Logo Suma

Ketika Ruang Kelas Disulap Menjadi Rumah Ibadah

4 menit · - kali dibaca
Ketika Ruang Kelas Disulap Menjadi Rumah Ibadah

Pukul enam sore, kelas baru saja usai. Di saat banyak mahasiswa mulai melonggarkan urat saraf atau mengejar tenggat, Dominique Samantha Suniadji justru tergopoh-gopoh. Ia berlari kecil menuju halte bis kuning, mengejar misa yang akan dimulai.

Bagi mayoritas mahasiswa Universitas Indonesia (UI), beribadah mungkin perkara sederhana. Masjid utama berdiri megah di kawasan kampus, musala tersebar di banyak fakultas, azan terdengar jika waktunya tiba. Namun, kemudahan itu tak sepenuhnya dirasakan mahasiswa dari agama lain. Sebagian harus meminjam kelas kosong, menunggu ruang rapat tersedia, atau keluar kampus lebih dahulu untuk bersembahyang.

Dominique, mahasiswi Aktuaria angkatan 2024 sekaligus pengurus Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) UI, situasi itu sudah menjadi bagian dari keseharian. Ia menyebut kehidupan rohani di masa kuliah sering hadir dalam bentuk sederhana, tak selalu berupa ibadah resmi di ruangan besar dengan pendeta, diiringi musik, dan nyanyi-nyanyian. Ibadah juga bisa dalam bentuk-bentuk kecil, seperti doa sebelum makan, doa Angelus saat tengah hari, atau sesi doa bersama sebelum menjelang ujian.

Namun, ketika kalender liturgi memasuki momen, seperti Rabu Abu atau Kamis Putih, tantangannya bertambah. Pasalnya, hari-hari tersebut bukan libur nasional. Kelas tetap berjalan, tugas terus berdatangan, seraya misa dimulai pada sore harinya.

“Kadang kelas selesai setengah enam, lalu harus buru-buru ke Wisma. Aku pernah telat karena masih ada kelas,” ujarnya.

Wisma yang dimaksud adalah Wisma Sahabat Yesus, bangunan di belakang Stasiun UI yang selama ini menjadi salah satu rumah ibadah mahasiswa Katolik. Letaknya tidak terlalu jauh, tetapi cukup untuk membuat langkah terasa tergesa jika waktu sempit.

Meski demikian, Dominique tak banyak mengeluh. Baginya, yang penting kewajiban agama tetap dapat ditunaikan. “Kalau bisa, mungkin Wisma-nya diperbaiki atau dibuat lebih nyaman,” katanya sambil tertawa kecil.

Keterbatasan ruang serupa juga dirasakan Ester, mahasiswa Ilmu Komputer angkatan 2022 yang pernah menjadi Ketua Persekutuan Oikumene (PO) UI. Baginya, kehidupan rohani di kampus justru tumbuh lewat ruang-ruang kelas yang disulap sementara menjadi tempat persekutuan.

Setiap Jumat, ketika Muslim menjalankan salat Jumat, mahasiswa Kristen Protestan di beberapa fakultas berkumpul untuk kebaktian mingguan. Kursi kelas dirapikan, alat musik sederhana disiapkan, lalu doa dimulai. Kadang disertai khotbah pendeta, kadang sesi bertukar cerita, atau hanya saling menguatkan setelah minggu yang melelahkan.

“Sebagai mahasiswa, jarang ada momen tiba-tiba ngobrol soal kerohanian. Jadi komunitas seperti ini sangat penting,” tutur Ester.

Ia mengaku tak terlalu mempersoalkan ketiadaan gereja di dalam kampus. Denominasi gereja yang beragam membuat mahasiswa memiliki tempat ibadah masing-masing di luar UI. Namun, ruang bersama tetap akan membantu apabila sewaktu-waktu kelas tak bisa dipinjam atau kegiatan besar hendak digelar.

“Pernah suatu kali, ruangan yang biasa PO gunakan direnovasi dan ternyata ada kendala untuk pindah ke ruangan lain, mungkin dari segi administrasinya. Tapi selama satu atau dua minggu itu tidak bisa ibadah,” keluhnya.

Komunitas Seagama menjadi Rumah di Perantauan

Bagi sebagian mahasiswa lain, komunitas keagamaan bahkan melampaui fungsi ibadah semata. Dhita, mahasiswi Arkeologi angkatan 2024 dari Keluarga Mahasiswa Buddhis (KMB) UI, menilai komunitas ini memiliki arti lebih dari sekadar tempat berkumpul. KMB menjadi jembatan bagi mahasiswa perantau yang perlahan menjauh dari rutinitas beribadah.

Meski KMB memiliki agenda rutin setiap Jumat di Pusgiwa, ia mengaku lebih sering beribadah mandiri di vihara. Jadwal yang padat atau posisi yang sedang berada di luar kampus kerap membuatnya menyesuaikan cara bersembahyang.

Saat hari besar keagamaan tiba, suasananya berbeda. Perayaan umat Buddha biasanya digelar di Auditorium Pusgiwa. Ia merasa sangat terbantu dengan panitia KMB yang sigap mengarahkan peserta, terutama bagi mahasiswa baru yang belum akrab dengan lokasi kegiatan. “Biasanya ada juga kolaborasi dengan KMB dari kampus lain,” tambah Dhita.

Dengan adanya teman-teman satu agama di KMB, mahasiswa perantau yang tidak tahu dimana tempat ibadah jadi bisa beribadah bersama melalui KMB. “Memiliki teman seiman juga sangat membantu karena kita memiliki frekuensi pemikiran yang sama,” ungkapnya.

Kisah serupa hadir dari Dela, mahasiswa Psikologi angkatan 2023 yang aktif di Persekutuan Mahasiswa Kristen Asrama (PMKA) UI. Bagi Dela, persoalannya tak berhenti pada religi semata. Ada keresahan yang tak bisa dielakkan: datang sebagai mahasiswa rantau yang datang tanpa mengenal siapa-siapa.

Ia berasal dari Maluku. Saat pertama tiba di Depok, semuanya terasa asing. Cara belajar berbeda, ritme kampus terasa cepat, wajah-wajah baru datang silih berganti. Dalam keadaan seperti itu, PMKA menjadi tempat ia menambatkan diri. “Di sini bukan cuma ibadah. Kadang ada sharing, game, ngobrol. Jadi enggak merasa sendiri,” katanya.

Setiap Sabtu malam, mereka berkumpul di ruang rapat asrama. Lagu pujian dinyanyikan, khotbah dihaturkan, dan doa-doa dipanjatkan. Pernah pula mereka merayakan Natal di Ruang Apung UI.

Dela merasa tempat ibadah bukan soal bangunan. Kadang ia hadir dalam pertemuan sederhana di ruangan yang dipinjam beberapa jam. Sebuah titik temu mahasiswa perantauan saling mengenal dan menguatkan.

Meski memiliki pengalaman berbeda, keempatnya menyimpan kesan serupa tentang kehidupan beragama di UI: relasi antar umat beragama cenderung harmonis. Dominique bercerita teman-temannya menghormati tradisi Katolik, seperti abu di dahi saat Rabu Abu atau puasa Pra-Paskah. Tak ada ejekan, hanya rasa ingin tahu dan sikap saling menghargai.

Ester menilai kampus cukup terbuka selama prosedur administrasi dipenuhi. Sementara Dela menilai UI berada di angka delapan dari sepuluh dalam urusan inklusivitas—cukup baik, meski masih banyak yang bisa dibenahi. Sejalan dengan itu, Dhita pun merasa UI sudah cukup inklusif untuk memberikan ruang bagi teman-teman KMB, meskipun sedikit mengharapkan kelanjutan dari rencana sebelumnya terkait pembangunan rumah ibadah yang multifaith di UI.

Mereka tak menuntut bangunan megah atau fasilitas serba lengkap. Mereka hanya mengharapkan akses yang lebih mudah, sistem peminjaman ruang yang jelas, dan kesediaan kampus untuk mendengar seluruh mahasiswanya.

Sebab bagi mahasiswa dari kelompok minoritas agama, menjaga keyakinan saat kuliah sering kali bukan perkara besar yang dramatis. Ketaatan hadir dalam hal-hal kecil: doa singkat sebelum ujian dimulai, ruang rapat asrama yang dipakai dua jam setiap Sabtu malam, atau waktu yang disisihkan di tengah jadwal padat.

Itulah hal-hal kecil yang membuat seseorang tetap merasa pulang, meski sedang jauh dari rumah.

Teks: Tufani Aprilia dan Angela Merici Retna Perwitasari

Editor: Zulianikha Salsabila Putri

Foto: Website FEB UI

Desain: Syahidah Nururrahmah

Pers Suara Mahasiswa UI 2026

Independen, Lugas, dan Berkualitas!

Tim Penggarap