
Pada Selasa (29/11), telah dilaksanakan Debat Kandidat Calon Ketua dan Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Psikologi UI 2023. Terdapat satu bakal calon yang mengajukan diri sebagai pemimpin, Aina Almardhiyah dan Darell Putrandayo Voluntoro. Kandidat tersebut beradu argumen dengan Zidan Seno dan Fiqy Adam Pamungkas sebagai swing team, di mana tim ini dipersiapkan untuk menjadi lawan debat sang pasangan calon tunggal. Debat kandidat ini dikawal oleh tiga orang panelis, yakni Achmad Fahriza selaku Ketua BEM Psikologi UI 2022, Rayfienta Gumay selaku Koordinator Bidang Sosial Politik BEM Psikologi UI 2021, dan Satrio Alif selaku Wakil Ketua DPM UI 2022.
Dalam pemaparannya, Aina-Darrell mengusung nilai-nilai yang ingin mereka bawa untuk BEM Psikologi UI 2023, yakni BEM sebagai wadah eksplorasi diri, pengabdian, dan menghadirkan makna berupa pengalaman yang menyenangkan bagi fungsionaris. Berkenaan dengan nilai-nilai humanis tersebut, Aina-Darrell ingin menjadikan pengalaman yang bermakna sebagai nilai jual untuk meningkatkan partisipasi civitas. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan kebersamaan antara berbagai biro dan departemen serta memperbanyak kolaborasi eksternal dengan tujuan mengemas program kerja BEM menjadi lebih menarik.
Pemaparan tersebut rupanya mendapat tanggapan yang cukup tajam dari swing team. Menurut mereka, setiap orang memiliki kepentingan dan tujuannya masing-masing. Nilai pengabdian yang dibawa oleh Aina-Darrell berpotensi mempersempit cakupan sehingga berimplikasi pada berkurangnya peminat BEM. Selain itu, pihak swing team juga berpendapat bahwa internalisasi nilai-nilai tersebut terlalu mengawang dan tidak bisa menjadi solusi konkrit atas mosi yang diangkat. “Apa sih yang dibilang sebagai nilai itu? Ketika kita merekrut orang, berarti nilai harus ada resonansi dengan orang tersebut. Nggak semua orang tujuannya mengabdi, ingin memberikan kepada masyarakat. Mahasiswa sekarang agak kapitalis ya, jadi BEM cuma dipakai sebagai batu loncatan untuk internship di tempat-tempat yang bagus. Ini suatu kesulitan yang perlu ditelaah kembali, sebenarnya orang mau ikut BEM itu alasannya apa,” tutur Seno.
Suasana agak menegang ketika Darrell selaku calon Wakil Ketua BEM mempertanyakan konsepsi kegiatan tersebut. Ia mengaku tidak menemukan jawaban dari swing team yang hanya berfokus pada mengkritisi jawaban kandidat. “Saya cuma mau mengkonfirmasi, sebenarnya ini debat atau eksplorasi?” tegas Darrell. Hal ini segera ditindaklanjuti oleh panitia yang mengkonfirmasi bahwa kegiatan hari itu adalah debat dan seharusnya swing team cukup fokus menjawab mosi saja.
Tidak Merekomendasikan Sanksi Sosial dalam Kasus Kekerasan Seksual
Sesi debat pun berlanjut dengan mosi kedua yakni mekanisme penanganan kekerasan seksual. Sang pasangan calon (paslon) menyatakan langkah terkait isu ini, yaitu dengan membuat peraturan terkait kekerasan seksual yang mengacu pada Peraturan Rektor No. 91 dan Permendikbud PPKS dalam lingkup BEM Fakultas Psikologi. Selain itu, Aina-Darrell juga mengaku tidak merekomendasikan sanksi sosial yang membuka nama pelaku sebagai hukuman dan lebih menekankan pada penanganan kasus tersebut. “Dari kami sendiri tidak merekomendasikan adanya sanksi sosial dengan mem-publish nama pelaku, secara hukum bisa berbalik kepada kita kalau pelakunya tidak setuju. Dari beberapa kasus juga, korban tidak nyaman apabila pelakunya dipublikasikan ke luar. Kami lebih merekomendasikan pengawalan terhadap korban dan membantu korban untuk pengalihan pihak yang lebih berwenang seperti Hopehelps.”
Arah Gerakan Promosi Isu Kesehatan Mental, Adanya Obsesi akan Mencari Bantuan?
Aina-Darrell mengajukan inovasi screening dan mental health literacy sebagai jawaban atas isu kesehatan mental. Bukan sekadar memberikan feedback kepada mahasiswa yang mengalami distres psikologis, melainkan juga kepada mahasiswa secara general agar ketika mengalami kondisi tersebut, mereka mampu menentukan langkah ke depannya. Aina juga sempat mengangkat permasalahan stigma yang berpengaruh pada keengganan mahasiswa mencari bantuan profesional. Argumentasi ini ditanggapi dengan cukup keras oleh pihak swing team. Menurut swing team, selama ini edukasi hanya menitikberatkan pada pencarian bantuan tetapi tidak mengajarkan cara mengatasinya. “Obsesi terhadap “meminta bantuan” itu bisa jadi membawa kita pergi jauh dari kesempatan intervensi, bagaimana caranya kita mengajarkan coping skill kepada mahasiswa-mahasiswa.” Selain itu, swing team juga mengangkat efektivitas dari program kesehatan mental BEM Psikologi seperti UISM (UI Sehat Mental) dan peer counseling. Mereka mempertanyakan jumlah angka permasalahan kesehatan mental di kalangan mahasiswa yang tidak mengalami penurunan.
Jawaban yang dilontarkan menyebutkan bahwa mental health literacy adalah salah satu acuan untuk mensosialisasikan strategi swadaya yang efektif dan keterampilan mahasiswa dalam mempertahankan kondisi mentalnya. Sang paslon juga mengemukakan tujuan akhir mereka yaitu mewariskan langkah yang mereka ambil untuk tahun-tahun berikutnya, mengingat isu kesehatan mental adalah isu yang akan terus ada urgensinya. “Tujuan akhir itu (melalui-red) langkah-langkah jangka pendek yang terukur dan terencanakan. Dengan optimalisasi peer counselor dan mengawal isu kesehatan mental kepada stakeholders yang bertanggung jawab,” jelas Aina-Darrell.
Teks: Nada Azka
Foto: Nada Azka
Editor: Kamila Meilina
Pers Suara Mahasiswa UI 2022
Independen, Lugas, dan Berkualitas!
Kontributor