
Langit Kukusan, Depok, masih gelap ketika Dwi Lestari mulai menyiapkan dagangannya. Jarum jam baru menunjukkan pukul tiga dini hari. Di dapurnya yang dipenuhi aroma rempah, perempuan asal Wonogiri itu sibuk membersihkan kunyit, jahe, kencur, dan daun sirih sebelum menghaluskannya dengan blender. Dulu, bahan-bahan itu harus diparut secara manual selama 30 hingga 45 menit. Kini, kehadiran blender memangkas pekerjaan itu menjadi lima sampai sepuluh menit.
“Jam tiga kan udah bangun. Jadinya kalau ngeblender berisik,” ungkap Dwi.
Rempah-rempah yang telah halus kemudian diolah jadi berbagai racikan jamu. Ada kunyit asam yang segar, beras kencur yang manis, sambiloto yang pahit, jahe hangat, hingga jamu sirih yang kerap dicari pelanggan perempuan. Jika masih tersisa, racikan itu disimpan di dalam kulkas agar tetap segar untuk dijual keesokan harinya.
Menjelang pukul tujuh pagi, Dwi mulai menghidupkan motornya. Botol-botol jamu yang telah disiapkan sejak dini hari dibawa berkeliling menyusuri jalan dan gang-gang di sekitar Kukusan. Dari satu pelanggan ke pelanggan lain, ia menawarkan segelas jamu dengan harga sekitar Rp5.000 per gelas dan Rp20.000 untuk botol setengah liter.
Selepas berjualan hingga pukul sepuluh pagi, Dwi pulang untuk beristirahat. Kembali pada pukul satu siang, ia menyiapkan stok jamu untuk putaran kedua. Jamu dijajakan setelah kumandang azan asar pukul setengah empat sore hingga menjelang magrib. “Pokoknya habis nggak habis, sebelum magrib sudah pulang.”
Jauh sebelum memiliki pelanggan sendiri, Dwi telah akrab dengan dunia jamu. Ibunya dahulu berjualan jamu di Bekasi. Saat masih duduk di bangku sekolah, ia kerap ikut membantu ketika liburan tiba. Dari sanalah ia belajar mengenali, meracik, hingga mengetahui rahasia menjaga cita rasa yang diwariskan turun-temurun.
Jamu telah lama menjadi bagian dari budaya kesehatan masyarakat Indonesia. Donna Maretta Ariestanti, Dosen Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, menyebut selain dikonsumsi, jamu juga dimanfaatkan sebagai bagian dari upaya promotif, preventif, dan kuratif.
“Promotif itu seperti menjaga kesehatan, preventif Itu untuk mencegah biar tidak sakit. Dan juga ada yang namanya kuratif. Kuratif itu dari kata cure, menyembuhkan,” jelasnya.
Adapun aspek promotif membantu memelihara kondisi tubuh agar tetap sehat dan bugar. Salah satu contohnya adalah jamu beras kencur yang mengandung flavonoid dan berfungsi menangkal radikal bebas. Keberadaan antioksidan itu membantu melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan sehingga dapat mendukung kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Dari segi preventif, konsumsi jamu dilakukan sebagai langkah pencegahan terhadap berbagai penyakit. Bahan herbal yang umum digunakan dalam jamu, seperti jahe, kunyit, dan temulawak, diketahui mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi membantu menjaga daya tahan tubuh.
Sementara itu, dari sisi kuratif, jamu kerap dimanfaatkan untuk membantu meredakan keluhan kesehatan tertentu. Meskipun tidak dapat menggantikan pengobatan medis, berbagai jenis jamu telah lama digunakan masyarakat untuk membantu mengurangi keluhan seperti pegal-pegal, gangguan pencernaan, hingga nyeri saat menstruasi. Manfaat itu membuat jamu tetap relevan dan diwariskan secara turun-temurun di berbagai daerah Indonesia.
“Jadi kalau pertanyaannya dampak atau khasiat jamu bagi kesehatan itu, tentu saja ada. Bahkan bukan cuma untuk menyembuhkan seperti obat konvensional tadi, tapi juga untuk itu, menjaga tubuhnya agar tetap sehat atau prima. Ya, tadi yang promotif tadi. Kemudian ada juga untuk mencegah biar enggak kena penyakit, preventif gitu,” kata Donna.
Meski demikian, Donna menekankan bahwa manfaat jamu tidak selalu memberikan hasil yang sama pada setiap individu. Kandungan senyawa aktif dalam bahan herbal dapat berbeda-beda tergantung pada lokasi penanaman, kondisi tanah, iklim, hingga proses pengolahannya. Akibatnya, khasiat jamu tidak selalu identik seperti obat konvensional yang memiliki dosis dan kandungan terstandarisasi.
“Kunyit yang saya beli di Bogor sama saya beli kunyit yang ditanam di Jakarta itu, kadar kurkuminnya bisa jadi berbeda. Kalau misalnya di Bogor unsur haranya lebih bagus, mungkin kurkuminnya lebih banyak. Kalau obat konvensional dosisnya stabil, misalnya paracetamol 500 miligram sudah pasti. Tapi kalau jamu, kunyit yang kita beli hari ini belum tentu sama [kandungannya] dengan yang kita beli besok,” terangnya.
Di kalangan perempuan, jamu juga dikenal sebagai minuman yang membantu meredakan keluhan saat menstruasi. Salah satu yang paling populer adalah jamu kunyit asam. Ia dipercaya dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman dan perubahan suasana hati yang sering muncul selama periode menstruasi.
Donna juga mengingatkan bila jamu perlu dikonsumsi secara bijak. Anggapan jamu sepenuhnya aman dan dapat diminum tanpa batas merupakan pandangan yang kurang tepat. Sebagaimana halnya senyawa kimia lain, bahan aktif dalam jamu juga berpotensi menimbulkan efek samping apabila dikonsumsi secara berlebihan.
“Bukan hanya dalam konteks jamu, tapi senyawa kimia apa pun kalau digunakan tidak dalam batas yang memang sudah terbukti aman, itu pasti akan menyebabkan efek samping.”
Lebih lanjut, Donna memaparkan bahwa konsumsi jamu secara berlebihan dapat menyebabkan penumpukan senyawa tertentu di dalam tubuh yang memicu efek samping seperti mual, muntah, dan gangguan pencernaan.
Pada situasi yang lebih serius, penggunaan yang tidak tepat juga berpotensi memengaruhi fungsi organ seperti hati dan ginjal. Terlebih jika terjadi interaksi antara senyawa aktif dalam jamu dan kandungan obat tertentu yang berpotensi menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, pemberian jeda waktu antara konsumsi jamu dan obat-obatan menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko yang timbul.
Hampir dua puluh tahun berlalu sejak pertama kali Dwi berjualan. Banyak hal berubah. Harga bahan baku terus merangkak naik, minuman-minuman modern bermunculan, dan kebiasaan masyarakat ikut bergeser. Tantangannya pun berubah. Jika dahulu pelanggan mudah ditemukan, kini ia harus bersaing dengan beragam minuman modern yang lebih akrab di kalangan anak muda.
Bagi Dwi, tantangan terbesar saat ini bukan lagi proses meracik jamu, melainkan memasarkannya. Di tengah maraknya transaksi digital dan perdagangan daring, ia mengaku belum mampu memanfaatkan teknologi untuk memperluas usahanya. “Pengen sih, tapi nggak bisa ibunya,” tutur Dwi.
Keterbatasan pemahaman teknologi membuat Dwi memilih tetap mengandalkan keliling dari rumah ke rumah. Akibatnya, jangkauan pasaran tidak berkembang sejauh pelaku usaha lain yang memanfaatkan platform digital. Meski demikian, ia mulai beradaptasi dengan perubahan konsumen melalui penyediaan pembayaran non-tunai dengan QRIS.
Dalam sejarah penjualan yang diarungi Dwi, ada satu masa ketika jamu kembali menjadi primadona. Saat pandemi COVID-19 melanda, minat masyarakat terhadap jamu meningkat drastis karena banyak dicari untuk menjaga daya tahan tubuh. Dwi masih mengingat betul bagaimana dagangannya hampir selalu habis terjual setiap hari.
“Kalau pas COVID, [penjualan jamu] melonjak, Kak. Bawa sebanyak apa juga habis,” kenangnya.
Kondisi itu berbeda jauh dengan saat ini. Setelah pandemi berlalu, persaingan semakin ketat. Dwi mengaku penjualan jamu tidak lagi semudah dulu. “Sekarang mah, ya Allah. Ngenes.”
Di tengah menjamurnya kopi susu, matcha, dan minuman trendi lainnya, harapan itu masih dibawanya berkeliling setiap pagi dan sore. Bersama botol-botol jamu yang bergoyang di atas motor, Dwi terus menjaga warisan rempah nusantara lewat tegukan.
Teks: Diandra Aila Rizqita dan Rachel Aulia Damayanti
Editor: Dela Srilestari
Foto: Istimewa
Desain: Allisya Putri Ramadhani
Pers Suara Mahasiswa UI
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
Kontributor