Ketika Menyerah Bukanlah Jawaban

Redaksi Suara Mahasiswa · 6 Agustus 2021
3 menit

Judul film: The Pursuit of Happyness
Sutradara: Gabriele Muccino
Produser: Will Smith, Steve Tisch, James Lassiter, Todd Black dan Jason Blumenthal
Genre: Pengembangan diri
Tahun rilis: 2006
Durasi: 117 menit
Pemain: Will Smith, Jaden Smith, Thandie Newton

The Pursuit of Happyness merupakan film yang diadaptasi dari kisah nyata. Film dengan latar belakang 1981 di San Fransisco diawali dengan Chris Gardner (Will Smith) yang memiliki alat pemindai kepadatan tulang dan sedang menunggu bus. Ia berusaha mencari rumah sakit yang berniat untuk membeli alat medisnya. Ia harus segera dapat menjual dua alat medisnya bulan ini agar bisa membayar sewa rumah, tempat penitipan anak, dan denda tilang mobilnya. Akan tetapi, Chris belum bisa menjual satu pun alat medisnya. Kesulitan ekonomi membuat hubungan Chris dengan istrinya, Linda (Thandie Newton), yang saat ini bekerja di pabrik semakin tidak harmonis. Chris di satu sisi berusaha mencoba menghibur anaknya, Christopher (Jaden Smith), di tengah ketidakharmonisan di dalam keluarga.

Suatu pagi, Chris berjalan melewati gedung Dean Witter yaitu perusahaan pialang saham. Ia melihat ada seorang pria yang merupakan pekerja di perusahaan tersebut keluar dari mobil mewahnya. Chris lantas menanyakan apa pekerjaannya dan bagaimana ia melakukannya. Pria tersebut mengatakan bahwa ia bekerja sebagai pialang saham. Ia mengatakan profesi yang dijalankannya tidak mengharuskan tiap orang untuk harus kuliah terlebih dahulu.

Dimulailah perjalanan Chris akhirnya untuk berjuang agar bisa bekerja di perusahaan pialang tersebut. Perjuangan yang harus dilalui Chris tidaklah mudah, ia menghadapi masalah dengan istrinya dan tuntutan menafkahi keluarganya. Di satu sisi, Chris selalu menjalaninya dengan penuh semangat dan pantang menyerah. Di berbagai kondisi apa pun Chris selalu berusaha hadir di sisi anaknya. Ia selalu berusaha menghibur anaknya dan meyakinkan anaknya untuk selalu bahagia bahkan dalam keadaan yang sulit.

Chris yang awalnya mencoba berinvestasi kepadatan tulang dengan menghabiskan seluruh tabungnya merasa usahanya tersebut telah gagal. Banyak rumah sakit yang menolak untuk membeli alatnya tersebut. Di satu sisi Chris harus bisa menjual seluruh alatnya tersebut minimal dua unit sebulan atau jika tidak, ia tidak dapat memenuhi biaya hidupnya. Namun, Chris tetap optimis jika alatnya dapat terjual habis meskipun istrinya sendiri meremehkannya. Hal ini bisa dilihat bagaimana Chris selalu membawa alat itu ke mana saja bahkan saat ingin melamar magang.

Usaha Chris akhirnya berbuah manis. Di tengah repotnya mencari rumah sakit yang mau membeli alat medisnya, Chris akhirnya bisa diterima magang di perusahaan pialang yang ia inginkan. Namun, Chris menyadari bahwa perjuangannya masih belum selesai. Ia harus bersaing dengan dua puluh karyawan magang lainya untuk mendapatkan posisi sebagai pegawai tetap. Keberhasilan yang Chris raih bukan berarti ia bebas dari masalah. Chris kembali mendapatkan masalah ketika ia dan anaknya kehilangan tempat tinggalnya karena tidak sanggup membayar tagihan utang sewa. Akan tetapi, Chris tetap selalu meyakinkan anaknya bahwa semua akan baik-baik saja ketika berusaha. Kondisi yang dihadapi Chris bahkan tetap membuat ia tekun belajar untuk lulus ujian magangnya.

Perjalanan dan usaha Chris untuk meraih impiannya pun berhasil menuai respons positif, yaitu melalui berbagai pencapaian yang diraih The Pursuit of Happyness. Film dengan nilai IMDb 8.0 ini telah menorehkan berbagai prestasi, di antaranya memenangkan Movie of the Year dalam Capri Awards dan Best Motion Picture dalam NAACP Image Awards. Kesuksesan film ini bisa dibuktikan dengan keuntungan yang diperoleh, yaitu sebesar 307,1 juta USD. Hasil positif lain dari film adalah penilaian CinemaScore, yang menunjukan respons penonton memberikan nilai "A" dari skala A+ sampai F.

Di balik berbagai torehan nilai positif, tampaknya film ini juga memiliki kekurangan. Penulis melihat kekurangan dari film ini melalui tidak adanya kelanjutan saat Chris sukses mendirikan firmanya sendiri. Adegan tersebut hanya ditunjukkan dengan tulisan dalam latar hitam yang menjelaskan kesuksesan Chris setelah ia diterima sebagai pegawai tetap. Ending film yang menampilkan candaan antara Chris dan anaknya di jalanan cukup menggantung karena tidak menunjukan perubahan signifikan dari kedua tokoh tersebut setelah kehidupan mereka berdua menjadi lebih baik.

Terlepas dari kekurangannya, film The Pursuit of Happyness mengajarkan kita untuk selalu berusaha mencapai kebahagiaan di tengah berbagai tekanan yang ada. Dalam kondisi yang sulit, Chris tetap selalu menyayangi anaknya dan membuatnya bahagia. Film ini berhasil menyampaikan pesan bahwa kita harus bersedia melakukan apa pun untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita. Tokoh Chris dalam film ini juga mengajarkan kita terutama para orang tua untuk selalu memberikan kasih sayang terhadap anaknya meskipun berada di kondisi yang sulit. Melalui penampilan Chris selama magang, kita juga diajarkan bagaimana ketekunannya dalam belajar dan berhadapan dengan orang lain meskipun ia latar belakang pendidikanya rendah. Chris dalam film ini membuktikan segala kesulitan yang dihadapinya adalah sebuah proses pembenahan diri dan pelajaran untuk meraih tujuan dan kebahagiaan.

Teks: Fauzan Dewanda
Foto: Istimewa
Editor: Ruth Margaretha M.

Pers Suara Mahasiswa UI 2021
Independen, Lugas, dan Berkualitas!