Logo Suma

Ketua BEM FEB UI Nilai Program MBG Bebani Fiskal

Redaksi Suara Mahasiswa · 13 Juni 2026
2 menit · - kali dibaca
Ketua BEM FEB UI Nilai Program MBG Bebani Fiskal

Ribuan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) melangsungkan aksi bertajuk #MenujuIndonesiaBangkrut pada Jumat (12/6) di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Salah satu permasalahan yang menjadi sorotan adalah kondisi perekonomian Indonesia yang semakin melemah.

“Permasalahan utamanya adalah kebijakan fiskal yang tidak kredibel dan tidak tepat sasaran sehingga membuat kepercayaan investor menghilang,” kata Jundi, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (BEM FEB) UI, dalam wawancara bersama Suara Mahasiswa UI.

Jundi menerangkan, meskipun Bank Indonesia telah melakukan serangkaian intervensi, total dalam waktu ke belakang telah meningkatkan suku bunga acuan 75 basis points. Namun, hal itu belum mencukupi apabila kebijakan fiskal tidak diperbaiki.

Untuk memperbaiki permasalahan ini, ia menjelaskan harus dilakukan pemotongan pengeluaran yang tidak tepat sasaran terhadap program makan bergizi gratis (MBG).

“Apabila kita menghentikan sementara program MBG, kita evaluasi [program itu], akan ada ruang fiskal yang tumbuh lebih besar. Ruang yang bisa kita gunakan untuk hal lain yang lebih produktif, di antaranya adalah pemberian subsidi tambahan ke pertamax dan pemberian bantuan sosial untuk mereka yang masuk ke dalam kelompok rentan.”

Untuk meningkatkan nilai tukar rupiah, Jundi berpendapat perlu adanya pengakuan permasalahan perekonomian negara oleh pemerintah. Setelahnya, melakukan perbaikan kredibilitas fiskal.

Hal serupa dituturkan oleh Najmi Azzaki, Wakil Ketua BEM FEB UI. Ia menilai kondisi perekonomian Indonesia saat ini perlu mendapat perhatian serius. Semenjak kepemimpinan Prabowo-Gibran, berbagai program populis dengan alokasi anggaran yang besar mulai dijalankan.

“Alokasi tersebut sangat besar sehingga memberatkan pos-pos lain, salah satunya adalah alokasi pendidikan yang dipotong,” ujarnya.

Saat ini, pemerintah lebih besar melakukan pengeluaran untuk berbagai program populis, dibandingkan dengan belanja modal. Menurutnya, pemerintah perlu memperkuat alokasi untuk belanja modal apabila negara ingin berfokus pada pertumbuhan ekonomi.  

Akhir kata, Najmi berharap agar pemerintah dapat lebih bijaksana dalam melakukan alokasi dana, terlebih untuk program yang bersifat jangka panjang. Ia juga menyebut jabatan strategis pemerintah seharusnya dapat diisi oleh individu yang memang ahli dalam bidangnya.

“[Selain itu, harapan] ke depannya [semoga pemerintah dapat] memperbaiki komunikasi karena pidato Presiden Prabowo [terkait rupiah] yang kemarin sangat amat memengaruhi sentimen publik,” tegas Najmi.

Sekitar pukul 18.00, massa UI mulai membubarkan diri dari titik aksi. Adapun berbagai tuntutan yang dibawa dalam aksi kali ini, yaitu sebagai berikut.

  1. Stop pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN);
  2. Turunkan harga kebutuhan pokok dan Bahan Bakar Minyak (BBM);
  3. Hentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih;
  4. Hentikan militerisme di ranah sipil;
  5. Prabowo berhenti mengelak dan mengakui kesalahannya.

Teks: Masykuri Syauqi Mubarok, Serafina Effendy

Editor: Alya Putri Granita

Foto: 'Izza Billah

Desain: Allisya Putri Ramadhani

Pers Suara Mahasiswa UI 2026

Independen, Lugas, dan Berkualitas!

Tim Penggarap

Teks

Masykuri Syauqi Mubarok, Serafina Effendy

Editor

Alya Putri Granita

Desain

Allisya Putri Ramadhani