Logo Suma

Mahasiswa UI Desak Hukuman Berat bagi Aparat Pelaku Kekerasan

Redaksi Suara Mahasiswa · 28 Februari 2026
2 menit

Jumat (27/02), ratusan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) menggelar aksi unjuk rasa di depan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri), Jakarta. Aksi bertajuk #AparatKeparat tersebut menjadi respons kasus kekerasan aparat terhadap seorang anak berinisial AT yang dilaporkan meninggal dunia.

Sejak pukul 13.00 WIB, massa aksi telah berkumpul di Lapangan FISIP UI untuk melakukan koordinasi. Ketua BEM UI 2026, Athof, menyampaikan secara langsung urgensi aksi hari itu. Ia menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk akumulasi keresahan masyarakat atas berulangnya kasus kekerasan yang melibatkan aparat penegak hukum.

“Kalau dilihat dari tragedi-tragedi sebelumnya, rasanya hampir setiap tahun selalu ada kasus yang melibatkan kepolisian. Dari Kanjuruhan sampai kasus almarhum [AT] sekarang. Dan [kekerasan] itu rasanya seperti absen saja setiap tahun,” ujarnya.

Sebelum berangkat, peserta pun diingatkan untuk menjaga ketertiban, mengedepankan substansi tuntutan, dan menghindari provokasi. Massa UI mulai bergerak menuju titik aksi menggunakan armada kopaja sekitar pukul 14.00 WIB. Setibanya di lokasi, mereka langsung membentuk barisan dan melakukan longmars menuju gerbang utama Mabes Polri.

Sejumlah mahasiswa dari kampus lain pun turut bergabung, di antaranya massa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) dan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ).

Selama berlangsungnya orasi, aparat kepolisian beratribut keagamaan berjaga di titik aksi. Mereka menggunakan peci, sorban, dan kerudung putih. Beberapa massa menilai bahwa atribut keagamaan tidak sepantasnya menjadi tameng citra dalam merespons kritik publik.

Selain itu, muncul kelompok massa lain yang tidak teridentifikasi sebagai bagian dari aliansi mana pun. Berdasarkan pengamatan di lapangan, kelompok tersebut terdengar menyuarakan isu yang berbeda dari lima tuntutan utama massa UI.

Beberapa peserta aksi UI akhirnya mencoba berdialog untuk memastikan arah tuntutan. Namun, kelompok tersebut tidak memberikan keterangan yang jelas. Sejumlah jurnalis SUMA UI turut berupaya untuk mewawancarai mereka, tetapi hal tersebut juga mendapatkan penolakan.

Namun, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan di sebagian kalangan peserta . Di sisi lain, terdapat juga sejumlah warga sipil juga terlihat bergabung dan menyimak jalannya aksi dari tepi barisan.

Audiensi Ditolak, Aksi Ditutup dengan Pernyataan Sikap

Menjelang sore hari, perwakilan dari Mabes Polri sempat menemui massa aksi dan menawarkan ruang audiensi di dalam gedung. Namun, tawaran tersebut langsung ditolak oleh mahasiswa. “Kami mau Kapolri untuk keluar menghadap tuan dari Kapolri itu sendiri!” Tegas Athof.

Ia menegaskan bahwa pembicaraan harus dilakukan secara terbuka dan disaksikan oleh publik demi menjaga transparansi dan akuntabilitas. Bagi massa aksi, dialog tertutup di dalam gedung dinilai tidak sejalan dengan semangat keterbukaan yang mereka suarakan.

Perwakilan mahasiswa kemudian membacakan pernyataan sikapnya. Aspirasi yang diusungkan belum memperoleh respons yang memadai. Mereka menyampaikan kekecewaan sekaligus penegasan bahwa konsolidasi akan terus dilakukan apabila tuntutan tidak ditindaklanjuti.

Sebagai penutup, Aliansi BEM se-UI beserta perwakilan dari UPNVJ dan PNJ secara bergantian menyampaikan lima tuntutan utama, yaitu:

  1. Mendesak penjatuhan hukuman pidana yang seberat-beratnya kepada polisi yang terlibat dalam kematian AT serta aparat yang melakukan tindakan represif;
  2. Mendesak pencopotan Listyo Sigit Prabowo dari jabatan Kapolri dan Dadang Hartanto dari jabatan Kapolda Maluku Utara;
  3. Menuntut pembebasan seluruh tahanan politik yang dinilai mengalami kriminalisasi;
  4. Menuntut penegakan batasan kewenangan serta penarikan Polri dari jabatan sipil;
  5. Mendesak hasil konkret Reformasi Polri secara struktural, kultural, dan instrumental melalui komisi percepatan Reformasi Polri.

Teks: Syurohbiil Hafi Nawa, Zalfa Izzah Kamila

Editor: Alya Putri Granita

Foto: Alya Putri Granita

Desain: Raissa Salsabila Azalia

Pers Suara Mahasiswa UI 2026

Independen, Lugas, dan Berkualitas!