Logo Suma

Menelusuri Kisah Tanah Jawa dengan Kritis ala Sejarawan

Redaksi Suara Mahasiswa · 18 Februari 2026
2 menit

Judul: Pararaton: Biografi Para Raja Singhāsari-Majapahit

Penulis: Heri Purwanto

Genre: Nonfiksi, sejarah

Tebal: 560 halaman

Penerbit: Javanica

Tahun terbit: 2023

Pada masa lalu, tiap jengkal wilayah Tanah Jawa dihiasi oleh raja-raja yang pernah menancapkan panji kekuasaannya. Riwayatnya terabadikan dalam cerita rakyat, prasasti, kakawin, dan naskah lainnya yang ditulis oleh para pujangga kerajaan atau orang-orang yang dekat dengan lingkungan kerajaan. Salah satu naskah tersebut adalah Pararaton. Naskah tersebut dibahas dan ditulis oleh Heri Purwanto dengan judul Pararaton: Biografi Para Raja Singhāsari-Majapahit.

Pararaton menceritakan kisah para raja Dinasti Rājasa yang berkuasa di Kerajaan Tumapĕl dan Majapahit. Judul Pararaton berasal dari kata dasar ratu, yang berarti ‘raja’ atau ‘pemimpin rakyat’, sehingga Pararaton memiliki arti ‘kisah para raja’. Naskah yang diselimuti mitos dan beragam takhayul ini ditulis dalam Bahasa Jawa Pertengahan oleh seseorang yang diduga Brahmana. Buku ini menyajikan naskah asli Pararaton yang telah diubah ke Huruf Latin dengan tambahan diakritik sekaligus juga terjemahannya.

Sebelum masuk dalam kisah Pararaton, penulis ingin mengajak pembaca menyusuri Tanah Jawa sebelum periode waktu yang diceritakan di dalam Pararaton. Informasi yang didapatkan penulis sendiri, diolah dari berbagai sumber prasasti dan berita dari Tiongkok. Salah satu kisah yang ada, nantinya akan terhubung dengan Pararaton yang dijamin akan menambah kisah dan pengetahuan lama kepada pembaca.

Pararaton diawali dengan menceritakan kisah hidup Ken Angrok, seorang pendiri Kerajaan Tumapĕl alias Singhāsari—yang begitu detail dari lahir hingga wafatnya. Sepeninggal Ken

Angrok, takhta Singhāsari diteruskan oleh para keturunannya. Salah satunya ada yang membawa Singhāsari ke dalam puncak kejayaan yaitu Śrī Kṛtanagara. Selain menceritakan dinamika Singhāsari, Pararaton juga menceritakan kisah kutukan Keris Mpu Gandring dan kedatangan bala tentara Mongol yang berambisi untuk menaklukkan Tanah Jawa. Berbagai sumber lain seperti prasasti sezaman, naskah kuno seperti Kakawin Nāgarakṛtāgama, dan berita dari Tiongkok juga dibahas oleh penulis sebagai pelengkap juga bahan pembanding.

Pararaton kemudian juga mengisahkan Kerajaan Majapahit yang didirikan oleh Raden Wijaya. Berbagai kisah fenomenal dalam sejarah Jawa diceritakan di sini, seperti kisah tentang dinamika Kerajaan Majapahit, tokoh Gajah Mada yang mengucapkan Sumpah Palapa, hingga kisah legendaris Perang Bubat. Sumber-sumber lain yang disuguhkan oleh penulis tetap sama sebagaimana saat membahas mengenai Singhāsari. Namun, dalam babak baru ini, dibuat lebih beraneka ragam, bahkan sampai diceritakan catatan dari penjelajah Eropa. Penulis buku juga ingin membuktikan kebenaran naskah-naskah Jawa Baru, seperti Babad Tanah Jawi, Sĕrat Kaṇḍa, dan masih banyak lainnya. Dalam kenyataan selanjutnya, turut dibahas pula Majapahit dengan versi berbeda dari yang ada di prasasti, berita luar Jawa, dan naskah-naskah temuan arkeologis termasuk Pararaton.

Heri Purwanto sebagai penulis pun mampu memperluas wawasan pembaca tentang sejarah Jawa Kuno dari berbagai perspektif sejarah sekaligus mengajak pembaca turut  kritis dalam menganalisis keakuratan masing-masing sumber yang disuguhkan. Inilah yang membuat buku Pararaton tidak hanya menarik bagi yang ingin menyelami sejarah Tanah Jawa, tetapi juga bagi yang ingin mengetahui bagaimana proses penelitian sejarah dilakukan. Pembaca diajak menjadi seperti seorang sejarawan yang sedang mengumpulkan berbagai sumber sejarah dan ikut memastikan valid atau tidaknya sumber tersebut dengan kritis.

Pada akhir masa menyelami buku ini, saya sendiri, sebagai penilai merasa mendapatkan pemahaman baru tentang sejarah yang di dalamnya juga terdapat serangkaian proses kritis dan skeptis yang terus dikembangkan oleh para sejarawan guna merangkai historiografi yang sesuai dengan metodologi sejarah. Dari berbagai kisah tersebutlah, sejarah akan menjadi pelajaran bagi kehidupan umat manusia di masa kini dan nanti. Oleh karena itu, memahami keterbukaan sejarah sangatlah penting agar kita dapat mengetahui dan mengakui apa yang sebenarnya terjadi, sehingga mampu memperbaiki dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Penulis : Domenico Savio Balaputradewa

Editor : Dina Kamila

Foto :

Pers Suara Mahasiswa

Independen, Lugas, dan Berkualitas!