
artikel ini pernah dimuat dalam Majalah Suara Mahasiswa edisi 1997 dan diunggah ulang dalam rangka perayaan HUT Suma UI yang ke-30 tahun.
Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta.
Mungkin ungkapan ini cocok untuk menggambarkan keadaan
Senat Mahasiswa Universitas Indonesia (SMUI)
Konon, sejak berdiri empat tahun lalu hingga kini, suara SMUI nyaris tak bergaung di tengah rimba aktivitas mahasiswa UI. Pendeknya, SMUI tidak populer di mata rakyatnya sendiri. “Kalau masalah populer tidak populer, saya rasa bukan hanya nasib SMUI saja. Di fakultas pun tidak semua mahasiswa interest sama kegiatan senat fakultas,” kata Selamat ‘Didin’ Nurdin, ketua SMUI.
Jadilah SMUI yang mulai berkuasa pertengahan 1996 ini memutar otak demi memformulasikan obat perangsang kepedulian mahasiswa terhadap lembaga yang katanya merupakan penampung aspirasi mahasiswa. Hasilnya adalah SMUI Promo yang melakukan gebrakan pertama dengan memasang papan-papan komunikasi di setiap fakultas. Disusul dengan terbitnya Mediator, sebuah buletin informasi tentang tetek bengek SMUI. Yang baru dan agak menarik adalah Faculty Road Show (FRS), semacam acara anjangsana yang dilakukan oleh para pengurus SMUI ke fakultas seantero UI. Target penontonnya adalah pengurus senat mahasiswa fakultas dan mahasiswa baru.
Mengapa hanya pengurus senat dan mahasiswa baru? Semata-mata demi efektivitas. Seperti pengakuan Ahmad Zakky, Ketua Biro Humas SMUI, sang pemilik hajat. “Pengurus senat fakultas kan wadahnya. Orang yang pengen tahu lebih banyak akan bertanya ke mereka. Makanya diharapkan dapat mensosialisasikan SMUI ke orang-orang yang bertanya”. Citra yang baik tentang SMUI tentu juga perlu ditumbuhkan di kalangan mahasiswa. Mahasiswa baru dibidik karena sifatnya yang lebih reseptif terhadap segala sesuatu tentang kampus. Mumpung baru jadi mahasiswa, begitulah. Jadi, berbeda dengan seniornya, mahasiswa baru dibidik demi efisiensi.
Sambutan terhadap FRS ternyata beragam. Di FISIP, ruang Aula E.101, tempat FRS digelar hanya diisi 20 orang mahasiswa baru. “Ah, itu hanya kesalahan teknis. Ada sedikit misunderstanding antara pihak SMUI dengan pihak FISIP,” kilah Didin. Hal tersebut dibenarkan oleh Adhi Irawan, Ketua Mabim FISIP UI 1996. “Kita tidak bermaksud main-main dalam mempersiapkan FRS, namun memang terjadi kelemahan koordinasi,” ungkapnya. Di Salemba, FRS digelar satu kali untuk 3 fakultas : Fakultas Kedokteran, Kedikteran Gigi dan Ilmu Keperawatan. Anehnya, yang hadir hanya sekitar 200 orang. Itu pun karena terpaksa. “Habis wajib, disuruh sama senior dalam rangka Mabim. Jadi saya datang,” kata seorang mahasiswa baru yang mengadiri FRS.
Namun tidak demikian halnya dengan FRS yang berlangsung di Asrama mahasiswa UI. Peserta, atau lebih tepatnya penonton, membludak. Pengurus SMUI yang hadir pun banyak. Mengapa mahasiswa yang hadir fluktuatif? “Mereka sebenarnya cukup antusias kok. Tapu ketika terbentur tugas-tugas kuliah, mereka lebih memilih itu. Saya kira itu hal yang wajar,” kata Zakky.
Yang menarik adalah pelaksanaan FRS di Fakultas Teknik. Sampai batas waktu pelaksanaan FRS, masih belum ada tanda-tanda fakultas tersebut akan kebagian tontonan. Ada kesan bahwa terlewatinya FT dari karnaval FRS ini masih berkaitan dengan Pemira lalu. Namun hal ini disanggah Didin, “Saya rasa tidak ada tendensi khusus di balik belum berjalannya FRS di Teknik. Tidak benar kalau kita tidak dekat dengan Senat Fakultas Teknik. Perwakilan Teknik selalu datang dalam setiap rapat yang diadakan SMUI. Bahkan saya ikut bicara dengan rektor dalam memecahkan masalah Mabim di Teknik (yang dilarang red)”.
Zakky juga membenarkan pendapat Didin. “FRS pada awalnya sudah terjadwal, namun di Teknik ada masalah internal. Kami berusaha untuk tidak bersinggungan. Lagi pula saat ini di Teknik sulit untuk meminta izin mengumpulkan mahasiswa baru.” Terlepas dari semua kontroversi mengenai efektivitas FRS ini, usaha untuk membuat mahasiswa UI peduli pada SMUI bagaimanapun patut didukung. “SMUI bukanlah fakultas yang ke-14 di UI,” ujar Didin. Artinya, SMUI adalah milih seluruh mahasiswa UI, bukan hanya milik fakultas atau golongan tertentu saja.
Teks: Amel, Yusman, Silvi, Heningo
Foto: Dokumentasi SMUI
Pers Suara Mahasiswa UI 2022
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
Kontributor