Logo Suma

Magang Saat Kuliah, Pentingkah?

Redaksi Suara Mahasiswa · 27 Juli 2021
4 menit · - kali dibaca
Magang Saat Kuliah, Pentingkah?

Memasuki masa liburan, berbagai macam kegiatan dilakukan oleh mahasiswa untuk mengisi waktu yang biasa dipenuhi dengan jadwal perkuliahan. Ada yang masih berkutat dengan kepanitiaan, bergumul dengan organisasinya, berkompetisi di berbagai perlombaan, menghabiskan waktunya dengan rebahan, serta ada pula yang memilih untuk magang. Kegiatan yang terakhir ini menjadi salah satu opsi yang dipilih oleh banyak mahasiswa dan tidak hanya dilakukan pada saat liburan saja, melainkan juga di tengah-tengah perkuliahan. Ya, meskipun jadwal perkuliahan sudah padat, kesempatan untuk magang nyatanya merupakan kesempatan emas yang diincar-incar oleh banyak mahasiswa. Mengapa demikian?

Manfaat Magang bagi Mahasiswa
Tristan Prodjomaroeto, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) angkatan 2017, dan Lola Priscilla, mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) angkatan 2018, merupakan salah dua dari sekian banyak mahasiswa yang berkesempatan untuk magang saat masih berkuliah. Dari pengalaman magang keduanya, Tristan dan Lola mendapatkan banyak keuntungan bagi pengembangan diri mereka yaitu menambah koneksi dan membuka perspektif baru terkait dunia kerja dan mengasah soft skill

“Lebih ke how we see things outside, perspektif kita jadi bertambah. (kita juga -red) learn new things especially communication skill, analytical thinking, problem-solving jadi bener-bener terasah,” ujar Tristan.

Hal yang sama juga disampaikan Lola, ia bercerita bahwa magang dapat membuka perspektif baru serta bersosialisasi di lingkungan baru. Tak hanya itu, melaluu magang ia juga dapat memahami berbagai karakter orang-orang baru yang ia kenal. “Belajar buat ngenal orang, belajar juga buat menyelesaikan masalah, (ketika-red) kita tau dia orangnya kayak gini,” lanjutnya.

Magang juga membuat Lola dapat merasakan bagaimana pressure di dunia kerja yang tentunya berbeda dari kegiatan ia di Kampus. "Di dunia kerja kalau kita gak inisiatif, kita gak ada value-nya di depan mereka. Jadi kita juga belajar gimana cara nge-approach atasan,” jelas Lola.

Sementara itu, dari sisi perekrut, HRD PT Wook Global Technology, sebuah platform e-Commerce B2B produk elektronik sekaligus pemilik brand VIVAN dan ROBOT, Mohammad Halilintar, menyatakan bahwa pengalaman magang yang dicantumkan dalam curriculum vitae (CV) menjadi nilai plus dalam menyaring pelamar fresh graduate. Sebab, pelamar yang  memiliki pengalaman magang dinilai mudah beradaptasi dengan dunia kerja dan dapat menyelesaikan tugas dengan cepat. Jika dibandingkan antara pelamar yang pernah magang dan belum pernah magang, menurut Halilintar, tentu ada perbedaan antara keduanya.

“Mungkin anak yang pernah magang, untuk menyesuaikan dengan dunia kerja hanya butuh 2-3 hari untuk bisa in line dengan tugasnya di perusahaan tersebut, tapi kalau anak yang belum pernah magang dan langsung bekerja di suatu perusahaan butuh penyesuaian yang lebih lama,” jelas Halilintar. Namun, ia menambahkan hal tersebut tidak bisa digeneralisasi karena masih terdapat pengecualian.

Tantangan Magang di Masa Kuliah
Meskipun kegiatan magang menawarkan banyak keuntungan, seperti uang saku, pengalaman, dan relasi, tentu saja tetap ada tantangannya tersendiri. Baik Tristan maupun Lola sama-sama mengakui bahwa pembagian waktu atau time management menjadi tantangan yang harus dihadapi ketika mengambil magang di tengah kesibukan perkuliahan. Dari Tristan, ia menceritakan bahwa ia pernah harus menghadiri meeting di tengah-tengah perkuliahan. “To counter that out, kita harus pinter-pinter lagi menyeimbangkan antara kuliah dan magang biar tidak ada yang terbengkalai,” ujar Tristan.

Selain masalah time management, Lola menyatakan bahwa komunikasi ke atasan terkait perkuliahan yang harus lebih diprioritaskan juga menjadi tantangan lain. “Karena harus ngedahuluin UTS (dan -red) UAS, berarti susahnya mesti ngomong ke pihak kantor, gimana kita komunikasikan ke mereka,” cerita Lola.

Tantangan lain yang dapat menghambat mahasiswa dalam menjalankan kegiatan magang adalah pencarian tempat yang cocok dengan karakter dan keinginan kita. Menurut Tristan dan Lola, hal ini tergantung dengan apa yang kita butuhkan dan inginkan. “Tiap orang beda-beda, cara nilai perusahaan sama kayak cara menilai diri kita dulu,” jelas Lola.

Lola juga mengatakan bahwa background perusahaan, seperti kestabilan perusahaan, pertimbangan penunjangan karir di masa depan, jangka waktu magang, dan fee atau salary sangatlah penting untuk diperhatikan. Namun demikian, hal yang terpenting untuk kita ketahui terlebih dahulu adalah tujuan kita melakukan magang.

Rangkaian Seleksi Magang
Setelah mengetahui perusahaan yang diminati, rangkaian seleksi magang menjadi tantangan selanjutnya. Tahap pertama adalah tahap penyaringan CV. Menurutnya, CV yang baik adalah CV yang secara jujur menjelaskan pengalaman dan mencerminkan karakter pelamar. “CV yang bagus itu bukan yang dibagus-baguskan atau ngaku-ngaku saja pernah mengikuti suatu organisasi padahal tidak pernah, tapi harus menjelaskan jobdesc dan memiliki profile yang jelas,” tegas Halilintar.

“Kadang orang bisa menulis di CV sesukanya, kalo dia hanya merekayasa CV pasti langsung kelihatan waktu diwawancara,” tambahnya. Adapun pengalaman magang, lomba, dan organisasi merupakan pertimbangan pendukung.

Selanjutnya pelamar harus melalui tahap interview apabila CV-nya tersaring perusahaan. Tahap interview merupakan tahap yang krusial dalam seleksi magang. Halilintar mengatakan bahwa ketidaksesuaian CV yang tertulis dengan performa saat wawancara dapat mengakibatkan tidak diterimanya pelamar tersebut dalam pekerjaan yang ia tuju. Penampilan yang dimaksud di sini termasuk pakaian rapi, etika yang sopan dan santun, juga cara komunikasi secara verbal maupun non-verbal (bahasa tubuh) yang baik.

“Ini mungkin sepele, tapi saya pernah bertemu dengan seseorang, cara komunikasinya bagus, sopan santun bagus, berpenampilan rapi, namun digagalkan karena masalah gestur tubuh ketika berhadapan dengan saya,” jelas Halilintar, “ketika dia bertemu dengan saya sebelum saya persilahkan duduk, dia memasukkan kedua telapak tangan ke saku celana seperti bertolak pinggang. Apalagi kalo berbicara dengan yang lebih tua, perihal memasukkan tangan ke saku, itu artinya di psikologi sebagai simbol keangkuhan/tidak sopan. Karena kalo tabiatnya seperti itu, sudah tidak bisa diubah,” lengkapnya.

Untuk menghindari kesalahan-kesalahan tersebut, ada beberapa tips yang dapat dilakukan. Pertama, selalu berpenampilan rapi dan sopan ketika menghadiri interview kerja. Kedua, pahami dan pelajari cara berkomunikasi secara verbal dan non-verbal dengan baik. Terakhir, jangan sampai melebih-lebihkan kemampuan ataupun pengalaman dalam CV.

Semangat untuk Sumates yang saat ini sedang mencari tempat magang!


Teks: Fadhila Afrina, Ninda Maghfira
Kontributor : Lutfia Putri Nur H, Michella Puteri
Editor : Giovanni Alvita

Pers Suara Mahasiswa UI 2021
Independen, Lugas, dan Berkualitas!

Tim Penggarap