Logo Suma

Resensi: Melihat Masakan dan Kesenjangan Melalui Film Hunger

Redaksi Suara Mahasiswa · 18 Juni 2023
3 menit · - kali dibaca
Resensi: Melihat Masakan dan Kesenjangan Melalui Film Hunger

Judul Film : Hunger

Sutradara : Sitisiri Mongkolsiri

Produser : Netflix

Genre film : Drama

Tanggal rilis : 8 April 2023

Durasi : 2 jam 10 menit

Pemain : Nopachai Chaiyanam (Chef Paul); Chutimon Chuengcharoensukying (Aoy); Gunn Svasti Na Ayudhya (Tone)

Salah seorang chef memberi peringatan kepada beberapa chef yang lain, “Waktu tinggal 5 menit.” Jarum pada jam dinding terus berputar. Para juru masak yang berpenampilan professional itu pun bergerak lebih cekatan, tapi masih terlihat tenang. Setelah waktu berakhir, seorang pria berambut gondrong muncul dari salah satu pintu. Ia pun melangkah dengan badan tegap. Sorot matanya yang tajam mengarah ke masakan fine-dining yang tersaji di atas meja.

Sosok itu bernama Chef Paul (Nopachai Chaiyanam), orang yang dikenal sebagai dewa masakan mewah karena kepiawaiannya dalam mengolah makanan, tetapi dikenal kejam oleh bawahannya. Ia lah yang mengomandoi restoran Hunger. Restoran itu dipandang sebagai restoran elite yang sering dikunjungi orang-orang papan atas, seperti politisi, pengusaha, dan tentu saja juga artis.

Beberapa saat kemudian, penonton di bawa ke lanskap lain: kesibukan di sebuah kedai makan sederhana yang sedang dijejali pelanggan. Aoy (Chutimon Chuengcharoe), satu-satunya juru masak di kedai itu, pontang panting memasak menu untuk pelanggan. Dari banyaknya pelanggan yang ada, tampak seorang pria bersetelan kemeja putih dengan celana hitam sedang menunggu pesanannya datang.

Dia adalah Tone (Gunn Svasti), junior sous-chef di Hunger yang bekerja di bawah Chef Paul. Sesaat kemudian, pesanannya datang. Begitu melahap sesendok makanan dihadapannya, ia terkesiap. Matanya berbinar. Ia lantas melangkah ke tempat Aoy berada dan menyerahkan selembar kartu nama berwarna hitam. Di satu sisi kartu itu terdapat satu kata berwarna keemasan: Hunger. Dengan memberikan secarik kertas nama itu, Tone bermaksud mengundang Aoy agar mengikuti audiensi di Hunger.

Adalah Sitisiri Mongkol Siri yang menyutradarai film berjudul Hunger ini. Tidak hanya mempertontonkan persoalan di balik dapur, rivalitas antar tim, masakan, dan keluarga, film ini juga menyoroti isu yang dekat dengan penonton, yaitu kesenjangan sosial. Sutradara Sitisiri paham betul betapa makanan merupakan representasi kelas. Apa yang ada di meja makan seseorang menunjukan posisi kelas sosialnya. Namun, yang menjadi tragis adalah apa yang dimasak para chef di restoran berbintang belum tentu menggambarkan posisi kelas sosialnya. Hunger berhasil menggambarkan itu secara gamblang.

Hunger di tangan Sitisiri adalah sebuah film drama yang sederhana. Dalam beberapa momen, penonton berhasil dibuat berpikir ulang tentang makanan yang pernah dibelinya. Misalnya saja percakapan ayah Aoy ketika mencicipi jajanan yang dianggapnya berharga selangit. Ia mempertanyakan apakah jajanan itu mahal karena istimewa. Jangan-jangan sebaliknya, jajanan itu dianggap istimewa hanya karena mahal.

Kendati seris ini tidak berdasarkan pada kisah nyata, film hasil produksi studio Netflix ini tetap memperlihatkan betapa kerasnya situasi di balik dapur kuliner fine-dining. Setiap masakan harus sempurna, dan karena itulah harus di masak dengan cara yang sempurna pula. Aoy dalam film itu sampai pernah bermalam di dapur hanya karena ingin bisa memanggang daging dengan hasil yang sempurna. Itu adalah ujian keduanya setelah ia berhasil menyingkirkan kandidat lain yang merupakan lulusan sekolah kuliner.

Sebagai tempat bernaungnya pada koki andal, Hunger bukan berarti bebas dari konflik. Persoalan karier merupakan salah satu alasan. Di sisi lain, Aoy memutuskan meninggalkan Hunger setelah Chef Paul dan yang lain berniat memasak burung Rangkong—salah satu burung yang dilindungi—hasil tangkapan seorang pemburu. Bagi Chef Paul, itu adalah hal yang biasa dilakukan chef profesional. Akan tetapi, tidak bagi Aoy. Ia pun memilih menjajal peruntungan lain: bekerjasama dengan salah seorang pengusaha restoran. Berkat seorang pengusaha itu, Aoy menjadi Kepala Chef di restoran bernama Flame. Tak butuh waktu lama, Flame pun menjadi rival Hunger.

Tak ubahnya pada film Bad Genius, akting seorang Chutimon berhasil membuat penonton terpukau.  Apalagi keberadaan latar suara (backsound) film yang semakin membuat Hunger menjadi lebih dramatis. Sayangnya, walau film ini membahas soal kuliner, visual pada makanan yang tersaji tidak disorot dengan detail. Penonton belum merasa lapar ketika melihat makanan yang ada. Hanya saja, penonton bisa merasa lapar ketika melihat orang-orang di film tersebut melahap makanan.


Penulis: Adinan Rizfauzi, Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (BP2M Unnes).

Editor: Sekar Innasprilla

Tim Penggarap