
Di tengah derasnya arus persiapan karier, minat pada pergerakan organisasi mahasiswa justru tampak menurun. Dilansir dari media The Conversation, gairah mahasiswa dalam dunia aktivisme organisasi kemahasiswaan belakangan ini kian meredup, terlebih sejak pandemi COVID-19 melanda. Belum lagi, kemunculan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) oleh Kemendikbud sejak tahun 2020 juga mampu mencuri atensi mahasiswa untuk mengikuti magang ketimbang berorganisasi.
Belakangan ini, popularitas kegiatan magang memang kian melejit di kalangan mahasiswa, khususnya program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) yang partisipannya bertambah dari tahun ke tahun. Pada tahun 2024 sendiri, Kemendikbudristek mengumumkan bahwa jumlah peserta yang terpilih untuk mengikuti MSIB angkatan ke-6 sudah mencapai 47.984 mahasiswa.
Dinamika tren magang dan organisasi dengan berbagai plus-minusnya ini tidak surut dari pembahasan para mahasiswa. Bahkan, sejak perkuliahan belum dimulai, salah satu mahasiswa baru di Universitas Indonesia yang kami temui mulai menyusun rancangan kegiatan nonakademiknya.
Organisasi dan Magang dalam Ruang Pandang Maba
Menyandang julukan “Kampus Perjuangan”, mahasiswa baru di kampus ini pun sudah sejak awal memetakan alur perjuangan di masa perkuliahannya, salah satunya Dzulfiqar. Mahasiswa baru UI angkatan 2024 dari jurusan Ilmu Ekonomi ini sudah merencanakan partisipasinya dalam organisasi dan kegiatan magang saat dirinya sudah berkuliah.
Dzulfiqar mengaku ingin bergabung dengan KanopIE atau himpunan jurusan Ilmu Ekonomi dan bermagang di perusahaan start-up.
“Karena start-up lebih bebas, apalagi kalau magangnya start-up itu ada dinamika naik turunnya. Kalau start-up lebih bisa discover teknologi di industri 4.0. Kalau di KanopIE itu menurut saya kita bisa saling bertukar pikiran, membangun networking yang luas, dan lebih erat juga sebagai keluarga ilmu ekonomi,” jelasnya.
Ia pun membagikan pandangannya mengenai rencana magang dan organisasi.
“For me, magang dan organisasi itu penting, tetapi itu bukan suatu keharusan,” ungkapnya.
“Kalau dari prinsipku sendiri, awalnya memang aku pengen lebih aktif ke organisasi, fokus mencari prestasi, ikut lomba-lomba. Di akhir semester, kalau sudah merasa lebih paham dan ingin lebih terjun ke dunia praktiknya, itupun bisa untuk langsung terjun ke magang. Magang itu nanti di tahun ketiga atau kedua,” sambung Dzulfiqar.
Menurutnya, semester awal dalam perkuliahan merupakan waktu efektif untuk mengikuti organisasi karena pelajaran yang didapatkan belum seberapa berat. Meskipun bukan sebuah keharusan, Dzulfiqar percaya bahwa mengikuti organisasi tetap direkomendasikan karena dapat memperluas jejaring pertemanan dan mengasah keterampilan memimpin.
“Aku juga berharap bisa bertemu dan bekerja sama dengan individu yang memiliki minat yang sama, dan mengembangkan jaringan yang berkaitan dengan karier ke depannya,” tuturnya.
Rencana kegiatan nonakademik yang dibuat Dzulfiqar ataupun mahasiswa baru lainnya merupakan salah satu bentuk ancang-ancang menghadapi masa depan. Bagaimanapun, rencana yang mapan bukan berarti bebas dari tantangan ketika dijalankan. Berbagai tantangan dapat dijumpai oleh mereka yang melangsungkan magang maupun organisasi di masa perkuliahan.
Mana yang Lebih Relevan bagi Persiapan Masa Depan?
Untuk memaksimalkan kesempatan di masa perkuliahan, pertanyaan seperti ‘lebih baik organisasi atau magang?’ menjadi bagian dari hal yang dipertimbangkan mahasiswa. Dalam proses pilih-memilih ini tidak sedikit bias yang timbul. Sebagai contoh, sejak hadirnya program Kampus Merdeka, aktivitas magang kini lebih banyak menerima sorotan sebagai bentuk persiapan karier mahasiswa dibandingkan berorganisasi.
Padahal, lain dengan organisasi yang mengasah soft skill, Della sendiri beranggapan bahwa magang lebih berfokus pada peningkatan hard skill.
"Dari hasil yang didapat, menurut saya untuk magang kita akan mendapatkan skill yang berkaitan dengan jurusan dan di mana posisi kita magang, sedangkan untuk organisasi, kita lebih ke (pengembangan) soft skill, tapi keduanya pasti berkesinambungan," ujar Della.
Selama menjadi mahasiswa tahun kedua di Teknik Elektro UI, Della memang hanya aktif dalam kegiatan organisasi. Meski begitu, organisasi yang ia kelola tidak bisa terbilang sedikit.
Della mengemban jabatan yang penting dalam ketiga organisasi. Mulai dari Wakil Kepala Bidang II Kesekretariatan di himpunan mahasiswa jurusannya, Managerial Chief Financial Officer di Tim KRAI (Kontes Robot Abu Indonesia) Tim Robotika UI, hingga Sekretaris Board of Directors di IEEE Student Branch Universitas Indonesia (SBUI).
Meski tidak mudah dalam menjalani beberapa peran secara bersamaan, ia merasa dapat memperoleh keterampilan yang berguna bagi kariernya dengan berorganisasi. Mulai dari keterampilan kerja sama dengan tim, kepemimpinan, hingga kemampuan berkomunikasi.
Menurutnya, pengembangan keterampilan dari organisasi ini mampu membantunya agar lebih mudah beradaptasi dalam meniti karier ke depannya.
Ada pula tanggapan lain yang tidak jauh berbeda dari Euna, mahasiswa tahun kedua Fakultas Hukum UI. Ia yakin bahwa baik aktivitas magang maupun organisasi, keduanya sama-sama mengasah kemampuan bertanggung jawab, bekerja sama, dan berpikir kritis. Hal ini pula yang menjadi alasannya untuk tidak menutup diri dari kesempatan untuk bergabung kepanitiaan atau organisasi.
“Selama menurut aku kegiatan itu terlihat potensial untuk pengembangan diriku, aku akan coba ikut,” tuturnya.
Namun, sebagai mahasiswa yang tengah menempuh magang, Euna melihat bahwa kegiatan magang memberi keuntungan lebih besar baginya yang berorientasi pada karier masa depan.
Lain halnya dengan magang, kepanitiaan atau organisasi memang lebih bersifat sukarela. Euna pun merasa cakupan skill yang diasah dalam kegiatan tersebut tidak akan sejauh yang ia alami ketika bermagang.
“Menurut aku, pada akhirnya bisa dibilang akan jauh lebih beneficial magang kalau misalnya kita membahas soal future career. Karena kalau magang itu pertama dia (menawarkan) pengalaman kerja. Di situ kita belajar untuk bekerja secara profesional di bawah tanggung jawab atasan kita, dan penilaian kinerja kita bagus atau enggak itu punya signifikansi yang sangat besar,” sambung Euna.
Apakah dapat dikatakan bahwa tren magang telah menggeser minat mahasiswa untuk berorganisasi?
Menanggapi hal tersebut, Della menilai bahwa magang dan organisasi sebenarnya memiliki benefit yang berbeda.
“Pasti ada juga yang menganggap organisasi jadi kurang menarik karena mungkin mereka menganggap kalau magang lebih berpeluang dan seperti langsung terjadi di dunia kerja. Namun, dari perspektif saya, antara magang dan organisasi sebenarnya beda benefit yang didapatkan,” jawabnya.
Ia pun melanjutkan bahwa jika mahasiswa mengikuti kedua aktivitas tersebut, keuntungan yang didapatkan pun akan bertambah, “Jadi, kalau saya sendiri lebih ke keduanya adalah hal yang beda. Namun, harusnya mahasiswa juga bisa mempertimbangkan untuk mengikuti keduanya.”
Situasi tersebutlah yang dijalani Qisthan, mahasiswa Ilmu Ekonomi angkatan 2021 yang aktif menjalani magang dan organisasi bersamaan. Dari apa yang ia amati, Qisthan mengakui fenomena magang yang menggeser organisasi benar adanya.
Menurutnya, minat berorganisasi di masa depan akan menurun jika saat ini sistem organisasi sulit untuk beradaptasi dengan kultur belajar praktik yang diinginkan oleh mahasiswa.
“Kalau magang kan, mereka dapat pengalaman belajar yang lebih. Jadi wajar aja kalau mereka lebih pilih perusahaan. Pasti bakal nurunin minat ke organisasi sih, karena beberapa menganggap learning yang ditawarkan dalam jangka waktu yang sama itu lebih dikit kalau kita masuk ke sistem organisasi mahasiswa,” jelasnya.
Qisthan menambahkan pengecualian bagi mereka yang bergabung organisasi memang dengan inisiatif untuk mengeksplorasi banyak hal.
“Misalkan dia inisiatif bangkitin program-program kerja zaman dulu, itu ya, nanti manfaat yang didapat jadi lebih banyak juga. Sayangnya, proporsi orang-orang seperti itu menurut gua enggak banyak. Menurut gua, orang-orang cenderung ngikutin sistem,” ucapnya menyayangkan.
Di samping itu, profit kerap kali jadi faktor pertimbangan dalam memilih magang ketimbang organisasi. Padahal, menurutnya nilai sosial dari berorganisasi atau bentuk aktualisasi diri lainnya juga perlu lebih ditonjolkan ke publik.
Qisthan merasa bahwa persepsi publik terlalu berorientasi pada profit semata, “Sedangkan dari literatur yang gua baca, di beberapa universitas yang emang top di luar (negeri), kegiatan mahasiswanya beragam. Aktivitas-aktivitas aktualisasi diri yang mungkin dianggap orang-orang sebagai wadah yang receh itu sebenarnya bisa berdampak buat hidup di masa depan,” tuturnya dengan yakin.
Dengan aktualisasi diri melalui organisasi, tugas mahasiswa terasa lebih ringan dan ini baik bagi kesehatan mental mereka. Sayangnya, beban kerja dalam organisasi mahasiswa di Indonesia dapat dikatakan masih terlalu banyak sehingga mahasiswa malas untuk berkontribusi di dalamnya.
“Saran juga dari gua untuk organisasi mahasiswa, tolong birokrasinya dikurangin kalau pengen mahasiswanya banyak yang mau ikutan. Kasih mahasiswanya ruang aktualisasi diri yang lebih. Berikan kesempatan berkarya buat anggotanya, sama kurangin workload-nya. Rapat-rapat enggak penting dikurangi aja lah, biar masih ada work-life balance,” tandasnya.
Realita Simulasi Kerja di Tengah Padatnya Aktivitas Mahasiswa
Ketika mendaftar magang di Alternativa, Euna memang berangkat dari motivasi untuk menambah pengalaman. “Kayak lumayan banget kan, ya. Kalau misalnya kita sudah aktif (magang), secara enggak langsung bisa dibilang punya pengalaman kerja,” tutur mahasiswa Fakultas Hukum UI 2022 ini.
Selama magang di sana, ia mengaku sudah mencoba tiga program yang berbeda karena merasa nyaman dengan lingkungan kerjanya. Tujuan sosial yang ia emban sebagai mentor persiapan masuk kampus juga membuatnya tertarik untuk terus mencoba ketiga program di tempat magangnya ini.
Dalam masa magang, Euna pun tidak dapat terhindar dari tantangan pengalokasian waktu hingga pengecekan kesesuaian tugas yang ia kerjakan. Ia mesti memastikan bahwa setiap pekerjaannya sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh penyelenggara magang.
Kadang kala, beberapa persyaratan yang mesti dipenuhi tersebut akan menguras waktu dan otaknya. Apabila hasil pekerjaannya belum sesuai dengan yang diharapkan, ia wajib merevisinya dengan upaya yang lebih besar untuk menyelesaikan tugasnya
“Namanya kan, kita magang, artinya kayak kita punya standar yang harus dipenuhi gitu kan, dari penyelenggaranya. Ketika udah kita kerjakan pun belum tentu itu sesuai dengan apa yang diminta. Sehingga ya, kadang kita harus mengerjakannya ulang atau melakukan effort yang lebih besar sih, dalam menyelesaikan tugas yang ada itu. Makanya, itu jadi tantangan terbesar menurut aku,” terangnya.
Selain memahami kapasitasnya sebagai seorang mahasiswa, di tengah aktivitas magang dan perkuliahan ini juga ia mesti mengorbankan waktu untuk dirinya sendiri. Mulai dari waktu tidur hingga jalan-jalan. Euna sendiri mengisi waktu luangnya untuk menyelesaikan karya lomba ataupun tugas kuliahnya.
“Kalau akademik itu kan, prioritas ya. Dalam momen-momen tertentu ada deadline juga dari (kegiatan) yang lain, jadi sering kali overwhelmed ketika mengerjakan hal-hal tersebut. Takut akademiknya enggak maksimal dan lain sebagainya,” lanjutnya.
Kendatipun demikian, ia setuju bahwa magang merupakan satu dari sekian banyak kegiatan tambahan di masa perkuliahan yang ia rekomendasikan.
“Nilai bagus itu harus diupayakan, tapi lebih dari itu kuliah adalah pintu menuju banyaknya kesempatan, termasuk kesempatan magang. Kalau misalnya kamu udah enggak kuliah, pintu-pintu ini pada akhirnya akan tertutup dan sayang banget kalau kamu enggak ambil itu sebagai mahasiswa,” ujar Euna.
Berbicara soal magang, Euna juga menyoroti adanya pro dan kontra dalam program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB). Dipandang dari sisi yang pro, salah satu program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) ini dapat membantu mahasiswa memenuhi persyaratan dunia kerja yang membutuhkan pengalaman minimal sekian tahun. Dengan adanya MSIB, mahasiswa dapat meningkatkan peluang mereka memperoleh pekerjaan setelah lulus.
“Menurut aku, kalau pro-nya ya, at the end of the day, ini adalah sesuatu yang hadir karena perkembangan zaman itu sendiri,” ujarnya.
Euna lanjut berpendapat bahwa program MSIB sejatinya hadir karena tuntutan dari dunia kerja juga. “Bahkan, sebelum adanya program-program magang ini, banyak banget persyaratan kerja yang mengharuskan pengalaman kerja minimal dua tahun. Kalau syarat-syarat itu tidak disokong pemerintah supaya bisa dipenuhi oleh mahasiswa, ya akan susah untuk mahasiswa dapat kerja,”
Di sisi lain, pandangan kontra darinya terhadap program magang hadir karena fokus perhatian mahasiswa pada pembelajaran akademis yang teoretis kian berkurang. “Kita belajar sih, untuk penerapannya kayak gimana, tapi pada akhirnya (praktik) itu tidak boleh mengesampingkan ilmu pengetahuannya itu sendiri,” tutur Euna.
Tidak hanya itu, tekanan sosial untuk berpartisipasi dalam magang juga dapat menurunkan kepedulian mahasiswa terhadap kegiatan sosial sebab orientasi mereka cenderung terpacu pada karier.
“Misalnya, kalau gue enggak daftar, nanti gue fomo. Kalau gue enggak daftar, gue enggak punya pengalaman kerja, sementara orang-orang yang daftar mereka punya. Akhirnya, dia yang kepikiran untuk (ikut) kegiatan sosial beralih karena merasa fomo dan tertekan sama teman-teman lainnya,” jelas Euna memberi contoh.
Organisasi atau Magang? Keduanya juga Bisa!
Keputusan itulah yang dijalani oleh Qisthan, mahasiswa Ilmu Ekonomi UI angkatan 2021 ini. Alih-alih memilih salah satu, ia menjalani magang dan organisasi secara bersamaan. Tak berhenti di situ, ia pun mengikuti dua kegiatan lain, yaitu kepanitiaan dan program pelatihan. Alhasil, keseharian Qisthan saat ini diisi oleh setidaknya empat jenis kegiatan nonakademik yang berbeda.
Dari menjadi Co-Founder sekaligus Vice Chairman di Green Economy Youth Organization (GEYO) hingga magang di Kedutaan Besar Amerika Serikat, semua itu Qisthan lakukan dalam waktu yang sama lantaran ia tak ingin menyia-nyiakan setiap kesempatan yang datang kepadanya.
“Kalau ada kesempatan bagus dan gua merasa kapabilitas gua bisa, gua cenderung untuk ngambil (red–kesempatan itu). Biasanya mau gua gabut, mau gua sibuk, ujung-ujungnya tuh, suka ada enggak stabilnya. Jadi, setelah gua pikir-pikir, sekalian ajalah gua sibukin,” jawab Qisthan saat ditanya mengenai salah satu alasan ia memilih untuk menyibukkan diri dengan kegiatan nonakademiknya.
Dari sudut pandangnya, kegiatan organisasi dan magang adalah hal yang penting bagi pengembangan karier mahasiswa bagi masa depan karena materi-materi yang diajarkan di kelas terkadang masih cenderung teoretis atau kurang aplikatif.
Misalnya saja, ia belajar mengenai indeks Economy, Sustainability, and Governance (ESG) dan sustainability report setelah menjadi bagian dari organisasi GEYO. Sementara itu, di jurusan Ilmu Ekonomi topik tersebut tidak begitu banyak dibahas. Padahal, menurutnya bidang ilmu terkait sustainability adalah salah satu hal yang penting di masa sekarang.
Dengan mendirikan GEYO, ia pun dapat menciptakan fleksibilitas dalam sistem berorganisasi dan menyalurkan ide kebaruan lainnya secara optimal. Tidak hanya itu, berkontribusi dalam organisasi tersebut mampu memperluas koneksi serta pemahamannya tentang birokrasi berbagai instansi. Ia pun merasa bahwa keterampilannya dalam mengambil keputusan dan berbicara di depan publik lebih terasah di sana.
Di saat yang sama, ketika menempuh masa magang di Kedutaan Besar Amerika Serikat, Qisthan juga mempelajari dokumen-dokumen perjanjian di ASEAN, melatih keterampilan mendengar dalam bahasa asing, dan mendapatkan pengalaman unik lainnya seperti berjumpa dengan para diplomat.
“Jadi, intinya (dengan ikut kegiatan nonakademik) bisa dapat ilmu yang lebih update dengan (perkembangan) zaman,”
Qisthan pun menyarankan agar tidak ragu untuk mengeksplorasi banyak hal, baik bagi mahasiswa yang belum maupun sudah mengetahui passion mereka apa.
“Menurut gua trial and error aja gapapa. Cuma ingat aja, setiap kesibukan yang diambil itu ngurangin waktu kita untuk hal lain. Jadi, kalaupun nanti lu sedih ngambil keputusan itu, ya sebagai orang yang udah dewasa, terima aja risikonya,” pungkasnya.
Baik Magang atau Organisasi, Manajemen Waktu dan Energi adalah Kunci
Tuntutan keterjaminan karier di masa depan membuat magang dan organisasi terasa penting untuk diikuti mahasiswa. Namun, pada titik tertentu, sesuatu yang berlebihan justru mendatangkan dampak negatif. Contohnya dapat Qisthan temukan dari beberapa orang yang ia kenal.
“Gua sendiri ngeliat beberapa orang yang gua rasa sampai ninggalin akademiknya, sampai matil (red–main tinggal) dan enggak bertanggung jawab. Kalau enggak amanah, bakal backfire ke citranya yang jadi buruk,” tutur Qisthan.
Dengan berbagai peran yang ia emban, paling tidak sebulan sekali Qisthan mendapati pekerjaannya dari bermacam kegiatan itu datang di saat yang sama. Sadar bahwa tidak mungkin mengerjakan semuanya satu waktu sekaligus, ia pun menyiasatinya dengan penentuan prioritas.
“Biasanya gua kerjain yang gua prioritasin dulu, gua kelarin dengan cepat. Kalau misalkan enggak bisa gua kelarin full, gua kelarin sekian persen, habis itu gua tunda dulu, atau enggak gua minta tolong orang lain,” terang Qisthan.
Hal yang sama pun berlaku pada Della yang memilih organisasi saja sebagai aktivitas nonakademiknya. Memangku tanggung jawab di tiga organisasi yang berbeda, tantangan terbesar yang harus ia hadapi adalah manajemen waktu dan skala prioritas.
"Jika tidak ditanggulangi dengan baik, salah satu antara akademik dan organisasi ada yang harus dikorbankan. Untuk mengatasinya, saya lebih mengatur skala prioritas saya di ketiga organisasi tersebut,” sambung Della.
Ia pun membuat jadwal kerja untuk memantau pekerjaan atau proyek dari organisasi mana yang paling penting agar dapat dikerjakan terlebih dahulu. Usai menyelesaikan tugasnya, ia rutin membuat ulang skala prioritas sebagai panduan apa saja yang mesti ia kerjakan ke depannya.
Teknik pembagian skala prioritas ini turut diterapkan oleh Euna, mahasiswa yang tengah menempuh magang. Ia mengaku bahwa secara akademik cukup berat, terutama perihal alokasi waktu dan energi antara magang sekaligus perkuliahan di semester 4. Oleh karena itu, ia berusaha selektif dalam memilih kegiatan apa saja yang mungkin untuk diikuti dan lebih memperhatikan jadwal dengan ketat.
“Materinya sulit, tugasnya banyak, waktunya terbatas. Karena aku punya kegiatan-kegiatan lain di samping magang dan perkuliahan itu sendiri, jadi bagi waktunya agak berat untuk tetap ngejalanin tugas,” jelas Euna.
Selama menjalani magang, menurutnya menyeimbangkan waktu dengan aktivitas akademisnya adalah hal yang muskil untuk dilakukan. Untuk mengantisipasi jadwal yang bertabrakan, Euna berupaya agar kegiatan yang ia ikuti, seberapa pun banyaknya, tetap berada dalam kapasitasnya.
“Kalau waktuku sudah enggak ada (untuk kegiatan lain), kesehatan mungkin sudah tidak terjamin,” tuturnya, “jadi aku selalu memperhatikan jadwalku dengan strict (dan meninjau kembali) apakah possible untuk ikut nambah suatu kegiatan dalam timeline tersebut.”
Dinamika Magang dan Organisasi dari Kacamata Psikologi
Fenomena magang mendapatkan atensi besar dari mahasiswa karena berbagai alasan. Menurut Kristi Poerwandari sebagai Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, saat ini sebagaimana harapan Ditjen Dikti dengan program Kampus Merdeka-nya, mahasiswa khususnya di UI boleh dikatakan sangat kompetitif. Mereka seakan berlomba-lomba untuk memenuhi program tersebut.
Rasa bosan akan rutinitas menerima materi di kelas juga boleh jadi memperbesar minat mahasiswa untuk bermagang.
“Kalau magang kan, bertemu banyak orang. Ada pengalaman baru, belajar langsung dari lapangan. Belum lagi, magang juga mungkin di banyak tempat itu mahasiswa dapat uang saku kan,” tutur Kristi.
Lain halnya dengan berkuliah, lewat berorganisasi, mahasiswa dapat belajar untuk menekuni minat spesifik mereka yang tidak bisa disediakan oleh kurikulum formal. Dari sana, mereka dapat belajar bagaimana cara beradaptasi ketika mesti menjumpai orang baru dan mengelola kelompok. Kristi pun menerangkan bahwa mahasiswa yang bergabung dengan organisasi kemungkinan memiliki minat sosial yang lebih.
“Kalau kita berorganisasi kan, berarti kita punya minat untuk bekerja sama dengan orang lain, bikin aktivitas kelompok untuk tujuan kolektif, bukan tujuan pribadi,” ujarnya.
Secara umum, Kristi menilai bahwa aktivitas di luar perkuliahan banyak memberikan dampak positif bagi pengembangan diri mahasiswa. Namun, dalam kasus-kasus khusus aktivitas ini juga dapat berpengaruh secara negatif. Sebagai contoh, mahasiswa akan merasa kewalahan berkuliah jika ia tidak dapat mengelola waktunya dengan baik dalam berorganisasi. Problem lainnya datang ketika mahasiswa mesti bertemu dengan seseorang yang bermasalah dengannya di tempat magang atau berorganisasi.
“Secara umum, efeknya (dari magang dan organisasi) itu positif. Dia kan, jadinya merasa berharga, merasa punya teman. Menjadi berdampak negatif jika mereka kurang mengukur kemampuan, ketika mereka enggak lagi realistis, ketika mereka justru menomorduakan kuliahnya,” jelas Kristi.
Selain mengetahui motivasi di balik keputusan yang diambil, Kristi pun mengingatkan pentingnya bagi mahasiswa untuk memahami kapasitas yang dimiliki masing-masing. Beberapa mahasiswa boleh jadi memang pandai dalam manajemen waktu dan stres, tetapi perlu diperhatikan juga bahwa kelas-kelas perkuliahan saja sudah cukup menyita waktu dan perhatian mereka.
Menurutnya, mengambil kuliah 24 SKS, magang, dan organisasi dalam satu semester yang sama sebenarnya sudah kurang baik bagi keberlangsungan perkuliahan mahasiswa. Ditambah lagi jika mereka kesulitan untuk mengatur waktu hingga jadwal kuliahnya bertabrakan dengan organisasi.
Meskipun banyak buah manis yang dapat dirasakan dari mengikuti magang dan organisasi, mahasiswa juga perlu memperhatikan risiko overdosis dari kadar konsumsinya. Penting juga bagi mahasiswa untuk menyadari kapan ia sudah melewati batas kemampuan tubuhnya dalam menjalani aktivitas sehari-hari agar tidak berdampak buruk pada kondisi psikologis dan fisiknya.
“Kalau dia (mahasiswa) sudah merasa overthinking, kebingungan, atau tanda-tanda sulit tidur, enggak bisa konsentrasi karena tegang, apalagi kalo konflik dengan teman atau pasangan karena berbagai hal, nilainya menurun, itu sudah menjadi gejala psikologis yang perlu disadari,” ujar Kristi.
Lebih lanjut, ia mengonfirmasi bahwa stres psikologis dapat termanifestasi dalam kondisi fisik. Apabila pusing, mual, atau diare terjadi secara berulang, mahasiswa perlu waspada sebab aspek fisik dan interpersonal dapat terganggu akibat stres psikologis tersebut. Walaupun begitu, melakukan diagnosis secara mandiri tidak dianjurkan. Mahasiswa tetap perlu mengonsultasikan lebih lanjut permasalahan yang dihadapi dengan ahlinya.
Bagi mahasiswa yang sudah kepalang mengambil banyak kesibukan sekaligus, ia menyarankan agar ingat prioritas utama mereka, termasuk pendidikan dan kesehatan mental. Dengan memilih prioritas tertentu, secara otomatis tentu ada kompromi.
Mahasiswa mesti mulai jujur kepada diri sendiri dan diskusi dengan teman organisasi mengenai kesanggupan waktu ataupun tenaga yang dimiliki. Begitu pula dengan magang. Jika diperlukan, mahasiswa dapat membicarakannya dengan pihak yang dianggap mengerti.
“Seperti yang saya bilang, secara umum implikasi dari berorganisasi ataupun magang itu positif. Hanya saja, mahasiswa perlu mengukur kemampuan diri. Jadi, saya merekomendasikan mahasiswa untuk aktif di organisasi atau magang, asal diupayakan agar mahasiswa itu realistis, paham kapasitas diri, dan paham untuk mengambil keputusan setelah mempertimbangkan secara menyeluruh,” saran Kristi terkait organisasi dan magang bagi mahasiswa.
“Hal yang lain, be yourself. Jangan merasa perlu ikut organisasi atau magang sekadar untuk gaya-gayaan atau (mendapatkan) penerimaan orang lain. Pilihlah yang memang kita minati dan tetap memprioritaskan kesehatan mental kita,” sambungnya.
Saran serupa diberikan oleh Della sebagai mahasiswa yang sedang mengikuti organisasi. “Kembali difilter organisasinya itu beneran sesuai minat kita atau beneran berfungsi kah untuk kita? Jangan sampai kita ikut organisasi karena cari sibuknya saja dan tidak mendapat benefit apapun. Kalaupun hanya satu organisasi, itu sangat tidak apa-apa. Jangan hanya fomo ikut banyak organisasi karena itu akan merugikan diri sendiri, terutama dalam hal akademis,” ujar Della.
Untuk menutup tanggapannya, Kristi menyampaikan satu kesimpulan, “Bukan magang atau organisasinya yang menentukan (red–mentalitas seseorang), tapi motivasi memilih kegiatannya itu sebenarnya menggambarkan juga orientasi, prioritas, dan nilai-nilai hidup si mahasiswa.”
Teks: Ghozi Akhsan Fatahillah, Riska Pramita Tambunan
Ilustrasi: Ferre Reza Putri
Editor: Siti Aura
Referensi