
Pada awal Desember lalu, masyarakat dihebohkan dengan kematian seorang mahasiswi dari Universitas Brawijaya, Novia Widyasari. Diketahui Novia meminum racun di makam Ayahnya. Alasannya karena pemaksaan aborsi dan pemerkosaan yang dilakukan oleh pacarnya sendiri. Sebelum meninggal dunia, beberapa hari sebelumnya, Novia aktif menuliskan curhatannya di Quora. Quora sendiri adalah sebuah aplikasi di mana seseorang dapat melontarkan pertanyaan dan seluruh pengguna Quora lainnya dapat menjawab pertanyaan tersebut. Dalam Quoranya, beberapa kali Novia menanyakan informasi yang sensitif, seperti tempat pembelian senjata, informasi tempat pembelian racun, hingga menanyakan apakah ada orang yang bersedia menyewakan senjatanya kepada dia.
Tentunya, Quora sebagai aplikasi tanya-jawab tak membatasi siapapun untuk berbagi informasi. Dari sini, jawaban-jawaban yang memberi informasi mengenai pertanyaan sensitif itu mulai bermunculan. Tentunya hal ini sangat dikhawatirkan karena apabila penyebaran informasi mengenai hal-hal yang sensitif dan berbahaya mudah didapatkan, maka akan ada banyak orang yang dapat mengetahui tempat pembelian senjata atau racun secara daring.
Gambaran-gambaran itu sudah seharusnya menjadi perhatian baik dari masyarakat maupun pemerintah. Dalam artikel ini, Suara Mahasiswa akan membahas mengenai penyebaran informasi sensitif dan berbahaya serta penyebaran jual-beli obat-obatan berbahaya.
Quora sebagai Tempat Bertukar Informasi: Termasuk Informasi Sensitif dan Berbahaya?
Penyebaran informasi akan obat-obatan terlarang adalah hal yang sensitif. Dalam menyikapi hal tersebut, media sosial, sebagai penyebar informasi tentu memiliki kebijakan sendiri terkait hal tersebut.
“Jadi kalau kita ngomongin soal penyebaran obat-obatan terlarang, di beberapa platform media sosial ya utamanya, mereka biasanya sudah memiliki standar ketentuan yang melarang hal tersebut terjadi,” ujar Ellen dari SafeNET.
Ellen juga menegaskan, di platform media sosial seperti Instagram dan Facebook, terdapat fitur “report” yang digunakan untuk melaporkan hashtag-hashtag berbahaya untuk kemudian diblokir.
Kehadiran Quora sebagai sebuah platform untuk bertukar informasi memiliki beberapa manfaat, seperti menjalin pertemanan, menimbah cuan dengan menjadi mitra, menambah wawasan baru, dan bergabung tanpa harus menunjukkan identitas asli dengan adanya fitur anonim/tanpa nama.
Namun, sebaiknya Quora akan berubah menjadi negatif manakala para penggunanya yang salah menggunakan. Karena itu, kemungkinan mendapatkan informasi sensitif dan berbahaya tidak dapat dielakan. Hal seperti ini kembali lagi pada kesadaran para penggunanya untuk lebih bijak dalam berkutat di platform tersebut. Selain itu, pihak pembuat aplikasi sendiri perlu meningkatkan kualitas keamanan dan kenyamanan aplikasi.
Lalu, Bagaimana Penyebaran Obat-Obatan Berbahaya Secara Ilegal di Indonesia?
Kembali ke kasus Novia perihal konsumsi obat-obatan berbahaya. Selain obat-obatan berbahaya, ada juga bahan berbahaya yang tak kalah penting untuk dibahas. Keduanya memiliki perbedaan khusus terkait asal-usul dan penggunaannya.
“Kategori dari bahan berbahaya ini masuk ke dalam bahan kimia. Tujuan dari bahan-bahan berbahaya ini tidak hanya diperuntukkan sebagai obat,” ungkap Raditya Iswandana, spesialis teknologi farmasi sekaligus dosen di Fakultas Farmasi Universitas Indonesia. Terkait penggunaannya, beliau menyatakan bahwa yang disebut sebagai obat-obatan lebih digunakan untuk mendapatkan efek farmakologi sebagai terapi penyembuhan atas penyakit tertentu. Sementara itu, bahan-bahan berbahaya lebih cocok didefinisikan sebagai bahan kimia yang kerap kali disalahgunakan untuk kepentingan pribadi yang bisa membahayakan tubuh manusia, seperti potasium sianida dan racun-racun lainnya.
Beliau melanjutkan, perbedaan keduanya juga terletak pada pengawasan. Peredaran obat-obatan diawasi oleh BPOM. Sementara itu, peredaran bahan-bahan berbahaya tidak mendapatkan pengawasan yang komprehensif oleh BPOM dan instansi-instansi terkait karena bahan-bahan kimia yang sering disalahgunakan ini tidak termasuk kategori obat yang menjadi tanggung jawab pengawasan BPOM. Beredarnya berita kematian akibat konsumsi obat-obatan berbahaya ini menunjukkan bahwa barang “busuk” tersebut masih bisa dijangkau oleh masyarakat umum di luar pengawasan BPOM. Peredaran bahan-bahan berbahaya ini masih memerlukan pengawasan khusus oleh kementerian-kementerian terkait.
Pada umumnya, perolehan obat-obatan berbahaya ini tidak lepas dari skenario yang cerdik antara pemasok, pengedar, dan pemakai. Para pengedar menyelundup obat-obatan mereka dengan berbagai tipu daya, seperti meletakkannya bersama makanan, menyembunyikannya di dalam barang bawaan ketika bepergian, dan menaruhnya di dalam pakaian dalam atau barang dagangan seperti buah-buahan. Dalam dunia serba teknologi seperti sekarang, pengedaran obat-obatan berbahaya semakin mudah dilakukan. Khususnya, pendistribusian obat-obatan kini dapat dilakukan secara daring melalui e-commerce.
Ada beragam faktor yang menyebabkan obat-obatan berbahaya mudah masuk ke Indonesia. Pertama, pasarnya yang besar. Obat-obatan tersebut harganya bisa sebanding dengan emas. Para “pebisnis” di bidang ini tentu mendapatkan untung banyak. Kedua, faktor geografis. Indonesia merupakan negara dengan wilayah yang sangat luas. Fakta itu dijadikan peluang bagi para pelaku untuk mengedarkan obat-obatan berbahaya tanpa pengawasan yang ketat. Oleh karena itu, penyelundupan obat-obatan kerap terjadi. Ketiga, modernisasi. Arus modern zaman ini menghantui banyak orang dengan tawaran untuk hidup dalam kekayaan secara individualistis dengan gaya hidup konsumtif, termasuk penggunaan obatan berbahaya yang sepertinya dianggap biasa. Keempat, pengawasan yang tidak ketat. Kurangnya pengawasan yang ketat dari lembaga terkait membuat penyebaran obat-obatan berbahaya seakan berjalan santai. Kelima, tekanan personal. Terjerumusnya seseorang dalam pergaulan dengan obat-obatan berbahaya bisa diakibatkan oleh tuntutan pekerjaan. Ini adalah fakta yang acap kali dijumpai di kota-kota besar di Indonesia.
Kasus ini menjadi tugas yang tidak boleh kita abaikan. Penanganan masalah ini tidak serta-merta selalu dilakukan oleh pemerintah atau lembaga terkait. Masyarakat umum juga diharapkan bisa ikut serta dalam penanganan kasus ini. Hal yang bisa kita lakukan sebagai bagian dari masyarakat umum untuk menangani masalah ini adalah membantu melaporkan obat-obatan dan bahan-bahan kimia mencurigakan yang tengah beredar di berbagai situs e-commerce Indonesia.
Kasus-kasus seperti yang telah menimpa Novia seharusnya menjadi masalah yang urgen untuk ditangani, karena bukan tidak mungkin, kasus Novia dapat mendorong orang lain melakukan hal serupa. Konsumsi obat-obatan dan bahan berbahaya sebetulnya hanya akan menyelesaikan masalah jangka pendek. Selanjutnya adalah rasa sakit yang berkepanjangan di masa depan.
Teks: Tinus, Teressa Ranavita B.
Kontributor: Mayerina Rahayu
Ilustrasi: Sisilya
Editor: Giovanni Alvita
Suara Mahasiswa UI 2021
Independen, Lugas, Berkualitas!