiba udah kebuka,” jelas Sugianto, pengemudi Bikun, menirukan ucapan korban.
Setelah korban melapor pada supir, bikun segera diberhentikan. Supir kemudian berinisiatif melakukan pengecekan menyeluruh kepada orang-orang di dalam bikun saat itu. Namun, tidak satu pun di antara penumpang yang terbukti sebagai pelaku.
“Setelah itu saya sweeping, saya panggil security untuk di sweeping, ‘Tolong mas, ini diperiksa, ada barang penumpang yang hilang, handphone. Siapa tau di antara ini ada yang melakukan kejahatan” tutur Sugianto menjelaskan.
“Pas diperiksa semuanya punya KTM (Kartu Tanda Mahasiswa UI-read), berarti pelakunya sudah turun setelah mendapatkan barangnya,” lanjut Sugianto.
Sugianto juga mengutarakan kemarahannya terhadap pelaku. Ia geram modus pelaku semakin berani sampai bisa membuka tas korban. “Ya, walaupun memang bukan tanggung jawab saya, saya fokus nyetir. Namanya manusia Mba, secara moral saya ikut prihatin. Ini kejadiannya di bis yang saya bawa. Secara moral saya nggak bisa terima, rasanya (pencurinya-read) nggak menghormati saya yang bekerja ini,” terang Sugianto.
Kenapa Bis Kuning (Bikun) Rawan Akan Pencurian?
Bikun merupakan fasilitas umum kampus yang dapat digunakan oleh seluruh civitas kampus dan juga orang-orang dari luar kampus. Dengan begitu, orang-orang dari luar kampus juga dapat menggunakan Bikun sebagai akses jika bepergian di dalam kampus. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh pelaku pencurian. Pelaku dapat naik bikun tanpa takut ketahuan jika ingin mencuri. Apalagi, saat jam-jam sibuk, seperti pagi dan sore hari atau saat setelah hujan, di mana mahasiswa juga banyak yang menggunakan fasilitas ini.
Menurut keterangan supir, pelaku pencurian juga biasanya menyamar dan membaur terlihat seperti mahasiswa, sebaya dengan umur mahasiswa sehingga tidak mudah dikenali. Mulai dari pakaian hingga barang-barang yang dibawanya. “Dia (pencuri—red) juga pakaiannya kayak mahasiswa. Yang berdasarkan kejadian dulu yang pernah tertangkap, itu orangnya juga masih muda. Bukan orang tua-tua. Gayanya kayak mahasiswa asli,” tutur Singgih Setyono, supir bikun yang turut menjawab pertanyaan wawancara.
Menurut Singgih, bagian tengah bus merupakan paling rawan pencurian karena hampir semua mahasiswa yang masuk Bikun akan berkumpul di tengah-tengah sehingga pelaku mudah melakukan aksi pencurian. “Di tengah-tengah bus itu paling rawan. Mending masuk. Masuk ke sebelah depan atau belakang. Di situ kan saling berhadapan, jadi kontrolnya tuh ada,” sarannya.
Selain itu, Singgih juga menawarkan agar mahasiswa yang merasa kehilangan barang di bikun, selain melapor ke PLK, melapor pula ke Supir bikun di Halte Asrama. Menurutnya, ada sejumlah barang yang bukan dicuri, namun tertinggal. Selama ini, para supir bikun mengumpulkan barang-barang yang terjatuh sehingga jika merasa kehilangan dapat dicari dan diambil di Halte Asrama.
“Jadi, kalo untuk barang ketinggalan, handphone, botol minum, kartu mahasiswa, ada sempet dompet juga. Ada yang terjatuh, tapi semua dikumpulin di sini (di Halte Asrama-read). Kalo barangnya masih ada di bis, biasanya kita amanin,”
Belum lama ini, musala Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) juga disambangi oleh pencuri. Aksi pencurian terjadi pada akhir Agustus lalu, tepatnya pada Rabu (31/8/22) siang. Laptop Lenovo Legion 5i milik korban raib dicuri.
Untungnya, aksi pencurian laptop ini terekam oleh kamera CCTV. Pelaku terlihat menggunakan kemeja biru, celana kecoklat-coklatan, dan tas punggung berwarna hitam. Korban juga sempat mengunggah aksi pencurian ini ke Twitter dengan menyertakan foto pelaku dan cuplikan-cuplikan rekaman kejadian. Meski begitu, hingga saat ini pelaku belum ditemukan.
“Kita laporkan ke PLK (Pengamanan Lingkungan Kampus), PLK laporan ke kepolisian.” Ujar Sudirman, petugas keamanan Fasilkom, ketika ditanya mengenai penanganan kasus ini. “Dari petugas keamanan UI juga dicari, disebar ke grup-grup WhatsApp security, disebarin untuk mencari (pelaku—red) itu. Tapi masih belum ketemu,” tutur Sudirman, satpam Fasilkom saat ditemui di pos jaga.
Menurut keterangan Sudirman, kasus-kasus ini biasanya terjadi pada awal tahun ajaran baru, saat mahasiswa baru masuk, terutama saat kuliah luring sudah kembali dilaksanakan. “Pasti kalo mahasiswa baru masuk, penyusup masuk. Soalnya mahasiswa masih belum saling mengetahui, masih belum saling kenal. Jadi gak tau, ini mahasiswa atau bukan, karena sama-sama baru” terang Sudirman.
Tidak hanya di area dalam UI, area indekos daerah Kukusan Kelurahan (Kukel) dan Kukusan Teknik (Kutek) akhir-akhir ini juga menjadi target lokasi yang disasarkan oleh copet atau pencuri. Menurut Ramli, petugas keamanan daerah Kukusan, belakangan ini pencurian motor marak terjadi di sana. “Pencurian-pencurian motor itu kebanyakan terjadi di pagi hari atau di sore hari saat kita (sukarelawan keamanan kukusan-read) sedang tidak patroli,” jelas Ramli. “Sekarang ini pencuri motor enggak sedikit,” tambahnya.
Tak hanya pencurian motor, baru-baru ini juga terjadi pencurian laptop di salah satu indekos di area Kukusan Kelurahan. Korban sempat mengunggah kronologi pencurian di Twitter, pada Rabu (5/10/22) lalu. Dalam cuitannya, korban bercerita bahwa pencurian terjadi di siang hari, ketika korban tidak berada di indekos.
Menurut Ramli, penjaga indekos mengira pelaku adalah teman salah satu mahasiswa penyewa kos, sehingga penjaga indekos memperbolehkannya masuk. “Kemarin juga ada pencurian laptop di salah satu kos di daerah Kukel, dikira teman salah satu mahasiswa penyewa kos, jadi dibiarkan masuk oleh penjaganya, ternyata pencuri,” terang Ramli.
Lakukan Langkah Preventif, Kita Semua Dapat Berperan Mencegah Kejahatan
Tempat-tempat yang padat dan ramai dengan orang berlalu-lalang di lingkungan kampus dapat menjadi target lokasi yang disasarkan oleh pelaku pencurian. Copet atau pencuri biasanya menargetkan area ramai yang minim penjagaan–misalnya bis kuning, musala, atau area indekos–untuk melakukan aksinya. Oleh karena itu, kewaspadaan diri dalam menjaga barang pribadi, terutama di tempat-tempat padat, merupakan kunci utama.
Selain itu, terdapat beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari pencurian. Pertama, hindari menaiki bis kuning (bikun) yang terlampau padat. Singgih Setyono, salah satu pengemudi bikun, menjelaskan bahwa kepadatan dalam bikun membuka kesempatan bagi pelaku untuk melakukan aksi kriminal. Apalagi, pengemudi bikun tidak bisa terus-menerus memantau keadaan karena harus fokus mengemudi.
“Kemarin saya juga ngomong kalo bis udah penuh, jangan maksain. Tunggu mobil belakangnya. Kalo udah penuh, kesempatan itu. Itu secara otomatis membuka lahan untuk aksi kriminal. Jadi salah satu tipsnya hindari naik bikun yang sudah terlalu penuh,” jelas Singgih.
Kedua, fokus pada sekeliling dan jaga barang bawaan. Simpan handphone dan barang berharga di dalam tas ketika menaiki bikun atau berada di tempat-tempat yang minim penjagaan. Letakkan juga tas di depan badan atau di area yang terjangkau penglihatan. “Kalo bawa barang bawaan taro dipeluk, di depan. Rata-rata, teteh bisa liat sendiri, mahasiswa kalo masuk bikun, tas ranselnya gimana, di belakang. Nah itu, kesempatan juga,” ujar Singgih.
“Saling mengingatkan, hp itu jangan di kantong. Pokoknya simpennya bener-bener, misalnya bawa tumpukan buku, tarolah di antara tumpukan tersebut. Biar ada penghalang. Itu untuk rangka antisipasi pengamanannya,” imbuh Sugianto, pengemudi bikun lainnya.
Ketiga, agar terhindar dari aksi pencurian di area musala atau area-area minim penjagaan yang lain, hindari untuk bepergian seorang diri. Jika memungkinkan, titipkan barang pada teman atau orang yang dapat dipercaya. “Untuk temen-temen, mahasiswa baru, mohon lebih waspada lah untuk menjaga barangnya. Titip barangnya kalo mau pesen makanan di kantin, ke toilet, atau ke musala. Kalo ada hal-hal yang mencurigakan, kasih tau temennya,” pesan Sudirman kepada mahasiswa UI.
Terakhir, untuk menghindari pencurian motor dan barang berharga di area indekos, pastikan untuk mengunci kamar indekos sebelum pergi, hindari parkir sembarangan, dan pasang kunci ganda jika diperlukan.
“Ya imbauan kami sih, tolong bantu kami juga. Minimal ya, lakukan langkah preventif. Parkir motor jangan sembarangan, parkir di tempat yang kelihatan. Walaupun kelihatannya aman, tapi jangan merasa aman, tetap selalu waspada,” saran Ramli, penjaga keamanan di area Kukusan.
“Kalau bawa motor itu untuk parkirannya benar-benar harus dihati-hati. Masukkan ke dalam kos atau bila perlu dikunci ganda. Selalu kunci pintu kos kalau sedang tidak di kos,” tutup Ramli.
Teks: Hawa Muharmaeka, Olivia Chairinnisa Suyono
Kontributor: Dian Amalia Ariani
Editor: Dian Amalia Ariani
Ilustrasi:
Pers Suara Mahasiswa UI 2022
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
Note: Singgih Setyono (081330533676), Salah satu supir Bikun UI bersedia dihubungi jikalau ada mahasiswa yang merasa kehilangan barang di bikun.
Kontributor