
By Fadila Ardana, Rifki Wahyudi
Akibat pandemi Covid-19, Universitas Indonesia membuat kebijakan dengan dilaksanakannya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dimulai sejak tanggal 16 Maret 2020.
Hal ini tertuang dalam surat edaran Nomor: SE-103/UN2.R/OTL.O9/2020, tentang kewaspadaan dan pencegahan penyebaran virus Covid-19 di lingkungan kampus Universitas Indonesia dengan tujuan memutus mata rantai persebaran virus Covid-19.
Penerapan sistem perkuliahan jarak jauh tentunya memberikan berbagai dampak kepada mahasiswa maupun pengajar. Salah satu dampak yang sering digaungkan ialah penggunaan kuota internet yang jauh lebih besar daripada perkuliahan normal. Sehingga, perlu ongkos (penggunaan kuota-Red) yang tidak murah guna menunjang terlaksananya perkuliahan ini.
”Ada beberapa mahasiswa/i yang tinggal di desa atau pedalaman, bagaimana dengan nasibnya? Jaringan tidak stabil, terkadang mati lampu. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja udah susah, ditambah lagi dengan adanya PJJ ini yang menuntut banyak mahasiswa/i mau tidak mau membeli paket internet,’’ ujar Rizka Munzila, mahasiswi Vokasi yang mengeluhkan nasib teman-temannya.
Keluhan lainnya adalah perihal mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli kuota internet juga disampaikan oleh Kurnia Diandra, mahasiswi vokasi. ’’Gue ‘kan pakai t-sel, ya, kenapa make t-sel karena jaringan di sini bagusnya t-sel buat PJJ. Sedangkan t-sel itu ga murah dan ngabisin 75 ribu untuk 15 giga dalam seminggu,’’ ucapnya. Kurnia merasa keberatan dengan mahalnya biaya internet yang hanya dapat diakses dengan provider tertentu.
Amanda, mahasiswi FMIPA UI berharap pihak kampus tetap memberikan fasilitas kepada mahasiswa, meskipun pembelajaran dilaksanakan tanpa tatap muka.
“Berhubung kita gak bisa ke kampus pas lagi situasi kayak gini, seharusnya UI tetap ngasih fasilitas itu ke kita kayak misal kuota internet terutama bagi mahasiswanya yang benar-benar butuh. Biaya UKT yang kita bayarin ke kampus emang, sih, buat biaya operasional dan lainnya. Tapi kan kita sekarang lagi libur, otomatis aktivitas operasional itu berkurang, dong,” ujarnya.
Berbagai keluhan sebagian mahasiswa yang merasa keberatan dengan biaya kuota internet pun menuai respon dari berbagai pihak, terutama dari BEM UI. Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa (Adkesma) BEM UI telah melakukan berbagai upaya untuk memenuhi dan menyampaikan permintaan mahasiswa agar mendapatkan subsidi pulsa/kuota internet dari pihak kampus
“Kami dari Adkesma BEM UI memberikan jaring aspirasi yang sudah kami olah. Kami juga melakukan komunikasi secara intens dengan dirmawa UI, WR 1, Iluni UI, dan WR 4 untuk dijadikan sebagai rekomendasi kebijakan untuk Universitas Indonesia,” jelas Bani Ibnu Fikri, kepala departemen Adkesma BEM UI.
Hasil dari jaring aspirasi yang dilakukan oleh Adkesma BEM UI memaparkan sejumlah 35% responden menganggap kuota internet yang dihabiskan melebihi kemampuan daya beli mahasiswa, sekaligus juga menambah biaya pengeluaran untuk membeli paket data internet.
Kendati demikian, sejauh ini pihak rektor belum memberikan kebijakan yang dapat meringankan beban mahasiswa. “Terkait respon sendiri masih seperti dulu, pihak rektorat UI masih belum ada respon yang konkret terkait bantuan ini,” ujar Bani.
Rektor Universitas Indonesia, Ari Kuncoro, menegaskan, bahwa pihak rektor belum bisa memberikan subsidi kuota/pulsa dengan alasan sudah memberikan kemudahan melalui E-Learning Managements Systems (EMAS) UI, yang mana kanal ini dapat diakses cuma-cuma melalui berbagai provider telekomunikasi yang sudah bekerja sama dengan UI.
Hal ini tidak sejalan dengan kondisi di lapangan, di mana pembelajaran kerap dilakukan melalui beberapa kanal komunikasi virtual, seperti Zoom, Google Meet, Hangout, dan lain-lain.
“Karena sekarang kita diganti PJJ, harusnya bisa didanai, dong. UI punya yang gratis itu Emas, tapi buat pertemuan kan pake Zoom, itu bayar kuota. Sebenernya UI ada lagi yang gratis, yaitu Microsoft Team, tapi harus dikasih tahu (terlebih dahulu -red) bagaimana cara pakainya atau kalau memang mau tetep pakai Zoom, harus bisa dikasih kuota,” jelas Farryntya, Mahasiswa Fakultas Psikologi.
Hal senada juga diungkapkan oleh Husni, mahasiswa FIB UI, ia mengaku penggunaan kanal pembelajaran online milik kampus yaitu EMAS dirasa belum maksimal, bahkan selama PJJ ia hanya menggunakan kanal tersebut sebagai media pengumpulan tugas.
’’Belum (efektif -red) untuk kasus saya, bahkan hanya ada satu mata kuliah yang menggunakan emas sebagai platform utama penyampaian tugas atau diskusi kelas. Sisanya? Apa bedanya dengan platform lama PJJ yang disediakan UI bernama scele? Apa hanya proker cuci uang saja?”
Rencana ke depan dari Adkesma BEM UI
Terkait dengan tuntutan tersebut, Bani, selaku kepala departemen Adkesma BEM UI menuturkan 3 rencana kedepan, yaitu :
Pertama, meminta agar seluruh mahasiswa UI tanpa terkecuali mendapatkan subsidi kuota gratis kurang lebih 35-40 GB/bulan sebagai langkah untuk pengurangan UKT yang dibayarkan.
Kedua, jika hal tersebut tidak bisa disanggupi, setidaknya kami meminta pihak UI agar memberikan bantuan subsidi kuota gratis untuk mahasiswa penerima bidik misi dan mahasiswa non-Bidik misi yang membutuhkan bantuan kuota gratis ini.
Ketiga, apabila terkait dengan bantuan subsidi kuota gratis tidak disanggupi, kami meminta agar pihak UI melakukan kerjasama dengan provider yang tidak hanya untuk mengakses Emas saja tapi untuk Zoom, Google Meet, dan lain-lain.
Selain hal itu, Adkesma BEM UI juga mengupayakan bantuan kepada mahasiswa yang masih tinggal di sekitaran kampus UI, agar pihak kampus memberikan bantuan berupa sembako atau logistik, terlebih sekarang memasuki bulan puasa di tengah pandemi corona.
Teks: Fadila Ardana, Rifki Wahyudi
Foto: Istimewa
Editor: Faizah Diena Hanifa
Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
Kontributor