
Aroma khas setelah hujan merebak hingga ke dalam gedung perkuliahan FISIP UI. Saat itu, jam sudah menunjukkan pukul 16.30, menandakan berakhirnya aktivitas perkuliahan yang panjang seperti biasanya. Saat mahasiswa dan dosen keluar dari kelas dan bersiap untuk pulang, barulah petugas kebersihan atau cleaning service (CS) di FISIP UI mulai membersihkan ruang kelas dan mempersiapkannya untuk kegiatan esok hari.
Mas Pian, seorang CS yang ditugaskan di gedung berlantai enam, Gedung H FISIP UI, membagikan ceritanya kepada kami. Sejak pertama kali bekerja sebagai CS di FISIP pada tahun 2014, beliau telah melihat banyak angkatan melewati masa perkuliahan mulai dari fase mahasiswa baru (maba) hingga wisuda. Dinamika setiap generasi pun turut dirasakannya. Menurut Mas Pian, angkatan mahasiswa setelah pandemi dengan mahasiswa angkatan 2014 memang berbeda karakteristiknya, terutama soal menjaga kebersihan. Beliau mengaku bahwa banyak mahasiswa tahun-tahun ini lalai menjaga kebersihan, seperti lupa membuang sampah makanan di kelas, sehingga para CS menuai teguran dari dosen maupun pihak fakultas.
“Maaf ya, karena kelalaian mahasiswa ini, kita [CS] yang ditegur, tuh, karena kan dosen kadang enggak suka ada bau-bau berminyak [karena makanan di dalam kelas].”
Walaupun demikian, Mas Pian tetap semangat untuk bekerja karena kesenangannya berada di lingkungan pendidikan. Ia mengaku bahwa motivasinya untuk bekerja cukup unik; ia senang berada di antara mahasiswa dan dosen yang dapat mengembangkan pola pikirnya.
“Kalau saya pribadi, seneng. Karena, oh, ini dunia pendidikan, minimal [meski] gua enggak pintar, tapi [setidaknya] pola pikirnya kayak mereka, gitu.”
Salah satu kelompok mahasiswa yang kerap ia temui dan dirasa dekat adalah fungsionaris BEM FISIP, terutama pada era 2014. Kedekatannya dengan pengurus saat itu hampir membuatnya dipindahkan dari FISIP lantaran Mas Pian memberi izin pada mahasiswa yang ingin menggunakan ruangan tanpa surat peminjaman resmi. Namun, berkat pembelaan dari BEM FISIP, ia tidak jadi dipindahkan, dan kejadian tersebut membekas sebagai memori yang cukup mengharukan bagi Mas Pian.
Walaupun jam kerja yang tertera di kontrak kerja para CS adalah 8 jam, acara yang kerap diselenggarakan di luar jam tersebut membuat mereka bisa bekerja lembur. Pihak penyedia layanan petugas kebersihan, yaitu PT. Provis Indonesia, tidak memberikan mereka uang lembur, melainkan penyelenggara acaranya lah— biasanya mahasiswa— yang memberikan mereka uang tunai sebagai bentuk kompensasi atas bertambahnya jam kerja mereka. Setelah itu, para CS harus menempuh perjalanan ke rumah mereka masing-masing karena mereka tidak disediakan akomodasi dari pihak fakultas maupun universitas.
Di sisi lain, para CS di FISIP UI memiliki pengawasnya sendiri. Di sebuah ruangan kecil di belakang Gedung E, kami berkesempatan untuk berbincang dengan sosok pengawas CS tersebut. Sembari duduk di atas sofa kulit yang dikelilingi dengan berbagai barang seperti pemotong rumput, vacuum cleaner, serta perkakas lainnya; kami mendapatkan sudut pandang yang lebih mendalam terkait kehidupan para CS di UI. Pengawas CS yang memilih untuk tidak menyebutkan namanya mulai menjelaskan bagaimana jam kerjanya lebih panjang dibandingkan petugas CS sendiri. Beliau mulai bekerja dari jam enam pagi hingga setengah lima sore. Hampir 12 jam, berbeda dengan Mas Pian yang hanya bekerja 8 jam. Selama 12 jam tersebut, ia ditugaskan untuk mengawasi kinerja para petugas CS di FISIP yang berjumlah 42 orang termasuk dirinya. Namun, sang pengawas CS berpesan bahwa di sinilah tempat beliau mencari rezeki, jadi tidak boleh lemas atau bermalas-malasan karena untuk keluarganya.
Sama halnya dengan Mas Pian dan petugas CS lainnya, sang pengawas tidak mendapat kompensasi dari universitas, fakultas, maupun PT Provis ketika ada acara di luar jam kerja. Karenanya, walaupun beliau merasa senang bekerja sebagai pengawas CS karena dapat bergaul dengan banyak orang termasuk mahasiswa maupun dosen, beliau berpesan untuk menggunakan rasa kemanusiaan jika menggunakan jasa CS di luar jam kerjanya.
“Ya secara kemanusiaan aja, lah, untuk bayar. Karena mereka seharusnya udah pulang sama keluarga, imbasnya dijagain, tempatnya dibersihin. Ya itu, untuk imbas ke petugasnya (petugas CS) aja.”
Dari perbincangan bersama kedua orang ini, kami mendapat harapan bahwa mahasiswa lebih peka mengenai permasalahan sampah, khususnya di ruang kelas karena merupakan ruangan tertutup dan ber-AC. Jika terdapat sampah bekas makanan yang tertinggal, tentunya akan menimbulkan bau tidak sedap. Bahkan, Mas Pian sendiri mengatakan bahwa sampah paling parah yang ditemuinya di ruang kelas adalah sampah sisa makanan seperti mie atau siomay. Dengan demikian, beliau meminta mahasiswa untuk tidak nyampah berlebihan, meskipun membersihkan hal tersebut memang merupakan tugas dari CS.
Dengan demikian, dari pandangan Mas Pian dan pengawas CS di FISIP UI, dapat dilihat bahwa mahasiswa belakangan ini sering kali terlalu cuek dengan yang ada di sekitar mereka, dalam konteks ini adalah CS. Mereka berharap mahasiswa dapat lebih peduli kepada lingkungan sekitarnya, namun demikian, mereka tetap senang dengan untuk berinteraksi dengan mahasiswa, bahkan hingga dianggap adik sendiri. Oleh karena itu, penting bagi kita sebagai mahasiswa untuk bisa peka terhadap orang-orang di sekitar kita dan juga terbiasa untuk memanusiakan manusia.
Teks: Fikri Maulana
Penyunting: Alia Fatika, Dimas Azizi
Desain: Raissa Salsabila Azalia
Pers Suara Mahasiswa UI 2026
Independen, Lugas, dan Berkualitas!