Logo Suma

Menatap Kabut di Karanganyar

Redaksi Suara Mahasiswa · 30 Juli 2026
4 menit · - kali dibaca
Menatap Kabut di Karanganyar

Udara dingin yang turun dari lereng Gunung Lawu, Karanganyar, menusuk hingga ke tulang malam itu. Di sekeliling api unggun yang mulai meredup, tawa kecil dari teman-teman sesama pemuda Jemaat Ahmadiyah mengalun pelan. Bagi kami, deretan tenda yang berdiri di bumi perkemahan sunyi ini bukan sekadar tempat rekreasi biasa. Ini adalah sebuah langka di mana kami bisa melepaskan penat dengan berdiskusi tentang masa depan dan beribadah bersama tanpa perlu selalu menoleh ke belakang dengan rasa waswas. Di sini, aku dan teman-temanku hanya ingin menjadi manusia biasa yang menikmati indahnya ciptaan Tuhan.

Namun, kehangatan itu mendadak luluh lantak ketika sorot lampu senter yang agresif membelah kegelapan malam. Derap langkah sepatu laras yang kasar berpadu dengan teriakan makian yang memekakkan telinga.

"Bubar! Tidak ada tempat untuk aliran sesat di tanah ini!"

Sekelompok massa berpakaian serba putih dengan wajah garang merangsek maju, merusak batas perkemahan kami. Di belakang mereka, beberapa aparat kepolisian berdiri tegak. Bukannya menenangkan massa yang beringas atau melindungi kami, para petugas itu justru melangkah maju dengan wajah dingin, memerintahkan kami untuk segera membongkar tenda dan pergi malam itu juga. Alasan mereka klasik:  kegiatan kami dianggap tidak berizin dan demi menjaga kondusifitas lingkungan. Aku terpaku di tempat. Rasa menggigil yang menjalar di punggungku saat itu bukan lagi karena angin gunung, melainkan akibat rasa ngeri yang teramat akrab.

Bau asap dari obor yang dibawa oleh massa seketika melempar paksa ingatanku ke masa lalu, tahun 2011. Saat itu, aku masih seorang bocah berumur delapan tahun yang tinggal di Cikeusik, Pandeglang. Memori malam itu terpatri sebagai rangkaian mimpi buruk yang tak akan pernah bisa kuhapus: gemuruh teriakan ribuan orang yang mengepung pemukiman kami, hujan batu yang menjebol atap rumah, hingga kepulan asap hitam dari bangunan masjid kami yang dibakar sewenang-wenang.

Malam itu adalah kali terakhir aku melihat wajah Ayah. Ia tersenyum menenangkan di tengah kepungan massa, menggenggam erat jemari kecilku, lalu berbisik, "Fajar, anakku, bawa Ibu pergi dari sini, jaga dia." Itu adalah kalimat terakhirnya sebelum ia mendorong kami keluar melalui pintu belakang agar kami bisa menyelamatkan diri. Ayah gugur dalam peristiwa penyerangan brutal hari itu, tubuhnya dianiaya tanpa ampun di bawah sorot kamera, hanya karena ia teguh mempertahankan keyakinan yang dianutnya.

Sejak tragedi Cikeusik, hidup kami adalah rentetan pelarian yang sunyi. Kami terbiasa melihat masjid-masjid kami disegel dengan balok kayu dan garis polisi. Kami kenyang menyaksikan saudara-saudara seiman kami diusir paksa dari kampung halaman sendiri, terlunta-lunta di ruang pengungsian selama bertahun-tahun tanpa kejelasan status sipil dan hak-hak dasar. Persekusi bukanlah sekadar istilah teoretis dalam berita bagi kami; ia adalah hantu nyata yang selalu mengintai, menentukan ke mana kami boleh melangkah dan di mana kami diizinkan untuk bernapas. Dan kini, di tengah indahnya alam Karanganyar, hantu itu kembali menemukan kami.

Sembari mengemas ransel dengan tangan yang gemetar di bawah tatapan intimidatif aparat, sebuah keheranan yang amat besar berkecamuk di dalam dadaku. Aku menatap wajah-wajah beringas dari kelompok intoleran itu, lalu beralih menatap seragam para aparat yang seharusnya menjadi pelindung seluruh warga negara tanpa tebang pilih. Mengapa negeri ini menjadi begitu riuh dan gemar memelihara kebencian? Mengapa orang-orang di tanah airku ini seolah memiliki hasrat yang begitu besar untuk menindas sesamanya?

Jika kupikirkan kembali, penindasan seolah-olah telah bermutasi menjadi napas baru dalam sirkulasi kehidupan bangsa saat ini. Fenomena ini terjadi di setiap lapisan, dari atas hingga ke bawah. Di layar televisi dan linimasa media sosial, setiap hari aku disuguhi tontonan bagaimana para pejabat tinggi dengan ringannya mengorupsi dana bansos, merampok anggaran kesehatan, dan menilap hak-hak dasar rakyat. Mereka menindas masyarakat kecil agar tetap berkubang dalam kemelaratan demi memperkaya diri sendiri dan kelompoknya.

Di akar rumput, situasinya tidak kalah mengerikan. Kaum agama mayoritas dengan begitu mudahnya menindas kaum minoritas dan kelompok marjinal. Kasus intoleransi, pelarangan ibadah, penyegelan rumah ibadah, hingga kejahatan kebencian lainnya dilegalkan atas nama pembelaan iman yang sempit. Yang lebih menyakitkan, pemerintah yang memegang mandat konstitusi justru sering kali menggunakan tekanan militer dan kekuatan represif negara untuk menindas rakyat sipil. Tanah-tanah adat dirampas, ruang hidup masyarakat pesisir dan pedalaman digusur paksa demi memuluskan proyek-proyek strategis nasional yang penuh dengan ketidakadilan dan aroma keserakahan oligarki. Semua pihak seperti sedang berlomba mencari siapa yang bisa mereka injak agar diri mereka merasa lebih tinggi dan berkuasa.

"Mengapa cinta kasih yang selalu diajarkan di bangku sekolah menguap begitu saja saat berhadapan dengan perbedaan?" tanyaku dalam hati, menahan sesak di dada.

Padahal, jika mereka mau menurunkan ego dan meluangkan waktu sejenak untuk mendengar, Jemaat Ahmadiyah sama sekali tidak pernah mengajarkan prinsip-prinsip yang merusak. Pondasi dasar keyakinan kami tertuang jelas dalam moto universal: Love for All, Hatred for None, Cinta untuk Semua, Kebencian Tidak untuk Siapa Pun. Ajaran kami sepenuhnya mengacu pada upaya mewujudkan perdamaian sejati, menegakkan keadilan antarsesama manusia, dan memberikan pengabdian terbaik bagi masyarakat dimanapun kami hidup. Bagi kami, mencintai dan membela tanah air adalah bagian yang tak terpisahkan dari keimanan kepada Tuhan.

Apakah bangsa ini amnesia, atau sengaja menghapus lembaran sejarah, bahwa Jemaat Ahmadiyah telah ikut berkontribusi dan menanam saham kebaikan bagi republik ini jauh sebelum pekik kemerdekaan 1945 berkumandang? Tokoh-tokoh jemaat terdahulu, para pahlawan nasional, intelektual, hingga ribuan warga jemaat biasa telah bahu-membahu menyumbangkan pemikiran, mengucurkan darah, dan mengorbankan air mata demi melepaskan belenggu penjajahan dari bumi pertiwi. Kami ikut merawat tanah air ini sejak ia masih berupa angan-angan dalam sanubari para pendiri bangsa. Penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa-bahasa daerah dan bahasa Indonesia yang dilakukan jemaat pada masa awal pergerakan adalah bukti nyata bagaimana kami ingin mencerdaskan kehidupan bangsa.

Seorang petugas polisi yang memegang kartu identitasku melangkah mendekat, memutus pusaran emosi yang berkecamuk di kepalaku.

"Ayo cepat bergerak, Fajar! Jangan malah melamun di situ!" bentaknya kasar sembari melemparkan kembali KTP milikku.

Aku menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan ke arah udara malam yang berkabut. Kutatap lurus mata petugas itu, bukan dengan pandangan dendam, melainkan dengan tatapan lelah dari seorang anak bangsa yang rindu akan keadilan. Aku menyandang ransel beratku, lalu berjalan beriringan dengan teman-temanku yang lain. Kami dipaksa melangkah meninggalkan bumi perkemahan Karanganyar, berjalan menembus kegelapan malam yang dingin menuju ketidakpastian.

Mereka mungkin memiliki kekuatan fisik untuk membubarkan perkemahan kami malam ini. Mereka mungkin memiliki kekuasaan untuk menyegel masjid-masjid kami, mengusir kami dari tanah kelahiran, bahkan merenggut nyawa orang-orang yang kami cintai seperti yang mereka lakukan pada Ayah lima belas tahun yang lalu. Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah bisa mereka rampas: kedamaian yang telah mengakar di dalam dada kami. Mereka tidak akan pernah bisa melunturkan komitmen kami untuk terus mencintai negeri yang riuh, luka, dan penuh ketidakadilan ini. Kami akan tetap bertahan, tetap mengabdi kepada masyarakat, dan tetap menyebarkan kedamaian, bahkan ketika tanah tempat kami berpijak saat ini masih enggan untuk bersikap ramah kepada kami.

Penulis: Hakim CS

Editor: Huwaida Rafifa Yumna

Foto: Istimewa

Pers Suara Mahasiswa

Independen, Lugas, dan Berkualitas!

Tim Penggarap