Logo Suma

Ketua BEM FKM UI Kritisi Indonesia Bukan Prioritas Prabowo

Redaksi Suara Mahasiswa · 19 Agustus 2026
2 menit · - kali dibaca
Ketua BEM FKM UI Kritisi Indonesia Bukan Prioritas Prabowo

Ratusan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) memadati depan Gedung United Overseas Bank (OUB), Jakarta Pusat, untuk melakukan aksi “Merebut Kemerdekaan” pada Selasa (18/8). Unjuk rasa ini dilatarbelakangi berbagai keresahan masyarakat terhadap kondisi Indonesia di tengah peringatan 81 tahun kemerdekaan.

Favian Fawwaz Dermawan, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (BEM FKM) UI, menyoroti pembentangan bendera bergambar Presiden  Prabowo saat Upacara Kemerdekaan di Istana Merdeka pada Senin (17/8) lalu.

“Kita selaku masyarakat di hari 17-an kemarin, kita [dapat] melihat kalau misalnya dari Prabowo sendiri yang pertama kali dibentangkan adalah muka dia sendiri dari atas ke bawah. [Hal] itu merupakan titik poin yang di mana kita harus sadar kalau misalnya bahkan di mata beliau sendiri, Indonesia bukanlah prioritas bagi beliau,” katanya saat diwawancarai oleh Suara Mahasiswa UI pada Selasa (18/8).

Favian memaknai kemerdekaan sebagai  kebebasan masyarakat dalam menjalani kehidupan sesuai dengan kehendaknya. Menurutnya, Indonesia belum sepenuhnya merdeka secara aktual karena masih terdapat masyarakat, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), yang belum memperoleh hak dan kebebasan yang sama.

Ia juga menyebut masyarakat selama ini kerap kali ‘diakal-akali’ oleh penguasa. Favian menilai publik perlu terus bersuara dan melawan segala pernyataan ataupun kebijakan yang disampaikan oleh para pemimpin.

Di sisi lain, dalam protes ini, pekerja media turut menyampaikan keresahannya melalui orasi. Yuda Kurniawan selaku Jurnalis Rekam Doc menyoroti masifnya represifitas yang dialami para wartawan.

“Apa salahnya kami membicarakan kebenaran? berkali-kali akun sosial media kami di-banned, akun sosial media kami diserang oleh akun-akun judol [judi online] tidak jelas itu. Apakah itu cara pemerintah membungkam kami?” tanya Yuda.

Ia menegaskan pekerja media juga memiliki hak untuk menyuarakan kemanusiaan dan kegelisahan masyarakat. Namun, kata Yuda, pemerintah justru selalu membungkam mereka yang bertindak kritis.

Lebih lanjut, ia menilik ujaran Presiden Prabowo yang kerap menyinggung masyarakat, tetapi tidak pernah mengucapkan kata maaf. “Giliran kami yang menyuarakan isi hati kami di sini, kami dibungkam. Apakah ini yang dinamakan negara demokrasi?”

Sekitar pukul 12.24 WIB, massa UI mulai bergerak dari Lapangan FISIP UI menuju titik lokasi. Awalnya, aksi hendak dilakukan di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta. Namun, pihak Kepolisian bersikeras agar unjuk rasa dilakukan di depan Gedung UOB, satu kilometer dari Bundaran HI.

Gerakan ini turut disertai oleh massa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Universitas Pancasila, dan Politeknik Negeri Jakarta. Meski sempat berdebat dengan kepolisian terkait pengerahan aparat militer, massa membubarkan diri dengan tertib sekitar pukul 18.00 WIB.

Adapun delapan tuntutan yang dibawa oleh BEM UI, yaitu sebagai berikut.

  1. Hentikan penjajahan negara atas rakyat sendiri;
  2. Hentikan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN);
  3. Wujudkan reforma agraria sejati;
  4. Turunkan harga kebutuhan pokok dan BBM;
  5. Evaluasi total PSN serta hentikan MBG dan KDMP;
  6. Hentikan pemusatan kekuasaan, pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD), dan kembalikan otonomi daerah;
  7. Tetapkan status bencana nasional untuk daerah Sumatra dan Flores serta percepat pemulihan wilayah terdampak bencana;
  8. Hentikan represifitas dan intervensi TNI-Polri dalam ruang sipil serta bubarkan YON-TP.

Teks: ‘Izza Billah, Alya Putri Granita

Editor: Dela Srilestari

Foto: 'Izza Billah

Desain: Syahidah Nururrahmah

Pers Suara Mahasiswa UI 2026

Independen, Lugas, dan Berkualitas!

Tim Penggarap

Teks

Alya Putri Granita, 'izza Billah

Editor

Dela Srilestari

Foto

'izza Billah

Desain

Syahidah Nururrahmah