Logo Suma

Marlina: Ketangguhan Kaum Hawa Melawan Ketidakadilan

Redaksi Suara Mahasiswa · 10 April 2020
3 menit · - kali dibaca
Marlina: Ketangguhan Kaum Hawa Melawan Ketidakadilan

By Hani Nastiti

Judul: Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (Marlina the Murderer in Four Acts)
Sutradara: Mouly Surya
Produser: Rama Adi, Fauzan Zidni
Genre: Drama
Tahun rilis: 2017
Durasi: 93 menit
Pemain: Marsha Timothy, Dea Panendra, Yoga Pradana, Egi Fedly

Pada November 2017, telah rilis salah satu film terbaik karya anak bangsa. Mouly Surya membawa Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak menjadi pusat perhatian dunia perfilman Indonesia. Cerita wanita Sumba dikemas secara menarik oleh Mouly Surya sehingga menjadi tayangan yang artistik dan menggugah. Film ini berhasil memperoleh penghargaan sebagai Film Cerita Panjang terbaik pada Piala Maya 2017, Piala Citra 2018 dan Festival Film Indonesia (FFI) 2018. Film ini ditayangkan perdana di Festival Film Cannes 2017.

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak merupakan kisah tragis seorang janda yang ditinggal mati anak dan suaminya. Babak perampokan diawali dengan kedatangan Markus (Egi Fedly) sebagai awal kisah Marlina (Marsha Timothy). Markus mengancam akan merampas harta dan kehormatan Marlina secara bergilir sebagai bonus. Saat malam tiba, sebuah truk tiba untuk mengangkut semua hewan ternak. Tidak bisa menahan amarahnya, Marlina memberi racun pada santapan makan malam sehingga empat perampok tewas sekaligus. Markus tidak menyantap makanan itu, tetapi ia berhasil memperkosa Marlina. Di tengah kejadian itu, Marlina memenggal kepala Markus dengan golok.

Merasa tertindas, Marlina membawa kepala Markus ke kantor polisi untuk mendapatkan keadilan. Di perjalanan, Marlina masih harus berhadapan dengan Franz (Yoga Pratama) dan seorang perampok yang memaksa Marlina mengembalikan kepala Markus. Perjalanan Marlina dalam meraih keadilan belum berakhir, bahkan nyawanya masih terancam.

Babak pengakuan dosa, di mana Marlina melaporkan kejadian tragisnya kepada pihak kepolisian, mampu mewakili potret sikap lembaga berwenang dalam menangani kasus pemerkosaan sebagai tindak kejahatan yang harus segera dituntaskan. Segala prosedur yang harus dipenuhi sangat rumit dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Marlina pun kecewa atas tanggapan pihak kepolisian terkait kasus pemerkosaan yang dialaminya. Sepulangnya, tak disangka, Marlina mengalami kembali pemerkosaan yang dilakukan oleh Franz.

Selain Marlina, pemeran pendukung, yakni Novi—teman Marlina yang tengah hamil 10 bulan—juga mengalami penindasan. Suami Novi kerap kali menuduhnya berselingkuh yang menyebabkannya tidak juga melahirkan anak. Alasan inilah, membuat Suami Novi naik pitam hingga melakukan kekerasan kepada Novi. Franz membuat Novi terlihat berselingkuh sungguhan hingga menyanderanya. Amarah Novi membuatnya memenggal Franz yang tengah memerkosa Marlina. Babak terakhir film ini menggambarkan kelahiran anak Novi sekaligus “kelahiran kembali” dari kehidupan Marlina.

Marsha Timothy mampu memainkan peran Marlina dengan sangat ekspresif. Segala keresahan, kemarahan, dan kesedihan Marlina turut merangsang emosi penonton. Kualitas beraktingnya tersebut membuatnya meraih penghargaan sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik pada Piala Citra 2018, Indonesian Movie Actors Award 2018, dan Piala Maya 2017. Selain itu, Dea Panendra sebagai Novi juga meraih penghargaan sebagai Pemeran Pendukung Wanita Terbaik pada penghargaan Piala Citra 2018 dan Indonesian Movie Actors Award 2018.

Iringan musik yang dramatis sangat mendukung suasana mencekam pada setiap adegan penting dalam film ini. Bayangan Markus tanpa kepala beserta petikan dawai yang menyertainya mampu membuat penonton bergidik ngeri. Terlebih lagi, Marlina membawa kepala Markus sepanjang perjalanannya ditemani alunan dawai Markus yang seakan-akan “membuntuti” langkah Marlina. Syair yang dilantunkan beberapa tokoh dalam film ini seolah-olah membuat para pemainnya seperti masyarakat lokal Sumba. Untuk itu, Zeke Khaseli dan Yudhi Arfani meraih penghargaan Piala Maya 2017 untuk Tata Musik Terpilih.

Setiap potongan gambar pada film ini menjadi petunjuk babak kisah Marlina. Meskipun dialog yang dilontarkan cukup irit, pesan dalam film ini tetap tersampaikan. Selain itu, pendalaman karakter terasa melalui dialog berlogat Sumba yang kental. Pencapaian ini didukung oleh pelatihan mengenai pengetahuan bahasa dan kebudayaan Sumba selama tiga bulan.

Kualitas pengambilan gambar yang begitu apik mampu menyuguhkan keindahan Pulau Sumba. Angle pada setiap scene sangat menggugah dan mampu mewakili setiap pesan yang disampaikan. Tidak heran jika Yunus Pasolang memperoleh Penghargaan Piala Maya 2017 untuk Tata Kamera Terpilih. Selain itu, penyajian yang artistik dan dramatis turut mengantarkan Frans XR Paat memperoleh penghargaan Piala Maya 2017 untuk Tata Artistik Terpilih.

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak menunjukkan bahwa sering kali kaum pria merasa lebih berkuasa sehingga tidak ada keraguan untuk menyudutkan wanita. Di samping ketidakadilan yang dialami Marlina dan perlakuan tidak wajar pada Novi, peristiwa tersebut menunjukkan adanya ketangguhan kaum wanita melawan ketidakadilan ini. Walaupun dihadapkan dengan berbagai tragedi, mereka mampu bertahan di segala situasi. Pengambilan konflik yang berelasi dengan kehidupan nyata dan banyaknya penghargaan yang diperoleh turut menjadikan film karya sineas Indonesia ini sebagai karya yang wajib ditonton. Sudahkah kamu menonton film ini?

Teks: Hani Nastiti
Foto: Istimewa
Editor: Ruth Margaretha M.

Pers Suara Mahasiswa UI 2020
Independen, Lugas, dan Berkualitas!

Tim Penggarap