Logo Suma

Melihat Dunia dari Sudut Pandang ODGJ

Redaksi Suara Mahasiswa · 9 April 2021
3 menit

Judul: One Flew Over the Cuckoo’s Nest
Sutradara: Milos Forman
Produser: Michael Douglas dan Saul Zaentz
Genre: Drama komedi
Tanggal rilis: 19 November 1975 (AS)
Durasi: 133 menit
Pemain: Jack Nicholson, Louise Fletcher, Will Sampson, William Redfield, Brad Dourif, Sydney Lassick, Christopher Lloyd, Danny DeVito, dll.

"When you lose your laugh, you lose your footing"

Saat film dimulai, Randle P. McMurphy, karakter utama film ini, diserahkan ke sebuah rumah sakit jiwa oleh penjara. Ia yang dulunya adalah seorang tahanan penjara dinilai memiliki gangguan mental karena emosinya yang tidak dapat dikontrol. Pada awal kedatangannya, ia terlihat seperti orang normal. Namun, ketika borgol dilepas oleh polisi, ia mulai menunjukkan emosi yang tidak normal, entah sungguhan atau buatan. Memang, jika dilihat secara menyeluruh, karakter Murphy pada film ini sepertinya tidak benar-benar “gila”, tetapi hanya berpura-pura. Tujuannya melakukan hal itu tidak dijelaskan secara eksplisit pada film ini, tetapi penonton dapat menyimpulkan sendiri bahwa ia menginginkan kebebasan dan terlepas dari rutinitas membosankan di penjara. Melalui adegan ini, Jack Nicholson mampu membawakan karakter Murphy dengan sangat baik melalui emosi-emosi tak terduga yang dikeluarkannya.

Saat berada di rumah sakit, tampaknya kebebasan yang diinginkannya tidak sesuai ekspektasi. Oleh karena itu, ia mencoba kabur dan membuat terobosan-terobosan yang kemudian dapat dikatakan sebagai “revolusi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ)”. Ya, hadirnya Murphy menjadikan adanya revolusi atau perubahan-perubahan mendasar di rumah sakit. Tak ayal, kehadiran Murphy tampaknya lebih menyembuhkan daripada rumah sakit itu sendiri. Ia menentang dominasi perawat Ratched karena peraturan-peraturan yang dibuatnya lebih mengekang daripada penjara. Perawat Ratched yang diperankan oleh Louise Fletcher dalam film ini terlihat menyalurkan perasaan, tetapi di saat yang bersamaan juga dapat memberikan sensasi intimidasi kepada para pasiennya.

Saat ingin mencoba kabur, Murphy terlalu mabuk dan membuat rencana kaburnya gagal total. Ia dibawa ke ruangan berbeda setelah itu. Pada malam hari, Murphy dikembalikan ke bangsalnya dan Chief (Will Sampson), teman dekatnya, mengajak Murphy berbicara. Murphy menatap Chief dengan datar dan tanpa emosi. Chief yang menyadari adanya jahitan pada dahi Murphy kemudian paham tentang apa yang terjadi pada Murphy selama perawat itu membawanya. Chief akhirnya membunuh Murphy dengan bantal karena ia tahu, Murphy tidak akan bisa menjadi teman yang dikenalnya lagi karena luka di dahinya tersebut. Pada akhirnya, film membawa kita pada kutipan awal, “When you lose your laugh, you lose your footing” 'Ketika kamu kehilangan tawamu, kamu kehilangan pijakanmu'. Menurut Chief, Murphy yang kehilangan tawanya sudah kehilangan pijakannya untuk hidup.

Dalam hal ini, Chief benar-benar melihat dunia dari pandangannya sebagai ODGJ dengan membunuh Murphy. Ia hanya melakukan apa yang ia yakini. Setelah itu, Chief kabur dari rumah sakit dan pasien lainnya bersorak untuk Chief. Film selesai tanpa ada keterangan lebih lanjut mengenai Chief yang pergi begitu saja, tentang pasien lainnya yang akan kabur, atau keberlanjutan dominasi Ratched di rumah sakit itu. Semuanya berakhir dengan kurang jelas yang membuat film ini memiliki nilai minus karena tidak dapat mempertahankan konsistensi kedetailan filmnya.

Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama yang dirilis pada 1962. Pada dasarnya, film ini berfokus pada Murphy yang seolah memberi dunia baru kepada mereka yang memiliki dunianya sendiri. Film ini sudah seharusnya dibuat dengan detail karena memang mengambil sudut pandang ODGJ sehingga perubahan emosi dan tingkah laku harus ditonjolkan dengan baik. Bahkan, pemeran figuran film ini saja sangat mendalami perannya karena mereka memang ODGJ sungguhan.  

Konsep film yang membahas rutinitas pasien di rumah sakit jiwa dengan peraturan yang tidak manusiawi membuat film ini memiliki konsep yang benar-benar baru di dunia perfilman. Lewat film ini, Milos Forman seolah mengatakan rutinitas rumah sakit jiwa hanya menyuburkan penyakit mereka karena memang tak bisa dipungkiri, berada di rumah sakit malah menambah beban mental bagi pasien. Pesan moral yang tersampaikan, ditambah aktor dan aktris yang berbakat, membuat film ini pantas meraih Big Five Categories, yaitu penghargaan yang diberikan ketika suatu film memenangkan lima nominasi inti. Nominasi yang dimenangkan oleh film ini adalah best pictures, best actor, best actrees, best screenplay, dan best director.  

Banyaknya penghargaan yang diraih tidak membuat film ini sempurna seutuhnya. Karakter Murphy dirasa hanya memberi gebrakan melalui tingkah laku tidak terduganya di awal sampai pertengahan film saja. Pada akhir film ini, dapat dikatakan gebrakannya bisa diprediksi. Namun, secara keseluruhan film ini dapat menyalurkan apa yang dirasakan oleh para pasien rumah sakit jiwa kepada penonton sebagai real-life horror. Hal inilah yang membuat One Flew Over the Cuckoo's Nest lebih dari sekadar drama komedi, yakni sebagai refleksi dari perubahan pemikiran dan adat istiadat. Setelah menontonnya, Milos Forman dapat membuatmu paham mengapa ODGJ memiliki sudut pandangnya sendiri dalam melihat dunia.

Teks: Alifya Awalia Dhiva
Foto: Istimewa
Editor: Ruth Margaretha M.

Pers Suara Mahasiswa UI 2021
Independen, Lugas, dan Berkualitas!